
Keesokan harinya
"Na, cepet sarapan!" teriak mamah.
"Iya bentar, mah" teriak Ana yang sedang berada di kamarnya.
Setelah selesai bersiap-siap, Ana langsung menuruni tangga dan ia langsung pergi menuju ruang makan untuk sarapan.
Sesampainya di ruang makan, Ana segera duduk dan ia langsung memakan makanan yang telah dibuat oleh mamahnya.
"Mah" ucap Ana.
"Apa" ucap mamah.
"Ana boleh nanya sesuatu gak sama mamah" ucap Ana.
"Ya boleh lah, emang mau nanya apa sih?" tanya mamah.
"Bener gak kalau misalnya seseorang itu masih ada rasa sama mantan nya?" tanya Ana.
Mamah hanya terdiam karena mendengar ucapan Ana.
"Bener gak, mah?" tanya Ana.
"Ya tergantung sama orangnya, Na. Kalau misalnya waktu dulu mantannya sering nyakitin orang itu sih kayaknya dia udah gak suka sama mantannya, sedangkan kalau dulunya mantannya itu baik banget sama orang itu dan gak pernah nyakitin orang itu mungkin dia masih suka sama mantannya" jelas mamah.
"Oh gitu ya, mah" ucap Ana sedikit sedih.
"Kamu kenapa nanya kayak gitu?" tanya mamah.
"Enggak kenapa-napa, mah. Ana cuma pingin nanya doang" ucap Ana.
"Kamu pasti ngebahas tentang Lino kan?" tanya mamah memastikan.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan mamahnya.
"Mah, kalau Lino lebih milih mantannya gimana ya" ucap Ana.
"Ya kalau dia lebih milih mantannya berarti dia lebih cinta sama mantannya dibanding kamu" ucap mamah.
"Emang Lino bilang kalau dia lebih milih mantannya?" tanya mamah.
"Enggak sih" ucap Ana.
"Kalau enggak, kenapa kamu mikirin tentang ini?" ucap mamah.
"Soalnya Ana takut banget kalau Lino lebih milih cewek itu" ucap Ana.
"Kenapa harus takut? harusnya kamu tuh percaya diri karena sekarang kamu yang dihatinya Lino" ucap mamah.
"Tapi masalahnya Lino waktu itu pernah bilang ke Ana kalau dia masih ada rasa ke cewek itu" ucap Ana.
"Lino ngomong gitu ke kamu?" tanya mamah.
"Iya" ucap Ana.
"Coba telepon Lino dong" ucap mamah.
"Mau ngapain, mah?" tanya Ana.
"Mamah mau ngomong sama Lino, biar dia jangan nyakitin kamu" ucap mamah.
"Jangan lah, mah. Nanti Lino mikir kalau Ana kekanak-kanakan banget sampe-sampe aduin ke mamah soal masalah ini" ucap Ana.
"Ya udah kalau Lino lebih milih mantannya, lebih baik kamu tinggalin aja dia" ucap mamah.
"Ana gak mau tinggalin Lino, mah" ucap Ana.
"Na, kamu jangan mencintai cowok yang belum selesai dengan masa lalu nya" ucap mamah.
"Lebih baik kamu cari cowok lain yang lebih baik dari Lino" ucap mamah lagi.
"Ana gak mau cari cowok lain" ucap Ana.
"Ya udah terserah kamu aja deh" ucap mamah.
Setelah selesai makan, Ana dan mamahnya segera pergi menuju sekolah dengan mengendarai mobil.
Sesampainya di parkiran sekolah, Ana dan mamahnya langsung turun dari mobil.
Lalu mereka segera berjalan menuju kelas Ana.
Sesampainya di kelas, mamah Ana segera masuk kedalam kelas. Sedangkan Ana, ia menunggu diluar kelasnya.
"Na" teriak Felisa sambil berlari menghampiri Ana.
Lalu Ana langsung melihat kearah Felisa.
"Kenapa, Fel?" tanya Ana.
"Yang ngambil raport, mamah luh atau papah luh?" tanya Felisa.
"Mamah gue" ucap Ana.
"Oh iya, Na! kata Clara, Acha masih hidup ya?" tanya Felisa.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Felisa.
"Andai aja kemarin gue ikut bareng kalian, pasti gue bakal ketemu Acha" ucap Felisa.
"Oh iya, Na! reaksi Lino gimana waktu dia lihat Acha?" tanya Felisa.
"Lino seneng banget, Fel" ucap Bina sedikit sedih.
Kemudian Lino datang menghampiri Ana.
"Eh, No" ucap Felisa.
"Kenapa?" tanya Lino..
