ARLINO

ARLINO
Episode 234



* Villa


"Habis telepon sama siapa, No?" tanya Bayu sambil menghampiri Lino.


"Sama Ana" ucap Lino.


"Oh kirain lagi telepon sama cewek lain" ucap Bayu.


"Enak aja luh" ucap Lino.


"Habisnya luh teleponan nya diluar sih, makanya tadi gue agak curiga kalau luh teleponan sama cewek lain" ucap Bayu.


"Kaga lah! emangnya gue itu luh apa yang suka gonta-ganti cewek" ucap Lino.


"Gue bukan gonta-ganti, tapi gue cuma memilih yang mana yang terbaik untuk gue" ucap Bayu.


"Alah alesan luh" ucap Lino.


"Oh iya! luh udah makan belum?" tanya Bayu.


"Belum" ucap Lino.


"Ya udah ayo masuk, kita makan bareng-bareng" ucap Bayu.


"Makan apa?" tanya Lino.


"Nasi goreng" ucap Bayu.


"Siapa yang masak?" tanya Lino.


"Alex" ucap Bayu.


"Ya udah ayo masuk" ucap Bayu.


Akhirnya Lino dan Bayu segera masuk kedalam villa.


"Masakannya udah jadi belum?" tanya Bayu.


"Belum, masih dibikin" ucap Raka.


"Lama banget deh" ucap Bayu.


"Guys ini nasi gorengnya" ucap Alex sambil menghampiri teman-temannya.


"Baru juga diomongin, akhirnya udah jadi juga masakan nya" ucap Bayu.


"Minum nya mana?" tanya Gilang.


"Tuh lagi diambilin sama Bobby" ucap Alex.


Bobby segera datang menghampiri teman-temannya dan ia langsung menaruh air minum di meja.


Kemudian anak-anak Skz segera menikmati nasi goreng yang dibuat oleh Alex.


"Enak gak?" tanya Alex.


"Enak" ucap semuanya kecuali Lino.


"Enak gak, No?" tanya Alex karena cuma Lino yang tidak menjawab pertanyaan dari Alex.


"Enak, tapi lebih enak nasi goreng buatan Ana" ucap Lino.


"Emang luh pernah pernah dimasakin Ana?" tanya Raka.


"Ya pernah lah" ucap Lino.


"Sama, gue juga pernah" ucap Raka dengan sombong.


"Yah ternyata mantan sama pacarnya sama-sama pernah dimasakin" ucap Gilang sambil memanas-manasi Lino.


"Dia bukan mantannya Ana, tapi dia sahabatnya Ana" ucap Lino.


"Walaupun cuma sebentar tapi gue masih bisa dibilang mantannya Ana lah" ucap Raka.


"Ya enggak lah! mana ada pacaran bentar dianggap mantan" ucap Lino.


"Ya dianggap lah, No" ucap Gilang.


"Pokoknya enggak dianggap" ucap Lino tidak mau kalah.


"Udah jangan berantem! masa gitu aja diributin" ucap Bobby.


"Siapa juga yang berantem" ucap Lino.


"Lah! terus tadi apaan?" tanya Bobby.


"Kita gak berantem kok, tapi kita cuma lomba debat" ucap Raka.


"Serah luh berdua deh" ucap Bobby dengan wajah datar.


"Oh iya, No! cewek-cewek jadi gak ke pantai nya?" tanya Gilang.


"Jadi" ucap Lino.


"Mereka semua beneran pake b*k*n* ke pantainya?" tanya Gilang.


"Ya enggak lah" ucap Lino.


"Emang siapa yang mau pake b*k*n*?" tanya Bayu.


"Tadinya pacar gue, Ana, Clara sama Lia mau pake pas ke pantai. Tapi mereka gak jadi pake" ucap Gilang.


"Kenapa gak jadi?" tanya Bayu.


"Ya mereka gak bakal berani pake lah. Lagian mereka ngomong kayak gitu itu supaya gue sama luh ngajak mereka ke villa" ucap Lino.


"Emang mereka pingin kesini?" tanya Bayu.


"Iya, mereka pingin ikut. Tapi gue sama Lino ngelarang soalnya kan pasti mereka gak bakal diijinin sama orang tua nya" ucap Gilang.


"Padahal ajak aja biar seru" ucap Bayu.


"Kalau diajak nanti mamah Ana bisa marah ke gue" ucap Lino.


"Tapi kalau gue yang ajak kayaknya mamahnya Ana gak bakal marah deh" ucap Raka.


