ARLINO

ARLINO
Episode 77



"Merah tuh pipinya" ucap Lino.


"Udah aku bilang enggak" ucap Ana.


"Mana coba aku lihat" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera melihat kearah Lino.


"Enggak kan?" tanya Ana.


Kemudian Lino pun segera mencubit kedua pipi Ana.


"Awww sakit" ucap Ana.


"Tuh kan merah pipinya" ucap Lino.


"Ya iyalah, kan dicubit kamu" ucap Ana.


Lalu Ana pun berniat untuk mencubit pipi Lino.


"Eittss mau ngapain?" tanya Lino sambil memegang tangan Ana.


"Enggak mau ngapa-ngapain kok" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera melepaskan tangan Ana.


Saat Lino melepaskan tangan Ana, Ana pun langsung mencubit pipi Lino dengan keras.


"Aww sakit, Na" ringis Lino.


"Na, lepasin" ucap Lino kesakitan.


Lalu Ana pun segera melepaskan cubitannya.


"Aww" ringis Lino sambil mengelus-elus pipinya.


"Sakit kan? sama aku juga sakit tadi waktu dicubit kamu" ucap Ana.


"Sakit tahu soalnya kena luka di sudut bibir aku" ucap Lino.


"Emang kena ya?" tanya Ana.


"Iya kena" bohong Lino.


Lalu Ana pun berniat menyentuh luka tersebut. Namun pada saat Ana mau menyentuh luka tersebut, tiba-tiba Lino pun mencium bibir Ana sekilas.


Sontak tubuh Ana pun langsung mematung.


"Tapi bohong" ucap Lino sambil berlari.


Ana pun langsung melihat ke sekitar taman dan untung saja orang-orang tidak melihat kearahnya.


Kemudian Ana pun segera berlari mengejar Lino.


"Lino lari kemana sih" batin Ana.


Akhirnya Ana pun memilih untuk pergi menuju tenda.


Setelah sampai tenda, Ana pun langsung menghampiri Clara dan Felisa yang sedang duduk didepan tenda.


"Luh sama Lino ngobrolin apa nih? kok lama banget" ucap Clara sambil tersenyum.


"Enggak ngobrolin apa-apa kok" ucap Ana.


"Mana mungkin gak ngobrol" ucap Clara.


"Na, luh lake blush on ya?" tanya Felisa.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Tapi kok pipi luh pink gitu" ucap Felisa.


"Soalnya tadi dicubit Lino" ucap Ana.


"Aaa so sweet banget" ucap Clara.


"So sweet matamu! yang ada pipi gue sakit" ucap Ana.


"Gue kira Lino cuek orangnya" ucap Felisa.


"Dia gak cuek kok" ucap Ana.


"Iya gak cuek sama luh, tapi ke orang lain cuek banget" ucap Clara.


"Emang iya?" tanya Ana.


"Iya" ucap Clara.


"Kayaknya Acha bakal bahagia deh soalnya bisa lihat Lino bahagia lagi kayak dulu" ucap Felisa.


"Iya, dia pasti bahagia banget" ucap Clara.


Ana pun hanya tersenyum karena mendengar ucapan Felisa.


"Na, buat Lino bahagia terus ya" ucap Clara.


"Iya" ucap Ana sambil tersenyum.


"Oh iya, Naya sama Lia mana?" tanya Ana.


"Gak tahu" ucap Clara dan Felisa bersamaan.


"Guys, gimana sih caranya biar move on?" tanya Clara.


"Ya cari cowok lain lah" ucap Felisa.


"Iya juga sih, tapi cowoknya siapa?" tanya Clara.


"Ya terserah luh" ucap Felisa.


"Ada gak sih cowok lain yang semanis Ardan?" tanya Clara.


"Ada kok" ucap Ana.


"Siapa?" tanya Clara.


"Lino" ucap Ana.


"Lah kan itu pacar luh! emang luh mau, Lino direbut gue?" tanya Clara.


"Ya enggak lah" ucap Ana.


"Terus kenapa luh nyebut nama dia" ucap Clara.


"Kan dia manis" ucap Ana sambil tersenyum.


"Yang manis tuh cuma gula, mana ada manusia manis" ucap Felisa.


****


Skip


Malam hari


Semua orang pun berkumpul di lapangan karena ada pengumuman dari guru.


