ARLINO

ARLINO
Episode 236



Pagi hari


"Sayang, bangun!" ucap mamah.


"Aku masih ngantuk, No" gumam Ana.


"Hah?!" bingung mamah karena Ana menyebut nama Lino.


"Ini mamah bukan Lino" ucap mamah.


Ana membuka matanya sedikit.


"Bangun!" ucap mamah sambil menepuk-nepuk pundak Ana.


"Ana masih ngantuk, mah" ucap Ana sambil mengucek matanya.


"Ya udah kalau gitu mamah pergi dulu ya" ucap mamah.


"Mau kemana?" tanya Ana.


"Mau jogging" ucap mamah sambil pergi.


Ana segera bangun dan ia langsung pergi menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Ana langsung mengambil pakaiannya. Setelah itu, ia segera pergi menuju kamar mandi.


...****...


* Villa


"Woy bangun!" teriak Alex.


"Berisik!" ucap Lino dengan mata tertutup.


"Ya udah kalau gitu sarapannya gue habisin ya" ucap Bobby.


Sontak Lino, Bayu, Gilang dan Raka langsung bangun dari tidurnya.


"Giliran mau gue habisin aja jadi pada bangun" ucap Bobby.


"Luh masak apa?" tanya Raka.


"Masak nasi goreng" ucap Alex.


"Perasaan nasi goreng mulu deh, bosen gue" ucap Gilang.


"Ya udah kalau luh gak mau, jangan dimakan" ucap Alex.


"Bercanda yaelah" ucap Gilang.


"No, mau kemana luh?" tanya Bayu.


"Mau mandi" ucap Lino sambil pergi menuju kamar mandi.


Trining...Trining


Handphone Lino pun berdering.


Sontak semuanya langsung melihat kearah ponsel Lino.


"Dari siapa?" tanya Alex.


"Dari Ana" ucap Gilang.


"Angkat... angkat! terus nyalain loud speaker nya" perintah Raka.


Gilang langsung menuruti perintah Raka.


"Pagi, sayang" ucap Ana.


"Anjay!!!" ucap teman-teman Lino.


Panggilan telepon langsung diakhiri oleh Ana.


"Langsung dimatiin guys" ucap Gilang sambil tertawa.


"Malu dia" ucap Bayu.


"Waktu pacaran sama luh, Ana manggil sayang gak?" tanya Gilang kepada Raka.


"Kaga" ucap Raka.


"Dia waktu itu gak suka kali sama luh, makanya gak manggil sayang" ucap Bayu.


"Emang, dia tuh terpaksa nerima gue" ucap Raka.


"Anjir! kasihan banget luh, Ka" ucap Alex sambil tertawa.


"Waktu dulu tuh Ana sebenernya naksir nya emang ke Lino, bukan ke gue ataupun Bagas" jelas Raka.


"Waktu itu luh tahu kalau Ana suka ke Lino?" tanya Bobby.


"Ya tahu lah! bahkan sebenernya waktu sama Bagas juga Ana terpaksa nerima Bagas, karena waktu itu Lino nyuruh Ana ngejauh" ucap Raka.


"Oh berarti Ana suka duluan ke Lino?" ucap Bayu.


"Iya" ucap Raka.


"Guys ayo makan!" ucap Alex.


"Oh iya, ayo" ucap semuanya.


Mereka segera memakan nasi goreng buatan Alex.


Skip


Setelah selesai mandi, Lino segera menghampiri teman-temannya.


"Nasi goreng buat gue mana?" tanya Lino.


"Itu" tunjuk Alex.


"Makasih ya udah dibuatin" ucap Lino sambil memakan nasi goreng tersebut.


Sontak teman-teman Lino langsung menatap Lino.


"Kenapa luh lihatin gue?" tanya Lino kepada semua temannya.


"Tumben luh bilang makasih" ucap Bayu.


"Emangnya gak boleh?" tanya Lino.


"Ya boleh sih" ucap Bayu.


"Oh iya, No! tadi Ana nelpon" ucap Gilang.


Lino segera mengambil ponselnya, lalu ia langsung menelepon Ana.


"Loh! tumben gak dijawab" gumam Lino.


"Ana malu kali gara-gara tadi" ucap Bayu.


