
* Rumah Lino
Setelah sampai, Lino dan Ana segera turun dari motor.
Lalu mereka berdua segera masuk kedalam rumah.
"Na, kamu tunggu dulu ya disini. Aku mau ganti baju dulu" ucap Lino.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Arka segera pergi menuju kamarnya.
Tok...tok...tok
Ana segera menghampiri pintu masuk. Pada saat dibuka, ternyata tidak ada orang.
Lalu Ana kembali menutup pintu tersebut dan ia segera kembali duduk di sofa.
Tok...tok...tok
Ketukan pintu pun terdengar lagi.
Ana kembali berjalan menuju pintu dan ia langsung membuka pintu tersebut, tapi saat di buka ternyata tidak ada orang.
"Ini ada orang yang ngerjain atau hantu sih" batin Ana sedikit ketakutan.
Ana kembali menutup pintu tersebut.
Pada saat berbalik badan, Ana langsung terkejut saat melihat Lino tepat dibelakangnya.
"Aaaa!!!" teriak Ana.
"Kamu kenapa?" tanya Lino.
"Ih Lino! kamu ngagetin tahu gak!" ucap Ana.
"Perasaan aku diem aja deh, gak ngagetin kamu" ucap Lino.
"Oh iya, kamu kenapa disini?" tanya Lino.
"Soalnya tadi ada yang ngetuk pintu, makanya aku kesini" ucap Ana.
"Terus ada siapa diluar?" tanya Lino.
"Gak ada siapa-siapa" ucap Ana.
"Oh berarti itu hantu kali" ucap Lino.
"Hantu?" ucap Ana.
"Iya, soalnya sering banget kejadian kayak gitu" ucap Lino.
"Disini ada hantu?" tanya Ana.
"Ya disetiap rumah juga pasti ada hantu, Na" ucap Lino.
"Emang iya?" tanya Ana.
"Katanya sih iya" ucap Lino.
"Jadi kamu sering ya ngalamin kejadian yang kayak aku tadi?" tanya Ana.
"Dulu sering, tapi sekarang jarang sih" ucap Lino.
"Kamu takut gak, No?" tanya Ana.
"Enggak, soalnya aku udah biasa digangguin hantu" ucap Lino.
"Ya udah ayo" ajak Lino.
"Kemana?" tanya Ana.
"Ngasih makan Dora dan Dori" ucap Lino.
"Oh ya udah ayo. Aku gak sabar nih pingin lihat kucing kamu" ucap Ana.
Lalu Lino segera mengantar Ana menuju taman yang ada di rumahnya.
"Wah lucu banget" ucap Ana.
"Makasih" ucap Lino.
"Bukan ke kamu" ucap Ana.
"Dori yang mana?" tanya Ana.
"Yang ini" tunjuk Lino.
"Berarti yang ini Dora ya?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Aku boleh foto bareng gak?" tanya Ana.
"Foto bareng sama aku?" tanya Lino.
"Bukan" ucap Ana sambil tertawa kecil.
"Aku mau foto bareng sama kucing-kucing kamu" ucap Ana.
"Kayaknya kucing lebih menarik ya dari pada aku" ucap Lino.
"Enggak, lebih menarik kamu kok dari pada kucingnya" ucap Ana.
"Ya udah tolong fotoin dong" ucap Ana sambil memberikan ponselnya kepada Lino.
Lino segera memotret Ana bersama kucing-kucing miliknya.
"Nih udah" ucap Lino sambil memberikan ponselnya kepada Ana.
"Makasih" ucap Ana sambil melihat hasil fotonya.
"Iya sama-sama" ucap Lino.
"Oh iya, Na! kamu lapar gak?" tanya Lino.
"Lapar" ucap Ana.
"Kamu mau makan apa? nanti biar aku pesen lewat aplikasi" ucap Lino.
"Aku mau mie ayam" ucap Ana.
"Minumnya mau apa?" tanya Lino.
"Air putih aja deh" ucap Ana.
"Ya udah berarti pesen mie ayam doang ya, kan air putih nya ada" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Lino segera memesan mie ayam melalui aplikasi.
Tok...tok...tok
"No, ada yang ngetuk pintu" ucap Ana.
"Ya udah kamu tunggu disini ya, aku mau buka pintu dulu" ucap Lino.
"Aku ikut aja, soalnya takut kalau sendiri disini" ucap Ana.
"Dasar penakut" ucap Lino sambil tersenyum.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
Ana dan Lino segera menghampiri pintu, lalu Lino langsung membuka pintu tersebut.