Lino hanya menatap sinis kearah Raka.


"Bener kan apa kata gue?" tanya Raka sambil menahan tawanya.


"Lagian kan gue udah dianggap anak sama mamahnya Ana. Jadi mamah Ana pasti ngijinin kalau gue yang ajak" ucap Raka dengan sombong.


"Emang luh deket banget ya sama orang tua nya Ana?" tanya Gilang.


"Iya deket banget" ucap Raka.


"Sombong banget, mentang-mentang deket" ucap Lino dengan sinis.


"Luh iri ya sama gue?" tanya Raka sambil menahan tawanya.


"Mana ada gue iri sama luh" bohong Lino.


"Oh iya, waktu kecil gue sering nginep di rumah Ana. Bahkan sampe tidur bareng" ucap Raka agar Lino semakin iri.


"Tidur bareng Ana?" tanya Gilang.


"Iya" ucap Raka.


"No, luh iri gak sama Raka?" tanya Alex.


"Ngapain iri, lagian gue juga pernah tidur bareng Ana" ucap Lino keceplosan.


Sontak yang lainnya langsung memasang wajah kaget karena mendengar ucapan Lino barusan.


"Ini mulut kenapa gak bisa di rem sih" batin Lino.


"Luh serius, No?" tanya Raka.


"Eh enggak, gue cuma bercanda tadi" ucap Lino sedikit gugup.


"Anjir! gue kira beneran tidur bareng" ucap Bayu.


"Ya enggak lah" bohong Lino.


"Hampir aja gue ketahuan" batin Lino.


...****...


* Pantai


"Guys, bosen gak sih?" tanya Clara.


"Iya bosen" ucap Felisa.


"Kita jalan-jalan ke tempat lain aja yuk!" ajak Clara.


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Lia.


"Kemana aja deh, yang penting jalan-jalan" ucap Clara.


"Kalau gak ada tujuan nanti bingung" ucap Lia.


"Kita berenang aja yuk!" ajak Felisa.


"Gue sama Ana kan lagi luka, Fel" ucap Clara.


"Oh iya, gue lupa" ucap Felisa.


"Terus mau kemana?" tanya Lia.


"Ke rumah Ana yuk!" ajak Clara.


"Ngapain ke rumah gue?" tanya Ana.


"Ya main lah" ucap Clara.


"Ya udah deh mainnya di rumah Ana aja" ucap Felisa.


"Ya udah ayo berangkat" ucap Lia.


Akhirnya mereka segera pergi menuju rumah Ana.


Skip


Setelah sampai di rumah, Ana dan teman-temannya segera turun dari motor. Setelah itu, mereka segera masuk kedalam rumah Ana.


"Kamu dari mana aja?" tanya mamah.


"Ana sama temen-temen habis dari pantai, mah" jawab Ana.


"Kenapa gak bilang dulu sih kalau mau keluar rumah" ucap mamah.


"Maaf mah, soalnya tadi Ana buru-buru" ucap Ana.


"Oh iya! kalian udah pada makan belum?" tanya mamah Ana.


"Belum, tante" ucap Clara, Felisa dan Lia.


"Kamu juga belum makan kan, Na?" tanya mamah.


"Iya belum, mah" ucap Ana.


"Ya udah ayo makan" suruh mamah Ana.


Akhirnya mereka segera menuju ruang makan.


Sesampainya di ruang makan, mereka segera duduk.


"Dihabisin ya makanannya" ucap mamah Ana.


"Iya, tante" ucap teman-temannya Ana.


Lalu Ana dan teman-temannya segera memakan makanan buatan mamah Ana.


"Ya udah kalau gitu tante pergi dulu ya" ucap mamah Ana.


"Iya" ucap teman-temannya Ana.


"Mau kemana, mah?" tanya Ana.


"Mau ke supermarket" ucap mamah.


Lalu mamah Ana segera pergi.


Trining...trining


Ana segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Lino.


Lalu Ana segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo, No" ucap Ana.


"Ini gue, bukan Lino" ucap Gilang.


"Kenapa luh pake handphone Lino?" tanya Ana.


"Soalnya nomer gue diblokir sama Felisa. Makanya gue pake handphone Lino" ucap Gilang.


"Fel, luh blokir nomer Gilang?" tanya Ana kepada Felisa.


Felisa hanya mengangguk.


"Tolong kasihin handphone nya ke Felisa dong, Na" suruh Gilang.


