
Akhirnya mereka semua pun sampai di lapangan basket SMA Tunas Bakti.
"Makasih ya, Na! udah nganterin kita" ucap Bina.
"Iya sama-sama" ucap Ana.
"Sekolah kalian mainnya ke berapa?" tanya Ana.
"Kedua" ucap Ardan.
"Lawan SMA mana?" tanya Ana.
"SMA Doa bangsa" ucap Arka.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap semuanya.
Lalu Ana pun segera pergi.
Ana pun segera mencari Lino di kelasnya karena ia tidak menemukan Lino di lapangan.
Setelah sampai di kelas, Ana pun segera menghampiri teman-temannya.
"Na, luh gak bawa tas?" tanya Clara.
"Enggak, kan katanya gak bakal belajar" ucap Ana.
"Iya juga sih, nyesel banget gue bawa tas" ucap Clara.
"Luh gak berangkat bareng Lino, Na?" tanya Felisa.
"Gue bareng Lino kok" ucap Ana.
"Terus Lino nya kemana?" tanya Felisa.
"Gue juga gak tahu" ucap Ana.
"Lah kok gak tahu sih, katanya berangkatnya bareng" heran Felisa.
"Iya emang bareng, cuma tadi gue nyuruh dia ke lapangan duluan. Tapi waktu gue ke lapangan eh dia nya gak ada. Terus gue ke kelas deh siapa tahu dia nya ada di kelas eh tahu nya dia gak ada juga" ucap Ana.
"Mungkin dia lagi sama Gilang kali" ucap Clara.
"Iya sama Gilang kali" ucap Felisa.
"Oh iya, Lia sama Naya kemana?" tanya Ana.
"Mereka berdua lagi ke kantin" ucap Clara.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya" ucap Ana.
"Mau kemana?" tanya Clara.
"Mau nyari Lino" ucap Ana.
"Dasar bucin" ucap Clara.
Ana pun hanya tersenyum karena mendengar ucapan Clara.
"Ya udah gue pergi dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Clara dan Felisa bersamaan.
Lalu Ana pun segera pergi menuju rooftop.
Sesampainya di rooftop, Ana pun bertemu dengan Bagas.
Lalu Ana pun berniat pergi namun tangannya ditarik oleh Bagas.
"Bagas, lepasin!!" teriak Ana.
"Maksud luh apa nuduh gue yang neror luh" ucap Bagas sambil menatap tajam kearah Ana.
"Gue gak nuduh luh kok" ucap Ana.
"Terus waktu itu kenapa si Lino nuduh gue yang neror luh? sampe-sampe dia nuduh gue yang nabrak Acha" ucap Bagas sedikit kesal.
"Lino cuma salah paham doang kok, lagian gue udah bilang kalau bukan luh yang neror gue" ucap Ana.
"Terus kenapa dia gak minta maaf ke gue? gak tahu diri banget jadi orang, udah nuduh orang malah gak minta maaf" kesal Bagas.
"Ya mana gue tahu, kalau mau nagih minta maaf tuh ke Lino bukan ke gue" ucap Ana.
"Lagian luh juga punya salah ke gue tapi luh juga gak minta maaf tuh. Berarti Lino juga gak seharusnya minta maaf sama luh" ucap Ana.
"Mentang-mentang udah jadi pacarnya Lino ya, luh jadi seenaknya kayak gini" ucap Bagas.
Lalu Ana pun segera melepas tangan Bagas dari tangannya dan Ana pun langsung pergi.
Lalu Ana pun segera menelepon Lino.
"Hallo, Na" ucap Lino.
"No, kamu dimana?" tanya Ana.
"Aku di depan kelas X MIPA 1" jawab Lino.
Lalu Ana pun segera pergi menuju kelas X MIPA 1.
Sesampainya di sana, Ana pun segera menghampiri Lino.
"No, aku cape tahu dari tadi nyari-nyari kamu" ucap Ana.
"Kalau cape ngapain dicari" sahut Gilang.
"Maaf, habisnya kamu lama sih makanya aku nyamperin Gilang" ucap Lino.
