
Keesokan harinya.
Setelah mandi, Ana pun segera memakai seragam sekolahnya. Kemudian ia pun segera pergi menuju ruang makan.
Setelah sampai di ruang makan, Ana pun segera duduk dikursi dan ia pun langsung memakan makanan yang telah dimasak oleh mamahnya.
"Udah sembuh sayang?" tanya mamah.
"Udah mah" ucap Ana.
"Syukur deh kalau udah sembuh" ucap mamah.
"Oh iya, kamu kenapa gak bawa tas?" tanya mamah.
"Soalnya gak bakal belajar, mah" ucap Ana.
"Kenapa gak belajar?" tanya mamah.
"Soalnya bakal ada lomba di sekolah, jadi gak bakal belajar deh" ucap Ana.
"Lomba apa?" tanya mamah.
"Lomba basket" ucap Ana.
"Lino ikut lomba gak?" tanya mamah.
"Enggak, kan dia gak ikut ekskul basket" ucap Ana.
"Terus dia ikut ekskul apa?" tanya mamah.
"Gak ikut apa-apa" ucap Ana.
"Kalau kamu ikut ekskul apa?" tanya mamah.
"Aku juga gak ikut ekskul apa-apa, mah" jelas Ana.
"Kalian tuh kayaknya sehati banget ya, sampe-sampe gak pada ikut ekskul" ucap mamah.
Ana pun hanya tersenyum karena mendengar ucapan mamahnya.
"Oh iya, kamu mau berangkat sama Lino ya?" tanya mamah memastikan.
"Iya, mah" ucap Ana.
"Nanti jangan lupa pake jaket ya, soalnya kan pasti anginnya kenceng banget kalau naik motor" ucap mamah.
"Iya, mah" ucap Ana.
"Ya udah bentar ya, mamah mau ambil jaket kamu dulu" ucap mamah.
"Gak usah, mah! nanti biar Ana aja yang ambil" ucap Ana.
"Gak apa-apa, kalau diambilnya nanti keburu kamu nya lupa" ucap mamah.
Lalu mamah Ana pun segera pergi menuju kamar Ana untuk mengambil jaket Ana.
Setelah mengambil jaket, mamah pun kembali menghampiri Ana yang berada di ruang makan.
"Udah makannya?" tanya mamah.
"Udah, mah" ucap Ana.
"Ya udah simpen aja piringnya, biar nanti mamah aja yang cuci" ucap mamah.
"Gak usah, mah" ucap Ana.
"Gak apa-apa sayang" ucap mamah.
Tingtong...tingtong
"Tuh Lino udah datang" ucap mamah.
"Ya udah cepet pake jaketnya" ucap mamah sambil memberikan jaket kepada Ana.
Lalu Ana pun segera mengambil jaketnya dan ia pun segera memakai jaket tersebut.
Kemudian Ana dan mamah pun segera pergi keluar untuk menghampiri Lino.
Setelah sampai, mamah pun segera membuka gembok pagarnya.
"Pagi tante" ucap Lino sambil mencium tangan mamahnya Ana.
"Pagi, No" ucap mamah Ana.
"Tante, Ana berangkat ke sekolah bareng Lino ya" ucap Lino.
"Iya, tapi inget jangan ngebut ya bawanya" ucap mamah Ana.
"Iya, siap tante" ucap Lino.
"Mah, Ana sama Lino pergi dulu ya" ucap Ana.
"Iya sayang" ucap mamah.
Lalu Ana pun segera mencium tangan mamahnya.
"Oh iya, nih" ucap Lino sambil memberikan helm kepada Ana.
Lalu Ana pun segera memakai helm yang diberikan oleh Lino.
Kemudian Ana dan Lino pun segera menaiki motor.
"Tante, kita pergi dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap mamah Ana.
Lalu Lino pun segera melajukan motornya menuju sekolah.
(Di perjalanan)
"No, kamu lambat banget sih bawa motornya" ucap Ana.
"Kan tadi mamah kamu nyuruh aku biar gak ngebut" ucap Lino.
"Tapi gak selambat ini juga kali, No" ucap Ana.
"Kayaknya kalau adu kecepatan, bakal cepet kalau aku lari deh dari pada naik motor" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera menaiki kecepatan motor nya.
"No!!" teriak Ana sambil memeluk Lino.
"Kenapa?" tanya Lino sambil tertawa kecil.
"Kalau mau ngebut bilang-bilang dulu dong! gimana coba kalau aku jatuh" ucap Ana sedikit kesal.
"Maaf..maaf" ucap Lino sambil mengurangi kecepatan motornya.
Lalu Ana pun segera melepaskan pelukannya.
"Yah kok dilepas lagi" ucap Lino sedikit kecewa.
"Emang kalau dilepas kenapa?" tanya Ana.
