ARLINO

ARLINO
Episode 153



Setelah itu, Lino dan Gilang segera menuju ruang tamu.


"Na, temen-temen aku udah gak ada" ucap Lino.


Lalu Ana langsung membuka pintu kamar tamu. Setelah itu, ia segera menghampiri Lino dan Gilang.


"Oh iya, itu ayam bakarnya udah disisain. Kamu makan aja" suruh Lino.


"Makasih ya, No" ucap Ana.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Ana segera pergi menuju ruang makan.


"No, cepet jelasin" ucap Gilang.


"Ya udah gue jelasin deh" ucap Lino sambil duduk di sofa.


Lalu Gilang juga langsung duduk disebelah Lino.


"Jadi semalem Ana ke club, karena dia diancem sama orang. Terus Ana dipaksa minum sama orang itu" ucap Lino.


"Emang diancem apa?" tanya Gilang.


"Kalau itu gue gak bisa jelasin ke luh, tapi intinya Ana dipaksa minum" ucap Lino.


"Terus kenapa Ana bisa ada di rumah luh?" tanya Gilang.


"Soalnya semalem Bagas yang anter Ana kesini" ucap Lino.


"Kok bisa dianter Bagas?" heran Gilang.


"Soalnya Bagas semalem ada di club itu juga, terus dia lihat Ana. Jadi dia bawa Ana pulang ke rumah gue, soalnya kalau dibawa ke rumah Ana nanti mamahnya bisa marah" ucap Lino.


"Ana dipaksa mabuk sama siapa?" tanya Gilang.


"Elma sama Rafly" ucap Lino.


"Rafly anak geng motor Black Moon?" tanya Gilang.


"Iya" ucap Lino.


"Terus Elma siapa?" tanya Gilang.


"Dia tuh temen sekelas Ana yang di sekolahnya dulu. Dia juga yang pernah bully sahabat Ana, yang namanya Chika itu loh" ucap Lino.


"Oh iya gue inget" ucap Gilang.


"Emang diancem apa sih? kok Ana sampe mau nyamperin mereka di club" ucap Gilang.


"Pokoknya menyangkut Ana deh" ucap Lino.


"Iya apa?" tanya Gilang.


"Lebih baik luh gak usah tahu, soalnya ini privasi Ana" ucap Lino.


"Ya udah deh kalau privasi gue gak bakal nanya" ucap Gilang.


"Oh iya, Lang! luh tahu rumah Rafly gak?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Gilang.


"Lang, gue minta tolong dong" ucap Lino.


"Minta tolong apa?" tanya Gilang.


"Tolong cari alamat rumah dia" ucap Lino.


"Ya udah nanti gue nanya deh ke temen-temen geng motor lain" ucap Gilang.


"Oh iya! selain dipaksa mabuk, Ana gak diapa-apain kan sama Rafly?" tanya Gilang.


"Gue gak tahu, kan semalem gue gak disana" ucap Lino.


"Gue takut aja Ana diapa-apain, soalnya gue denger-denger katanya dia mesum banget" ucap Gilang.


"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya, soalnya gue mau nanya-nanya ke temen-temen gue siapa tahu ada yang tahu alamat Rafly" ucap Gilang.


"Oh ya udah" ucap Lino.


"Kalau udah dapet alamatnya, nanti kirim ya ke gue" ucap Lino.


"Iya, nanti gue kirim" ucap Gilang.


Lalu Gilang segera pergi.


Setelah Gilang pergi, Lino segera menghampiri Ana yang berada di ruang makan.


"Udah selesai makannya?" tanya Lino.


"Udah" ucap Ana yang sedang membereskan piring-piring.


"Piring-piringnya mau dibawa kemana?" tanya Lino.


"Ke dapur, mau aku cuci" ucap Ana.


"Gak usah, biar aku aja yang cuci" ucap Lino.


"Enggak, biar sama aku aja" ucap Ana.


"Ya udah aku bantuin bawa gelas-gelas nya ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino segera membawa gelas-gelas yang tadi ia dan teman-temannya gunakan.


Setelah itu, mereka berdua segera pergi menuju dapur.


Kemudian Ana langsung mencuci piring dan gelas tersebut. Sedangkan Lino, ia hanya melihat Ana yang sedang mencuci gelas dan piring.


"Jangan dilihatin aku" ucap Ana.


"Terus aku harus lihatin apa dong? masa aku harus lihatin piring" ucap Lino.


