ARLINO

ARLINO
Episode 210



"No, ke rumah kamu yuk! aku bosen disini" ucap Ana.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


Akhirnya mereka berdua segera keluar rumah.


"Tungguin dulu, No! aku mau kunci pintu nya" ucap Ana.


"Ini kan ditungguin, Na" ucap Lino sambil tersenyum.


Setelah selesai mengunci pintu, Ana segera menghampiri Lino.


"Ya udah ayo" ucap Ana sambil naik ke motor Lino.


"Kalau rumah nya dikunci, terus papah kamu gimana?" tanya Lino.


"Kan papah aku pulang nya malem, jadi gak apa-apa kalau aku kunci. Lagian nanti aku kesini lagi kok" ucap Ana.


"Oh gitu" ucap Lino.


"Ya udah ayo berangkat" ucap Ana sambil memeluk pinggang Lino dengan sangat erat.


"Meluk nya jangan terlalu kenceng" ucap Lino.


"Aku nya takut jatuh, No. Makanya peluk nya erat" modus Ana.


Lino hanya tersenyum karena mendengar ucapan Ana.


"Ya udah ayo berangkat" ucap Ana.


Akhirnya Lino segera melajukan motornya menuju rumahnya.


**Skip


* Rumah Lino**


Ana segera turun dari motor Lino.


"Na, tolong bukain pagarnya" perintah Lino.


Bukannya dibuka, Ana malah menekan bel rumah Lino.


"LINO, MAIN YUK!!!" teriak Ana.


"Na, bukain cepet!" ucap Lino.


"Siap, bos!" ucap Ana sambil membuka pagar rumah Lino.


Lalu Lino segera memasukan motornya kedalam garasi. Sedangkan Ana, ia segera menutup kembali pagar rumah Lino.


Setelah itu, Lino segera membuka pintu rumahnya.


"Ya udah ayo masuk" ucap Lino.


Mereka berdua segera masuk kedalam.


"No, pagarnya kenapa gak dikunci?" tanya Ana.


"Soalnya kan aku suka main keluar, jadi aku gak kunci pagarnya. Jadi biar gak ribet aja gitu" ucap Lino.


"Kalau malem gak dikunci?" tanya Ana.


"Kalau malam ya dikunci lah" ucap Lino.


"Oh iya, No! kolam renang yang disitu suka dipake gak?" tanya Ana.


"Kadang-kadang. Biasanya kalau ada temen-temen baru aku pake" ucap Lino.


"Soalnya kalau renang sendirian gak seru" ucap Lino.


"Nanti aku boleh ikut renang bareng kamu sama temen-temen kamu gak?" tanya Ana.


"Ya jangan lah" ucap Lino.


"Kenapa gak boleh?" tanya Ana.


"Kamu kan cewek sendiri" ucap Lino.


"Emang kalau cewek sendiri kenapa?" tanya Ana.


"Ya gak boleh" ucap Lino.


"Iya, gak bolehnya kenapa?" tanya Ana.


"Soalnya temen-temen aku kalau renang gak pake baju" ucap Lino.


"Emang kalau gak pake baju kenapa?" tanya Ana.


"Nanti dosa kalau kamu ngelihat mereka" ucap Lino.


"Emang dosa?" tanya Ana polos.


"Iya" ucap Lino.


"Ya udah berarti aku nanti renangnya tutup mata aja biar gak dosa" ucap Ana.


"Gak gitu konsep nya, Na" ucap Lino.


"Terus konsep nya gimana, No?" tanya Ana.


"Ya kamu jangan renang" ucap Lino.


"Tapi aku pingin renang" ucap Ana.


"Renang nya sama Clara dan Felisa aja, jangan sama aku atau temen-temen aku" ucap Lino.


"Ya udah deh nanti aku suruh Clara sama Felisa buat renang di rumah kamu" ucap Ana.


"Di rumah aku?!" ucap Lino.


"Iya, di rumah kamu" ucap Ana.


"Aduh! gimana ya gue jelasinnya" batin Lino.


"Gak boleh ya, No?" tanya Ana karena Lino hanya diam saja.


"Hmm...gimana nanti aja ya" ucap Lino.


"Ya udah deh kalau gak boleh" keluh Ana.


"Iya boleh kok, tapi nanti" ucap Lino.


"Beneran boleh?" tanya Ana.


"Iya boleh, tapi nanti ya" pasrah Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Kamu mau eskrim gak?" tanya Lino.


"Mau" ucap Ana.


"Bentar ya, aku ambilin dulu" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi menuju dapur.


Setelah mengambil eskrim, Lino kembali menghampiri Ana.


"Ini" ucap Lino sambil memberikan satu eskrim kepada Ana.


Kemudian mereka berdua segera memakan eskrim.


"Itu rasa apa?" tanya Ana.


"Rasa jagung" ucap Lino.


"Kok aku baru denger sih ada eskrim rasa jagung" ucap Ana.


"Kamu kudet sih, makanya gak tahu" ucap Lino.


"Rasa jagung enak gak?" tanya Ana.


"Enak" ucap Lino.


"Aku mau nyobain rasa jagung dong" ucap Ana.


"Ya udah ambil aja di kulkas" ucap Lino.


"Aku pingin nyobain yang kamu" ucap Ana.