Ana pun hanya tersenyum.
Lalu Ana pun segera memeluk Lino kembali.
"Kalau naik motor aku, harus sambil meluk aku nya juga" perintah Lino.
"Terus kalau cewek lain yang naik berarti dia harus meluk kamu juga gitu?" tanya Ana.
"Ya enggak lah! khusus kamu doang yang harus peluk aku" ucap Lino.
"No" ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Waktu dulu aku ngira kamu orangnya cuek tahu" ucap Ana.
"Emang iya?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Terus waktu dulu juga, aku ngira kalau kamu tuh orangnya tuh kasar" ucap Ana.
"Tapi ternyata dugaan aku salah" ucap Ana.
"Aku juga dulu ngira kamu orangnya tuh bawel tapi kenyataannya kamu lebih bawel" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Jangan ketawa" ucap Ana.
"Emang kenapa gak boleh ketawa?" tanya Lino.
"Soalnya kamu makin ganteng kalau lagi ketawa" ucap Ana.
"Ya udah berarti aku ketawa terus ya biar makin ganteng" ucap Lino.
"Jangan! nanti kamu disebut gila sama orang-orang" ucap Ana sambil tertawa.
"Eh kamu jangan ketawa" ucap Lino.
"Iya, aku enggak bakal ketawa kok" ucap Ana.
"Lagian aku udah tahu kok kalau aku ketawa, aku bakal jelek" ucap Ana lagi.
"Kata siapa?" tanya Lino.
"Kata kamu lah" ucap Ana.
"Kapan aku ngomong kayak gitu?" tanya Lino.
"Waktu kamu minta nomer aku terus aku ketawa karena ngira kamu bakal ngisiin aku pulsa. Terus waktu aku ketawa, kamu bilang kalau aku jelek kalau lagi ketawa" jelas Ana.
"Oh waktu itu" ucap Lino sambil mengingat kejadian tersebut.
"Sebenernya aku bilang gitu karena kalau ketawa kamu makin cantik" ucap Lino terus terang.
"Alah dusta" ucap Ana.
"Aku serius loh" ucap Lino.
"Aku gak percaya" ucap Ana.
"Ya udah sih kalau gak percaya" ucap Lino.
Setelah sampai di parkiran sekolah, Ana dan Lino pun segera turun dari motor.
"Itu kan Bina" ucap Ana.
"Bina siapa?" tanya Lino.
"Temen SMP aku" ucap Ana.
"No, aku mau samperin Bina dulu ya. Kamu duluan aja ke lapangan" ucap Ana.
"Oke" ucap Lino.
Lalu Lino pun segera pergi.
"Bina!!!" teriak Ana.
Sontak Bina dan teman-temannya pun melihat kearah Ana.
Lalu Ana pun segera menghampiri Bina.
"Luh ikut kesini" ucap Ana.
"Iya" ucap Bina.
"Oh iya, Na! gue turut berduka cita ya. Maaf waktu itu gue gak bisa kesana" ucap Ana.
"Iya gak apa-apa" ucap Bina.
"Oh iya, kalian kenapa masih disini? kenapa gak langsung ke lapangan basket aja" ucap Ana.
"Soalnya kita lagi nunggu guru olahraga dulu" ucap cowok yang bernama Arka yang Ana kenal sebagai pacarnya Bina.
"Lebih baik kalian kesana aja dulu, kan pasti nanti gurunya kesana" ucap Ana.
"Iya bener, lebih baik kesana aja" ucap temen Bina.
"Ya udah deh" ucap Arka.
"Ya udah ayo ikut gue" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera mengantar anak-anak SMA Mutiara menuju lapangan basket sekolahnya.
"Na, bener ya kata orang. Pacar luh tuh ganteng banget" bisik Ana pada Bina.
"Kita udah putus, Na" bisik Bina pada Ana.
"Hah? beneran" ucap Ana.
"Ada apa?" tanya temen-temen cewek Bina.
"Gak kenapa-napa kok" ucap Bina.
"Orang-orang kenapa pada lihatan kita sih?" tanya temen Bina.
"Sebenernya mereka tuh pada lihatin Arka" sahut Ana.
"Hah? lihatin Arka?" ucap temen Bina.
"Iya, soalnya dia ganteng banget. Makanya semua siswi lihatin dia" ucap Ana terus terang.
"Udah jangan puji dia, nanti dia malah sombong" ucap Ardan, orang yang disukai oleh Clara.
"Bilang aja luh sirik" ucap temennya Arka.
"Enak aja, ngapain juga sirik sama dia. Lagian muka kita hampir mirip, jadi ngapain juga gue sirik" ucap Ardan.
"Mirip dari mananya coba?" tanya temennya Bina.
"Tapi kata ibu kantin kita mirip" ucap Ardan.