"Iya, kamu harus lihatin piringnya" ucap Ana.


"Enggak mau, nanti dia baper kalau dilihatin aku" ucap Lino.


"Kamu lebih baik kesana aja, jangan disini" ucap Ana.


"Kesana kemana?" tanya Lino.


"Ke taman, sambil ngurusin anak kamu" ucap Ana.


"Oh iya aku lupa, kan aku punya dua anak pungut ya" ucap Lino.


Lalu Ana langsung tertawa karena mendengar ucapan Lino.


"Jahat banget omongannya" ucap Ana.


"Kan emang mereka dipungut sama aku" ucap Lino.


"Kamu udah kasih mereka makan belum?" tanya Ana.


"Belum" ucap Lino.


"Ya udah sana kasih makan" suruh Ana.


"Iya bawel" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi untuk memberi makan kedua kucingnya.


Skip


Setelah selesai mencuci piring dan gelas, Ana segera pergi menghampiri Lino.


"Kamu mau pulang kapan?" tanya Lino.


"Gak tahu" ucap Ana.


"No, aku takut mamah tahu" ucap Ana.


"Udah jangan takut, nanti kalau ketahuan bilang aja yang sejujurnya" ucap Lino.


"Ya udah sekarang kamu pulang dulu aja ya, kan mamah kamu juga gak ada di rumah" ucap Lino.


"Sekalian ganti pakaian, soalnya kalau kamu ketahuan pake pakaian aku, bisa-bisa nanti mamah kamu curiga kalau ternyata kamu nginep di rumah aku" ucap Lino.


"Tapi kalau udah ganti pakaian, nanti aku ke rumah kamu lagi ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Kamu nanti tunggu dulu di rumah aku, jangan ninggalin" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Handphone aku disimpen aja ya di kamu, soalnya lagi di charge" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku ambil dulu kunci motor ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino segera pergi untuk mengambil kunci motornya.


Setelah mengambil kunci motornya, Lino segera pergi menghampiri Ana.


"Oh iya! kamu bawa kunci rumah kamu gak?" tanya Lino.


"Bawa kok, soalnya waktu malem aku jaga-jaga aja siapa tahu pintu rumah udah ditutup. Jadi aku bawa kunci cadangan deh" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu ayo berangkat" ucap Lino.


Lalu mereka berdua segera pergi menuju rumah Ana dengan mengendarai motor.


...****...


Sesampainya di rumah, Ana dan Lino segera turun dari motor. Lalu mereka berdua segera masuk kedalam rumah Ana.


"No, kamu tunggu disini dulu ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Ana segera pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Kemudian Ana segera mengambil tas jinjing untuk menyimpan baju dan celana Lino.


Setelah berganti pakaian, Ana segera pergi menghampiri Lino.


"Ayo" ucap Ana.


Saat keluar rumah, Ana dan Lino bertemu dengan mamahnya Ana.


Sontak Ana dan Lino langsung terkejut atas kehadiran mamahnya Ana.


"Kamu kenapa sama Lino?" tanya mamah.


"Hmm...tadi Ana nyuruh Lino buat jemput Ana di rumah Clara" ucap Ana dengan gugup.


Lalu mamah Ana mencium bau alkohol yang menyengat di tubuh Ana.


"Ana, kamu minum alkohol ya?" tanya mamah.


Ana hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan mamahnya.


"Ana jawab pertanyaan mamah!!" tegas mamah.


Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan mamahnya.


PLAKK


Mamah langsung menampar pipi Ana.


"Tante, udah" ucap Lino sambil menghalangi Ana agar tidak ditampar oleh mamahnya.


Ana langsung menangis setelah ditampar oleh mamahnya.


"Maafin Ana, mah" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.


"Ini pasti gara-gara kamu kan, No? kamu kan yang nyuruh Ana mabuk?" tuduh mamahnya Ana.


"Enggak, tante" ucap Lino.


"Enggak, mah! Lino gak nyuruh Ana mabuk" ucap Ana.


"Terus siapa yang nyuruh kamu mabuk?" bentak mamah.


"Pokoknya sekarang kamu cepet masuk kedalem!!" perintah mamah.


"Apaan ini?" tanya mamah sambil merebut tas tersebut.


Kemudian mamah Ana segera melihat isi tas tersebut.


"Pakaian siapa ini?" tanya mamah.


"Yang Lino, mah" ucap Ana.


