ARLINO

ARLINO
Episode 189



"No, luh kan bentar lagi ulang tahun ya" ucap Alex.


"Iya, emang kenapa?" tanya Lino.


"Berarti nanti luh bakal traktir kita dong" ucap Alex.


"Iya, nanti gue traktir luh semua" ucap Lino.


"Nanti Raka, Bagas sama Aldi diajak jangan?" tanya Gilang.


"Kalau mereka mau, ya boleh" ucap Lino.


"Oh iya, luh mau kado apa?" tanya Alex.


"Gak usah pake kado, ada kalian pas ulang tahun gue aja gue udah seneng" ucap Lino.


"Gue kado tiga kucing aja ya, nanti namanya Doru, Dore, Doro" ucap Gilang.


"Gak mau! dua kucing aja udah cape ngurusnya, apalagi kalau lima" ucap Lino.


"No, Ana tahu gak tanggal ulang tahun luh?" tanya Alex.


"Tahu" ucap Lino.


"Menurut luh, dia bakal kasih kado apa?" tanya Alex.


"Mana gue tahu" ucap Lino.


"Menurut gue sih, Ana bakal ngasih sesuatu yang aneh" ucap Gilang.


"Maksud luh sejenis ciuman?" tanya Alex.


"Bukan anjir!" ucap Gilang.


"Terus apaan?" tanya Alex.


"Gue gak tahu sih, tapi yang pasti dia bakal kasih kado aneh" ucap Gilang.


"Tahu darimana luh kalau Ana bakal kasih kado aneh?" heran Lino.


"Soalnya kan Ana anaknya aneh, pasti kadonya juga aneh" ucap Gilang.


"Enak aja luh sebut cewek gue aneh" ucap Lino sedikit kesal.


"Dia emang aneh, No" ucap Gilang.


"Enggak, dia lucu bukan aneh" ucap Lino.


"Dia aneh, No! buktinya waktu dikelas, gue lihat dia ngomong sendiri sama cermin" ujar Gilang.


"Dia ngomong apa emang?" tanya Lino.


"Dia bilang, heh yang didalam cermin! luh itu gue atau orang lain sih, kok di tiap cermin muka gue suka berubah-ubah" ucap Gilang sambil memperagakan Ana saat bercermin.


"Luh ngarang cerita ya?" ucap Lino.


"Gue berani sumpah, Ana ngomong kayak gitu No" ucap Gilang.


"Tapi gue juga sering kok ngomong sama cermin" ucap Alex.


"Luh juga suka ngomong sama cermin?" tanya Gilang.


"Bukan ngomong sama cermin sih, tapi lebih tepatnya ngomong sama diri sendiri" ucap Alex.


"Berarti luh sama Ana sama-sama aneh" ucap Gilang.


"Emang luh kalau ngaca gak pernah ngomong sesuatu gitu?" tanya Alex.


"Ya pernah sih, tapi gue gak pernah nanya sama diri gue sendiri pas ngaca" ucap Gilang.


"Emang luh ngomong apa pas ngaca?" tanya Lino.


"Ih gue ganteng banget, udah gitu doang. Gak sampe nanya kayak Ana" ucap Gilang.


"Sama aja berarti luh juga aneh" ucap Lino.


"Gue gak aneh, kan gue gak nanya ke cerminnya" ucap Gilang.


"Oh iya, Lang! tadi luh anterin Ana sampai rumah kan?" tanya Lino memastikan.


"Iya, malah gue anterin sampai kamarnya" ucap Gilang berbohong.


"Ngapain sampai kamar?" tanya Lino sambil menatap tajam kearah Gilang.


"Bercanda kali, No! luh serius amat orangnya" ucap Gilang.


"Udah...udah jangan berantem" ucap Alex.


Trining...trining


Lino segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari Ana.


"Siapa, No?" tanya Alex.


"Cewek gue" ucap Lino sambil tersenyum.


"Giliran sama Ana aja senyum, sedangkan ke gue luh marah-marah mulu bawaannya" ucap Gilang namun tidak dihiraukan oleh Lino.


Lalu Lino segera mengangkat panggilan telepon dari Ana.


"Ada apa, Na?" tanya Lino.


"Kue nya dimakan belum?" tanya Ana.


"Kue brownies?" tanya Lino.


"Iya, tadi kan aku titipin kue itu ke Gilang" ucap Ana.


"Jadi itu kue buat aku?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


Gilang langsung buru-buru pergi menuju kamar mandi.


"Oh iya, jangan lupa ya kasih Gilang sama Alex juga" ucap Ana.