"Emang tadi luh angkat telepon dari Ana?" tanya Lino sedikit kesal.


"Bukan gue yang angkat" ucap Bayu.


"Terus siapa yang angkat" ucap Lino.


"Gilang yang angkat" ucap Bayu.


"Luh gak sopan banget sih, main angkat segala" ucap Lino.


"Gue disuruh sama Raka tadi" ucap Gilang.


"Kaga! gue gak nyuruh luh" ucap Raka sambil menahan tawanya.


"Tadi Ana mau apa nelpon gue?" tanya Lino.


"Gue gak tahu" ucap Gilang.


"Aneh banget luh, tadi kan luh yang angkat" ucap Lino.


"Tadi tuh Ana cuma bilang pagi sayang, terus kita semua nyorakin dia. Habis itu dia langsung matiin teleponnya deh karena malu disorakin kita semua" jelas Gilang.


"Oh gitu" ucap Lino sambil menahan senyumnya.


"Gak jadi marahnya, No?" tanya Gilang.


"Siapa juga yang marah" ucap Lino.


"Tadi luh kayak kesel gitu" ucap Gilang.


"Kaga, gue gak kesel" ucap Lino.


"Oh iya, Lang! tolong beliin strawberry yang kayak kemarin dong" perintah Lino.


"Mana uangnya?" tanya Gilang.


Lalu Lino langsung mengambil dompetnya.


"Ini" ucap Lino sambil memberikan uang kepada Gilang.


"Banyak amat, No" ucap Gilang sambil mengambil uang tersebut.


"Udah beliin aja" ucap Lino.


"Oh iya, ini buat luh" ucap Lino sambil memberikan uang seratus ribu kepada Gilang.


"Thank you" ucap Gilang.


Lalu Gilang segera pergi.


"Beli buat siapa, No?" tanya Bobby.


"Buat Ana" ucap Lino.


"Enak banget ya jadi Ana" ucap Bayu.


"Enak apanya?" tanya Lino.


"Ya enak aja gitu tinggal minta, terus dibeliin sama Lino" ucap Bayu.


"Sebenernya Ana gak minta, tapi gue aja yang pingin kasih ke dia" ucap Lino.


"Ana pernah minta sesuatu gak sih sama luh?" tanya Raka.


"Pernah" ucap Lino.


"Apaan?" tanya Raka.


"Seblak" ucap Lino.


Teman-teman Lino langsung tertawa karena mendengar ucapan Lino.


"Kenapa sih itu orang doyan banget sama seblak" ucap Raka sambil tertawa.


"Gue juga heran sama dia, minta nya seblak mulu" ucap Lino.


"Selain seblak, dia gak minta apa-apa lagi?" tanya Bobby.


"Enggak" ucap Lino.


"Luh beruntung banget kayaknya dapetin cewek kayak Ana" ucap Bobby.


"Ya emang, gue beruntung banget dapetin dia" ucap Lino.


...****...


* Rumah Ana


"Ana" panggil mamah yang baru datang.


"Apa, mah" teriak Ana.


"Lagi ngapain?" tanya mamah.


"Lagi cuci piring" ucap Ana.


"Kamu udah makan belum?" tanya mamah.


"Udah" ucap Ana.


Sesudah mencuci piring, Ana langsung menghampiri mamahnya.


"Mamah ngapain sih jogging?" tanya Ana.


"Ya biar sehat lah" ucap mamah.


"Emang gak capek gitu, mah?" tanya Ana.


"Ya capek sih" ucap mamah.


"Na, tolong ambilin mamah minum dong" ucap mamah sambil duduk di sofa.


Ana segera pergi menuju dapur.


Setelah itu, ia segera kembali menghampiri mamahnya.


"Ini minumnya, mah" ucap Ana sambil memberikan air minum kepada mamahnya.


"Makasih ya" ucap mamah sambil mengambil air minum tersebut.


"Iya sama-sama, mah" ucap Ana sambil duduk disebelah mamah nya.


Lalu mamah Ana langsung meminum air tersebut.


"Oh iya, waktu malem kenapa gak malam mingguan sama Lino?" tanya mamah.


"Soalnya Lino nya lagi nginep di villa temennya" ucap Ana.


"Oh gitu" ucap mamah.


