ARLINO

ARLINO
Episode 42



"Na, pulang yuk!" ucap Clara.


"Ayok" ucap Ana.


Clara pun segera mengantarkan Ana pulang.


Sesampainya di rumah, Ana pun langsung turun dari motor Clara.


"Yaudah gue pulang dulu ya" ucap Clara.


"Iya, hati-hati ya" ucap Ana.


Clara pun segera pergi menuju rumahnya.


Setelah Clara pergi, Ana pun langsung masuk kedalam rumahnya.


"Ana" panggil mamah.


"Apa, mah?" tanya Ana.


"Tadi Raka ke rumah nyariin kamu" ucap mamah.


"Mau apa nyariin Ana?" tanya Ana.


"Mamah juga gak tahu, coba kamu samperin deh ke rumahnya" ucap mamah.


Ana pun segera pergi menuju rumah Raka.


5 menit kemudian Ana pun sampai di rumah Raka.


"Raka main yuk" teriak Ana.


Lalu mamah Raka pun keluar menghampiri Ana.


"Eh Ana! sini masuk" ucap mamah Raka.


"Iya, tan" ucap Ana.


"Raka mana, tan?" tanya Ana.


"Di kamarnya" ucap mamah Raka.


"Oh di kamar" ucap Ana.


"Kamu ke kamar nya Raka aja" ucap mamah Raka.


"Emang gak apa-apa, tan?" tanya Ana.


"Gak apa-apa, kayak ke siapa aja sih kamu" ucap mamah Raka sambil tersenyum.


Ana pun segera pergi menuju kamarnya Raka.


"Raka!!!" teriak Ana


"Anjir! kaget gue" ucap Raka yang sedang menonton televisi.


Ana pun segera duduk disamping Raka.


"Tadi mau apa ke rumah gue?" tanya Ana.


"Gue cuma mau mastiin luh masih nangis atau enggak nya" ucap Raka.


"Kirain gue, luh mau ngajak gue pergi keluar" ucap Ana.


"Percaya diri banget luh" ucap Raka.


"Oh iya, tadi waktu pulang sekolah gue ke rumah Lino" kata Lino.


"Luh ngapain ke rumah Lino?" tanya Ana.


"Gue tadi nyeritain tentang luh" ucap Raka.


"Dia udah minta maaf belum sama luh?" tanya Raka.


"Udah lewat chat, tapi gak gue bales" kata Ana.


"Kenapa gak dibales?" tanya Raka.


"Gak kenapa-napa, gue cuma malu aja sama dia" kata Ana.


"Kenapa mesti malu?" tanya Raka.


"Ya malu lah! gue udah ngakuin suka sama Lino tapi Lino nya nyuruh gue buat jauhin dia. Kan gue merasa tertolak" ucap Ana.


Raka pun hanya tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Kok luh malah ketawa sih!" kesal Ana.


"Lucu aja gitu! sekalinya luh suka sama orang, orangnya nyuruh luh jauhin dia" ucap Raka sambil tertawa kecil.


"Udah jangan ketawa!" ucap Ana.


"Na, Lino ngomong kayak gitu karena luh kasih tahu isi surat itu. Dia khawatir kalau luh deket-deket sama dia nanti luh nya kenapa-napa" jelas Raka.


"Udah, Ka! kalau luh ngomong kayak gitu nantinya gue makin berharap sama dia" ucap Ana.


"Yaudah gue gak bakal ngomongin tentang Lino lagi deh" ucap Raka.


Trining...trining


Ana pun segera melihat ke layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya.


"Kok tumben dia nelpon" heran Ana.


"Siapa?" tanya Raka.


"Bagas" ucap Ana.


Ana pun segera mengangkat panggilan telepon dari Bagas.


"Hallo, gas" ucap Ana.


"Iya" ucap Bagas.


"Ada apa ya nelpon gue?" tanya Ana.


"Gue mau tanya sama luh" kata Bagas.


"Tanya apa?" ucap Ana.


"Gue gak kenapa-napa kok" kata Ana.


"Gak kenapa-napa tapi kok nangis" kata Bagas.


Ana pun memikirkan jawaban untuk pertanyaan Bagas.


