ARLINO

ARLINO
Episode 203



Skip


Malam hari


Lino segera bergegas menuju cafe dengan mengendarai mobilnya.


Sesampainya di cafe, Lino langsung turun dari mobilnya dan ia segera masuk kedalam cafe.


Ketika masuk, Lino segera menghampiri Acha yang sedang duduk.


"Maaf ya telat" ucap Lino.


"Iya gak apa-apa" ucap Acha tanpa melihat kearah Lino.


"Kamu kenapa belum pesen minum?" tanya Lino.


"Belum, soalnya aku mau nunggu kamu dulu" ucap Acha.


"Mbak" panggil Lino.


Lalu pelayan cafe tersebut segera menghampiri Lino dan Acha.


"Mau pesan apa?" tanya pelayan cafe.


"Saya pesen ice americano" ucap Lino.


"Kamu mau pesen apa, Cha?" tanya Lino.


"Samain aja kayak kamu" ucap Acha.


"Jadi ice americano nya dua ya, mbak" ucap Lino.


"Oke, tunggu sebentar ya" ucap pelayan cafe.


"Iya" ucap Lino.


Lalu pelayan cafe segera pergi.


"Kamu kenapa ngajak ketemuan?" tanya Acha.


"Soalnya aku mau minta maaf sama kamu" ucap Lino.


"Minta maaf soal apa?" tanya Acha.


"Minta maaf karena aku udah bohongin kamu" ucap Lino.


"Sebenernya dulu kamu itu pacar aku bukan sahabat aku" ucap Lino.


"Iya aku tahu" ucap Acha.


"Aku sengaja bilang kayak gitu karena sekarang kan aku udah punya pacar, jadi aku mau ngehargain pacar aku" kata Lino.


"Iya aku ngerti kok" ucap Acha.


"Jadi aku harap untuk sekarang hubungan kita cuma sebatas teman aja" ujar Lino.


"Kamu gak keberatan kan?" tanya Lino.


"Enggak kok" ucap Acha.


"Oh iya, orang tua kamu kabarnya gimana?" tanya Lino.


"Papah baik-baik aja kok" ucap Acha.


"Kalau mamah kamu?" tanya Lino.


"Mamah aku kan udah meninggal" ucap Acha.


"Eh maksudnya mamah tiri kamu" ucap Lino.


"Emang aku punya mamah tiri?" tanya Acha.


"Iya sebelum pindah rumah, kamu kan tinggal bareng sama papah dan mamah tiri kamu" ucap Lino.


"Papah gak bilang tuh kalau aku punya mamah tiri, yang dia bilang cuma mamah aku udah meninggal. Gitu aja sih" ucap Acha.


"Emang waktu ke Singapura, kamu cuma tinggal bareng papah kamu?"


"Iya, aku cuma tinggal sama papah" jelas Acha.


Lalu pelayan cafe segera menghampiri Lino dan Acha.


"Ini pesanannya" ucap pelayan cafe sambil meletakkan dua ice americano.


"Makasih" ucap Lino.


"Iya sama-sama" ucap pelayan cafe.


Kemudian pelayan tersebut segera pergi.


Lino dan Acha segera meminum ice americano.


"Oh iya, emang Ana gak marah kalau kamu ketemuan sama aku?" tanya Acha.


"Enggak, lagian aku udah ijin ke dia. Sebenernya dia juga sih yang nyuruh aku untuk ketemuan sama kamu agar aku minta maaf sama kamu" ucap Lino.


"Syukur deh kalau dia gak marah" ucap Acha.


"Oh iya, kamu tahu dari mana kalau aku dulu nya pacar kamu?" tanya Lino.


"Aku tahu dari Lia" ucap Acha.


"Lia?" ucap Lino.


"Iya, waktu itu kan Lia nyuruh aku ke rumah nya. Terus dia nyeritain tentang hubungan aku sama kamu waktu dulu" ucap Acha.


"Waktu itu kan kita juga berpapasan saat aku keluar dari rumah Lia" ucap Acha.


"Jadi Lia yang bilang?" tanya Lino.


"Iya, dia juga bilang katanya Naya bunuh diri karena Ana. Karena katanya sebelum Naya meninggal, Naya berantem sama Ana" ucap Acha.