"Eh! luh ada disini, Na" ucap Gilang.
"Iya" ucap Ana.
"Lang, tadi luh juga ya yang ngetuk pintu?" tanya Ana.
"Hah? perasaan gue baru ngetuk pintu deh" ucap Gilang.
"Kan udah aku bilang kalau yang ngetuk pintu itu hantu" ucap Lino.
"No, gue minta minum ya" ucap Gilang sambil pergi menuju dapur.
"Ih gak sopan banget langsung masuk gitu aja" ucap Ana.
"Dia dari dulu emang gitu kalau kesini" ucap Lino.
"Kalian deket banget ya?" tanya Ana.
"Iya, kan aku sama Gilang sahabatan" jawab Lino.
"Ya udah ayo kesana" ucap Lino.
"Lang, luh mau mie ayam gak?" teriak Lino.
"Mau" ucap Gilang yang berada didapur.
"No, anak Skz mau kesini katanya" ucap Gilang sambil menghampiri Lino dan Ana.
"Mereka mau ngapain kesini?" tanya Lino.
"Mau main katanya" ucap Gilang.
"Oh ya udah berarti gue pesen mie ayam nya empat lagi" ucap Lino.
"Kok empat?" ucap Gilang.
"Kan buat luh, Bayu, Bobby sama Alex" ucap Lino.
"Luh sama Ana gak beli?" tanya Gilang.
"Gue sama Ana udah beli dari tadi, cuma belum datang" ucap Lino sambil memesankan mie ayam untuk teman-temannya.
"Temen kamu anak-anak geng motor semuanya?" bisik Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Lino!!!" teriak teman-temannya dari arah luar.
"Masuk aja!!!" teriak Lino.
Alex, Bayu dan Bobby segera masuk kedalam rumah Lino.
"Eh Ana" ucap Alex, Bobby dan Bayu bersamaan.
"Gimana kabarnya, Na?" tanya Bayu.
"Baik kok" ucap Ana.
Lalu Ana segera menggeser duduk nya menjadi dekat dengan Lino.
"Kenapa, Na?" tanya Lino.
"Gak kenapa-napa" ucap Ana.
"Kamu takut ya sama mereka?" tanya Lino.
"Jangan takut, Na! kita gak jahat kok" sahut Bayu.
"Iya bener, kita kan best friend luh. Mana ada kita jahat sama luh" ucap Alex.
"Emang iya?" bisik Ana kepada Lino.
"Enggak, mereka semua bukan best friend kamu. Mereka orangnya agak galak, jadi kamu jangan deket-deket sama mereka" bisik Lino.
"Luh berdua bisik-bisik apa sih?" tanya Alex penasaran.
"Ih kepo luh" ucap Lino.
"Jangan bilang luh jelek-jelekin kita ya ke Ana" tuduh Bayu.
"Enggak kok" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Tuh kan! luh kayak nahan tawa gitu" ucap Bayu.
"Enggak! tanya aja ke Ana nya langsung" ucap Lino.
"Tadi Lino bilang apa, Na?" tanya Alex.
Ana langsung melihat kearah Lino.
"Dia gak bilang apa-apa kok" ucap Ana.
"Ih bohong banget! orang tadi luh berdua bisik-bisik" ucap Alex.
"Berisik woy! gak kedengeran itu suara tv nya gara-gara luh semua ngomong" ucap Gilang.
"Luh nya aja yang budek, makanya gak kedengeran" ucap Bobby.
"Enak aja! gue gak budek tahu!" kesal Gilang.
"Oh iya, Na! luh masih inget nama kita gak?" tanya Bobby.
Ana hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak ingat.
"Na, luh beneran gak inget sama sekali ya?" tanya Alex.
"Iya, dia gak inget" sahut Lino.
Tingtong...tingtong
"No, itu mie ayam nya udah datang kayaknya" ucap Gilang yang sedang menonton televisi.
"Na, kamu tunggu disini dulu ya. Aku mau ambil mie ayam nya dulu" ucap Lino.
"Aku ikut" ucap Ana.
"Aku cuma bentar doang kok" ucap Lino.
"Ikut" mohon Ana karena ia merasa canggung jika tidak ada Lino.
"Ya udah deh ayo" ucap Lino.
Lalu Ana dan Lino pergi keluar untuk menemui orang yang mengantar pesanan.
Setelah sampai diluar, Ana dan Lino langsung menghampiri orang itu.
"Dengan mas Arlino ya?" tanya abang gof**d.
"Iya" ucap Lino.
"Ini pesanan nya" ucap abang gof**d sambil memberikan kantong plastik berisi mie ayam.