"Ya udah, Na! mamah ke kamar dulu ya, soalnya mamah mau mandi" ucap mamah.


"Iya" ucap Ana.


Mamah segera pergi menuju kamarnya.


Setelah itu, Ana pergi menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya.


* Kamar


"Loh! Lino nelpon" gumam Ana.


Lalu Ana segera menelepon Lino.


Tidak menunggu lama, Lino langsung mengangkat panggilan telepon dari Ana.


"Hallo, Na" ucap Lino.


"No, kamu pulangnya kapan?" tanya Ana.


"Sekarang" ucap Lino.


"Oh berarti sekarang kamu lagi siap-siap ya?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Kamu kesananya naik motor atau naik mobil?" tanya Ana.


"Aku naik mobil" ucap Lino.


"Kalau yang lain naik motor?" tanya Ana.


"Yang naik motor cuma Bayu sama Bobby" ucap Lino.


"Oh berarti Gilang, Raka sama Alex bareng kamu di mobil?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Bayu sama Bobby kenapa gak di mobil?" tanya Ana.


"Soalnya kursi belakangnya penuh sama barang-barang aku dan mereka" ucap Lino.


"Oh gitu" ucap Ana.


"Oh iya, tadi pagi kamu kenapa telepon aku?" tanya Lino.


"Aku cuma mau bangunin kamu aja, siapa tahu kamu belum bangun" ucap Ana.


"Tadi tuh aku udah bangun pas kamu telepon" ucap Lino.


"Terus kenapa diangkat sama temen-temen kamu?" tanya Ana.


"Soalnya aku nya lagi di kamar mandi, makanya Gilang angkat telepon dari kamu" jelas Lino.


"Oh gitu" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu aku tutup dulu ya teleponnya soalnya kan kamu mau pulang" ucap Ana.


"Oh ya udah" ucap Lino.


"Hati-hati ya bawa mobilnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Ana langsung mematikan panggilan teleponnya.


...****...


Skip


Jam 14.00


Tingtong...tingtong


Ana segera pergi keluar untuk menghampiri orang yang sedang membunyikan bel rumahnya.


Saat tiba diluar, ternyata orang yang menekan bel adalah Lino.


"Ini" ucap Lino sambil memberikan kantong plastik yang berisi strawberry.


"Makasih" ucap Ana sambil mengambil strawberry tersebut.


"Iya sama-sama" ucap Lino.


"Raka mana?" tanya Ana.


"Dia udah pulang" ucap Lino.


"No, boleh gak aku main ke rumah kamu?" tanya Ana.


"Ya boleh, tapi bilang dulu ke mamah kamu" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku bilang dulu ya" ucap Ana.


Lalu Ana segera masuk kedalam rumahnya.


3 menit kemudian...


Ana segera kembali menghampiri Lino.


"Dibolehin gak?" tanya Lino.


"Dibolehin" ucap Ana.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


Lino dan Ana segera masuk kedalam mobil.


"Mamah kamu dikasih gak?" tanya Lino sambil melajukan mobilnya.


"Dikasih kok" ucap Ana yang sedang memakan buah strawberry.


"Kamu mau gak, No?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Kenapa gak mau?" tanya Ana.


"Soalnya aku udah makan kemarin" ucap Lino.


"Ya udah makan lagi aja sekarang" ucap Ana.


"Gak mau ah" ucap Lino.


"Aww"


"Kenapa, Na?" tanya Lino.


"Ini perut aku sakit" ucap Ana.


"Udah kok" ucap Ana.


"Mau datang bulan kali, makanya sakit" ucap Lino.


"Aku emang lagi datang bulan sih, baru tadi pagi" ucap Ana.


"Ya udah nih minum dulu" ucap Lino sambil memberikan air mineral kepada Ana.


"Aku gak haus" ucap Ana.


"Udah minum aja, soalnya aku pernah baca di g**gle katanya biar haid gak sakit harus banyak minum air putih" ucap Lino.


"Kamu searching di google, No?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Ngapain di searching?" tanya Ana sambil tertawa.


"Jangan ketawa! aku tuh searching karena penasaran aja. Soalnya aku bingung kenapa cewek tuh suka kayak kesakitan gitu kalau lagi haid, makanya aku searching deh di g**gle" jelas Lino.