Lino langsung terdiam karena ia tidak percaya bahwa Lia tega berbicara seperti itu.


"Emang yang dibilang Lia bener ya, No?" tanya Acha.


"Enggak, Naya meninggal bukan karena Ana" ucap Lino.


"Terus dia meninggal kenapa?" tanya Acha.


"Kan aku udah bilang kalau dia meninggal karena overdosis" ucap Lino.


"Dia depresi ya, No? sampe-sampe makan banyak obat" tanya Acha.


"Aku gak tahu, mungkin dia menyesal atas perbuatannya makanya dia jadi makan obat biar menghilangkan rasa depresi nya" ucap Lino.


"Oh iya, terus Lia bilang apa lagi ke kamu?" tanya Lino.


"Cuma itu doang sih yang dia bilang" ucap Acha.


"Serius?" tanya Lino memastikan.


"Iya, dia cuma bilang itu doang" ucap Acha.


Setelah selesai mengobrol dengan Acha, Lino segera pergi ke kasir untuk membayar minuman yang telah ia dan Acha pesan.


"No, makasih ya udah dibayarin" ucap Acha.


"Iya sama-sama" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Acha.


"Kamu pulangnya naik apa?" tanya Lino.


"Naik taksi" ucap Acha.


"Ya udah kalau gitu hati-hati ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Acha sambil pergi keluar.


Lino juga segera keluar, kemudian ia segera menaiki mobilnya.


Didalam mobil, Lino melihat kearah Acha yang sedang menunggu taksi.


Kemudian Lino segera membuka kaca mobilnya.


"Cha, mau aku anterin gak?" tanya Lino.


"Gak usah" ucap Acha.


Lino segera keluar dari mobilnya.


"Kamu kenapa gak pulang?" tanya Acha.


"Aku nunggu kamu pulang dulu, baru habis itu aku pulang" ucap Lino.


Beberapa menit kemudian, taksi yang dipesan Acha datang.


"No, aku pulang dulu" ucap Acha.


"Iya, hati-hati ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Acha.


Kemudian Acha segera masuk kedalam taksi tersebut. Setelah itu taksi tersebut segera mengantarkan Acha pulang.


Setelah Acha pergi, Lino segera menaiki mobilnya. Kemudian ia segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.


...****...


Sesampainya di rumah, Lino segera mengunci pagar rumahnya dan juga pintu rumahnya. Setelah itu, ia segera pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian menjadi pakaian tidur.


Sesudah itu, Lino segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Kemudian setelah itu ia segera keluar dari kamar mandi dan ia langsung naik keatas kasurnya sambil memainkan ponselnya.


Lino segera menelpon Ana untuk memberitahu bahwa ia telah meminta maaf kepada Acha.


Tidak lama setelah itu, Ana langsung mengangkat panggilan telepon dari Lino.


"Hallo" ucap Ana pelan.


"Na, kamu tidur ya?" tanya Lino.


"Eh, enggak kok" ucap Ana.


"Ada apa, No?" tanya Ana.


"Kamu tadi ngantuk ya?" tanya Lino.


"Iya, tadi aku ngantuk. Maaf ya" ucap Ana.


"Enggak usah minta maaf juga kali" ucap Lino.


"No, bentar ya! aku mau cuci muka dulu" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


30 detik kemudian...


"Hallo, No" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Ada apa ya telepon aku?" tanya Ana.


"Aku cuma mau bilang kalau aku udah minta maaf sama Acha" ucap Lino.


"Syukur deh kalau udah minta maaf" ucap Ana.


"Oh iya, Na" ucap Lino.


"Kenapa?" tanya Ana.


Lino berniat bercerita tentang Lia yang menuduh Ana sebagai orang yang menyebabkan kematian Naya, namun ia memutuskan untuk tidak jadi menceritakannya karena ia takut Ana jadi menyalahkan dirinya sendiri.


"Kok diem, No" ucap Ana.


"Na, lebih baik kamu jangan deketin sahabat-sahabat nya Naya deh" ucap Lino.


"Loh kenapa?" tanya Ana.


"Mereka gak sebaik yang kamu kira" ucap Lino.