"Makasih, pak" ucap Lino.
"Iya" ucap abang gof**d.
"Ya udah ayo masuk, Na" ucap Lino.
"No, mie ayam nya udah dibayar belum?" tanya Ana.
"Udah kok lewat ovo" ucap Lino.
"Ya udah ayo masuk" kata Lino.
Akhirnya Ana dan Lino kembali masuk kedalam rumah.
"Kita gak dibeliin nih?" sindir Bayu.
"Dibeliin kok. Tapi belum datang soalnya pesanan luh semua baru dipesen" ucap Lino.
"Na, kamu tunggu dulu disini ya. Aku mau ambil minum dulu" ucap Lino.
"Aku ikut" ucap Ana.
"Yaelah, Na! cuma ke dapur doang pake ikut segala" ucap Gilang.
"Iya, cuma bentar doang. Lagian mereka gak bakal ngapa-ngapain kamu kok" ucap Lino.
"Ya udah deh" ucap Ana sambil kembali duduk.
Lalu Lino segera pergi menuju dapur.
"Na, luh kenapa sih kayak takut gitu ngelihat kita" ucap Bayu.
"Soalnya muka luh bertiga mirip Shrek. Makanya Ana jadi takut" ucap Gilang sambil tertawa.
"Kurang ajar luh!" kesal Alex namun sambil tertawa.
"Emang Shrek apaan sih?" tanya Bayu.
"Bentar! gue cari dulu fotonya di g**gle" ucap Gilang.
"Yang ini nih fotonya" ucap Gilang sambil menunjukkan fotonya kepada Bayu.
"Anjir! orang ganteng gini masa disamain kayak kartun yang ini" kesal Bayu.
Ana hanya bisa menahan tawanya.
"Na, kalau ketawa jangan ditahan" ucap Bobby.
"Ada apa?" tanya Lino yang baru datang.
"Itu Ana ngetawain kita" ucap Bobby.
"Kamu kenapa ngetawain mereka?" tanya Lino sambil meletakkan dua gelas di meja.
"Enggak kok, aku ga ngetawain mereka" ucap Ana.
"Udah jelas-jelas tadi luh kayak nahan tawa" ucap Bobby.
"Maaf" ucap Ana.
"Lah! ngapain minta maaf, Na? mereka kan emang mirip Shrek" ucap Gilang sambil tertawa.
"Ya udah ayo makan, Na" ucap Lino.
Akhirnya Ana dan Lino segera memakan mie ayam tersebut.
"No, pacarnya Clara yang mana?" bisik Ana.
"Yang pake baju hijau" ucap Lino.
"Luh ngomongin gue ya?" tanya Bobby.
"Iya" ucap Lino.
"Tadi Ana nanya, katanya pacarnya Clara yang mana. Terus gue jawab aja yang pake baju hijau" jelas Lino.
"Oh gue kira luh berdua ngomongin apaan" ucap Bobby.
"Na, lagian luh kenapa sih bisik-bisik mulu? kan jadinya kita semua penasaran sama omongan luh" ucap Alex.
"Dia bisik-bisik karena dia takut kali sama kalian" sahut Gilang.
"Ya ampun! emang tampang kita kelihatan jahat gitu?" tanya Alex.
"Iya, kelihatan jahat" sahut Gilang.
"Luh kenapa sih nyaut mulu, Lang" kesal Alex.
"Suka-suka gue dong!" ucap Gilang.
"Na, maaf ya temen-temen aku berisik" ucap Lino.
"Iya gak apa-apa" ucap Ana.
"Na, luh kok sekarang pendiem banget sih" ucap Bayu.
"Emang dulu gimana?" tanya Ana.
"Luh dulu tuh bawel banget" ucap Bayu.
"Iya bener, bawel banget" sahut Alex.
"Tapi lebih bagus gini lah. Jadi kalem Ana nya, gak kayak dulu" ucap Gilang.
"Emang dulu gak kalem ya?" tanya Ana.
"Iya, luh tuh bar-bar banget" ucap Gilang.
"Emang iya, No?" tanya Ana.
"Enggak, dulu kamu kalem kok" ucap Lino sambil tersenyum.
"Oh iya, Raka kok gak kesini ya" ucap Gilang.
"Raka lagi sakit" ucap Lino.
"Emang dia sakit apa?" tanya Gilang.
"Sakit perut" ucap Lino.
Trining...trining
Ana langsung melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Lia.
"Siapa, Na?" tanya Lino.
"Lia" ucap Ana.
