
Keesokan harinya
Tok...tok...tok
"Buka aja, mah! pintunya gak dikunci kok" ucap Ana sambil menulis.
Cklek
Mamah Ana membuka pintu kamar Ana.
"Na, sarapan dulu" ucap mamah.
"Bentar, mah! Ana lagi nulis dulu" ucap Ana.
"Banyak tugas ya disekolah?" tanya mamah.
"Enggak sih, mah" ucap Ana.
"Terus itu apa?" tanya mamah.
"Ini Ana cuma nulis catatan waktu Ana gak sekolah" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap mamah.
"Ya udah kalau gitu mamah bawain aja ya sarapannya kesini" ucap mamah.
"Nanti aja biar Ana yang ambil, mah" ucap Ana.
"Kalau nanti, bisa-bisa kamu gak makan karena kelupaan" ucap mamah.
"Ya udah kalau gitu mamah ambil sarapannya dulu ya" ucap mamah.
"Maaf ya, mah. Ana jadi ngerepotin mamah" ucap Ana.
"Enggak ngerepotin kok" ucap mamah.
Mamah segera menutup pintu kamar Ana, lalu ia langsung pergi ke dapur untuk mengambil sarapan untuk Ana.
Tingtong...tingtong
Ketika mau mengambil sarapan, tiba-tiba ada seseorang yang menekan bel rumah.
Akhirnya mamah Ana segera pergi keluar untuk menemui orang yang menekan bel rumahnya.
Saat pagar rumah dibuka, ternyata orang yang menekan bel rumahnya adalah mantan suaminya alias papahnya Ana.
"Ana ada di rumah gak?" tanya papah Ana.
"Ada, dia lagi dikamarnya" ucap mamah Ana.
"Aku boleh ketemu gak sama dia?" tanya papah Ana.
"Boleh" ucap mamah Ana.
"Oh iya mas, aku boleh minta tolong gak sama kamu" ucap mamah Ana.
"Kamu mau minta tolong apa?" tanya papah Ana.
"Tolong jangan bilang ke Ana kalau kita sebenernya udah pisah. Karena aku gak mau dia sedih kayak dulu" ucap mamah Ana.
"Oke, aku gak akan bilang ke Ana kok" ucap papah Ana.
"Ya udah ayo masuk, mas" ucap mamah Ana.
Lalu mereka berdua segera masuk kedalam rumah.
"Oh iya, kamu ke kamar Ana nya duluan aja. Soalnya aku mau ke dapur dulu" ucap mamah Ana.
"Oh ya udah" ucap papah Ana.
Papah Ana segera pergi menuju kamar Ana.
Mamah Ana segera pergi menuju dapur, setelah itu ia segera pergi menuju kamarnya Ana.
...****...
* Kamar Ana
Tok... tok...tok
"Buka aja, mah! gak dikunci kok" ucap Ana.
Cklek
"Papah" ucap Ana sambil menghampiri papahnya.
"Kamu gimana kabarnya?" tanya papah.
"Ana baik kok, pah. Cuma Ana gak inget apapun" ucap Ana.
"Oh iya, kamu udah sarapan belum?" tanya papah.
"Belum" ucap Ana.
"Ana, ini sarapannya" ucap mamah sambil memberikan sepiring nasi goreng dan air minum.
"Makasih, mah" ucap Ana sambil mengambil nasi goreng dan air minum.
"Iya sama-sama" ucap mamah.
"Dihabisin ya sarapannya" ucap mamah.
"Iya, mah" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu mamah pergi dulu ya" ucap mamah.
"Mau kemana, mah?" tanya Ana.
"Mamah mau ke kamar" ucap mamah sambil pergi.
"Ya udah cepet makan" perintah papah.
Ana dan papahnya segera duduk di kursi yang ada dikamar Ana. Lalu Ana langsung memakan nasi goreng buatan mamahnya.
"Habisin makannya" suruh papah.
"Iya, pah" ucap Ana.
"Pah, Ana pingin jalan-jalan dong. Soalnya Ana bosen dirumah terus" ucap Ana.
"Emang mau jalan-jalan kemana?" tanya papah.
"Jalan-jalan ke pantai" ucap Ana.
"Ya udah habisin dulu makanannya, baru habis itu kita jalan-jalan" ucap papah.
"Beneran, pah?' tanya Ana memastikan.
"Iya" ucap papah.