"Jadi semalem kamu nginep di rumah Lino?" ucap mamah dengan emosi.


"Iya, mah" ucap Ana.


Lalu mamah Ana segera menjatuhkan tas itu.


"Kamu ngapain Ana?" tanya mamah Ana.


"Lino gak ngapa-ngapain Ana kok, tante" ucap Lino.


"Lino bisa jelasin kok kejadian yang sebenernya" ucap Lino.


"Ya udah cepet jelasin!!" ucap mamah.


Lalu Lino segera menjelaskan kejadian yang sebenernya kepada mamahnya Ana dari masalah penguntit, hingga masalah Ana yang diancam oleh Elma dan Rafly.


Setelah mendengar semua penjelasan Lino, mamah Ana langsung terdiam karena ia merasa bersalah kepada Ana dan juga Lino karena ia tadi menuduh Lino yang membuat Ana mabuk.


"Maafin mamah ya Ana" ucap mamah sambil memeluk Ana.


"Maafin Ana juga, mah. Ana juga salah karena Ana gak cerita ke mamah dan juga Ana ngebohongin mamah" ucap Ana sambil meneteskan air matanya.


Kemudian mamah Ana segera melepaskan pelukannya.


"No, tante minta maaf ya udah nuduh kamu yang enggak-enggak" ucap mamah Ana.


"Iya gak apa-apa, tante" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu Lino pamit pulang dulu ya tante" ucap Lino sambil mengambil tas jinjing.


"Iya" ucap mamah Ana.


Lalu Lino segera pergi dengan mengendarai motornya.


"Maafin mamah ya, tadi mamah udah nampar kamu" ucap mamah merasa bersalah.


"Iya gak apa-apa, mah" ucap Ana.


"Ya udah ayo masuk" ucap mamah.


Lalu mereka berdua segera masuk kedalam rumah dan mereka langsung duduk di sofa.


"Nanti mamah bakal laporin mereka" ucap mamah.


"Jangan, mah" ucap Ana.


"Kenapa jangan?" tanya mamah.


"Soalnya kan ini masih berhubungan sama Naya masalah nya" ucap Ana.


"Ana gak mau buat nama Naya jadi jelek" ucap Ana.


"Maafin mamah ya, mamah gak tahu kalau kamu punya masalah yang seberat ini" ucap mamah sambil meneteskan air matanya.


Lalu Ana langsung memeluk mamahnya.


"Mamah gak marah kan sama Ana?" tanya Ana.


"Enggak sayang" ucap mamah sambil membalas pelukan Ana.


"Ana, kamu udah makan belum?" tanya mamah.


"Udah kok, mah" ucap Ana.


"Oh iya, mah! Ana ke kamar dulu ya soalnya Ana ngantuk banget" ucap Ana.


"Iya" ucap mamah.


Lalu Ana segera pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.


...****...


Drrttt...drrttt


Lino segera menghentikan motornya di pinggir jalan dan ia segera mengangkat panggilan telepon dari Gilang.


"Hallo, Lang" ucap Lino.


"No, gue udah kirim alamat rumah Rafly di chat" ucap Gilang.


"Oh oke, makasih ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Gilang.


Lalu Lino segera mematikan panggilan teleponnya. Kemudian ia segera melihat chat dari Gilang.


Setelah itu, Lino segera pergi ke alamat rumah Rafly.


Setelah sampai, Lino segera turun dari motornya. Lalu ia segera menekan bel rumah Rafly.


Tidak lama kemudian, Rafly segera membuka pagar rumahnya.


"Ngapain luh kesini?" tanya Rafly.


Bugh


Bugh


Lino langsung menonjok wajah Rafly.


Rafly hanya meringis kesakitan karena ditonjok oleh Lino.


"Maksud luh apa maksa cewek gue minum segala" ucap Lino emosi.


"Bukan gue yang paksa, tapi dia nya sendiri yang mau" ucap Rafly.


"Bac*t luh" ucap Lino.


Lalu Lino lagi-lagi menonjok wajah Rafly.


"Kalau luh macem-macem sama cewek gue lagi, awas luh" ucap Lino sambil berdiri.


Lalu Rafly juga ikut berdiri sambil mengusap darah di sudut bibirnya.


"Kalau gue macem-macem sama dia lagi, emang luh mau apa? mau bunuh gue?" tanya Rafly sambil tersenyum.


"Oh iya, No! bibir cewek luh enak juga" ucap Rafly.