"Kamu kok ngomong gitu sih, No" ucap Ana.


"Tapi ini kenyataan nya, Na. Mereka baik cuma didepan kamu doang" ucap Lino.


"Tapi mereka semua baik kok, No" ucap Ana.


"Enggak, Na. Mereka tuh gak sebaik yang kamu pikir. Mereka itu suka ngomongin kamu dibelakang" ucap Lino.


"Percaya deh sama aku" ucap Lino lagi.


Ana hanya terdiam.


"Kalau aku jauhin mereka, berarti aku gak punya temen dong" ucap Ana sedih.


"Walaupun gak punya temen, tapi kan kamu masih punya aku" ucap Lino.


"Tapi masa cuma kamu doang" ucap Ana.


"Bukan cuma aku kok, kan ada Raka, Gilang, Alex, Bobby dan Bayu" ucap Lino.


"Tapi kan itu cowok semua" ucap Ana.


"Emang kalau cowok kenapa?" tanya Lino.


"Kalau temennya cowok, aku jadi gak nyaman" ucap Ana.


"Kamu temenan aja sama anak cewek dikelas, tapi jangan temenan sama Lia, Felisa atau Clara" ucap Lino.


"Tapi mereka kayak gak mau temenan sama aku" ucap Ana.


"Mereka pasti mau kok temenan sama kamu" ucap Lino.


"Enggak, No. Mereka semua gak mau temenan sama aku" ucap Ana.


"Kata siapa mereka gak mau?" tanya Lino.


"Kata aku, soalnya mereka pasti gak mau berteman sama orang yang banyak banget rumornya" ucap Ana.


"Ya udah, untuk sekarang lebih baik kamu sama aku aja. Untuk masalah temen, nanti juga pasti ada yang mau kok berteman sama kamu" kata Lino.


"Emang Clara, Felisa sama Lia itu sering ngomongin aku dibelakang ya, No?" tanya Ana sedih.


"Hmm" ucap Lino.


"Mereka ngomongin aku pasti tentang masalah aku yang menyebabkan Naya meninggal kan, No?" tanya Ana gemetar.


"Na, lebih baik kamu tidur aja ya. Lagian sekarang udah malem" ucap Lino mengalihkan pembicaraan.


"Ya udah kalau gitu aku tidur dulu" ucap Ana.


Lalu Ana segera memastikan panggilan teleponnya.


...****...


* Kamar


Setelah mematikan panggilan telepon, Ana langsung menangis sesenggukan.


Cklek


Pintu kamar Ana dibuka oleh mamah.


"Ana, kamu kenapa?" tanya mamah sambil duduk dipinggir kasur.


"Mamah" ucap Ana sambil memeluk erat mamahnya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya mamah.


Tangisan Ana semakin menjadi-jadi ketika mamahnya bertanya seperti itu.


"Kenapa, Na?" tanya mamah.


"Kamu berantem ya sama Lino?" tanya mamah.


Ana menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.


"Terus kamu kenapa nangis?" tanya mamah.


"Enggak apa-apa kok, mah" ucap Ana sambil mengusap air matanya.


Kemudian Ana langsung melepaskan pelukannya.


"Ya udah, lebih baik sekarang kamu tidur ya" ucap mamah.


Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan mamahnya.


Mamah Ana segera menidurkan Ana dan memakaikan Ana selimut agar Ana tidak kedinginan.


"Lampu nya dimatiin jangan?" tanya mamah.


"Matiin aja, mah" ucap Ana.


Mamah Ana segera mematikan lampu kamar Ana. Setelah itu mamah Ana segera keluar dan ia langsung menutup pintu kamar Ana.


...****...


Pagi hari


"Na, bangun" ucap mamahnya.


Sontak Ana langsung membuka kedua matanya.


"Cepet mandi! nanti habis itu baru makan" perintah mamah.


"Iya, mah" ucap Ana.


"Cepetan ya, jangan lama" ucap mamah.


"Iya" ucap Ana.


"Mamah tunggu di ruang makan ya" ucap mamah.


"Iya" ucap Ana.


Lalu mamah segera pergi menuju ruang makan.