Ana langsung buru-buru menghabiskan makanannya.
"Jangan buru-buru makannya, nanti keselek" ucap papah.
"Habisnya Ana pingin cepet jalan-jalan" ucap Ana.
"Oh iya, kamu masih sering main gak sama cowok itu?" tanya papah.
"Cowok mana, pah?" tanya Ana.
"Yang namanya Lino" ucap papah.
"Enggak, Ana cuma ketemu dia disekolah aja" ucap Ana.
"Nanti gak usah deket-deket sama dia ya" ucap papah.
"Kenapa emang, pah?" tanya Ana.
"Soalnya gara-gara dia kamu jadinya kayak gini" ucap papah.
"Papah jangan nyalahin dia, lagian kan Ana yang mutusin buat nolong Lino" ucap Ana.
"Lagian kan Lino udah tanggung jawab juga bawa Ana ke rumah sakit" ucap Ana.
...****...
Skip
"Ya udah ayo berangkat, pah" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap papah.
Mereka berdua segera turun kebawah.
"Oh iya, bilang dulu sana sama mamah kamu" ucap papah.
"Oke" ucap Ana.
Ana segera pergi menuju kamar mamahnya.
"Mamah" panggil Ana sambil mengetuk pintu.
Cklek
Pintu dibuka oleh mamahnya.
"Ada apa, sayang?" tanya mamah.
"Ayo jalan-jalan" ucap Ana.
"Mau jalan-jalan kemana?" tanya mamah.
"Ke pantai" ucap Ana.
"Sama papah kamu?" tanya mamah.
"Ya iyalah lah, mah" ucap Ana.
"Kamu sama papah kamu aja deh yang pergi, mamah mau di rumah aja" ucap mamah.
"Ih mamah kok gitu sih" keluh Ana.
"Ayo lah, mah" ucap Ana dengan manja.
"Udah kamu ikut aja" ucap papah Ana sambil menghampiri mereka berdua.
"Ayo, mah" ucap Ana lagi.
"Ya udah" ucap mamah.
"Yeay!!" heboh Ana karena akhirnya dia jalan-jalan bersama kedua orang tuanya.
"Oh iya mah, pah! Ana mau ambil handphone dulu ya ke kamar" ucap Ana.
"Iya" ucap mamah dan papah bersamaan.
Ana segera pergi ke kamarnya untuk mengambil ponsel miliknya.
Setelah mengambil ponsel, ia segera kembali menghampiri mamah dan papahnya.
Kemudian Ana dan orang tua nya segera pergi ke pantai dengan mengendarai mobil papahnya.
...****...
* Basecamp
"No, keadaan Ana gimana sekarang?" tanya Alex.
"Ana baik-baik aja kok, cuma ya dia masih belum inget apapun" ucap Lino.
"Tapi dia tahu nama luh kan?" tanya Alex.
"Tahu kok" ucap Lino.
"Berarti dia juga tahu dong kalau luh pacarnya" ucap Alex.
"Enggak, dia tahunya gue itu sahabatnya dia" ucap Lino.
"Luh yang sabar aja ya, lama kelamaan dia juga bakal tahu kok kalau luh pacarnya" ucap Lino.
"Sebenernya ya gue tuh antara seneng dan sedih kalau Ana hilang ingatan" ucap Lino.
"Kok seneng sih" heran Alex.
"Emang dulu Ana masih kepikiran bahwa dia penyebab kematian Naya ya?" tanya Alex.
"Iya, dia sering kepikiran tentang itu. Soalnya waktu itu Lia nyalahin Ana, makanya Ana overthinking mulu tentang hal itu" ucap Lino.
"Kasihan banget Ana" ucap Alex.
"Oh iya, Lex! luh inget gak waktu Ana ke tempat balapan?" ucap Lino.
"Iya inget, emang kenapa?" tanya Lino.
"Dia kesana karena khawatir banget sama gue" ucap Lino.
"Iya, kalau itu gue juga tahu pasti dia khawatir sama luh" ucap Alex.
"Disaat itu gue jadi yakin banget kalau dia se-cinta itu sama gue. Apalagi ditambah dia waktu itu nolongin gue dari begal sialan itu" ucap Lino.
"Kayaknya emang bener deh apa kata Ana kalau rasa cinta dia ke gue lebih besar dibanding rasa cinta gue ke dia" ucap Lino.