"Udah ambil aja dikulkas, masih banyak kok" ucap Lino.


"Aku cuma mau dikit aja, tapi yang kamu" ucap Ana.


"Gak apa-apa bekas aku?" tanya Lino.


"Ya udah nih" ucap Lino.


Ana segera memakan eskrim Lino.


"Enak gak?" tanya Lino.


"Enak" ucap Ana.


"Oh iya, kemarin aku nangis tahu" ucap Ana tiba-tiba.


"Nangis kenapa?" tanya Lino.


"Pake nanya lagi, udah jelas-jelas nangis gara-gara diputusin kamu" ucap Ana.


"Maaf ya karena udah buat kamu nangis" ucap Lino.


"Iya, udah aku maafin kok" ucap Ana.


Rintik-rintik hujan mulai terdengar jelas ditelinga Ana dan Lino.


"Yah hujan, No" ucap Ana.


"Emang kalau hujan kenapa?" tanya Lino.


"Nanti aku pulangnya gimana?" tanya Ana.


"Ya kan bisa aku anterin pake mobil" ucap Lino.


DUARRR


"Aaaaa!!!!" teriak Ana dan Lino bersamaan.


Setelah berteriak, keduanya pun tertawa karena lucu melihat ekspresi satu sama lain yang terkejut akibat mendengar suara petir.


"Sumpah kaget banget" ucap Ana.


"Aku juga sama kaget" ucap Lino.


"Petir nya gak bisa diajak kompromi" ucap Ana.


"Ya iyalah gak bisa, masa iya petir nya harus ijin dulu ke kamu" ucap Lino.


"No, kalau orang kena petir mati gak?" tanya Ana.


"Ya mati lah" ucap Lino.


"Kirain aku gak bakal mati, cuma kayak kesetrum gitu" ucap Ana.


"Mati lah, Na" ucap Lino.


Duarrrr


"No, takut" ucap Ana saat melihat kilat yang terlihat di jendela rumah Lino.


Lino segera menutup gorden jendelanya agar kilat nya tidak terlihat.


Lalu Lino segera menghampiri Ana.


"Sini bekas eskrim nya" ucap Lino.


"Biar sama aku aja buang nya" ucap Ana.


Lalu mereka berdua segera membuang bekas eskrim yang tadi mereka makan.


"Masak mie yuk!" ucap Lino.


"Ayo" ucap Ana.


"Tapi kamu yang masakin" ucap Lino.


"Ya udah iya" ucap Ana.


"Kamu mau mie kuah atau mie goreng?" tanya Ana.


"Mie kuah" ucap Lino.


Lalu Ana segera memasak dua mie untuk dirinya dan juga untuk Lino.


"Na" panggil Lino sambil tersenyum.


"Apa?" tanya Ana.


"Coba kamu tutup mata kamu deh" perintah Lino.


"Mau ngapain?" tanya Ana.


"Tutup dulu bentar" suruh Lino.


"Kamu pasti mau aneh-aneh kan?" curiga Ana.


"Enggak" ucap Lino sambil menahan senyumnya.


"Tuh kan! kayak nahan senyum gitu" ucap Ana.


"Enggak aneh-aneh kok" ucap Lino.


"Emang mau ngapain nyuruh aku tutup mata?" tanya Ana.


"Aku mau kasih sesuatu" ucap Lino.


"Sesuatu apa?" tanya Ana penasaran.


"Pokoknya sesuatu yang enak" ucap Lino.


"Kamu mau cium aku ya?" tebak Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Terus mau ngapain?" tanya Ana.


"Udah tutup mata dulu cepet!" perintah Lino.


"Bukan mau nyium?" tanya Ana.


"Bukan ya ampun! pikirannya cium mulu" ucap Lino.


"Ya kan aku curiga" ucap Ana.


"Cepet tutup mata!" perintah Lino.


Lalu Ana segera menutup matanya.


"Udah belum?" tanya Ana.


Lino segera memasukan lemon yang asam kedalam mulut Ana.


"Aaaa Lino!!!" teriak Ana sambil mengambil lemon yang ada di mulutnya.


Lino hanya tertawa saat melihat raut wajah Ana.


"Ih ngeselin banget" ucap Ana sambil membuang lemon tersebut kedalam tong sampah.


"Enak ya" ucap Lino.


"Enak pala luh" ucap Ana.


"Heh! ngomong apa tadi?" ucap Lino.


"Pala luh" ucap Ana dengan sengaja.


"Apa sekali lagi?" ucap Lino.


"PALA LUHHHH" ucap Ana.


Chup


Tubuh Ana langsung mematung saat Lino menciumnya.


"Coba sekali lagi" ucap Lino.


"Tahu ah!" ucap Ana sambil memasukan mie kedalam mangkuk.


Lino langsung tersenyum karena melihat Ana yang sedang kesal.


"Sini biar aku yang bawa nampannya" ucap Lino.


"Kamu ambil air minum aja" suruh Ana.


"Kamu aja yang ambil air" ucap Lino sambil membawa nampan berisi dua mangkuk mie.


Lalu Lino segera pergi ke ruang makan.


Ana segera mengambil dua gelas air putih. Setelah itu, ia segera menyusul Lino ke ruang makan.