"Iya, nanti aku bakal kasih mereka juga" ucap Lino padahal sebenarnya kue nya sudah habis dan ia hanya memakan satu potong kue.


"Ya udah kalau gitu aku matiin dulu ya teleponnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Ana segera mematikan panggilan teleponnya.


"Gilang!!!" kesal Lino.


"Kenapa, No?" tanya Alex.


"Itu kue buat gue, bukan buat dia" ucap Lino.


"Iya" ucap Lino.


"Gak apa-apa lah, anggap aja itu ongkos buat Gilang" kata Alex.


"Bisa-bisa gue tambah sakit nih kalau ada Gilang" ucap Lino.


"Kenapa gitu?" tanya Alex.


"Soalnya dia bikin gue darah tinggi mulu" ucap Lino.


...****...


Setelah selesai mandi, Ana segera duduk dikasurnya.


Trining...trining


Ana segera mengambil ponselnya dan ia melihat ada panggilan telepon dari Lia.


Kemudian Ana segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Hallo Lia" ucap Ana.


"Na, luh bilang ke Bagas ya" ucap Lia.


"Maksudnya?" bingung Ana.


"Luh bilang ke Bagas kan soal gue yang suka sama dia" kesal Lia.


"Gue gak bilang ke Bagas kok" ucap Ana.


"Kalau gak bilang, kenapa Bagas nanya gue suka ke dia atau enggak" ucap Lia.


"Sebenernya Lino yang bilang, tapi luh tenang aja soalnya gue udah buat Bagas percaya lagi kok kalau luh gak suka sama dia" ucap Ana.


"Gue kan udah bilang ke luh, buat jaga rahasia gue" kesal Lia.


"Luh gak bisa dipercaya banget sih, Na" ucap Lia.


Ana hanya terdiam.


"Terus siapa lagi yang udah tahu?" tanya Lia.


"Clara" ucap Ana.


"Tapi Clara tahu waktu gue nanya ke dia, soalnya kan nama Bagas di telepon luh dikasih emot love. Makanya gue nanya ke Clara buat mastiin luh sama Bagas itu pacaran atau enggak" jelas Ana.


Lia langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Aduh gimana nih, pasti Lia marah banget sama gue" batin Ana.


Ana segera menelepon Lia kembali, namun Lia menolak panggilannya.


"Gimana dong" ucap Ana merasa bersalah.


Lalu Ana segera menelepon Clara.


Beberapa detik kemudian, Clara mengangkat panggilan telepon dari Ana.


"Kenapa, Na?" tanya Clara.


"Ra, minta alamat rumah Lia dong" ucap Ana.


"Mau ngapain nanyain alamat rumah Lia?" tanya Clara.


"Udah, luh kirim aja ya alamatnya ke gue" ucap Ana.


"Iya, nanti gue kirim alamatnya" ucap Clara.


"Sekarang aja kirimnya, soalnya gue mau ke rumah Lia sekarang" ucap Ana.


"Ya udah iya" ucap Clara.


"Ya udah kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Clara.


Ting


Ana segera membuka pesan dari Clara.


Setelah membaca pesan tersebut, Ana langsung pergi menuju rumah Lia dengan menggunakan ojek.


Skip


Setelah sampai, Ana segera turun dan ia langsung membayar ongkos ojek tersebut.


"Ini bukan sih rumahnya" batin Ana.


Ana segera mengirim pesan ke Lia, agar Lia tahu bahwa Ana datang ke rumah Lia.


Lalu Ana segera menekan bel rumah tersebut.


Kemudian seseorang membuka pagar rumah tersebut.


"Mau cari siapa?" tanya pembantu.


"Mau cari Lia" ucap Ana.


"Oh mau cari non Lia" ucap pembantu.


"Iya, Lia nya ada kan?" tanya Ana.


"Non Lia nya lagi tidur" bohong pembantu itu.


"Oh lagi tidur ya" ucap Ana.


"Iya, lagi tidur" ucap pembantu


"Ya udah deh kalau gitu boleh tolong sampaikan permintaan maaf saya ke Lia gak?" ucap Ana.


"Permintaan maaf?" tanya pembantu.


"Iya" ucap Ana.


"Nama non siapa?" tanya pembantu itu.


"Nama saya Ana" ucap Ana.


"Ya udah, nanti bibi sampaikan ya ke non Lia" ucap pembantu itu.


"Makasih ya, bi" ucap Ana.


"Iya sama-sama" ucap pembantu tersebut.


Lalu pembantu tersebut segera kembali masuk kedalam rumah.