"Ya udah aku keluar dulu ya" ucap Ana.
"Udah disini aja teleponan nya" suruh Lino.
"Kalau disini nanti gak kedengeran" ucap Ana.
Ana segera pergi keluar.
Lalu ia langsung mengangkat panggilan telepon dari Lia.
"Hallo Lia" ucap Ana.
"Na, tadi ada tugas gak?" tanya Lia.
"Ada" ucap Ana.
"Tugas apa?" tanya Lia.
"Tugas Pai" ucap Ana.
"Gue boleh lihat gak tugasnya?" tanya Lia.
"Buku gue nya udah dikumpulin, tapi tadi gue foto kok tugasnya" ucap Ana.
"Ya udah kirim sekarang ya fotonya" suruh Lia.
"Oke" ucap Ana.
"Oh iya, tugas nya cuma itu doang kan?" tanya Lia memastikan.
"Iya cuma itu doang" ucap Ana.
"Oh iya, sekarang kondisi luh gimana?" tanya Ana.
"Gue masih meriang sih" ucap Lia.
"Besok sekolah gak?" tanya Ana.
"Kayaknya enggak deh" ucap Lia.
"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Lia.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Lia langsung mematikan panggilan teleponnya.
Setelah itu, Ana segera mengirim foto tugas Pai kepada Lia.
Tin...tin
Ana langsung melihat kearah mobil yang baru datang.
Lalu orang yang berada didalam mobil tersebut langsung turun dan menghampiri Ana.
"Lino nya mana?" tanya orang itu.
"Lino nya ada didalem, om" ucap Ana sedikit gugup karena Ana tidak mengenal orang yang dihadapannya.
Lalu orang itu langsung masuk kedalam rumah.
"Itu papah Lino bukan sih?" batin Ana.
Ana kembali kedalam rumah.
"Lino!" ucap papahnya.
"Papah" gumam Lino.
Sontak semuanya langsung berdiri saat melihat papahnya Lino.
PLAKK
Ana dan teman-temannya Lino langsung terkejut saat melihat Lino yang ditampar papahnya.
"Kamu tuh malu-maluin papah tahu gak!" ujar papah.
"Malu-maluin apa sih, pah?" tanya Lino sambil memegang pipinya.
"Gara-gara kamu bawa Ana, acara perjodohan nya jadi batal tahu gak!" kesal papah.
"Ya bagus lah! lagian Lino gak suka sama cewek itu" ucap Lino.
"Guys, ayo kita pergi!" ucap Lino.
"Lino!!!" teriak papahnya.
Teman-teman Lino langsung keluar.
"Apa lagi sih, pah?" tanya Lino.
"Cepet beresin barang-barang kamu! terus pindah dari rumah ini" ucap papah.
"Oke" ucap Lino.
"Na, ayo bantuin aku beres-beres barang" ucap Lino sambil menarik tangan Ana menuju kamarnya.
* Kamar
Sesampainya di kamar, Lino langsung memasukan pakaian-pakaiannya kedalam koper.
Ana mengelus pipi Lino, sontak membuat Lino langsung melihat kearah Ana.
"Sakit gak?" tanya Ana dengan mata yang berkaca-kaca.
"Enggak kok" ucap Lino sambil tersenyum namun matanya berkaca-kaca.
"Na, tolong masukin buku-buku aku kedalam tas ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Ana segera membantu Lino membereskan buku-bukunya.
Setelah selesai beres-beres, Lino segera kembali menghampiri papahnya.
"Ini kunci rumahnya" ucap Lino sambil memberikan kunci tersebut kepada papahnya.
"Om, Ana minta maaf ya" ucap Ana.
"Na, udah jangan minta maaf ke dia" ucap Lino sambil menarik tangan Ana.
Ana dan Lino segera keluar dari rumah.
"No, luh gak apa-apa kan?" tanya teman-temannya.
"Gak apa-apa kok" ucap Lino sambil tersenyum.
"Ya udah ayo, Na" ucap Lino sambil menarik tangan Ana menuju mobilnya.
Lino segera memasukan barang-barang nya ke mobil.
"Ayo masuk, Na" ucap Lino sambil masuk kedalam mobilnya.
Ana segera masuk kedalam mobil Lino.
Lalu Lino segera melajukan mobilnya.
Teman-teman Lino langsung mengikuti Lino dan Ana dari belakang.
(Diperjalanan)
"Kamu jangan merasa bersalah, lagian ini bukan salah kamu ataupun aku" ucap Lino karena melihat Ana yang hanya diam saja.
"No, sekarang kamu mau tinggal dimana?" tanya Ana.