"Fel, Gilang mau ngobrol sama luh katanya" ucap Ana.


"Gue gak mau!" ucap Felisa.


"Lang, Felisa nya gak mau soalnya dia lagi makan. Nanti lagi aja ya teleponnya" ucap Ana.


"Yaelah, kan teleponnya bisa pake tangan kiri" ucap Gilang.


"Tangan kirinya juga lagi dipake buat scroll T*kTok" ucap Ana.


Lalu Ana langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Fel, luh kenapa pake blokir nomer Gilang segala?" tanya Ana.


"Soalnya gue kesel sama dia" ucap Felisa.


"Kesel gara-gara gak diajak ke villa?" tanya Ana.


"Iya" ucap Felisa.


"Ditambah lagi bareng cewek lagi ke villa nya" ucap Felisa.


"Cewek itu cuma saudaranya Bayu, Fel" ucap Ana.


"Kalau cewek-cewek itu selingkuhannya mereka gimana?" tanya Felisa.


"Enggak lah, kan tadi Lino udah jelasin ke gue kalau cewek itu saudaranya Bayu" ucap Ana.


"Tiga-tiganya saudaranya Bayu?" tanya Clara.


"Cuma satu sih saudaranya, yang lainnya cuma temen dari saudaranya Bayu" ucap Ana.


"Buka aja blokir nya, Fel! kasihan Gilang" ucap Lia.


"Nanti aja ah" ucap Felisa.


Setelah selesai makan, mereka berempat segera pergi ke kamar.


"Guys, nonton film yuk!" ajak Clara.


"Enggak ah! gue gak mood nonton" ucap Felisa.


"Terus mau ngapain dong? masa diem aja" ucap Clara.


"Gimana kalau kita mau truth or dare?" usul Ana.


"Ayo" ucap Clara, Felisa dan Lia bersamaan.


"Ya udah dimulai dari siapa nih?" tanya Ana.


"Dari luh lah! kan luh yang ngajakin" ucap Clara.


"Ya udah deh gue duluan" ucap Ana.


"Luh mau truth or dare?" tanya Clara.


"Gue truth aja" ucap Ana.


"Siapa first kiss luh?" tanya Lia.


"Lino" jawab Ana.


"Oke sekarang pertanyaannya dari gue" ucap Felisa.


"Kok banyak pertanyaan nya" heran Ana.


"Iya soalnya biar seru kalau pertanyaannya banyak" ucap Felisa.


"Ya udah mau nanya apa lagi?" tanya Ana.


"Udah berapa kali luh sama Lino ciuman?" tanya Felisa.


"Ih kok pertanyaannya menyangkut Lino mulu sih" keluh Ana.


"Udah cepet jawab!" ucap Felisa.


"Gue gak tahu lah! masa tiap ciuman gue harus ngitung" ucap Ana.


"Berarti sering ya?" tanya Felisa sambil tersenyum.


"Gak sering juga kali" ucap Ana.


"Ya udah sekarang pertanyaan luh, Ra" ucap Ana.


"Hmm...apa ya?" pikir Clara.


"Oh iya! kalau misalnya Lino selingkuh, luh bakal putusin dia gak?" tanya Clara.


"Lino gak mungkin selingkuhin" ucap Ana.


"Kan gue bilang misalnya" ucap Clara sambil menekankan kata misalnya.


"Hmm...kayaknya gue gak bakal putusin deh" ucap Ana.


"Loh kenapa gak diputusin? kan udah jelas-jelas selingkuh" heran Felisa.


"Gue gak mau putus sama Lino karena gue udah terlanjur sayang sama dia" ucap Ana.


"Walaupun luh nya sakit hati, luh gak bakal putusin Lino?" tanya Lia.


"Iya, gue gak bakal putus sama Lino. Kalau masalah Lino yang selingkuh, gue bisa maafin dia kok. Asalkan dia kasih tahu alasan dia selingkuh itu karena apa" ucap Ana.


"Kalau alasannya karena bosen gimana?" tanya Felisa.


"Kalau dia bosen, berarti gue harus memperbaiki diri lagi biar gue jadi orang yang asik supaya Lino gak bosen sama gue" kata Ana.


"Susah ya kalau udah bucin" ucap Clara.


"Ya udah sekarang gantian dong" ucap Ana.


"Ya udah mau siapa?" tanya Lia.


"Luh dulu aja" ucap Felisa.


"Luh mau truth or dare?" tanya Felisa lagi.


"Truth" ucap Lia.


