ARLINO

ARLINO
Episode 158



"Oh iya, No! tadi kamu udah minum obat belum?" tanya Ana.


"Belum" ucap Lino.


"Ya udah minum obat dulu" ucap Ana.


"Enggak mau, lagian aku udah gak sakit kok" ucap Lino.


"Beneran?" tanya Ana memastikan.


"Iya udah gak sakit" ucap Lino.


"Cepet banget sembuhnya" ucap Ana.


"Soalnya kan ada kamu, jadi sembuhnya cepet" ucap Lino.


"Kalau udah sembuh berarti aku harus pulang dong" ucap Ana.


"Ya jangan dong! nanti kalau kamu pulang, aku jadi sakit lagi" ucap Lino.


"Oh iya, No! nanti aku disana harus ngapain?" tanya Ana.


"Disana dimana?" bingung Lino.


"Di pesta pernikahan sepupu kamu" ucap Ana.


"Ya kayak orang biasa yang ke kondangan" ucap Lino.


"Nanti disana aku harus kalem ya?" tanya Ana.


"Kalem?" bingung Lino.


"Iya, kan nanti pasti disana banyak saudara-saudara kamu. Jadi kayaknya aku mau jadi kalem aja biar gak malu-maluin" ucap Ana


"Udah, jadi diri kamu sendiri aja" ucap Lino.


"Tapi kan kalau jadi diri aku sendiri nanti pasti aku bakal bawel banget" ucap Ana.


"Ya gak apa-apa dong" ucap Lino.


"Takutnya keluarga kamu jadi gibahin aku nanti disana" ucap Ana.


"Kalau mereka gibahin kamu, aku bakal marahin mereka" ucap Lino.


"Marah nya kayak gimana?" tanya Ana.


"Ya marah kayak orang biasanya" ucap Lino.


"Coba aku pingin lihat kamu marah" ucap Ana.


"Kalau sekarang gak bisa lah, kan aku lagi gak marah" ucap Lino.


"Ya udah coba pura-pura acting marah" ucap Ana.


"Gak mau, Ana" ucap Lino.


"Kamu aja coba yang acting marah" suruh Lino.


"Aku gak bisa marah sama kamu" ucap Ana.


"Gak bisa marah dari mana coba, orang kamu suka marah-marah" ucap Lino.


"Aku gak pernah marah tahu" ucap Ana.


"Sering, tapi marah kamu tuh diem" ucap Lino.


"Ya lebih baik marah nya diem dong dari pada bentak-bentak gak jelas" ucap Ana.


"Ya lebih baik jangan dua-duanya lah" ucap Lino.


Mata Lino langsung terfokus kepada kuku Ana.


"Coba lihat tangan kamu" ucap Lino.


"Nih" ucap Ana sambil menunjukkan tangannya.


"Kuku kamu panjang banget" ucap Lino sambil memegang tangan Ana.


"Ya gak apa-apa yang penting gak kotor" ucap Ana.


"Bentar ya" ucap Lino sambil pergi.


Kemudian Lino segera kembali menghampiri Ana dan duduk disebelahnya.


"Sini aku potong kukunya" ucap Lino.


"Gak mau" ucap Ana sambil menyembunyikan tangannya dibelakang.


"Sini potong, nanti banyak kuman loh di kuku kamu" ucap Lino.


"Enggak, kan tiap hari aku bersihin" ucap Ana.


"Tetep aja ada kuman" ucap Lino.


"Biarin ada kuman juga" ucap Ana.


"Sini tangannya, kalau enggak aku bakal kelitikin kamu nih" ucap Lino.


"Gak mau" ucap Ana.


Lalu Lino segera menggelitik Ana.


"Udah ah geli" ucap Ana sambil tertawa.


"Ya udah sini tangannya" ucap Lino.


Lalu Ana segera mengulurkan tangannya, kemudian Lino segera memegang tangan Ana dan ia langsung memotong kuku Ana.


"Awas jangan sampe kena kulit" ucap Ana.


"Iya bawel" ucap Lino.


"Jangan terlalu pendek potongnya, nanti sakit" ucap Ana.


"Iya sayang" ucap Lino.


Ana langsung tersenyum saat Lino memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Jangan senyum" ucap Lino.


"Siapa juga yang senyum" ucap Ana sambil mengalihkan pandangannya.


"Udah" ucap Lino saat selesai memotong kuku Ana.


