
"Kamu pasti bohong kan?" tanya Ana.
"Aku serius" ucap Lino.
"Kalau gak percaya, tatap aja wajah aku" ucap Lino.
"Ngapain tatap wajah kamu?" tanya Ana.
"Kan kamu bisa mendeteksi kalau aku bohong atau enggak nya" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera menatap wajah Lino dan Lino pun menatap wajah Ana.
Lalu Ana pun segera mengalihkan pandangannya karena ia malu ditatap oleh Lino.
"Gimana? percaya kan?" tanya Lino.
Ana pun hanya mengangguk.
"Kamu beneran percaya sama aku?" tanya Lino karena ia tak menyangka bahwa Ana sepolos ini.
"Iya" ucap Ana karena ia tidak melihat Lino menahan tawanya.
"Na, dingin gak?" tanya Lino.
"Dingin" ucap Ana karena memang di wahana ini sangat dingin.
Lalu Lino pun segera memegang kedua tangan Ana, kemudian ia pun meniup kedua tangan Ana agar tidak dingin.
"Masih dingin gak?" tanya Lino.
"Masih tapi gak terlalu" ucap Ana.
"Oh iya, Na. Aku mau lihat dong nomer yang ngirim foto papah kamu sama selingkuhannya" ucap Lino.
"Aku gak bawa handphone" ucap Ana.
"Ya udah, kalau gitu nanti kamu kirim ya no nya ke aku" ucap Lino.
"Tapi aku udah blokir nomernya" ucap Ana.
"Ya kan bisa lihat kontak yang diblokir" ucap Lino.
"Oh iya juga ya" ucap Ana.
"Ya udah nanti aku kasih nomernya ke kamu" ucap Ana.
Setelah selesai bermain di wahana istana boneka, Lino pun menarik tangan Ana menuju rumah hantu.
"Aaaa aku gak mau" ucap Ana.
"Gak apa-apa, ada aku ini" ucap Lino sambil tertawa karena menurutnya Ana sangat lucu kalau sedang ketakutan.
"Yang lain aja" ucap Ana.
"Sekali aja, please" mohon Lino.
"Tapi nanti jangan ninggalin" ucap Ana.
"Iya, aku gak bakal ninggalin" ucap Lino sambil tersenyum.
Akhirnya mereka berdua pun segera masuk kedalam rumah hantu.
Ana pun berjalan sambil memeluk Lino dari belakang.
"Na, ayo cepetan jalannya" ucap Lino.
"Aku gak bisa lihat, No. Ruangannya kan gelap" ucap Ana sedikit emosi.
Lino pun hanya tersenyum karena mendengar Ana yang sedang emosi.
"Na, dibelakang kamu ada hantu" bohong Lino.
"Lino!!" teriak Ana.
...****...
Setelah puas bermain, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Trining...trining
Lalu Lino pun segera mengambil ponselnya yang berada didalam saku celananya.
"Hallo, Ka" ucap Lino sambil menyetir dengan satu tangan.
"No, tadi mamahnya Ana ke rumah gue" ucap Raka.
"Mau ngapain?" tanya Lino.
"Katanya kunci rumahnya ada di Ana" ucap Raka.
"Na, kunci rumah kamu ada sama kamu?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera meraba saku celananya.
"Loh, kuncinya kemana?" tanya Ana.
"Katanya ada sama kamu" ucap Lino.
"Kuncinya hilang, No" panik Ana.
"Kok bisa hilang" heran Lino.
"Mungkin jatuh disana" ucap Ana.
"Yah terus gimana dong? masa kita harus balik lagi kesana" ucap Lino.
"Ya jangan balik lagi" ucap Ana.
"Ya terus gimana?" tanya Lino.
"Ya udah gak apa-apa, nanti tinggal ganti kunci aja" ucap Ana.
"Ka, kuncinya hilang katanya" ucap Lino kepada Raka.
"Lah terus gimana dong?" tanya Raka.
"Luh bilang aja sama mamah Ana kalau kuncinya hilang" ucap Lino.
"Ya udah deh" ucap Raka sambil mematikan teleponnya.
Lalu Lino pun kembali memasukan ponselnya kedalam saku celananya.
"Baju sama celana kamu masih basah gak?" tanya Lino.
"Basah dikit" ucap Ana.
"Ya udah kita ke mall dulu ya" ucap Lino.
"Mau ngapain?" tanya Ana.
"Gak usah, nanti ngerepotin. Tadi juga kamu yang bayar tiket, masa beli baju kamu juga yang bayar" ucap Ana.