"Ya udah ini minum dulu" ucap Lino sambil memberikan air mineral kepada Ana.


Ana segera mengambil air mineral tersebut. Lalu ia langsung meminumnya.


"Oh iya, No! kucing-kucing kamu belum makan dong dari kemarin" ucap Ana.


"Mereka makan kok. Soalnya sebelum berangkat, aku taruh semua makanannya di lantai. Jadi mereka tinggal makan deh" ucap Lino.


"No, menurut kamu kalau aku liburan sama temen-temen cewek bakal dibolehin gak ya sama mamah?" tanya Ana.


"Menurut aku sih gak dibolehin, soalnya mamah kamu pasti khawatir. Apalagi kan yang ikut cewek semua" ucap Lino.


"Kalau yang ikut nya cewek sama cowok?" tanya Ana.


"Sama aja gak bakal dibolehin" ucap Lino.


"Tapi kok pas camping dibolehin ya" heran Ana.


"Kan itu bareng guru, Na" ucap Lino.


"Oh iya juga ya, beg* banget sih aku" ucap Ana.


Lino hanya bisa tertawa karena mendengar ucapan Ana.


"Jangan ngetawain" ucap Ana.


"Habisnya lucu" ucap Lino.


"No, kamu malu gak sih pacaran sama aku?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Beneran gak malu?" tanya Ana memastikan.


"Iya, lagian ngapain malu coba" ucap Lino.


"Siapa tahu kan kamu malu punya pacar yang lemot kayak aku" ucap Ana.


"Kamu tuh bukan lemot, tapi lebih ke polos" ucap Lino.


"Tapi aku gak polos" ucap Ana.


"Iya...iya, kamu gak polos" pasrah Lino.


"Aku gak polos. Soalnya kan aku pernah ciuman, terus pernah tidur bareng kamu" ucap Ana tiba-tiba.


Lino langsung mengerem mendadak.


"Ih Lino!" ucap Ana.


"Maaf...maaf, soalnya tadi aku kaget dengernya" ucap Lino.


Lalu Lino kembali melajukan mobilnya.


"Kaget kenapa?" tanya Ana.


"Kaget karena kamu ngomong kayak gitu" ucap Lino.


"Tapi emang bener kan apa kata aku" ucap Ana.


"Iya, emang bener" ucap Lino.


Skip


* Rumah Lino


Lino segera turun dari mobil, lalu ia segera membuka gembok pagar. Kemudian ia segera membuka pagar rumahnya.


Setelah itu, Lino kembali masuk kedalam mobil dan ia langsung memasukan mobilnya kedalam.


Lalu Lino dan Ana segera turun dari mobil.


"No, aku tutup ya pagarnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Ana segera menutup pagar rumah Lino.


Setelah itu, Ana segera menghampiri Lino.


"No, aku bantuin ya bawa barang-barangnya" ucap Ana.


"Gak usah" ucap Lino sambil membawa tas dan kantong plastik.


"Ya udah ayo masuk" ucap Lino.


Ana segera mengikuti Lino dari belakang.


Setelah pintunya dibuka, mereka berdua segera masuk kedalam.


"Kamu tunggu dulu disini ya, aku mau nyimpen barang-barang aku dulu ke kamar" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Oh iya, No! aku ikut cuci tangan ya sekalian" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi menuju kamarnya. Sedangkan Ana pergi menuju wastafel yang berada di dapur.


Beberapa menit kemudian, Lino segera kembali menghampiri Ana.


"Na" panggil Lino.


"Aku di taman, No" ucap Ana.


Lino segera menghampiri Ana.


"Kamu ngapain disini?" tanya Lino.


"Aku pingin lihat Dora sama Dori" ucap Ana.


"Oh iya, No! nanti kita ajak Dora ke rumah Bobby yuk" ucap Ana.


"Mau ngapain ke rumah Bobby?" tanya Lino.


"Soalnya Dora pasti kangen sama ibunya" ucap Ana.


Lino langsung menggendong Dora.


"Emang kamu kangen ya sama mamah kamu?" tanya Lino kepada kucingnya.


"Hah?! enggak?" ucap Lino.


"Dia bilang gak kangen katanya, Na" ucap Lino.


"Emangnya kamu tahu gitu bahasa kucing?" tanya Ana.