Lalu Ana pun langsung berjongkok karena anemia nya kambuh.
"Na, kenapa?" tanya Lino sambil berjongkok.
"Pusing" ucap Ana.
"Lah kenap mukanya jadi pucat gitu? perasaan tadi gak sepucat gitu" heran Gilang.
"Lang, gue sama Ana ke UKS dulu" ucap Lino sambil menggendong Ana ala bridal style.
"Iya" ucap Gilang.
Setelah sampai di UKS, Lino pun langsung menidurkan Ana di ranjang yang ada di UKS.
"Masih pusing gak?" tanya Lino.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
Lalu Lino pun segera mengambil air minum yang ada di UKS.
"Nih minum dulu" ucap Lino sambil memberikan air minum kepada Ana.
Lalu Ana pun segera duduk di kasur, lalu ia pun segera meminum air minum yang diberikan oleh Lino.
"Ya udah, kamu istirahat dulu ya" ucap Lino sambil menidurkan Ana kembali.
Kemudian Ana pun segera tidur.
Lalu Lino pun segera menelepon Clara.
"Hallo, Ra" ucap Lino.
"Iya kenapa?" tanya Clara.
"Ada obat pusing gak?" tanya Lino.
"Ada di UKS" ucap Clara.
"Luh ke UKS dulu sini, gue gak tahu obatnya dimana" ucap Lino.
"Obatnya di lemari" ucap Clara.
"Luh nya sini dulu" ucap Lino.
"Enggak mau ah! gue lagi nonton basket" ucap Clara.
Lalu Clara pun segera mematikan panggilan teleponnya.
"Ih malah di matiin lagi" kesal Lino.
Lalu Lino pun segera mencari obat di lemari.
Setelah menemukan obatnya, Lino pun segera membangunkan Ana.
"Na, bangun dulu" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera bangun dan ia pun langsung duduk.
"Minum obat dulu" ucap Lino.
"Kamu udah makan kan?" tanya Lino memastikan.
"Iya udah" ucap Ana.
"Ya udah nih minum obatnya" ucap Lino.
Lalu Lino pun segera memberikan obat sakit kepala kepada Ana.
Lalu Ana pun segera mengambil obat tersebut.
"Nih air nya" ucap Lino sambil memberikan air minum kepada Ana.
Lalu Ana pun segera mengambil air mineral dan ia langsung meminum obat tersebut.
"Sini" ucap Lino sambil mengambil air minum di tangan Ana.
Kemudian Lino pun segera meletakan gelas tersebut di meja.
"No, aku mau nonton basket" ucap Ana.
"Udah disini aja" ucap Lino.
"Pingin nonton" ucap Ana.
"Ya udah" ucap Lino.
"Ayo naik" ucap Lino sambil menyuruh Ana naik ke punggungnya.
"Gak usah, aku bisa jalan sendiri" ucap Ana.
"Udah cepet naik, aku gak mau nanti kamu cape" ucap Lino.
"Malu, nanti dilihatin guru sama murid-murid yang lain" ucap Ana.
"Ya gak apa-apa, tadi juga kamu aku gendong gak apa-apa kan" ucap Lino.
"Ya kan tadi gak ada yang ngelihatin" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino sambil memegang tangan Ana.
Lalu mereka berdua pun segera menuju lapangan basket.
Setelah sampai di lapangan basket, Ana dan Lino pun segera duduk dipinggir lapangan dan menyaksikan pertandingan basket SMA Mutiara dan SMA Doa Bangsa.
"Sekolah kita udah main belum?" tanya Ana.
"Udah deh kayaknya" ucap Lino.
Lalu Gilang pun segera menghampiri Ana dan Lino, dan ia pun segera duduk disebelah Lino.
"Kenapa disini? bukannya Ana sakit" ucap Gilang.
"Soalnya Ana pingin nonton pertandingan basket" ucap Lino.
"Sekolah kita udah main?" tanya Ana kepada Gilang.
"Udah" ucap Gilang.
"Menang gak?" tanya Ana.
"Menang, tapi nanti bakal tanding lagi sama yang menang sekarang" jelas Gilang.