Setelah mamahnya pergi, Ana langsung pergi menuju kamar mandi.


Skip


Ana langsung pergi menuju ruang makan untuk sarapan pagi.


"Ayo makan!" ucap mamah.


Ana segera duduk dikursi dan ia langsung memakan makanan yang telah dimasak oleh mamahnya.


"Kamu semalem kenapa?" tanya mamah.


"Gak kenapa-napa, mah" ucap Ana.


"Na, katanya kamu udah janji mau cerita tentang masalah kamu" ucap mamah.


"Ana semalem nangis karena habis nonton film" bohong Ana.


"Beneran?" tanya mamah memastikan.


"Iya beneran, makanya semalem ada bilang gak apa-apa" ucap Ana.


"Kirain kamu semalam habis berantem sama Lino" ucap mamah.


"Enggak kok, mah" ucap Ana.


Setelah selesai sarapan, Ana segera pergi keluar untuk menunggu Lino.


5 menit kemudian...


Tin...tin


"Ayo, naik" perintah Lino.


Ana langsung menaiki motor Lino. Kemudian Lino segera melajukan motornya menuju sekolah.


* Sekolah


Sesampainya di sekolah, Ana dan Lino segera turun dari motor.


"Na" panggil Lino.


"Kenapa, No?" tanya Ana.


"Inget omongan aku yang semalam kan?" ucap Lino.


"Iya, inget" ucap Ana.


"Ya udah ayo kita ke kelas" ucap Lino sambil memegang tangan Ana.


Ketika sampai, Ana dan Lino segera masuk kedalam kelas.


"Pagi, Na" ucap Felisa.


"Na, ayo" ucap Lino sambil menarik tangan Ana menuju kursinya.


Kemudian Ana dan Lino segera duduk di kursi.


Lalu Felisa segera datang menghampiri Ana dan Lino.


"Na, luh kok gak jawab sapaan gue sih" keluh Felisa.


Ana hanya terdiam.


"Fel, mulai sekarang luh jangan deket sama Ana deh" ucap Lino.


"Luh kok gitu sih, No" ucap Felisa sedikit kesal.


"Gitu kenapa?" tanya Lino.


"Emang kalau gue ngelarang luh kenapa? lagian Ana juga gak mau deket-deket sama luh" ucap Lino.


Felisa langsung terdiam setelah mendengar ucapan Lino dan ia langsung pergi menuju kursinya.


"No, kamu kenapa gitu banget sih omongan nya. Kasihan tahu Felisa" ucap Ana.


"Kamu kasihan sama orang yang kayak gitu, Na? Mereka ngomongin kamu dari belakang loh, masa kamu masih ada rasa kasihan sih sama mereka" ucap Lino.


"Aku gak apa-apa kok kalau mereka ngomongin aku, lagian kan emang aku yang salah" ucap Ana gemetar.


"Enggak! kamu gak salah" ucap Lino.


"No, kamu ngapain duduk disini?" tanya Ana.


"Emang gak boleh ya kalau aku duduk disini?" tanya Lino sambil menatap Ana.


"Bukannya gak boleh, tapi aku jadi gak fokus belajarnya" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu aku pindah ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Kamu gak apa-apa kan duduk sendirian?" tanya Lino.


"Gak apa-apa kok" ucap Ana.


"Ya udah, aku pindah ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino segera pergi menuju kursinya.


Disisi lain


Clara segera duduk disebelah Felisa.


"Luh kenapa, Fel?" tanya Clara yang baru datang.


"Gak apa-apa kok" ucap Felisa.


"Luh berantem ya sama Gilang?" tanya Clara.


"Enggak kok" ucap Felisa.


"Terus luh kenapa?" tanya Clara.


"Gue kan udah bilang kalau gue gak apa-apa" ucap Felisa.


"Oh iya, gue bawa coklat buat luh, Lia sama Ana" ucap Clara.


"Bentar ya, gue ambil dulu" ucap Clara sambil membuka resleting tas nya.


"Nih" ucap Clara sambil memberikan satu coklat kepada Felisa.


"Makasih" ucap Felisa menerima coklat tersebut.


"Iya sama-sama" ucap Clara.


"Ya udah gue ke Ana dulu ya" ucap Clara.


