
"No, Lang! gue pulang dulu ya" ucap Bagas.
"Kenapa pulang?" tanya Lino.
"Gue pingin istirahat aja di rumah" ucap Bagas.
"Oh ya udah" ucap Lino.
"Hati-hati, Gas" ucap Gilang.
"Iya" ucap Bagas.
Lalu Bagas segera pergi.
"Bagas kemana?" tanya Ana yang baru datang.
"Dia pulang" ucap Lino.
"Kamu gak berantem kan sama dia?" tanya Ana memastikan.
"Enggak kok, dia pulang karena pingin istirahat" ucap Lino.
"Oh, kirain berantem" ucap Ana sambil memakan cokelat.
"Na" panggil Gilang.
"Apa?" ucap Ana.
"Luh gak canggung gitu deket sama Raka dan Bagas? kan mereka berdua mantan luh" ucap Gilang.
"Enggak" ucap Ana.
"Jadian sama Raka udah, jadian sama Bagas udah, jadian sama Lino udah, berarti nanti luh jadiannya sama gue ya Na" canda Gilang.
"Ih gak mau!" tolak Ana.
"Lang, luh mau baku hantam ya sama gue" ucap Lino.
"Ih serius amat luh jadi orang" ucap Gilang.
"Kalian berdua sering berantem gak?" tanya Ana.
"Bukan sering lagi, tapi setiap detik kita berantem" ucap Gilang.
"Maksud nya berantem yang tonjok-tonjokan sampe babak belur" ucap Ana.
"Ya enggak pernah lah" ucap Lino.
"Kita berdua mah berantemnya paling ngomong kasar" ucap Gilang.
"Pasti yang ngomong kasar duluan Lino ya?" tanya Ana.
"Ya iyalah" ucap Gilang.
"Aku ngomong kasar karena dia nya ngeselin" ucap Lino.
"Gue waktu itu cuma bercanda anjir, luh nya aja yang terlalu serius jadi orang" ucap Gilang.
"Harusnya luh tuh lihat situasi dulu kalau mau bercanda. Orang lagi gak mood, malah diajak bercanda" ucap Lino.
"Ih udah dong, jangan berantem" ucap Ana.
"Kita gak berantem, Na! kita cuma debat doang" ucap Lino.
"Oh ya udah lanjutin debat nya" ucap Ana sambil tertawa kecil.
"Udah ah, cape! kalau debat sama Lino, nanti ujung-ujungnya gue yang salah" ucap Gilang.
"Kan emang luh salah" ucap Lino.
"Lanjutin dong! biar seru debatnya" ucap Ana.
"Luh aja yang debat sama Lino" ucap Gilang.
"Gue gak ada bahan untuk didebatkan sama Lino" ucap Ana.
"Ada kok" ucap Lino.
"Apa?" tanya Ana.
"Menurut kamu, lebih lucu dora atau dori?" tanya Lino.
"Ya Dora lah" ucap Ana.
"Menurut aku sih dori" ucap Lino.
"Ih lucu dari mananya coba, namanya juga jelek. Lebih bagus Dora namanya" ucap Ana.
"Ya bagus doru lah" sahut Gilang.
"Doru siapa?" tanya Ana.
"Kucing selanjutnya yang bakal diadopsi Lino" ucap Gilang.
"Emang kamu mau adopsi kucing lagi, No?" tanya Ana.
"Enggak" ucap Lino.
"Udah lebih baik luh adopsi lagi aja tiga kucing" ucap Gilang.
"Jadi nanti nama kucing luh, Dora, Dori, Doru, Dore, Doro" ucap Gilang.
"Ide luh bagus banget, Lang" ucap Ana.
"Bagus apanya, yang ada nanti aku capek ngerawatnya" ucap Lino.
"Kan nanti ngerawatnya dibantuin sama Gilang" kata Ana.
"Ogah banget gue" ucap Gilang.
"Luh gimana sih, kan tadi luh yang bikin ide buat namain kucingnya" ucap Ana.
"Udah di urus sama luh berdua aja" ucap Gilang.
"Gak mau, gue takut kalau kucingnya terlalu banyak" ucap Ana.
"Alah alesan" ucap Gilang.
"Gue emang takut, tanyain aja ke Lino. Iya kan, No?" tanya Ana.
"Enggak" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Ih kamu mah kok gitu sih, bukannya belain aku" ucap Ana sambil cemberut.
"Iya...iya, Ana emang takut sama kucing" pasrah Lino.
"Tuh denger kan apa kata Lino" ucap Ana.
"Lino bilang iya karena terpaksa" ucap Gilang.
"Dia gak terpaksa kok. Iya kan, No?" tanya Ana.
"Iya, Ana" ucap Lino sambil tersenyum.