"Siapa cowok yang luh suka sekarang?" tanya Felisa.


Sontak Lia langsung melihat kearah Ana dan Clara.


"Hmm..gak ada" bohong Lia.


"Masa gak ada sih" ucap Felisa.


"Ya emang gak ada" ucap Lia.


"First love luh siapa sih?" tanya Felisa penasaran.


"Gue gak punya first love" ucap Lia.


"Masa luh belum pernah jatuh cinta sih" ucap Felisa.


"Emang belum pernah" bohong Lia.


"Luh suka cewek ya?" tuduh Felisa.


"Ya enggak lah!" ucap Lia.


"Kalau enggak, kenapa gak punya cowok yang ditaksir" ucap Felisa.


"Ya kan gue belum jatuh cinta sama cowok" ucap Lia.


"Ya udah cepet lanjut pertanyaan yang lainnya" ucap Lia.


"Kalau misalnya ada cowok yang nembak luh, luh bakal terima gak?" tanya Clara.


"Ya tergantung dulu siapa orangnya" ucap Lia.


"Ya udah sekarang luh yang nanya" ucap Lia kepada Ana.


"Hmm...luh beneran udah gak marah sama gue kan?" tanya Ana memastikan.


Lia hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Gue udah gak marah kok sama luh" ucap Lia.


"Maafin gue ya, Na" ucap Lia lagi.


"Iya, gue udah maafin luh kok" ucap Ana sambil tersenyum.


Trining...trining


Ana langsung melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Lino.


"Iya" ucap Clara, Felisa dan Lia.


Ana segera keluar dari kamarnya. Lalu ia langsung mengangkat panggilan telepon dari Lino.


"Hallo, No" ucap Ana.


"Na, kamu mau strawberry gak?" tanya Lino.


"Mau" ucap Ana.


"Ya udah nanti kalau udah pulang aku beliin ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Disini banyak banget loh yang jual strawberry" ucap Lino.


"Oh ya?" ucap Ana.


"Iya, banyak banget yang jual" ucap Lino.


"Oh iya, No! kamu disana makan gak?" tanya Ana memastikan.


"Makan kok" ucap Lino.


"Beneran?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Dimasakin sama siapa?" tanya Ana.


"Sama Alex" ucap Lino.


"Oh iya, kamu bawa obat-obatan gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Loh kok gak bawa sih, nanti kalau kamu sakit gimana coba" ucap Ana.


"Aku gak bakal sakit kok" ucap Lino.


"Kamu bawa jaket gak?" tanya Ana.


"Bawa" ucap Lino.


"Nanti kalau malem dipake ya jaketnya, soalnya pasti nanti malem udaranya dingin" ucap Ana.


"Perhatian banget sih" ucap Lino.


"Ya harus dong, kan kamu pacar aku" ucap Ana.


"Oh iya, nanti malem jangan lupa telepon aku ya" ucap Ana.


"Emang mau ngapain telepon kamu?" tanya Lino.


"Ya kan siapa tahu kamu kangen sama aku" ucap Ana.


"Kamu kali yang kangen" ucap Lino.


"Enggak, aku gak kangen" ucap Ana.


"Ya udah kalau gak kangen berarti jangan teleponan" ucap Lino.


"Kok gitu sih" keluh Ana.


"Kan katanya gak kangen" ucap Lino.


"Eh kangen deh" ralat Ana.


"Ya udah nanti malem aku telepon lagi ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu aku matiin ya teleponnya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino langsung mematikan panggilan teleponnya.


Setelah itu, Ana segera kembali menghampiri teman-temannya.


"Maaf ya guys" ucap Ana.


"Kenapa minta maaf?" heran Felisa.


"Soalnya kan tadi gue teleponan" ucap Ana.


"Gak usah minta maaf juga kali" ucap Felisa.


"Oh iya, ayo lanjut mainnya" ucap Ana.


"Mau luh dulu atau gue dulu?" tanya Felisa kepada Clara.


"Luh dulu aja" ucap Clara.


"Ya udah kalau gitu gue pilih dare" ucap Felisa.


"Ya udah sekarang coba luh telepon Gilang terus luh bilang putus ke dia" ucap Clara.


"Gue gak mau putus" ucap Felisa.


"Ya kan cuma pura-pura” ucap Clara.


"Ya udah deh bentar, gue mau buka dulu blokiran nya" ucap Felisa.


Setelah selesai membuka blokiran, Felisa langsung menelepon Gilang.


