
Hari Senin
Semua siswa dan siswi serta guru-guru SMA Tunas Bakti melaksanakan upacara bendera.
"Aduh pegel banget" batin Ana.
"Fel, gue pusing" bohong Ana.
"PMR!" panggil Felisa.
Lino yang baris didepan langsung melihat kearah belakang.
Lalu Lino segera menghampiri Ana.
"Kamu sakit, Na?" tanya Lino.
"Apaan sih ini orang, bukannya baris malah kesini lagi" batin Ana.
"Siapa yang sakit?" tanya anak PMR.
"Dia" tunjuk Felisa kepada Ana.
Pada saat PMR mau memegang tangan Ana, tiba-tiba Lino langsung mencegahnya.
"Udah biar gue aja yang bawa dia ke UKS" ucap Lino.
"Gak mau" tolak Ana.
Tanpa aba-aba, Lino langsung menggendong Ana menuju UKS.
Beberapa orang pun melihat kearah mereka berdua.
"Aduh malu banget gue" batin Ana.
Karena malu dilihat orang, akhirnya Ana langsung menutup matanya.
* UKS
"Ana pingsan ya, No?" tanya Clara.
"Enggak, dia cuma pusing aja" ucap Lino sambil membaringkan Ana di tempat tidur yang ada di UKS.
Ana langsung membuka matanya dan ia melihat ke sekitar nya.
"Na, luh minum gak?" tanya Clara.
Ana langsung mengangguk seraya menjawab mau.
Clara segera mengambilkan air mineral untuk Ana.
"Ini" ucap Clara sambil memberikan air mineral kepada Ana.
"Makasih" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Clara.
Ana langsung meminum air mineral yang diberikan Clara.
"Luh ngapain masih ada disini?" tanya Ana.
"Soalnya aku mau nemenin kamu" ucap Lino.
"Luh pergi sana! nanti dimarahin lagi sama Bu Windia" ucap Clara.
"Gue mau disini aja" ucap Lino sambil berbaring di kasur yang dekat dengan kasur Ana.
"Na, nanti bangunin aku ya kalau udah bel masuk" ucap Lino.
"Ih ogah banget bangunin luh" ucap Ana.
Lino hanya tersenyum sambil menutup kedua matanya.
"Luh tiduran aja, Na" ucap Clara.
"Enggak ah, gue gak ngantuk" ucap Ana.
"Oh iya, gue ke lapangan dulu ya" ucap Clara.
"Mau ngapain?" tanya Ana.
"Mau ngasihin kayu putih ke anak PMR" ucap Clara.
"Ih jangan pergi dong! masa gue disini sama Lino" ucap Ana.
"Ya gak apa-apa lah, lagian Lino gak bakal macem-macemin luh kok" ucap Clara.
"Ya udah gue pergi dulu ya" ucap Clara sambil pergi ke lapangan.
Ana melihat kearah Lino.
"Gue kerjain ah, mumpung dia lagi tidur" batin Ana.
Ana segera mengambil balpoin yang ada di meja.
Lalu Ana segera menghampiri Lino.
Pada saat mau mencoret-coret muka Lino, tiba-tiba tangan Ana dipegang oleh Lino da Lino langsung membuka matanya.
"Hayo mau ngapain?" tanya Lino.
"Gak mau ngapa-ngapain kok" ucap Ana.
Lino segera bangun dari tidurnya.
"Ih lepasin tangan gue!" ucap Ana.
"Hayo ngaku tadi mau ngapain?" ucap Lino.
"Udah gue bilang kalau gue gak mau ngapa-ngapain" ucap Ana.
"Cepet ngaku! atau enggak-" ucap Lino namun terhenti.
"Iya...iya gue mau ngaku. Tadi gue mau jahilin luh" ucap Ana karena ia takut kalau Lino menonjoknya.
"Mau ngapain jahilin aku?" tanya Lino.
"Ya soalnya gue bosen, makanya gue mau jahilin luh" ucap Ana.
"Kamu bosen?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Please deh, ngomong nya jangan pake aku kamu" perintah Ana.