"Aku mau tinggal di basecamp" ucap Lino.
"Basecamp?" ucap Ana.
"Iya di basecamp, jadi disana tuh tempat kumpul aku sama temen-temen aku" jelas Lino.
Trining...trining
Lino mengambil ponselnya dan ia langsung melihat ke layar ponselnya.
Kemudian Lino segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo" ucap Lino.
"Mas, saya udah ada didepan rumah mas Arlino" ucap abang gof**d.
"Mie ayam nya buat bapak aja" ucap Lino.
"Serius, mas?" tanya abang gof**d.
"Iya, soalnya saya lagi gak ada di rumah. Jadi mie ayam nya buat bapak aja" ucap Lino.
"Makasih ya, mas" ucap abang gof**d.
"Iya sama-sama" ucap Lino.
Lalu Lino langsung mematikan panggilan teleponnya.
Lino segera memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Setelah itu, ia segera turun dari mobil.
"Guys! kalian ke basecamp duluan aja, soalnya gue mau nganter Ana pulang" ucap Lino.
"Oh ya udah" ucap teman-temannya.
Lalu teman-teman Lino langsung memutar arah.
Lino kembali masuk kedalam mobil dan ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ana.
Skip
* Rumah Ana
Setelah sampai, Ana dan Lino segera turun dari mobil.
"Kamu kenapa turun dari mobil, No?" tanya Ana.
"Soalnya biar bisa mastiin kamu masuk kedalam rumah" ucap Lino.
Ana langsung memeluk Lino karena ia tahu pasti Lino sangat sedih.
"Kamu kenapa peluk aku, Na?" tanya Lino dengan mata yang berkaca-kaca.
"Gak kenapa-napa, aku cuma pingin peluk aja" ucap Ana.
Setelah itu, Ana langsung melepaskan pelukannya.
"Jangan nangis" ucap Ana saat melihat mata Lino yang berkaca-kaca.
"Enggak, aku gak nangis kok" ucap Lino sambil tersenyum.
Chup
Tiba-tiba Ana mencium pipi Lino.
"Biar pipi kamu gak sakit lagi" ucap Ana sambil tersenyum.
Lino langsung tersenyum saat Ana mengecup pipinya.
"Ya udah aku pergi dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Oh iya, No!" ucap Ana.
Lino langsung melihat kearah Ana.
"Kenapa, Na?" tanya Lino.
"Kalau mau curhat, nanti curhat aja ya ke aku" ucap Ana.
Lino hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah aku pergi dulu ya, Na" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lino segera masuk kedalam mobilnya.
"Hati-hati ya, No" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino sambil melajukan mobilnya.
"Kasihan banget sih Lino" gumam Ana.
Setelah itu, Ana segera masuk kedalam rumahnya.
Ana segera menelpon Raka untuk memberitahu tentang kejadian tadi.
Tidak menunggu lama, Raka langsung mengangkat panggilan telepon dari Ana.
"Kenapa, Na?" tanya Raka.
"Ka, kayaknya rencananya gak jadi deh" ucap Ana.
"Rencana apaan?" tanya Raka.
"Rencana yang Lino pura-pura kecelakaan" ucap Ana.
"Kenapa gak jadi?" tanya Raka.
"Soalnya perjodohannya udah batal" ucap Ana.
"Bagus dong kalau gitu" ucap Raka.
"Tapi masalahnya sekarang Lino diusir sama papahnya" ucap Ana.
"Hah?! Lino diusir?" kaget Raka.
"Iya, tadi juga papahnya nampar Lino" ucap Ana.
"Kasihan banget sih Lino" ucap Raka.
"Iya, kasihan banget dia" ucap Ana.
"Terus sekarang dia tinggal dimana?" tanya Raka.
"Katanya sih di basecamp" ucap Ana.
"Ya udah deh sekarang gue ke basecamp" ucap Raka.
"Luh mau ke basecamp?" tanya Ana.
"Iya" ucap Raka.
"Luh kan lagi sakit, Ka" ucap Ana.
"Gak apa-apa, lagian kan gue cuma sakit perut ini" ucap Raka.
"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Raka.
"Iya" ucap Ana.
"Oh iya, Ka! nanti luh hibur Lino ya supaya dia gak sedih lagi" ucap Ana.
"Iya, nanti gue bakal hibur dia" ucap Raka.
"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Raka lagi.
"Iya" ucap Ana.
Raka segera mematikan panggilan teleponnya.
"Lino beruntung banget sih punya temen-temen kayak mereka" gumam Ana.