"Ya emang, No. Ana kan emang cinta banget sama luh" ucap Alex.
"Oh iya, No! Ana pernah marah gak sih sama luh?" tanya Alex.
"Pernah, tapi marahnya dia cuma sebentar. Dia gak pernah marah yang lama banget ke gue" ucap Lino.
"Kalau luh pernah marah gak ke Ana?" tanya Alex.
"Pernah, gue waktu dulu sering banget marahin dia. Bahkan sampe ngebentak dia" ucap Lino dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terus reaksi Ana gimana saat luh marahin dia?" tanya Alex.
"Ya dia diem lah, terus habis itu dia nangis" ucap Lino.
"Kok bertolak belakang ya sama Viona" heran Alex.
"Emang Viona kalau dimarahin gimana reaksi nya?" tanya Lino.
"Kalau gue marah, dia malah marah balik ke gue terus sambil ngomong kasar lagi" ucap Alex.
"Serius luh?" ucap Lino.
"Iya, bahkan semua nama binatang disebut sama dia kalau dia lagi marah" ucap Alex.
"Serem juga ya kalau cewek kayak gitu" ucap Lino.
"Oh iya, waktu itu juga dia pernah mau ngelempar sepatu ke gue" ucap Alex.
"Emang dia kenapa mau lempar sepatu ke luh?" tanya Lino.
"Soalnya waktu itu dia lagi main game, terus gue ganggu dia. Terus karena dia kesel, akhirnya dia mau ngelempar sepatu ke gue. Tapi untung aja gak jadi karena ada mamahnya" ucap Alex.
"Ya pantes lah, orang luh nya gangguin dia" ucap Lino.
Lino segera membuka aplikasi WhatsApp nya dan ia langsung terfokus pada story whatsapp Ana.
"Oh Ana udah download lagi aplikasi nya" ucap Lino.
"Aplikasi apa?" tanya Alex.
"WhatsApp" ucap Lino.
Lalu Lino melihat story whatsapp Ana.
"Kenapa luh senyum-senyum" ucap Alex.
"Ini gue lagi lihat story whatsapp Ana" ucap Lino.
"Emang story whatsapp nya apa?" tanya Alex.
"Story nya foto dia bareng kedua orang tuanya" jawab Lino.
"Katanya orang tuanya cerai" ucap Alex.
"Ya emang, tapi mungkin aja mereka berdua terpaksa jalan-jalan karena demi Ana" ucap Lino.
"Gue jadi kangen deh sama orang tua gue" gumam Alex.
"Kalau kangen ya ziarah lah ke makam orang tua luh" ucap Lino.
"Iya, besok gue ke makam orang tua gue deh" ucap Alex.
"Hallo guys" sapa Bobby yang baru datang.
"Luh kenapa, Bob? kok kayak yang seneng gitu" ucap Alex.
"Iya, gue lagi seneng nih" ucap Bobby.
"Seneng kenapa?" tanya Alex.
"Gue baru aja jadian" ucap Bobby.
"Jadian sama Clara?" tebak Lino.
Bobby hanya mengangguk.
"Ternyata setelah lama pdkt, akhirnya luh jadian juga ya" ucap Lino.
"Iya, itu juga berkat saran luh" ucap Bobby.
"Emang Lino ngasih saran apa?" tanya Alex penasaran.
"Lino bilang katanya kalau cewek kayak Clara itu semakin dikejar bakal semakin menjauh, terus akhirnya gue berusaha cuek dan gak chat-chat sama Clara. Karena gue gak chat-chat dia, akhirnya dia malah chat gue duluan dan dia nanyain kenapa gue cuek banget terus jarang chat lagi. Nah karena Clara duluan ngechat, disitu gue ngerasa dia udah mulai suka sama gue. Lalu gue langsung deh ngungkapin perasaan gue sama dia dan akhirnya dia terima gue deh" jelas Bobby.
"Lino kayaknya berpengalaman banget ya tentang cewek" ucap Alex.
"Iya bener, apa jangan-jangan dia sebenernya mantannya banyak ya makanya dia tahu sifat-sifat cewek" ucap Bobby.
"Enggak, mantan gue cuma satu" ucap Lino.
"Mantan terindah ya, No" ucap Bobby.
"Udah jangan dibahas, lagian sekarang gue kan udah punya pacar" ucap Lino.