"Selamat malam semuanya" ucap guru dari sekolah lain.


"Selamat malam" sahut semuanya.


"Kami perwakilan dari guru-guru mengucapkan terima kasih banyak atas keikutsertaan kalian dalam mengikuti camping ini. Kami harap dengan diadakannya acara ini, kalian dapat bersosialisasi dengan baik" ucap guru tersebut.


Semua siswa dan siswi pun memperhatikan perkataan dari guru tersebut, sedangkan Ana hanya melihat-lihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Lino.


"Nyari siapa, Na?" tanya Felisa.


"Nyari pacarnya lah" ucap Clara.


"Tuh Lino" ucap Felisa.


"Mana?" tanya Ana.


"Mau aja ditipu" ucap Felisa sambil tertawa.


"Ih ngeselin banget" ucap Ana.


"Oh iya! karena ini malam terakhir kita disini, jadi silahkan kalian tunjukin bakat-bakat kalian lagi seperti malam kemarin" ucap guru dari sekolah lain.


"Ada hadiahnya gak, Bu?" teriak seorang murid dari sekolah lain.


"Ada, masih banyak kok hadiahnya" ucap guru tersebut.


"Ada yang mau nyanyi gak?" tanya guru.


"Saya mau, pak" teriak Lino.


"Lino" gumam Ana.


"Si Lino mau nampilin apa?" tanya Clara.


"Lah mana gue tahu" ucap Felisa.


"Semoga dia gak malu-maluin sekolah kita" ucap Clara.


"Silahkan maju ke depan" ucap guru tersebut kepada Lino.


Lalu Lino pun segera maju ke depan.


"Silahkan perkenalan nama kamu" perintah guru tersebut.


"Selamat malam" ucap Lino.


"Malam" teriak semuanya.


"Perkenalkan nama saya Arlino dari SMA Tunas Bakti" ucap Lino.


"Disini saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang spesial buat saya" ucap Arlino.


"Siapa tuh?" ucap Clara sambil menyenggol tubuh Ana.


"Ih apaan sih" ucap Ana tersipu malu.


Lalu Arlino pun segera menyanyikan lagu Adera yang berjudul lebih indah.


"Saat ku tenggelam dalam sendu"


"Waktu pun enggan untuk berlalu"


"Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku"


"Entah untuk siapa pun itu"


"Semakin kulihat masa lalu"


"Semakin hatiku tak menentu"


"Tetapi satu sinar terangi jiwaku


saat ku melihat senyummu"


"Dan kau hadir merubah segalanya"


"Menjadi lebih indah"


"Kau bawa cintaku setinggi angkasa"


"Membuatku merasa sempurna"


"Dan membuatku utuh"


"Tuk menjalani hidup"


"Berdua denganmu selama-lamanya"


"Kaulah yang terbaik untukku"


Setelah selesai bernyanyi, guru tersebut pun segera memberikan hadiah kepada Arlino. Lalu setelah diberi hadiah, Arlino pun kembali duduk.


"Cie senyum-senyum sendiri" ucap Clara kepada Ana.


"Siapa juga yang senyum" ucap Ana.


"Tuh samperin sana! udah tahu ini keberadaannya" ujar Felisa.


"Gak mau" ucap Ana.


Ana pun segera memainkan ponselnya dan ia pun langsung membuka aplikasi WhatsApp nya.


Kemudian Ana pun segera mengirim pesan kepada Lino.


Ana :


Suara kamu bagus


Lalu beberapa detik kemudian Lino pun segera membalas pesan dari Ana.


^^^Lino :^^^


^^^Makasih^^^


Ana :


Lagunya buat seseorang yang spesial ya?


^^^Lino :^^^


^^^Iya^^^


Ana :


Buat siapa tuh?


^^^Lino :^^^


^^^Buat kamu^^^


Sontak Ana pun langsung menggenggam pergelangan tangan Clara dengan kencang.


"Ana, luh kenapa?" tanya Clara.


"Jantung gue deg-degan" jawab Ana sambil memegang dadanya.


"Luh punya penyakit jantung?" tanya Felisa.


"Enggak" ucap Ana.


"Terus kenapa deg-degan?" tanya Felisa.


Lalu Ana pun langsung memperlihatkan chat nya kepada Clara dan Felisa.