
"Na" ucap Lino sambil melihat Ana yang menangis.
"Jangan nyalahin diri kamu sendiri" ucap Lino sambil memegang bahu Ana.
"Itu bukan salah kamu, Na" ucap Lino.
"Tapi itu semua emang salah aku, No" ucap Ana sambil menangis.
Kemudian Lino segera memeluk Ana.
"Bukan salah kamu kok, itu semua udah takdir" ucap Lino.
"Orang-orang pasti nyalahin aku, No" ucap Ana sambil menangis sesenggukan.
"Siapa yang nyalahin kamu? orang tuanya Naya sama Bagas juga gak nyalahin kamu kok" ucap Lino.
"Kalau sebenernya mereka semua nyalahin aku gimana, No?" tanya Ana.
"Enggak, Na" ucap Lino.
"Aku takut" lirih Ana.
"Jangan takut, kamu kan gak salah" ucap Lino.
Lalu Lino segera melepaskan pelukannya.
"Sekarang lebih baik kita sekolah yuk" ajak Lino.
Lalu Lino segera menuntun Ana menuju motornya.
"Helm nya gak dibawa ya?" tanya Lino sambil menaiki motornya.
"Enggak, kan tadi aku jalan kaki" ucap Ana.
"Ya udah ayo naik" perintah Lino.
Lalu Ana segera menaiki motor milik Lino.
Kemudian Lino segera melajukan motornya menuju sekolah.
...****...
Setelah sampai di parkiran sekolah, Ana dan Lino segera turun dari motor. Lalu mereka berdua segera pergi menuju kelasnya.
Setelah sampai di kelas, Ana dan Lino segera duduk dikursinya masing-masing.
Ana langsung melihat kearah Felisa, lalu kearah Clara, kemudian kearah Lia.
"Fel" panggil Ana.
Lalu Felisa langsung melihat kearah Ana dan Felisa langsung memeluk Ana.
"Hiks...hiks" tangis Felisa.
Kemudian Ana langsung membalas pelukan Felisa.
"Gue nyesel banget pernah cuekin Naya waktu itu" ucap Felisa sambil menangis.
Tanpa sadar Ana juga menangis.
Kemudian Ana dan Felisa segera melepaskan pelukannya.
"Naya pasti waktu itu kesel banget sama gue" ucap Felisa
"Naya pasti makan obat-obatan itu karena dia merasa kalau kita gak peduli sama dia. Padahal kan waktu itu kita ngejauhin dia supaya dia mikir agar gak ngelakuin hal yang kayak gitu ke luh" lirih Felisa.
"Itu bukan salah kalian bertiga, tapi itu semua salah gue" ucap Ana sambil menangis.
"Guys, udah! sekarang harusnya kalian berdoa buat Naya, bukan malah ngebahas siapa yang salah" ucap Clara.
Lalu Ana dan Felisa langsung terdiam setelah mendengar ucapan Clara.
"Pagi anak-anak" ucap pak Yudis.
"Pagi, pak" ucap semuanya.
"Silahkan taruh tasnya didepan" ucap pak Yudis.
Lalu semua murid yang ada di kelas langsung menuju kedepan untuk menaruh tas.
"Pagi, pak! maaf saya telat" ucap Bagas.
"Iya gak apa-apa" ucap pak Yudis.
Lalu Bagas segera menaruh tasnya didepan, setelah itu ia segera duduk di kursinya.
Setelah semuanya duduk, pak Yudis langsung membagikan lembar soal dan lembar jawaban kepada murid-muridnya. Kemudian murid-murid segera mengerjakan ulangan tersebut.
...**** ...
Krining...Krining
Bel istirahat berbunyi.
Ana, Lino, Clara, Felisa dan Lia segera pergi menuju ruang guru untuk ulangan susulan.
Setelah sampai, mereka berlima segera masuk kedalam ruangan tersebut.
"Ada apa ini rame-rame?" tanya pak Saipul.
"Kita mau ulangan susulan, pak" ucap Ana.
"Ulangan apa aja?" tanya pak Saipul.
"Matematika, Bahasa Inggris sama Fisika" ucap Ana.
"Semuanya sama?" tanya pak Saipul kepada yang lain.
"Iya, sama pak" ucap semuanya kecuali Ana.
"Ya udah, sekarang kalian duduk dikursi guru yang kosong" ucap pak Saipul.
Lalu mereka berlima segera duduk di kursi guru.
"Pak, saya mau ikut ulangan susulan" ucap Bagas yang baru datang.