"Ra" panggil Felisa.


"Kenapa?" tanya Clara.


"Lino ngelarang gue deket-deket sama Ana" ucap Felisa.


"Lino bercanda kali" ucap Clara.


"Enggak, Ra. Dia tadi serius ngomong nya" ucap Felisa.


"Udah ah, gue mau kasih coklat buat Ana dulu" ucap Clara sambil pergi menuju kursi Ana.


"Na, ini coklat buat luh" ucap Clara sambil memberikan coklat kepada Ana.


"Gak usah sok baik luh" ucap Lino.


"Luh apa-apaan sih, No" ucap Clara.


"Udah! luh ambil lagi aja coklat luh, lagian Ana gak mau terima coklat dari orang yang udah ngomongin dia dari belakang" ucap Lino.


"Ngomongin Ana? gue gak ngomongin Ana kok" ucap Clara.


"Luh jangan pura-pura gak tahu deh" ucap Lino.


"Emang gue ngomongin apa gitu?" bingung Clara.


"Udah luh jangan sok polos jadi orang" ucap Lino.


"No, udah" ucap Ana.


"Na, maksud Lino apa sih?" tanya Clara kepada Ana.


"Lebih baik luh jauh-jauh deh dari Ana, lagian Ana gak butuh temen kayak luh" ucap Lino emosi.


Mata Clara langsung berkaca-kaca setelah mendengar ucapan Lino. Kemudian Clara langsung pergi keluar.


"No, udah lah. Jangan kayak gitu lagi ke mereka" ucap Ana gemetar.


"Aku kayak gini karena aku gak mau kamu dijahatin lagi sama orang yang kamu anggap deket, Na" ucap Lino.


"Emang kamu tahu dari siapa sih kalau mereka ngomongin aku dari belakang?" tanya Ana.


"Aku tahu dari Acha" ucap Lino.


"Terus kamu percaya?" tanya Ana.


"Ya aku percaya, Na. Lagian Acha gak mungkin bohong sama aku" ucap Lino.


"Oh gitu" ucap Ana dengan mata yang berkaca-kaca.


"Na, kamu jangan salah paham. Aku percaya sama Acha karena dia gak mungkin bohong" ucap Lino.


"Lagian aku kayak gini karena aku gak mau ada orang yang jahatin kamu lagi" ucap Lino.


"Selamat pagi anak-anak" ucap guru yang baru datang.


Semua murid kelas XII MIPA 4 langsung duduk dikursinya masing-masing.


"Pagi Bu" ucap semuanya.


"No, cepet duduk di kursi kamu" perintah Ana.


Akhirnya Lino segera pergi menuju kursinya.


"Sebelum membahas materi, ada baiknya saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu" ucap guru.


"Perkenalkan nama saya ibu Risa, disini saya mengajar mata pelajaran PKN" ucap Bu Risa.


"Bu" ucap Ana sambil mengangkat satu tangannya.


"Iya, ada apa?" tanya Bu Risa.


"Saya ijin ke toilet ya" ucap Ana.


"Oh ya sudah silahkan" ucap Bu Risa.


Ana segera pergi dari kelasnya untuk mencari Clara karena Clara belum masuk kedalam kelas setelah Lino memarahinya.


Ana segera mencari ke kantin dan perpustakaan namun Clara tidak ada disana. Akhirnya Ana memutuskan untuk pergi menuju rooftop.


Sesampainya di rooftop, Ana melihat Clara yang sedang menangis.


"Ra" panggil Ana sambil mendekat kearah Clara.


Clara langsung mengusap air matanya.


"Maafin ucapan Lino barusan ya" ucap Ana.


"Na, gue sama sekali gak pernah ngomongin luh kok" ucap Clara.


"Iya gue tahu, luh gak mungkin ngomongin gue" ucap Ana sambil memeluk Clara.


"Lino cuma salah paham doang kok, Ra" ucap Ana.


"Luh percaya sama gue kan, Na?" tanya Clara.


"Iya, gue percaya kok sama luh" ucap Ana sambil menepuk-nepuk pelan punggung Clara.


"Udah, luh jangan nangis lagi" ucap Ana sambil melepaskan pelukannya.