"Ya tahu lah" bohong Lino.


"No, kamu kenapa gak adopsi ibu sama saudara-saudaranya juga sih?" tanya Ana.


"Nanti kalau diadopsi semua, bisa-bisa rumah aku jadi panti asuhan kucing" ucap Lino.


"Ya bagus dong! biar rumah kamu rame" ucap Ana.


"Nanti kalau terlalu banyak, aku males ngebersihin poop nya" ucap Lino.


"Ya tinggal dibersihin doang" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu sama kamu dibersihin nya" ucap Lino.


"Gak mau!" ucap Ana.


"Na, ke ruang tengah yuk!" ajak Lino.


"Mau ngapain?" tanya Ana.


"Nonton tv" ucap Lino.


Akhirnya merek berdua segera pergi menuju ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, Lino langsung menyalakan televisi nya.


"Oh iya, Na! kamu tunggu disini bentar ya, aku mau ke tukang laundry dulu" ucap Lino.


"Aku pingin ikut" ucap Ana.


"Udah tunggu aja disini, lagian deket ini tukang laundry nya" ucap Lino.


"Ya udah deh aku disini aja" ucap Ana.


Lino segera pergi menuju kamarnya untuk mengambil pakaian kotor. Setelah itu ia segera kembali menghampiri Ana.


"Aku pergi dulu ya" ucap Lino.


"Iya, jangan lama-lama ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi.


Trining... trining


Sontak Ana langsung melihat kearah ponsel Lino dan ternyata orang yang menelpon Lino adalah Acha.


Ana langsung overthinking karena Acha menelpon Lino.


10 menit kemudian...


Lino datang kembali dan ia langsung duduk disebelah Ana.


"No, tadi Acha nelpon ke kamu" ucap Ana.


Lino langsung mengambil ponselnya dan memang benar bahwa Acha menelponnya.


Setelah itu, Lino kembali meletakkan ponselnya di meja.


"Enggak bakal ditelepon balik gitu?" tanya Ana tanpa melihat kearah Lino.


"Enggak" ucap Lino.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Gak kenapa-napa" ucap Lino.


"Telepon balik aja, siapa tahu penting" ucap Ana.


"Enggak penting kok" ucap Lino.


"Kamu masih sering teleponan sama Acha ya?" tanya Ana.


"Enggak kok" ucap Lino terus terang.


"Kalau gak percaya, kamu bisa cek aja riwayat panggilan telepon aku" ucap Lino.


"Iya, aku percaya kok" ucap Ana.


"Kalau percaya kenapa muka nya cemberut gitu?" tanya Lino.


"Enggak cemberut kok" ucap Ana.


Lino segera mendekat kearah Ana.


"Lihat aku!" perintah Lino.


"Mau ngapain lihat kamu?" tanya Ana sambil melihat kearah televisi.


Lino segera mengarahkan wajah Ana agar melihat kearahnya.


"Aku kan udah bilang, jangan cemburu sama Acha" ucap Lino.


"Aku gak cemburu kok sama Acha" bohong Ana.


"Dengan lihat ekspresi kamu, aku tahu kalau kamu masih cemburu sama Acha" ucap Lino.


"Udah jangan dibahas, No" ucap Ana.


"Na, kamu tahu gak?" tanya Lino.


Sontak Ana langsung melihat kearah Lino.


"Tahu apa?" tanya Ana.


"Aku juga kadang cemburu tahu kalau kamu deket Raka" jelas Lino.


"Kamu cemburu sama Raka?" tanya Ana.


"Iya, soalnya dia kayaknya lebih tahu banyak tentang kamu" ucap Lino.


"Kalau kamu cemburu, kenapa gak nyuruh aku buat jauhin Raka?" tanya Ana.


"Ngapain juga aku harus nyuruh kamu buat jauhin Raka. Lagian kan kamu suka nya sama aku, jadi aku gak perlu khawatir" ucap Lino.


"Dan juga Raka tuh kan sahabat aku dan juga kamu, jadi aku gak berhak nyuruh Raka buat jauhin kamu" ucap Lino lagi.


"Kamu pemikirannya dewasa banget sih, No. Gak kayak aku yang pemikirannya masih kekanak-kanakan" ucap Ana.


