
"Yah hujan" ucap Ana saat mendengar rintik-rintik hujan.
"Kalau hujan emang kenapa?" tanya Lino.
"Gak kenapa-napa, cuma jadi dingin aja hawanya" ucap Ana.
"Ya udah pakai jaket sana" suruh Lino.
"Enggak mau, soalnya males ngambilnya" ucap Ana.
"Mau aku ambilin?" ucap Lino.
"Gak usah" ucap Ana.
"Jaketnya dilemari kan?" tanya Lino.
"Gak usah diambil, No" ucap Ana.
"Nanti kamu kedinginan" ucap Lino.
"Aku butuh nya selimut bernyawa" kode Ana.
"Selimut bernyawa?" bingung Lino.
"Iya" ucap Ana sambil tersenyum.
"Emang ada ya selimut bernyawa?" tanya Lino.
"Gak tahu ah!" kesal Ana karena Lino tidak peka.
"Kok kamu ngambek sih" heran Lino.
"Habisnya kamu nya gak peka" ucap Ana.
"Gak peka apanya sih? aku jadi bingung" ucap Lino.
"Aku gak butuh jaket tapi aku butuh pelukan" ucap Ana.
"Oh, kamu mau dipeluk?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"Ya udah sini" ucap Lino.
Ana segera mendekat ke Lino.
Kemudian Lino segera merangkul pinggang Ana dan Ana langsung memeluk pinggang Lino sambil menyenderkan kepalanya pada dada Lino.
"Nyaman banget" ucap Ana pelan.
"Kenapa?" tanya Lino sambil mengusap-usap rambut Ana.
"Gak kenapa-napa" ucap Ana.
"No, aku jadi ngantuk gara-gara kamu ngelus-ngelus rambut aku" ucap Ana.
"Kalau kamu ngantuk, tidur aja" ucap Lino.
"Gak apa-apa kalau aku tidur?" tanya Ana memastikan.
"Gak apa-apa" ucap Lino.
Ana segera menutup kedua matanya dan ia langsung tertidur.
"No" ngigau Ana.
"Apa?" ucap Lino.
Ana tidak membalas ucapan Lino karena tadi Ana hanya mengigau.
"Cuma ngigau ternyata" gumam Lino.
Akhirnya Lino segera menggendong Ana menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Lino segera menaruh Ana di kasur.
Saat hendak menaruh Ana di kasur, tiba-tiba Ana menarik leher Lino dengan kedua tangannya hingga membuat bibir Lino dan bibir Ana menyatu.
Sontak Lino langsung menjauhkan dirinya dari Ana.
Pipi Lino langsung merona karena kejadian ciuman barusan.
"Kayaknya ini kamar banyak setannya deh" batin Lino.
Lino segera menyelimuti tubuh Ana. Setelah itu, ia segera duduk disofa yang berada di kamar Ana.
...****...
Ana terbangun dari tidurnya dan ia langsung melihat ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Lino dan ternyata Lino sedang duduk di sofa yang berada didalam kamarnya.
Ana segera berdiri dan menghampiri Lino.
"Lagi tidur ternyata" batin Ana.
Kemudian Ana segera mengambil bantal dan juga selimut untuk Lino.
Ana segera menaruh bantal tersebut di sofa. Lalu ia segera memposisikan tubuh Lino agar tidur diatas bantal tersebut. Setelah itu, Ana segera memakaikan selimut ke tubuh Lino.
Trining...trining
Ana langsung terkejut karena mendengar nada dering diponsel Lino.
Lalu Ana buru-buru mengambil ponsel Lino dan ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"No" ucap Gilang.
"Gue bukan Lino, gue Ana" ucap Ana sambil berjalan keluar kamarnya sebab ia takut Lino bangun karena mendengar suaranya.
"Lino nya mana?" tanya Gilang.
"Lagi tidur dikamar gue" ucap Ana.
"Tidur?" tanya Gilang memastikan.
"Iya, dia lagi tidur" ucap Ana.
"Gue ganggu ya?" tanya Gilang.
"Iya luh ganggu banget" ucap Ana.
"Ya udah deh gue tutup dulu ya teleponnya" ucap Gilang.
"Iya" ucap Ana.
"Lanjutin aja aktivitas nya, Na" ucap Gilang.
"Aktivitas apa?" bingung Ana.
Gilang langsung mematikan panggilan teleponnya tanpa menjawab perkataan Ana barusan.
Sehabis bertelepon, Ana kembali menyimpan ponsel milik Lino di meja.
"Na" panggil Lino yang baru terbangun dari tidurnya.
"Eh, udah bangun" ucap Ana.
Lalu Lino segera mengubah posisinya menjadi duduk.
"Sekarang jam berapa?" tanya Lino.
"Jam 3 sore" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Oh iya" ucap Ana.
"Oh iya, aku ikut ke kamar mandi dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lino segera pergi menuju kamar mandi.
"Nih handphone kamu" ucap Ana.
"Oh iya" ucap Lino sambil mengambil ponsel miliknya.
"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Aku anterin ke depan ya" ucap Ana.
Lino hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana.
Lalu Ana dan Lino segera pergi keluar.
"Aku pulang dulu ya" ucap Lino sambil menaiki motornya.
"Iya" ucap Ana.