"Ya udah ayo ke kelas" ucap Ana sambil tersenyum.


"Ayo" ucap Clara.


Akhirnya mereka berdua segera kembali ke kelasnya.


Sesampainya di kelas, Ana dan Clara segera duduk dikursinya masing-masing.


...****...


Krining...Krining


Bel istirahat berbunyi


Lino segera berjalan menghampiri Ana.


"Aku kan udah bilang, jangan deketin mereka" ucap Lino.


"Mereka gak ngomongin aku kok, No" ucap Ana.


"Na, kamu jangan terlalu percaya sama orang" ucap Lino.


"Kamu juga sama, jangan terlalu percaya sama Acha. Bisa aja kan Acha bohongin kamu" ucap Ana.


"Tapi yang diomongin Acha itu bener, Na" ucap Lino.


"Acha gak mungkin bohongin aku" ucap Lino lagi.


"No, jadi kamu lebih percaya Acha ya?" tanya Ana.


"Kamu jangan salah paham dulu, Na" ucap Lino.


"Aku cape tahu gak! kamu selalu aja bilang tentang Acha, Acha, Acha" kesal Ana.


Sontak orang-orang yang berada didalam kelas langsung melihat kearah Ana dan Lino.


"Ya udah kalau kamu percaya sama dia ya percaya aja sama dia. Jangan nyuruh aku untuk percaya sama dia" ucap Ana sambil pergi.


Kemudian Lino segera pergi mengejar Ana.


"Fel, mereka berdua kenapa sih? kok nyebut-nyebut nama Acha" tanya Gilang.


Felisa hanya terdiam.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Gilang karena melihat Felisa yang hanya diam saja.


"Gak kenapa-napa" ucap Felisa.


"Ya udah ayo ke kantin" ucap Gilang.


"Ra, ikut gak?" tanya Felisa.


"Ya udah ayo" ucap Clara.


"Lia, mau ikut ke kantin gak?" tanya Felisa.


"Enggak, soalnya gue bawa bekal" ucap Lia.


"Ya udah, kita bertiga ke kantin dulu ya" ucap Felisa.


"Iya" ucap Lia.


Akhirnya Gilang, Felisa dan Clara segera pergi menuju kantin.


...****...


* Rooftop


"Na" panggil Lino sambil memegang tangan Ana.


"Lepasin, No!" ucap Ana.


"Na, aku bukan percaya sama Acha. Tapi kenyataan nya pasti mereka bertiga ngomongin kamu dari belakang, secara kan mereka bertiga sahabatnya Naya dan pastinya mereka bakal kesel sama kamu karena kan sebelum Naya meninggal, Naya berantem dulu sama kamu" kata Lino.


"Aku ngelarang kamu deket sama mereka karena aku gak pingin kamu sakit hati kalau nantinya kamu tahu kalau mereka ngomongin kamu" ucap Lino.


"Mereka gak mungkin kayak gitu" ucap Ana.


"Acha mungkin ngebohongin kamu, No" ucap Ana.


"Kalau dia ngebohongin aku, kenapa dia bisa tahu kalau Naya meninggal" ucap Lino.


"Mereka semua pasti udah cerita ke Acha soal semuanya. Mereka juga pasti udah jelek-jelekin kamu dan bilang kalau kamu penyebab kematian Naya" ucap Lino.


"No, cukup!" ucap Ana.


"Udah jangan dibahas lagi!" ucap Ana lagi.


Lino membuang nafasnya dengan kasar.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


"Kemana?" tanya Ana.


"Ke kantin" ucap Lino.


"Aku gak mau" ucap Ana.


"Kenapa gak mau ke kantin?" tanya Lino.


"Aku gak lapar" ucap Ana.


"Kamu sendiri aja yang ke kantin sana" ucap Ana.


"Kalau kamu gak ke kantin, aku juga gak bakal ke kantin" ucap Lino.


"Udah kamu kesana aja, kamu kan pasti lapar" ucap Ana.


"Enggak, aku gak lapar" ucap Lino.


Tiba-tiba perut Ana berbunyi.


Sontak Ana dan Lino langsung melihat kearah perut Ana.