"Kalau pake sayang-sayangan mau gak?" tanya Lino sambil tersenyum.
"Enggak mau" ucap Ana.
"No, kita putus aja deh" ucap Ana.
"Gak bisa gitu" ucap Lino.
"Kok gak bisa?" heran Ana.
"Soalnya waktu dulu kita punya perjanjian" ucap Lino.
"Perjanjian apa?" tanya Ana.
"Jadi kalau diantara kita pingin putus harus cium 100 kali dulu. Baru habis itu bisa putus" bohong Lino.
"Ih gak mau" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu jangan putus" ucap Lino sambil tersenyum.
Ana terdiam sejenak karena kepalanya merasa pusing.
"Kenapa diem?" tanya Lino.
"Na, kenapa?" tanya Lino saat Ana memegang kepalanya.
"Pusing" ucap Ana sambil memejamkan matanya.
"Ya udah kamu tiduran dulu aja" ucap Lino sambil membaringkan tubuh Ana di kasur.
"Udah cepet tidur!" ucap Lino.
"Gak mau! nanti kalau gue tidur, luh pasti macem-macemin gue kan?" tuduh Ana.
"Gak bakal ya ampun" ucap Lino.
"Awas aja kalau macem-macemin gue" ucap Ana.
"Gak bakal, sayang" ucap Lino.
"Ih geli tahu gak" ucap Ana.
Lino langsung tersenyum saat mendengar ucapan Ana.
"Nanti kalau masuk gimana?" tanya Ana.
"Kalau masuk, nanti aku bakal bangunin kamu" ucap Lino.
"Awas aja ya kalau gak dibangunin" ucap Ana.
"Iya, nanti aku bangunin kok" ucap Lino.
Ana segera menutup matanya.
Skip
Bel masuk berbunyi
"Bangun" ucap Lino sambil menepuk-nepuk pelan pipi Ana.
Ana langsung terbangun dari tidurnya.
"Udah bel masuk ya?" tanya Ana.
"Iya udah" ucap Lino.
Kemudian Lino langsung menyusul Ana.
* Kelas
Sesampainya dikelas, Ana segera duduk dikursinya.
"Na, cepet pindah ke kursi Lia! biar Putri yang duduk disini" ucap Lino.
Ana langsung melihat kearah Cindy karena ia sedikit kasihan namun juga ia kesal kepadanya karena telah membohonginya.
"Udah cepet pindah!" perintah Lino.
Akhirnya Ana segera mengambil tas nya dan ia langsung pindah ke kursi Lia.
"Put, luh gak apa-apa kan duduk sama Cindy?" tanya Lino.
"Iya gak apa-apa kok" ucap Putri.
Lalu Lino segera menghampiri Ana.
"Guys...guys!!! ada razia rambut" teriak Fuziah.
"Serius luh?" tanya Lino.
"Iya" ucap Fuziah.
Lino langsung keluar dari kelasnya.
"Untung aja minggu lalu gue udah potong rambut" ucap Clara.
"Emang cewek gak boleh panjang ya?" tanya Ana sambil melihat kearah Clara.
"Ya boleh lah" ucap Clara.
"Terus kenapa luh potong rambut?" tanya Ana.
"Kan rambut gue di ombre bawahnya" ucap Clara.
"Oh iya, Na! gue udah jadian loh sama Bobby" ucap Clara.
"Bobby siapa?" bingung Ana.
"Ra, Ana kan hilang ingatan. Jadi dia pasti gak kenal lah" ucap Lia.
"Oh iya, gue lupa" ucap Clara.
"Emang Bobby siapa?" tanya Ana penasaran.
"Bobby itu temennya Lino sama Gilang" jelas Clara.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Dia kelas mana?" tanya Ana.
"Dia gak sekolah disini" ucap Clara.
"Oh kirain anak SMA Tunas Bakti" ucap Ana.
"Selamat pagi anak-anak" ucap guru.
"Pagi, pak" ucap semua murid yang berada dikelas.