"Kalau aku yang bayar emang kenapa? lagian kan aku bayarin karena kamu pacar aku" ucap Lino.
"Ya karena aku gak enak aja" ucap Ana.
"Nanti dikira, aku cewek matre" ucap Ana.
"Enggak kok, lagian kan ini kemauan aku bukan kemauan kamu" ucap Lino.
Skip
Setelah sampai di mall, mereka pun segera pergi menuju toko pakaian.
"Kamu pilih aja sendiri" ucap Lino.
"Enggak ah. Sama kamu aja, lagian kan dibayarnya sama kamu" ucap Ana.
"Ya udah, aku beli sama tokonya aja ya" canda Lino.
"Ya jangan lah" ucap Ana.
"Ya udah, cepet pilih" suruh Lino.
Lalu Ana pun segera memilih t-shirt hitam dan celana panjang berwarna hitam.
"Yang ini aja" ucap Ana sambil memperlihatkan t-shirt dan celana yang ia pilih.
Kemudian Lino pun segera mengambil t-shirt dan celana tersebut, kemudian ia pun segera membayarnya.
"Na, dipake langsung aja t-shirt sama celananya" ucap Lino.
"Ya udah aku lake dulu ya" ucap Ana sambil pergi menuju ruang ganti baju.
Setelah selesai berganti baju, mereka pun segera keluar dari toko tersebut.
"Na, mau eskrim gak?" tanya Lino.
"Mau" ucap Ana.
Lalu mereka pun segera berjalan ke tempat yang jual eskrim.
"Bu, saya pesen eskrim dua" ucap Lino.
"Mau rasa apa?" tanya ibu yang berjualan eskrim.
"Yang satu coklat, yang satu vanilla" ucap Lino.
"Mau pake cup atau cone?"
"Pake cup aja" ucap Lino.
Lalu ibu itu pun segera membuatkan eskrim pesanan Ana dan Lino.
"Nih eskrim nya" ucap ibu tersebut sambil memberikan eskrim.
Lalu Ana pun segera mengambil eskrim tersebut, sedangkan Lino segera membayarnya.
Lalu setelah itu, mereka pun segera menuju parkiran.
Setelah sampai, mereka berdua pun segera masuk kedalam mobil. Lalu mereka pun segera memakan eskrim tersebut.
"Makasih ya udah traktir aku" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino sambil tersenyum.
Lalu Lino pun segera mengambil tisu dan ia langsung mengelap bibir Ana dengan tisu tersebut.
"Kamu berantakan mulu makannya" ucap Lino.
"Kamu juga sama" bohong Ana.
"Emang iya?" tanya Lino.
"Iya" bohong Ana.
Lalu Ana pun segera mengambil tisu, dan ia pun segera mengelap bibir Lino padahal di bibirnya tidak ada apa-apa.
Lalu Ana pun langsung tersenyum saat mengelap bibir Lino.
"Kamu kenapa senyum?" tanya Lino.
"Gak apa-apa kok" ucap Ana.
"Kamu bohong ya?" tanya Lino.
"Beneran kok, dibibir kamu emang ada eskrimnya" ucap Ana berbohong.
"Mana coba aku liat tisu nya" ucap Lino.
Saat Lino mau mengambil tisu, Ana pun langsung membuang tisu itu keluar.
"Tuh, kan! kamu pasti bohong" ucap Lino.
"Enggak" bohong Ana.
"Bilang aja pingin modus" ucap Lino sambil tersenyum.
"Enggak kok" bohong Ana.
"Na, ambil cepet tisu yang kamu buang tadi" suruh Lino.
"Gak mau" ucap Ana.
"Nanti kamu didenda loh, soalnya kamu buang sampah sembarangan" ucap Lino.
"Emang iya?" tanya Ana.
"Iya lah" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera membuka pintu mobil, dan ia langsung mengambil tisu yang barusan ia buang.
"Terus dibuang kemana?" tanya Ana.
"Sini aku buang" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera memberikan tisu itu kepada Lino
Lino pun segera mengecek tisu tersebut.
"Tuh, kan gak ada eskrimnya" ucap Lino sambil tersenyum.
"Kan udah menyerap sama tisunya" ucap Ana.
"Kalau menyerap pasti tisunya bakal basah, tapi ini tisunya kering gak ada basahnya sama sekali" ucap Lino.
Lalu Ana pun langsung terdiam karena ia sangat malu akibat ketahuan oleh Lino.