"Luh kemarin pasti seneng banget ya ketemu Acha" ucap Felisa.
"Fel, luh bisa gak jangan bahas Acha didepan Ana" ucap Lino.
Felisa langsung tersadar dengan situasi ini, karena tadinya dia sangat senang sahabatnya hidup kembali. Namun disisi lain, Felisa sadar bahwa Ana pasti sakit hati karena ia membahas soal Acha.
"Na, maafin gue ya. Gue tadi cuma nanya doang kok" ucap Felisa.
"Gak apa-apa, Fel" ucap Ana sambil tersenyum padahal hatinya terluka.
"Ayo" ucap Ana.
Lalu Ana dan Lino segera pergi menuju kantin.
Setelah sampai di kantin, Ana dan Lino hanya membeli minuman saja.
Setelah membeli minuman, Ana dan Lino segera duduk di tempat yang telah disediakan.
"Kenapa, No?" tanya Ana karena Lino menatap dirinya.
"Enggak kenapa-napa kok, cuma pingin lihatin kamu aja" ucap Lino.
Kemudian Gilang datang menghampiri Ana dan Lino. Lalu ia segera duduk disebelah Lino.
"Gue duduk disini ya" ucap Gilang sambil menaruh makanan dan minumannya diatas meja.
"Iya" ucap Lino.
Lalu Gilang segera memakan makanannya.
"Eh, luh berdua kenapa diem-dieman" heran Gilang.
Ana dan Lino hanya terdiam.
"Luh berdua berantem ya?" tanya Gilang.
"Enggak" ucap Ana dan Lino bersamaan.
"Terus kenapa pada diem?" tanya Gilang.
"Ya gak apa-apa, kita pingin diem aja" ucap Lino.
"Gak bosen apa diem doang?" tanya Gilang.
"Enggak lah, soalnya kan gue sambil lihatin wajah Ana jadinya gak ngebosenin" gombal Lino.
"Bisa aja luh gombalnya" ucap Gilang.
"Na, luh sakit ya?" tanya Gilang karena Ana diam saja.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Luh berdua gak beli makanan?" tanya Gilang.
"Enggak" ucap Lino.
"Kenapa gak beli?" tanya Gilang.
"Gue udah sarapan" ucap Lino.
"Oh gitu" ucap Gilang.
"Na, ngobrol dong! jangan bikin suasananya jadi canggung gini" ucap Gilang.
"Gue gak punya topik pembicaraan" ucap Ana.
"Gue tahu nih, pasti luh marah ya sama Lino" ucap Gilang.
"Luh ngelakuin apa, No? sampe-sampe buat Ana marah" ucap Gilang ke Lino.
"Na, kamu masih marah ya gara-gara kemarin?" tanya Lino memastikan.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Oh iya, Lang! luh sama Felisa udah jadian belum?" tanya Ana mengalihkan pembicaraan.
"Belum, baru pdkt doang" ucap Gilang.
"Oh gitu" ucap Ana
"Luh berdua waktu itu kenapa gak nyamperin gue sama Felisa?" tanya Gilang.
"Soalnya kita gak mau ganggu kalian" ucap Ana.
"Padahal gak ganggu kali" ucap Gilang.
"Oh iya, waktu hari Minggu kan luh posting foto bareng Lino ya" ucap Gilang.
"Iya, emang kenapa?" tanya Ana.
"Itu luh berdua lagi dimana?" tanya Gilang.
"Lagi di nikahan sepupunya Lino" ucap Ana.
"Kok gue gak diajak sih, No" ucap Gilang.
"Ngapain gue ngajak luh" ucap Lino.
"Luh gimana sih, No! masa gak ajak sahabat luh sendiri" ucap Gilang.
"Kalau ngajak luh nanti malu-maluin" ucap Lino.
"Enak aja luh kalau ngomong" ucap Gilang sedikit kesal.
"No, aku ke kelas dulu ya" ucap Ana.
"Mau ngapain?" tanya Lino.
"Mau nyamperin mamah, siapa tahu raport nya udah dibagi" ucap Ana.
"Belum dibagi lah, Na! kan tadi juga orang tua yang lain ada yang belum datang" ucap Gilang.
"Gak apa-apa, gue mau kesana aja dulu" ucap Ana.
Lalu Ana segera pergi menuju kelasnya.
"No, Ana marah ya sama luh?" tanya Gilang.
"Iya, dia marah sama gue" ucap Lino.
"Emang marah kenapa sih?" tanya Gilang.
"Kemarin Ana marah sama gue, gara-gara gue meluk" ucap Lino namun terpotong oleh ucapan Gilang.
"Meluk cewek?" tanya Gilang.
"Iya" ucap Lino.