"Hati-hati ya" kata Ana.
"Iya" kata Lino.
Lino segera melajukan motornya menuju rumahnya.
Setelah Lino pergi, Ana langsung menutup pagar rumah. Setelah itu, ia segera masuk kedalam rumahnya.
...****...
Ketika sampai rumah, Lino langsung turun dari motornya. Kemudian ia segera masuk kedalam rumahnya.
"Wih baru bangun tidur ya luh" ucap Gilang sambil tersenyum.
"Kok luh tahu sih" ucap Lino sambil duduk di sofa.
"Iya soalnya kelihatan dari muka luh" ucap Gilang.
"Pasti luh nyenyak banget ya tidurnya" ucap Alex.
Lino hanya mengangguk mengiyakan ucapan Alex.
"Ya pasti nyenyak lah tidurnya" ucap Gilang sambil tersenyum penuh arti.
"Luh cuma tidur doang kan, No?" tanya Alex memastikan.
"Maksud luh?" bingung Lino.
"Luh gak sampai berbuat yang macem-macem kan?" tanya Alex memastikan.
"Enggak lah anjir" ucap Lino.
"Syukur deh kalau gitu" ucap Alex.
"Kok syukur sih?" bingung Lino.
"Ya harus bersyukur lah soalnya kan luh gak macem-macemin Ana" ucap Alex.
"Maksud luh apa sih? mana ada gue macem-macemin Ana" ucap Lino.
"Luh cuma tidur bareng Ana doang kan, No?" tanya Gilang.
"Gue tidur di sofa anjir, enggak tidur bareng Ana" ucap Lino.
"Kata Ana katanya luh tidur di kamar Ana" ucap Gilang.
"Ya emang, tapi kan gue tidurnya di sofa sedangkan Ana tidur di kasurnya" ucap Lino.
"Beneran?" tanya Gilang sambil menampilkan smirk nya.
"Ya beneran lah" ucap Lino.
"Kirain tidur bareng" ucap Gilang.
"Gak mungkin lah gue tidur bareng Ana" ucap Lino.
Lalu Lino langsung terdiam sejenak karena menyadari ucapannya tadi, padahal kan sebenarnya dia pernah tidur bareng Ana.
"Kenapa luh?" tanya Alex karena melihat Lino yang sedang melamun.
"Gak kenapa-napa, gue tadi cuma inget sesuatu doang" ucap Lino.
"Inget apa?" tanya Gilang.
"Hmm...itu barang gue ada yang ketinggalan tadi di rumah Ana" bohong Lino.
"Barang apa?" tanya Gilang.
"Luh nanya-nanya mulu ya kayak Dora" ucap Lino.
"Emang kucing luh sering nanya mulu?" tanya Gilang.
"Bukan Dora kucing gue, tapi Dora the Explorer" ucap Lino.
"Bukannya luh gak pernah nonton Dora ya? kok luh bisa tahu kalau Dora sering nanya mulu" heran Gilang.
"Gue tahu dari Ana, makanya gue tahu kalau Dora suka nanya-nanya mulu kayak luh" ucap Lino.
"Udah ah, gue mau mandi dulu" ucap Lino.
Lino segera pergi menuju kamarnya.
"Lex" panggil Gilang.
"Apaan?" tanya Alex.
"Luh lihat ekspresi Lino gak saat dia baru datang" ucap Gilang.
"Enggak lihat, soalnya tadi gue fokus lihat handphone gue" ucap Alex.
"Emang ekspresi nya kenapa?" tanya Alex penasaran.
"Tadi dia senyum-senyum sendiri pas datang kesini" ucap Gilang.
"Senyum-senyum sendiri?" tanya Alex.
"Iya" ucap Gilang.
"Luh curiga gak sih?" tanya Gilang.
"Curiga apaan?" bingung Alex.
"Ya Lino tadi habis tidur bareng Ana makanya tadi pas datang dia senyum-senyum sendiri" ucap Gilang.
"Tapi kan tadi kata Lino dia gak tidur bareng Ana" ucap Alex.
"Luh percaya gitu dengan ucapan Lino tadi?" tanya Gilang.
"Ya percaya" ucap Alex.
"Luh mah terlalu percayaan jadi orang" ucap Gilang.
"Jadi menurut luh, dia sama Ana tidur bareng gitu?" ucap Alex.
"Ya iyalah, orang Lino tadi senyum-senyum sendiri" ucap Gilang.
"Siapa tahu dia senyum karena menang lotre" ucap Alex.
"Sejak kapan Lino main lotre" ucap Gilang.
"Tapi dia gak ngapa-ngapain Ana kan?" ucap Alex sedikit khawatir.
"Luh ngomong gitu berarti luh percaya kan kalau Lino tadi tidur bareng sama Ana" ucap Gilang.
"Kan kata luh katanya Lino senyum-senyum sendiri, jadi ada kemungkinan bahwa Lino tidur bareng sama Ana" ucap Alex.
"Tapi menurut gue, Lino paling cuma tidur doang sih gak sampe ngelakuin hal yang enggak-enggak" ucap Gilang.
"Tahu dari mana?" tanya Alex.
"Soalnya Lino juga mikir kali, masa iya dia ngerusak ceweknya sendiri" ujar Gilang.