"Gue sebenernya tadi gak enak badan, makanya gue nangis karena kepala gue pusing banget" ucap Ana berbohong.


"Sekarang masih sakit?" tanya Bagas.


"Udah enggak kok, udah sehat bugar" ucap Ana.


Raka yang berada disamping Ana pun langsung menahan tawanya.


"Syukur deh kalau gitu" ucap Bagas.


"Oh iya, malam ini luh sibuk gak?" tanya Bagas.


Ana pun langsung melihat kearah Raka karena Raka sedang memberikan aba-aba agar Ana menjawab tidak.


"Gue gak sibuk kok" ucap Ana.


"Luh mau temenin gue makan gak?" tanya Bagas.


"Emang Naya gak ada di rumah?" tanya Ana.


Raka pun hanya menggelengkan kepalanya karena lelah dengan Ana.


"Naya ada kok di rumah, tapi gue maunya makan sama luh" ucap Bagas.


"Kenapa mau makan sama gue?" tanya Ana bingung.


Raka pun memukul pelan kepala Ana dengan bantal kecil karena kesal mendengar pertanyaan Ana yang sangat bodoh.


"Ih!" kesal Ana kepada Raka.


"Kenapa, Na?" tanya Bagas.


"Itu ada nyamuk" ucap Ana berbohong.


"Kirain kenapa" ucap Bagas.


"Oh iya, gimana? luh mau gak makan sama gue?" tanya Bagas.


"Gue gak tahu" ucap Ana.


"Soalnya gue takut dimarahin sama orang tua gue, kalau malam-malam main sama cowok" ucap Ana lagi.


"Emang luh sering dimarahin kalau malam main sama cowok?" tanya Bagas.


"Enggak sih! cuma gue takut orang tua gue marah, soalnya baru kali ini ada cowok selain Raka yang ngajak gue keluar" jelas Ana.


"Yaudah nanti gue ke rumah luh, terus ijin ke orang tua luh" ucap Bagas.


"Yaudah deh" ucap Ana.


"Ya udah gue tutup dulu ya teleponnya, sampe ketemu nanti malam" ucap Bagas.


Lalu Bagas pun langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Udah jadian sama Bagas aja, dia kayaknya beneran suka sama luh" ucap Raka.


"Tapi gue gak suka sama dia" ucap Ana.


"Luh juga awalnya gitu kan ke Lino, eh akhirnya luh suka sama dia" ucap Raka.


"No, apa gue pura-pura sakit aja biar dia gak jadi datang ke rumah gue" kata Ana.


"Luh jahat banget sih, kasihan tahu dia" ucap Raka.


"Tapi gue takut, soalnya gue baru pertama kali makan malam sama cowok" ucap Ana.


"Oh berarti luh nganggap gue cewek gitu?" kesal Raka.


"Maksud gue cowok selain luh" ucap Ana.


"Santai aja kali gak usah takut, lagian cuma makan doang" ucap Raka.


"Iya juga sih" ucap Ana.


"Na, gue harap luh nanti gak ngomongin tentang Lino ya ke Bagas" ucap Raka.


"Emang kenapa?" tanya Ana.


"Luh sendiri tahu kan kalau Bagas suka sama luh, masa nanti luh nya malah bahas Lino"; ucap Raka.


"Yaudah iya" ucap Ana.


"Ka, gue pulang dulu ya" ucap Ana lagi.


"Oke" ucap Raka.


"Na, tunggu" panggil Raka.


Ana pun sontak melihat kearah Raka.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Nanti malam dandan yang cantik" ucap Raka.


"Mau ngapain dandan?" bingung Ana.


"Kan luh mau ketemuan sama Bagas" ucap Raka.


"Gue gak mau, gue gak bisa dandan" ucap Ana.


"Lagian cuma makan ini, ngapain juga harus dandan" ucap Ana.


"Siapa tahu kan si Bagas nembak luh, jadi luh harus cantik" ucap Raka.


"Mana ada dia nembak gue" ucap Ana.


"Siapa tahu kan" ucap Raka.


"Yaudah gue pulang dulu ya" ucap Ana.


Ana pun segera pergi menuju rumahnya.