"Kalau lapar gak usah ditahan, nanti malah sakit" ucap Lino.


"Ya udah ayo ke kantin" ajak Lino.


Akhirnya dengan berat hati, Ana segera mengiyakan ajakan Lino.


* Kantin


"Kamu mau pesen apa?" tanya Lino.


"Aku pingin nasi goreng sama air mineral" ucap Ana.


"Ya udah kamu tunggu disini dulu ya" ucap Lino.


Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.


Lalu Lino segera pergi untuk membeli makanan dan minuman untuk dirinya dan juga Ana.


"Ana" sapa Raka sambil duduk disebelah Ana.


"Apa?" tanya Ana.


"Lino mana?" tanya Raka.


"Dia lagi beli makanan" ucap Ana.


"Gue numpang makan disini ya" ucap Raka.


"Kalau mau makan ya makan aja, lagian tempat ini kan bukan milik gue" ucap Ana.


"Siapa tahu kan gue ganggu luh sama Lino" ucap Raka.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Ka, gue boleh nanya gak?" tanya Ana.


"Nanya apa?" tanya Raka.


"Menurut luh diantara Lino, Clara, Felisa dan Lia. Mana yang bisa luh percaya?" tanya Ana.


"Ya gue percaya sama Lino lah" ucap Raka.


"Emangnya luh gak percaya sama Lino?" tanya Raka.


"Ya percaya" ucap Ana.


"Terus luh kenapa nanya kayak gitu?" tanya Raka.


"Enggak apa-apa, gue cuma nanya aja" ucap Ana.


"Lino bohongin luh ya?" tanya Raka.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Kirain dia bohongin luh" ucap Raka.


"Enggak, gue tadi cuma nanya aja kok" ucap Ana.


5 menit kemudian, Lino segera datang menghampiri Ana dan Raka.


"Ini" ucap Lino sambil meletakkan makanan dan minuman di meja.


"Makasih" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Ana dan Lino langsung memakan nasi goreng tersebut.


Raka langsung melihat kearah Ana dan Lino secara bergantian.


"Luh berdua berantem ya?" tanya Raka.


"Enggak kok" ucap Ana dan Lino bersamaan.


"Terus kenapa diem-dieman?" tanya Raka.


"Kan kita lagi makan, masa iya harus ngobrol" ucap Lino.


"Tapi kan biasanya juga suka ngobrol" ucap Raka namun tidak dijawab oleh Ana maupun Lino.


"Kacang...kacang" ucap Raka.


"No, luh bohongin Ana ya?" tanya Raka tiba-tiba.


"Enggak kok" ucap Lino.


"Beneran?" tanya Raka.


"Na, emang aku udah bohongin kamu ya?" tanya Lino kepada Ana.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Gue pindah tempat aja deh, canggung banget disini" ucap Raka sambil pergi.


"Uhuk...uhuk"


Lino segera membuka botol air mineral milik Ana.


"Nih minum dulu" ucap Lino sambil memberikan air mineral tersebut.


Ana segera meminum air tersebut.


"Makannya jangan cepet-cepet" ucap Lino.


"No" panggil Aldi sambil menghampiri Lino.


"Apa?" tanya Lino.


Aldi segera memperlihatkan ponselnya kepada Lino dan ternyata ia memperlihatkan foto Lino dan Acha saat berada di cafe semalam.


"Acha masih hidup?" tanya Aldi.


Lino hanya mengangguk mengiyakan ucapan Aldi.


"Terus yang waktu itu makam siapa?" tanya Aldi.


"Di, nanti aja ya gue jelasinnya. Soalnya gue lagi makan" ucap Lino.


"Tapi nanti jelasin ke gue ya" ucap Aldi.


"Iya, nanti gue jelasin" ucap Lino.


"Eh, Di!" panggil Lino.


"Kenapa, No?" tanya Aldi.


"Luh dapet foto gue sama Acha dari mana?" tanya Lino" ucap Lino.


"Dari grup kelas" ucap Aldi.


"Siapa yang ngirim fotonya?" tanya Lino.


"Ajeng" ucap Aldi.


"Ya udah, No! gue pergi dulu ya" ucap Aldi lagi.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Aldi segera pergi.