"Ulangan apa aja?" tanya pak Saipul.
"Sama kayak mereka" ucap Bagas.
"Oh ya sudah silahkan duduk dikursi kosong" ucap pak Saipul.
Lalu Bagas segera duduk.
"Jangan nyontek ya" ucap pak Saipul.
"Iya, pak" ucap semuanya.
"Nanti kalau udah selesai simpan aja dimeja" ucap pak Saipul.
"Siap, pak" ucap semuanya.
Lalu mereka segera mengerjakan ulangan tersebut.
Skip
Setelah selesai, mereka segera keluar dari ruang guru.
Lalu Ana langsung melihat kearah Bagas yang berjalan menuju kearah rooftop.
"Ya udah ayo ke kelas" ucap Lia.
"Luh bertiga ke kelas duluan aja, soalnya gue sama Lino mau kesana" ucap Ana.
"Kesana kemana?" tanya Clara.
"Ke kantin" bohong Ana.
"Bukannya bentar lagi waktu istirahat habis ya" ucap Felisa.
"Iya sih" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu gue duluan ke kelas ya" ucap Lia.
"Iya" ucap Ana.
"Kita berdua juga duluan ke kelas ya" ucap Clara.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Lia, Clara dan Felisa segera pergi menuju kelas.
"Ya udah ayo ke kantin" ucap Lino.
"No, sebenernya aku gak mau ke kantin" ucap Ana.
"Terus mau kemana?" tanya Lino.
"Ke rooftop" ucap Ana.
"Mau ngapain ke rooftop?" tanya Lino.
"Mau minta maaf ke Bagas" ucap Ana.
"Ya udah ayo kesana" ucap Lino.
Lalu Ana dan Lino segera pergi menuju rooftop.
Setelah sampai di rooftop, Ana langsung menghampiri Bagas. Sedangkan Lino hanya menunggu di belakang sambil melihat kearah Ana dan Bagas.
"Gas" panggil Ana.
Lalu Bagas langsung melihat kearah Ana.
"Apa?" ucap Bagas tanpa melihat kearah Ana.
"Maafin gue ya" ucap Ana.
"Ngapain minta maaf? luh kan gak salah" ucap Bagas.
"Kalau ada kata-kata gue yang buat luh sakit hati, gue minta maaf ya" ucap Ana.
"Kata-kata luh gak ada yang bikin gue sakit hati" ucap Bagas.
"Justru kata-kata gue yang sering bikin luh sakit hati" ucap Bagas.
"Bahkan gue sering kasar sama luh" ucap Bagas.
"Kalau soal luh yang kasar sama gue, gue udah maafin dari lama kok" ucap Ana.
"Sorry ya" ucap Bagas merasa bersalah.
"Iya, gak apa-apa kok" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu gue pergi ke kelas dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Ana.
"Luh, gak ke kelas?" tanya Ana.
"Nanti gue ke kelas kok" ucap Bagas.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu" ucap Ana.
"Na" ucap Bagas.
"Apa?" ucap Ana.
"Maafin Naya ya" ucap Bagas.
"Justru gue yang harusnya minta maaf, karena gara-gara gue Naya jadi meninggal" ucap Ana sambil menunduk.
"Bukan salah luh. Naya emang sering konsumsi obat-obatan dari kelas sepuluh" ucap Bagas.
"Kalau boleh tahu, Naya kenapa sering minum obat?" tanya Ana.
"Karena dia ngerasa bersalah setiap inget papahnya" ucap Bagas.
"Maksudnya?" bingung Ana.
"Jadi waktu kecil dia nangis pingin boneka, terus dia paksa papahnya supaya beliin dia boneka. Terus papahnya langsung pergi beliin boneka dan ternyata saat papahnya mau beliin boneka, tiba-tiba mobilnya nabrak mobil pengendara lain" jelas Bagas.
"Jadi dia sering stres karena keinget kejadian itu, dan dia selalu minum obat setiap dia keinget kejadian itu" ucap Bagas.
"Oh iya, sebenernya Naya tuh bukan adik kandung gue" jelas Bagas.
"Tapi walaupun dia bukan adik kandung gue, gue sayang banget sama dia" ucap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kadang kita berdua suka curhat satu sama lain kalau lagi ada masalah" ucap Bagas.
"Oh iya, untuk soal Naya yang nguntit luh, gue bener-bener gak tahu soal itu" jelas Bagas.
"Dan gue baru tahu bahwa alasan dia nguntit luh, karena dia suka sama Lino" ucap Bagas.