"Luh harus nurut aja ya kalau disuruh sama bocil satu ini, soalnya kalau gak nurutin apa kata dia bisa-bisa dia ngambek" ucap Gilang kepada Lino.
"Gue bukan bocil!" kesal Ana.
"Luh emang bukan bocil, tapi kelakuan luh kayak bocil" ucap Gilang.
"Iya bener" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Kok kamu ngatain aku bocil sih" kesal Ana.
"Na, kamu tahu gak kepanjangan dari bocil?" tanya Lino.
"Tahu" ucap Ana.
"Apa coba?" tanya Lino.
"Bocah cilik" ucap Ana.
"Nah itu tahu" ucap Lino.
"Kelakuan kamu kayak bocil tuh berarti kamu tuh lucu kayak anak kecil" ucap Lino.
"Jadi aku lucu?" tanya Ana.
"Iya, lucu banget" ucap Lino.
"Lucu dari mananya coba" ucap Gilang.
Sontak Ana dan Lino langsung melihat kearah Gilang.
"Kamu ngebohongin aku ya, No?" tanya Ana.
"Enggak, Na! kamu emang lucu" ucap Lino.
"Tapi kata Gilang aku gak lucu" ucap Ana sambil cemberut.
"Lucu, Na" ucap Lino.
"Itu kan kata kamu bukan kata Gilang" ucap Ana.
"Lang, luh mah nyari gara-gara mulu jadi orang" ucap Lino.
"NA, LUH LUCU BANGET SUMPAH!" ucap Gilang.
"Gue tahu luh terpaksa kan ngomong kayak gitu" ucap Ana.
"Enggak kok, gue dengan senang hati berbicara seperti itu" ucap Gilang.
"Bohong banget" ucap Ana.
"Serius, luh lucu kayak Dora" ucap Gilang.
"Emangnya gue kucing" ucap Ana.
"Bukan Dora kucing, tapi Dora kartun" ucap Gilang.
"Dora yang temennya monyet?" tanya Ana.
"Bukan monyet, tapi anjing" ucap Gilang.
"Bukannya monyet ya?" tanya Ana.
"Anjing" ucap Gilang.
"Monyet" ucap Ana.
"Udah jangan dibahas" ucap Lino.
"Monyet kan, No?" tanya Ana
"Anjing, bukan monyet" ucap Gilang.
"Dora temennya bukan anjing atau monyet" ucap Lino.
"Terus apa?" tanya Ana.
"Kucing" ucap Lino.
"Yang Dora kartun bukan Dora kucing kamu" ucap Ana.
"Bukannya temen Dora itu Nobita ya?" tanya Lino.
"ITU DORAEMON!!" teriak Ana dan Gilang bersamaan.
"Oh Dora yang rambut nya pendek terus ada poninya kan?" tanya Lino.
"Iya itu" ucap Ana.
"Kamu inget hewan yang sering bareng sama dia gak?" tanya Ana.
"Enggak, soalnya waktu kecil aku suka nonton Spongebob bukan nonton dora" ucap Lino.
"Coba searching aja di google, biar tahu temennya dia siapa" ucap Lino.
"Gak di searching juga aku udah tahu kalau temennya monyet" ucap Ana.
"Bukan monyet, Na" ucap Gilang.
"Ya udah coba searching sama luh" perintah Ana.
Lalu Gilang segera menuruti perintah Ana.
"Iya bener, temennya monyet" ucap Gilang.
"Tuh, kan! gue bilang juga apa" ucap Ana.
"Emang temennya binatang semua ya?" tanya Lino.
"Enggak, temennya Dora ada yang manusia dan ada juga yang benda" ucap Ana.
"Oh iya, gue lupa! gue ada janji sama Felisa" ucap Gilang.
"Janji apa?" tanya Ana.
"Kepo banget luh" ucap Gilang.
"Oh iya, luh udah jadian belum sama Felisa?" tanya Ana.
"Belum" ucap Gilang.
"Luh gimana sih! lama banget jadiannya" ucap Ana.
"Soalnya susah banget ngungkapin nya" ucap Gilang.
"Ya udah kalau gitu gue pergi dulu ya" ucap Gilang sambil pergi.
"Iya" ucap Ana dan Lino bersamaan.
"No" ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Emang kalau nembak cewek susah ya?" tanya Ana.
"Iya susah, soalnya harus nyiapin mental dulu buat ngomong nya" ucap Lino.
"Padahal cuma ngomong ini, kok sampe susah segala" ucap Ana.
"Kan takutnya ditolak" ucap Lino.
"Tapi kan Felisa suka sama Gilang, jadi gak mungkin dia tolak Gilang" ucap Ana.
"Ya walaupun Felisa suka sama Gilang, tapi tetep aja Gilang bakal gugup kalau nyatain perasaannya ke Felisa" ucap Lino.