"Seiring berjalannya waktu kamu juga pasti bakal berpikir dewasa kok, Na" ucap Lino.


"Ajarin aku supaya dewasa dong, No" ucap Ana.


"Kamu mau aku ajarin?" tanya Lino sambil menahan tawanya.


"Iya" ucap Ana.


Lino langsung mencium bibir Ana.


Sontak tubuh Ana langsung mematung saat Lino menciumnya.


Ana langsung memukul dada Lino karena ia kehabisan nafas.


Lalu Lino langsung melepaskan ciumannya.


Ana langsung mengatur nafasnya agar kembali normal.


"Kok wangi strawberry ya" ucap Lino sambil menahan tawanya.


"Ih Lino!" kesal Ana sambil memukul Lino dengan bantal kecil yang ada disofa.


"Jangan dipukul dong" ucap Lino.


"Habisnya kamu ngeselin" ucap Ana.


"Sekarang udah dewasa kan?" tanya Lino sambil tertawa kecil.


"Bukan itu maksud aku" ucap Ana.


"Oh berarti aku salah dong" ucap Lino sambil menahan tawanya.


"Ya emang salah" ucap Ana sambil ngegas.


"Oh iya, Na! aku pingin nanya dong sama kamu" ucap Lino.


"Mau nanya apa, No?" tanya Ana.


"Kamu pernah ciuman sama Raka gak?" tanya Lino.


"Enggak pernah" ucap Ana.


"Kalau sama Bagas?" tanya Lino.


Ana langsung terdiam.


"Pernah ya?" tanya Lino.


"Iya, pernah sekali. Tapi Bagas yang nyium aku, bukan aku yang nyium dia" ucap Ana.


"Oh iya, Na! kamu waktu itu pernah cium aku tahu" ucap Lino.


"Kapan aku nyium kamu?" tanya Ana.


"Waktu aku gendong kamu ke kamar kamu, terus aku tidurin kamu di kasur. Habis itu kamu tiba-tiba nyium aku" ucap Lino.


"Aku gak nyium kamu kok" ucap Ana.


"Nyium" ucap Lino.


"Tapi kok aku gak inget sih" ucap Ana.


"Ya pasti gak inget lah! soalnya waktu itu kamu lagi tidur, makanya jadi gak inget" ucap Lino.


"Kamu pasti bohong kan? mana mungkin aku tidur sambil nyium kamu" ucap Ana.


"Enggak, aku gak bohong kok" ucap Lino.


"Serius aku kayak gitu?" tanya Ana.


"Iya serius" ucap Lino.


"Emangnya waktu itu kamu mimpi apa sih, Na? kok sampe nyium gitu" tanya Lino.


"Enggak tahu, aku lupa" ucap Ana.


"Pasti mimpi nyium aku ya?" tanya Lino.


"Ih percaya diri banget kamu" ucap Ana.


"Terus kenapa cium aku segala?" tanya Lino.


"Hmm...mungkin aja kan dimimpinya aku lagi nyium Dora atau dori" ucap Ana.


"Gak mungkin" ucap Lino sambil tertawa kecil.


"Mungkin aja" ucap Ana.


"Enggak!" ucap Lino.


"Mungkin!" ucap Ana.


"Udah ah cape!" ucap Lino.


"Kalau cape ya istirahat" ucap Ana.


Lino segera menyenderkan kepalanya pada pundak Ana.


"Tidurnya jangan dipundak, soalnya nanti pundak aku sakit sebelah" ucap Ana.


Ana segera mengambil bantal kecil, lalu ia letakkan diatas paha nya.


"Tidur disini aja" ucap Ana sambil menepuk bantal kecil tersebut.


Lalu Lino segera menuruti ucapan Ana.


"Nanti kalau udah jam 5 tolong bangunin ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lino segera memegang tangan kiri Ana, kemudian ia langsung menutup matanya.


"Kenapa dipegang segala?" tanya Ana.


"Soalnya takut kabur" ucap Lino sambil tersenyum namun matanya masih terpejam.


Ana mengelus pelan rambut Lino agar Lino cepat tertidur.


Beberapa menit kemudian, Ana merasa mengantuk.


Dan akhirnya Ana segera mematikan televisi, kemudian ia segera tidur dalam posisi duduk.