
Ana pun tertidur sambil menyender di bahu Lino.
Tok...tok...tok
"Na, bangun dulu" ucap Lino sambil menepuk pelan pipi Ana.
Lalu Ana langsung terbangun.
"Kenapa, No?" tanya Ana.
"Kamu ke kamar tamu sana, jangan lupa pintunya ditutup" suruh Lino.
"Kenapa pintunya ditutup?" tanya Ana.
"Udah kamu kesana aja" suruh Lino.
"Cepet" ucap Lino.
Lalu Ana segera pergi menuju kamar tamu.
Setelah itu, Lino segera membukakan pintu rumahnya.
Cklek
"Eh kalian, ngapain pagi-pagi kesini?" tanya Lino kepada teman-temannya.
"Kita mau main lah" ucap Gilang, Bayu, Bobby dan Alex.
"Main di rumah gue?" tanya Lino.
"Ya iyalah" ucap teman-temannya Lino.
"Mainnya jangan di rumah gue aja, soalnya rumah gue berantakan" ucap Lino.
"Gak apa-apa berantakan juga" ucap Bayu.
"Iya gak apa-apa, lagian kan kita niat kesini mau masak-masak jadi nanti juga pasti berantakan dapur luh" ucap Bobby.
"Lagian sayang kalau gak jadi, soalnya kita udah beli ayamnya" ucap Alex.
"Jadi boleh gak kita masak disini?" tanya Bayu.
"Ya boleh lah, kan biasanya juga kita sering masak-masak" ucap Gilang.
"Lain kali aja deh masak-masak nya" ucap Lino.
"Luh gak ngehargain banget sih, No! kita kan udah beli ayam, masa gak jadi masak-masak nya" ucap Gilang.
"Luh berempat aja deh, gue gak ikutan" ucap Lino.
"Kok gue curiga ya sama luh" ucap Bayu.
"Curiga kenapa?" tanya Lino.
"Baru kali ini loh, luh ngelarang kita main" ucap Bayu.
"Gue gak ngelarang kalian main di rumah gue kok" ucap Lino.
"Ada cewek ya di rumah luh?" tanya Bayu.
"Gak ada" bohong Lino.
"Kalau gak ada kenapa luh ngelarang kita main ke rumah luh?" ucap Bayu.
"Soalnya kan rumah gue berantakan" ucap Lino.
"Kan biasanya juga kalau berantakan, luh memperbolehkan kita main" ucap Bayu.
"Ada Ana ya, No?" tanya Gilang.
"Gak ada" ucap Lino.
"Kalau luh gak bolehin kita masuk, berarti emang ada cewek didalem" ucap Bobby.
"Enggak ada kok" bohong Lino.
"Ya udah kalau gitu berarti kita boleh kan masuk, biar ngebuktiin bahwa didalem gak ada cewek" ucap Bayu.
"Ya udah ayo masuk" pasrah Lino.
Lalu mereka semua segera masuk kedalam rumah Lino.
"Kalau mau masak langsung ke dapur aja" ucap Lino.
"Ya udah ayo masak" ucap Alex.
"Yang masak biar gue sama Alex aja" ucap Bobby.
"Ya udah berarti gue, Gilang sama Lino tunggu di ruang tamu aja ya" ucap Bayu.
"Iya" ucap Bobby.
Lalu Bobby dan Alex segera pergi menuju dapur. Sedangkan Lino, Gilang dan Bayu pergi menuju ruang tamu untuk menonton televisi.
Lino terus berdoa didalam hati agar Ana jangan keluar dari kamar tamu, karena kalau dia keluar nanti yang ada temen-temennya mikir yang enggak-enggak.
"Ini handphone siapa?" tanya Bayu.
Sontak Lino langsung mengambil handphone tersebut.
"Punya gue" bohong Lino.
"Bukannya handphone luh warna gold ya?" tanya Bayu.
"Kan handphone gue ada dua" ucap Lino.
"Itu kayak handphone Ana deh" ucap Gilang.
"Bukan, ini handphone gue" ucap Lino sambil memasukan handphone Ana kedalam saku.
"No, ada beras gak?" teriak Alex yang berada di dapur.
"Ada" teriak Lino.
"Dimana?" teriak Alex.
Lalu Lino segera pergi menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, ia langsung mengambil beras. Kemudian ia langsung memberikan beras itu kepada Alex.
Lalu setelah itu, Lino segera kembali menghampiri Gilang dan Bayu.
"Jangan kamar mandi yang disitu! luh ke kamar mandi yang deket dapur aja sana" ucap Lino.