Lalu Lino langsung memegang kerah baju Rafly.


"Apa luh bilang?" ucap Lino.


"Bibir Ana enak" ucap Rafly dengan sengaja agar Lino semakin marah.


Bugh


"Heh!!! kamu kenapa nonjok anak saya" ucap mamah Rafly sambil menarik tangan Rafly.


"Tante, nanti tolong nasihatin anak tante ya soalnya dia berengs*k banget orangnya" ucap Lino sambil menekankan kata berengs*k.


"Saya bakal laporin kamu ke polisi karena udah buat anak saya babak belur" ucap mamah Rafly.


"Silahkan aja! saya gak takut" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi dengan mengendarai motornya.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya mamah Rafly.


"Apaan sih, sok peduli banget jadi orang" ucap Rafly sambil masuk kedalam rumahnya.


...****...


Setelah sampai di rumah, Lino segera masuk kedalam rumahnya. Kemudian ia segera menelepon Ana.


Trining...trining


(Suara telepon Ana berbunyi)


Sontak Lino langsung melihat kearah kamar tamu karena ada suara telepon.


"Oh iya, gue lupa! kan handphone nya ada disini" ucap Lino.


Lalu Lino segera pergi ke kamar tamu untuk mengambil handphone Ana.


Ting


Lino langsung melihat ke layar ponsel Ana dan ternyata ada notifikasi pesan dari nomer yang tidak dikenal.


Lalu Lino segera membuka ponsel Ana dan ia langsung membuka pesan tersebut.


Saat dibuka, ternyata orang tersebut mengirim dua video dan satu pesan.


"Kalau luh blokir gue lagi, gue bakal sebar dua video itu" ucap Lino membacakan pesan tersebut.


Lalu Lino segera membuka kedua video tersebut.


Kemudian Lino langsung mengepalkan tangannya karena ia sangat kesal melihat kedua video itu.


Lalu Lino segera menelpon nomor telepon yang mengirim video itu.


Beberapa detik kemudian, orang tersebut langsung mengangkat panggilan teleponnya.


"Hallo, Ana" ucap Elma.


"Gue peringatan sama luh, kalau luh ganggu Ana lagi. Gue gak bakal tinggal diam" ucap Lino dengan emosi.


Lalu Elma langsung mematikan panggilan teleponnya setelah mendengar ucapan Lino.


"ARGHH" kesal Lino.


...****...


Skip


Sore hari


Lino segera pergi ke rumah Ana untuk memberikan ponsel Ana yang tertinggal di rumahnya.


Setelah sampai di rumah Ana, Lino segera menekan bel rumah Ana.


Lalu pagar rumah tersebut dibuka oleh mamahnya Ana.


"Ada apa lagi, No?" tanya mamah Ana.


"Ini handphone Ana ketinggalan di rumah Lino" ucap Lino.


"Ya udah kamu sendiri aja yang kasih, Ana ada di kamar nya kok" ucap mamah Ana.


"Gak apa-apa tante, kalau Lino masuk?" tanya Lino.


"Iya gak apa-apa" ucap mamah Ana.


"No, sekali lagi tante minta maaf ya sama kamu" ucap mamah Ana.


"Iya gak apa-apa, tante" ucap Lino.


"Nanti kalau ada apa-apa tentang Ana, bilang aja ya ke tante" ucap mamah Ana.


"Iya, tante! nanti Lino bakal bilang ke tante kok" ucap Lino.


"Sebenernya awalnya Ana juga gak cerita soal video itu ke Lino. Soalnya kalau dia cerita, dia takut kalau Naya nyebarin videonya ke orang lain" ucap Lino.


"Tapi Naya gak sebarin video itu kan, No?" tanya mamah Ana.


"Enggak kok, tante" ucap Lino.


"Oh iya! kan kata kamu, semalam Ana dianter sama Bagas ya?" tanya mamah Ana.


"Iya, tante. Dia semalam yang ngantar Ana ke rumah Lino soalnya kalau dia anter ke rumah tante, dia takut nanti tante marah" ucap Lino.


"Ya udah, kamu masuk sana sekalian bangunin Ana soalnya dia tadi lagi tidur dan kayaknya masih belum bangun sih" ucap mamah Ana.


"Ya udah kalau gitu Lino ke kamar Ana dulu ya, tante" ucap Lino.


"Iya" ucap mamah Ana.


Lalu Lino segera pergi menuju kamar Ana.