Tidak menunggu lama, Gilang langsung mengangkat panggilan telepon dari Felisa.


"Hallo sayang" ucap Gilang.


"Lang, aku mau putus" ucap Felisa.


"Loh! kok gitu sih" ucap Gilang.


"Masa cuma gara-gara gak diajak ke villa jadi pingin putus" ucap Gilang lagi.


"Cepet matiin lagi teleponnya" ucap Clara pelan.


Lalu Felisa langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Terus gue harus gimana lagi nih?" tanya Felisa.


Trining...trining


Gilang kembali menelepon Felisa.


"Guys, dare nya apa lagi?" ucap Felisa.


"Nanti pas luh angkat teleponnya, luh pura-pura nangis ya" suruh Ana.


"Ngapain nangis?" bingung Felisa.


"Udah nangis aja" ucap Ana.


"Cepet angkat, Fel!" ucap Lia.


Akhirnya Felisa segera mengangkat panggilan telepon dari Gilang.


"Fel, jangan kayak gitu lah. Masa cuma gitu doang putus sih" ucap Gilang.


"Hiks...hiks"


"Loh kenapa nangis?" bingung Gilang.


"Habisnya kamu sih" ucap Felisa.


"Lah! kan kamu yang mutusin, kenapa jadi salah aku?" heran Gilang.


"Kamu gak peka banget sih jadi cowok" ucap Felisa.


"Gak peka apanya sih?" bingung Gilang.


"Ajak kek aku kesana" ucap Felisa.


"Ya ampun! kenapa ngebahas itu lagi sih" ucap Gilang.


"Lagian aku udah sampe di villa, jadi gak mungkin harus jemput kamu" ucap Gilang.


"Fel, matiin lagi teleponnya" ucap Clara pelan.


Felisa kembali mematikan panggilan teleponnya.


"Terus gue harus ngapain lagi? tanya Felisa.


"Telepon Gilang, terus bilang minta maaf ke dia" ucap Lia.


Akhirnya Felisa kembali menelepon Gilang.


"Lang" panggil Felisa.


"Iya kenapa sayang" ucap Gilang.


"Maafin aku" ucap Felisa.


"Kamu kenapa sih aneh banget hari ini" heran Gilang.


"Maafin aku ya" ucap Felisa lagi.


"Iya, aku udah maafin kok" ucap Gilang.


"Kita gak jadi ya putus nya" ucap Felisa.


"Iya enggak" ucap Gilang.


"Nomer aku nya jangan diblokir lagi ya" ucap Gilang.


"Iya" ucap Felisa.


"Ya udah kalau gitu aku matiin dulu ya teleponnya" ucap Felisa.


"Iya" ucap Gilang.


Lalu Felisa langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Sekarang giliran luh, Ra" ucap Felisa.


"Luh mau apa, Ra?" tanya Ana.


"Gue mau dare" ucap Clara.


"Coba telepon Bobby, terus luh bilang kangen ke dia" ucap Ana.


"Enggak mau ah!" tolak Clara.


"Pokoknya luh harus ngomong karena ini challenge" ucap Ana.


"Ke yang lain aja deh" ucap Clara.


"Oh iya! luh telepon Lino, terus luh bilang kalau luh suka sama dia" ucap Ana.


"Luh gila ya! kan Lino pacar luh" ucap Clara.


"Gak apa-apa coba aja! soalnya gue pingin denger reaksinya" ucap Ana.


"Gak apa-apa nih?" tanya Clara memastikan.


"Iya gak apa-apa" ucap Ana.


Akhirnya Clara segera menelepon Lino.


Tidak menunggu lama, Lino langsung mengangkat panggilan telepon dari Clara.


"Hallo" ucap Lino.


"No, luh lagi ngapain?" tanya Clara.


"Gue baru aja mau tidur" jelas Lino.


"Emangnya luh mau ngomong apa, Ra?" tanya Lino.


"No, sebenernya gue pingin ngomong sesuatu yang penting sama luh" ucap Clara.


"Tentang Ana?" tebak Lino.


"Bukan" ucap Clara.


"Tapi ini tentang gue" ucap Clara.


"Luh kenapa?" bingung Lino.


"Sebenernya gue suka sama luh" ucap Clara.


"Luh pasti nge-prank gue kan?" tanya Lino.


"Enggak, gue serius" ucap Clara.


"Sebenernya gue suka sama luh sebelum luh jadian sama Ana" ucap Clara.


"Ra, luh sama Ana pasti ngerjain gue kan?" tanya Lino.