"Bucin banget ya sama yang sekarang" ucap Alex.
"Tapi sama Acha juga dia bucin" ucap Bobby.
"Ya emang, tapi Lino lebih bucinan sama Ana dibandingkan sama Acha" ucap Alex.
"Oh iya, No! Clara mantannya ada berapa sih?" tanya Bobby.
"Dia gak punya mantan" ucap Lino.
"Serius gak punya?" tanya Bobby.
"Gak tahu juga sih, tapi kata Ana katanya dia belum pernah pacaran" ucap Lino.
"Oh iya, No! ingatan Ana udah kembali belum sih?" tanya Bobby.
"Belum" ucap Lino.
"No, nanti kalau luh bareng Ana, luh cerita aja kejadian-kejadian waktu luh bareng Ana. Siapa tahu kan dia jadi inget lagi" ucap Bobby.
"Enggak ah! gue gak bakal cerita ke dia" ucap Lino.
"Kenapa gak bakal cerita?" ucap Bobby.
"Soalnya kalau gue cerita nanti otomatis dia tahu kalau gue pacarnya, terus nanti bisa-bisa gue dimarahin sama mamahnya kalau gue ngasih tahu Ana bahwa gue pacarnya dia" ucap Lino.
"Bukannya luh pingin Ana inget lagi ya, No" ucap Bobby.
"Waktu itu gue emang pingin Ana inget lagi, tapi sekarang gue rasa ada baiknya dia gak inget kejadian-kejadian yang dulu" ucap Lino.
"Kenapa luh gak mau Ana inget kejadian dulu?" tanya Bobby.
"Soalnya kan dulu banyak banget masalah yang harus dihadapi Ana sampe-sampe Ana sering nangis. Makanya ada baiknya dia gak inget kejadian waktu dulu" jelas Lino.
...****...
Ana POV
Setelah puas jalan-jalan ke pantai, Ana dan orang tuanya segera pulang.
Skip
* Rumah
"Na, papah pergi dulu ya" ucap papah.
"Mau pergi kemana, pah?" tanya Ana.
"Papah mau ke Bandung" bohong papah.
"Ngapain kesana, pah" ucap Ana.
"Soalnya kan papah harus kerja, Na" ucap papah.
"Perasaan papah sibuk mulu deh, sampe-sampe cuma sebentar ke rumah" ucap Ana.
"Kan papah ada kerjaan, Na" ucap papah.
"Ya udah kalau gitu papah pergi dulu ya, nanti papah ke rumah lagi kok" ucap papah.
"Ya udah deh" ucap Ana.
Papah Ana segera memeluk Ana. Kemudian ia segera masuk kedalam mobilnya.
"Papah berangkat dulu ya, Na" ucap papah.
"Iya, pah" ucap Ana.
"Hati-hati ya, pah" ucap Ana.
"Iya" ucap papah sambil melajukan mobilnya.
"Ya udah ayo masuk, Na" ucap mamah.
Lalu Ana dan mamahnya segera masuk kedalam rumah.
"Mah, papah kerja apaan sih?" tanya Ana.
"Papah tuh punya bisnis kuliner dimana-mana, makanya dia sering banget ke luar kota nya" bohong mamah.
"Kata mamah bukannya waktu itu papah kerja di luar negeri ya" ucap Ana.
"Iya, kan papah juga buka usaha di luar negeri" bohong mamah.
"Luar negeri nya dimana?" tanya Ana.
"Di Malaysia" kata mamah.
"Oh iya, mah! Ana boleh main gak ke rumah Raka? soalnya Ana bosen" ucap Ana.
"Ya udah boleh" ucap mamah.
"Ya udah Ana pergi dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap mamah.
Ana segera pergi keluar rumah.
Kemudian Ana segera menelepon Raka.
Tidak menunggu lama, Raka langsung menjawab panggilan telepon dari Ana.
"Hallo, Na" ucap Raka.
"Ka, gue boleh main ke rumah luh gak?" tanya Ana.
"Ya boleh lah, Na" ucap Raka.
"Ya udah kalau gitu luh tunggu didepan rumah luh ya, sekarang gue mau kesana" ucap Ana.
"Oh ya udah" ucap Raka.
"Kalau gitu gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.
"Iya" ucap Raka.
Lalu Ana segera mematikan panggilan teleponnya.
Setelah itu, Ana langsung pergi menuju rumah Raka.