"Enggak ah! kamar mandi yang di kamar tamu aja,. soalnya lebih deket" ucap Bayu.
Lalu Lino segera mencegah Bayu yang hampir mau membuka pintu kamar tamu.
"Jangan disini, disana aja! soalnya toiletnya mampet" bohong Lino.
"Ya udah deh" ucap Bayu.
Lalu Bayu segera pergi menuju kamar mandi dekat dapur.
Kemudian Lino segera kembali duduk di sofa.
"No" panggil Gilang.
"Apa?" tanya Lino.
"Nanti raport luh mau diambil sama siapa?" tanya Gilang.
"Hmm...sama mamah luh aja ya, Lang. Soalnya orang tua gue pasti gak bisa ke sekolah" ucap Lino.
"Oh ya udah" ucap Gilang.
"Oh iya, kan luh udah baikan lagi ya sama Bagas. Tapi kok dia gak main-main ke basecamp sih" ucap Gilang.
"Gue emang udah baikan lagi sama dia. Tapi kalau soal dia gak main lagi, ya tanyain langsung aja ke orang nya" ucap Lino.
"Eh iya, No! Felisa beneran suka sama gue kan?" tanya Gilang.
"Iya, luh bawel banget sih jadi orang! gue kan udah bilang berkali-kali" ucap Lino
"Apa gue tembak aja ya dia" ucap Gilang.
"Ya tembak aja" ucap Lino.
"Gimana ya cara tembaknya? soalnya gue udah lama gak nembak orang" ucap Gilang.
"Ya bilang aja kalau luh suka sama dia" ucap Lino.
"Sebenernya gue biasa aja sih ke dia, cuma karena dia suka gue duluan. Jadi gue pingin nembak dia" ucap Gilang.
"Jadi luh gak suka sama dia?" tanya Lino.
"Gak suka sih enggak, tapi gue masih biasa aja gitu" ucap Gilang.
"Kalau perasaan luh masih biasa aja, lebih baik luh jangan nembak dulu deh, takutnya luh malah nyakitin dia" ucap Lino.
"Bukannya bagus ya kalau nembak duluan, kan siapa tahu nanti kelamaan bakal jadi nyaman dan mulai lah tumbuh rasa suka" ucap Gilang.
"Ya udah terserah luh aja" ucap Lino.
"Uhuk...uhuk" terdengar suara batuk dari dalam kamar tamu.
Sontak Lino dan Gilang langsung melihat kearah pintu kamar tamu.
"Siapa tuh?" tanya Gilang.
"Apaan?" tanya Lino.
"Itu kayak ada suara orang batuk" ucap Gilang.
"Itu kan suara batuk orang itu" tunjuk Lino pada layar televisi.
"Oh kirain ada orang di kamar tamu" ucap Gilang.
"Enggak lah, mana ada gue nyembunyiin cewek di kamar tamu" ucap Lino.
"Hah?" ucap Gilang.
Lalu Gilang langsung tersenyum.
"Kenapa luh senyum-senyum gitu?" tanya Lino.
"Cewek? perasaan tadi gue nyebut orang deh, bukan nyebut cewek"
"Ya kan siapa tahu luh nuduh gue nyembunyiin cewek" ucap Lino.
"Gue kok makin curiga ya" ucap Gilang.
"Apaan sih luh! sama temen aja main curigaan segala" ucap Lino.
"Temen? luh cuma nganggap gue temen?" tanya Gilang.
"Emang harusnya apa?" tanya Lino.
"Sahabat lah!" ucap Gilang.
"Jahat banget luh, gue kira luh nganggap gue sahabat luh" ucap Gilang.
"Iya deh sahabat" ucap Lino.
"No, gue minta minum ya" ucap Gilang.
"Iya, sana ambil aja di kulkas" ucap Lino.
Lalu Gilang segera pergi ke dapur.
Cklek
Ana membuka pintu kamar tamu.
Sontak Lino segera menghampiri Ana dan ia langsung membawa Ana masuk kembali kedalam kamar. Kemudian Lino segera menutup pintu kamar tersebut.
"Kenapa, No?" tanya Ana.
"Shutt" ucap Lino pelan.
"Kenapa?" tanya Ana pelan.
"Ada temen-temen aku" ucap Lino.
"Emang kalau ada temen-temen kamu kenapa?" tanya Ana.
"Kalau mereka tahu kamu ada disini, nanti mereka bakal nuduh kita ngelakuin hal yang enggak-enggak" ucap Lino.
"Terus aku harus gimana dong?" tanya Ana.
"Kamu tunggu aja disini, sampe mereka pulang" perintah Lino.