"Enggak, gue gak ngerjain luh" ucap Clara.


"Ini pasti luh semua lagi challenge kan?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Clara.


"Gue udah tahu kali kalau luh lagi di rumah Ana" ucap Lino.


"Tadi iya, tapi sekarang gue udah sampe di rumah" ucap Clara.


"Terus gimana jawaban luh, No?" tanya Clara sambil menahan tawanya.


"Jawaban apaan sih maksud luh?" bingung Lino.


"No, luh suka atau enggak ke gue?" tanya Clara.


"Enggak" ucap Lino.


Lalu Lino langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Ih ngeselin banget! malah langsung dimatiin lagi" ucap Clara.


"Coba telepon lagi" ucap Ana.


Lalu Clara kembali menelepon Lino.


"Lah! kayaknya gue diblokir deh sama Lino" ucap Clara.


Ana langsung tertawa karena mendengar ucapan Clara.


"Malah ketawa lagi" ucap Clara.


"Aduh gimana ya kalau Lino nganggep itu serius?" tanya Clara.


"Ya gak bakal lah, Ra" ucap Ana.


"Guys! kayaknya gue harus pulang deh, soalnya mamah nyuruh gue pulang" ucap Lia.


"Ya udah kalau gitu gue juga pulang deh" ucap Felisa.


"Gue juga pulang deh" ucap Clara.


"Ya udah kalau gitu hati-hati ya dijalan nya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lia, Clara dan Felisa bersamaan.


Akhirnya mereka bertiga segera pulang.


...****...


**Skip


Malam hari**


Trining...trining


Ana langsung buru-buru mengambil ponselnya karena ia tahu pasti Lino yang menelponnya.


"Tuh kan! beneran Lino yang nelpon" gumam Ana.


Lalu Ana segera mematikan televisi nya. Setelah itu, ia segera mengangkat panggilan telepon dari Lino.


"Hallo sayang" ucap Ana.


"Loh! kok tumben manggil sayang" heran Lino.


"Emang gak boleh ya kalau aku manggil sayang ke kamu?" tanya Ana.


"Ya boleh lah" ucap Lino.


"Oh iya, No! kami ngeblokir nomernya Clara ya?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Kenapa diblokir?" tanya Ana.


"Soalnya dia usil banget" ucap Lino.


"Usil gimana?" tanya Ana.


"Dia nge-prank aku katanya dia suka sama aku, makanya aku blokir" ucap Lino.


"Itu disuruh aku, No" ucap Ana.


"Oh jadi disuruh kamu?" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Tuh kan, bener! aku juga tadi nebak kalau itu disuruh sama kamu" ucap Lino.


"Ya udah cepet buka blokirnya lagi" ucap Ana.


"Iya, nanti aku buka kok blokiran nya" ucap Lino.


"Oh iya, No! seru gak disana?" tanya Ana.


"Seru banget" ucap Lino.


"Aku jadi pingin ikut deh" ucap Ana.


"Kapan-kapan lagi aja ya ikut nya" ucap Lino.


"No, villa nya serem gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Biasanya villa suka serem tahu" ucap Ana.


"Disini enggak serem kok" ucap Lino.


"Oh iya! kamu udah makan malam belum?" tanya Ana.


"Ini aku lagi makan malem sama temen-temen" jelas Lino.


"Makan sama apa?" tanya Ana.


"Ikan bakar" ucap Lino.


"Oh sekarang kamu lagi makan?" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino


"Ya udah kalau gitu aku matiin dulu ya teleponnya" ucap Ana.


"Loh kenapa dimatiin?" tanya Lino.


"Kan kamu lagi makan" ucap Ana.


"Ya gak apa-apa" ucap Lino.


"Aku takut ganggu" ucap Ana.


"Gak ganggu kok" ucap Lino.


"Nanti lagi aja teleponnya kalau kamu nya udah selesai makan" ucap Ana.


"Ya udah deh terserah kamu aja" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Eh, Na!" ucap Lino.


"Kenapa, No?" tanya Ana.


"I love you" ucap Lino pelan.


Ana menjadi salah tingkah karena mendengar ucapan Lino.


"Kok gak dijawab sih" ucap Lino.


"Apa, No? aku gak denger" bohong Ana.


"Enggak jadi" ucap Lino.


"I love you too" ucap Ana sambil tersenyum.


"Katanya gak denger" ucap Lino.


"Aku denger kok" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu aku tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Ana langsung mematikan panggilan teleponnya.