"Jadi hari ini akan ada razia rambut. Jika rambut kalian diwarnai atau gondrong silahkan maju kedepan" ucap guru.
Dua orang murid maju kedepan karena rambut mereka berwarna.
"Ini kok muridnya kayak sedikit ya" ucap guru.
"Tadi banyak kok, pak! cuma tadi ada yang kabur" ucap Ana terus terang.
"Na, udah diem aja" ucap Lia pelan.
"Ya udah coba kamu cari mereka, nanti suruh mereka ke kelas" perintah guru.
"Dicari sama saya, pak?" tanya Ana.
"Ya iyalah" ucap guru.
"Nyesel banget gue ngomong kayak gitu" batin Bina.
Dengan terpaksa Ana segera mencari Lino, karena ia tahu pasti Lino sedang bersembunyi di rooftop.
* Rooftop
Pada saat Ana mau membuka pintunya, ternyata pintunya tidak bisa dibuka.
"Lino!!!" teriak Ana karena ia tahu bahwa ada seseorang yang menarik pintu tersebut sehingga pintu tersebut tidak bisa dibuka.
"Lino buka!!" teriak Ana sambil memukul-mukul pintu tersebut.
Lalu pintu rooftop dibuka.
"Ada apa sih, Na?" tanya Gilang.
"Ayo ke kelas" ucap Ana.
"Enggak ah! ada razia" Gilang.
"Lino mana?" tanya Ana.
"Tuh disana" tunjuk Gilang.
Ana segera menghampiri Lino.
"Lino!!!" ucap Ana.
Sontak Lino langsung menjatuhkan rokoknya dan ia langsung menginjak rokok tersebut.
"Luh ngerokok, No?" tanya Ana.
"Enggak" bohong Lino.
"Terus itu yang diinjak apa?" tanya Ana.
"Ini cuma permen" bohong Lino.
"Udah jelas-jelas gue lihat nya rokok" ucap Ana.
"Ini permen" kata Lino.
"Coba kakinya awas! gue pingin lihat" ucap Ana.
"Gak mau ah!" ucap Lino.
Ana berusaha mendorong tubuh Lino, namun tidak bisa.
"Mau ngapain, Na?" tanya Lino sambil menahan tawanya.
"Mau lihat yang ada dibawah sepatu luh" ucap Ana.
Akhirnya Lino segera menggeserkan kakinya.
"Iya aku ngerokok" ucap Lino.
"Gue laporin loh ke guru" ucap Ana.
"Ya udah silahkan" ucap Lino santai.
Ana hanya terdiam.
"Kenapa diem? katanya mau dilaporin ke guru" ucap Lino.
"Hmm..gak jadi deh laporinnya" ucap Ana.
"Kenapa gak jadi?" tanya Lino.
"Karena hari ini gue lagi baik, makanya gue gak bakal laporin luh" ucap Ana.
"Na, dikelas ada guru yang nge-razia gak?" tanya Gilang sambil menghalangi pintu rooftop.
"Ada" ucap Ana.
"Oh iya, kamu ngapain kesini?" tanya Lino.
"Gue disuruh guru buat nyari anak kelas yang kabur" ucap Ana.
"Terus kenapa gak langsung ngasih tahu kalau kita ada disini?" tanya Lino.
"Soalnya gue agak kasihan sama kalian, makanya gue memutuskan untuk gak kasih tahu guru itu kalau luh berdua ada disini" jelas Ana.
"Ya udah kalau gitu ke kelas dulu" ucap Ana sambil pergi menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, Ana langsung duduk dikursinya.
"Guru yang tadi mana?" tanya Ana kepada Lia.
"Dia nge-razia ke kelas lain" ucap Lia.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Tadi luh nyari Lino ya, Na?" tanya Lia.
"Iya" ucap Ana.
"Luh ketemu gak sama Lino nya?" tanya Lia.
"Ketemu kok" ucap Ana.
"Dia ngumpet dimana?" tanya Lia.
"Di rooftop" ucap Ana.
"Dia sendirian?" tanya Lia.
"Enggak, dia berdua sama Gilang" ucap Ana.