"Ih kok kuku aku jadi bantet banget kalau dipotong" ucap Ana.


"Jarinya jadi gak lentik, No" keluh Ana.


"Gak apa-apa, yang penting gak ada kumannya" ucap Lino.


"Coba lihat tangan kamu" ucap Ana.


Lalu Lino segera memperlihatkan tangannya kepada Ana.


Kemudian Ana membandingkan telapak tangannya dengan telapak tangan Lino.


"Kan aku cowok, jadi wajar kalau besar" ucap Lino.


"Kenapa tangan cewek lebih kecil dari cowok?" tanya Ana.


"Ya mana aku tahu, mungkin udah takdir kali" ucap Lino.


"Berarti kalau nampar, lebih sakit ditampar cowok ya daripada cewek?" tanya Ana.


Lino langsung teringat saat ia menampar pipi Ana.


"Maafin aku ya" ucap Lino sambil memegang pipi Ana.


"Maaf?" bingung Ana.


"Maaf waktu dulu aku udah nampar kamu" ucap Lino.


"No, tadi omongan aku gak bermaksud nyindir kamu kok" ucap Ana.


"Aku beneran cuma nanya doang tadi" ucap Ana.


"Iya aku tahu" ucap Lino.


"Maaf, aku gak bermaksud ngungkit itu kok" ucap Ana.


"Lagian aku udah maafin kamu kok, beneran deh" ucap Ana merasa bersalah.


"Kamu gak usah minta maaf, lagian kan itu salah aku" ucap Lino.


"Maaf ya" ucap Ana.


"Ya ampun kenapa kamu jadi yang merasa bersalah" ucap Lino.


"Aku takutnya kamu sakit hati gara-gara aku ngungkit itu" ucap Ana.


"Tapi beneran kok, aku gak ada niatan ngungkit itu" ucap Ana.


"Iya aku juga tahu kok, kan tadi kamu cuma nanya doang" ucap Lino.


"Udah, jangan merasa bersalah gitu" ucap Lino.


"Kamu mau eskrim gak?" tanya Lino agar mengalihkan pembicaraan.


"Mau" ucap Ana.


"Ya udah bentar ya aku ambilin" ucap Lino sambil pergi menuju dapur.


Setelah itu, Lino segera kembali menghampiri Ana. Lalu Lino segera duduk disebelah Ana.


"Mau yang mana?" tanya Lino.


"Yang coklat" ucap Ana.


Lalu Lino segera memberikan eskrim tersebut kepada Ana.


Kemudian Ana dan Lino segera memakan eskrim tersebut.


"Belepotan banget makan eskrimnya" ucap Lino sambil mengelap eskrim disudut bibir Ana dengan jarinya.


Lalu Ana dengan sengaja menempelkan eskrim di atas bibirnya.


"No" panggil Ana agar Lino mengelap eskrim tersebut.


Lalu Lino langsung tersenyum dan ia langsung mengelap eskrim tersebut.


Setelah selesai memakan eskrim, Ana dan Lino segera mencuci tangannya. Setelah itu, mereka berdua kembali menuju ruang tamu.


"No, kamu punya Instagram gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Facebook?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Terus media sosial yang kamu punya apa?" tanya Ana.


"WhatsApp doang" ucap Lino.


"Pasti memory handphone kamu penyimpanannya dikit ya?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Kok enggak?" heran Ana.


"Iya soalnya kan aku banyak nge-download game" ucap Lino.


"No, ajarin main game yang sering kamu mainin sama Gilang dong" ucap Ana.


"Game yang mana?" tanya Lino.


"Game yang nembak-nembak musuh" ucap Ana.


"Kamu mau main?" tanya Lino.


"Iya, tapi pingin mainnya pake handphone kamu" ucap Ana.


"Ya udah nih" ucap Lino sambil menekan aplikasi game tersebut.


Lalu Ana segera mengambil ponsel milik Lino.


"Sambil ajarin ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Kamu mau main solo atau squad?" tanya Lino.


"Terserah kamu aja" ucap Ana.


"Squad aja ya biar nanti kalau mati ada yang nolongin" ucap Lino.


"Iya terserah kamu aja" ucap Ana.


"No, orangnya bisa di ubah jadi cewek gak?" tanya Ana.


"Bisa" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu ganti jadi cewek aja, No" ucap Ana.


Lalu Lino segera mengubah karakter game tersebut.


Kemudian, game tersebut dimulai.


"Wah ini lagi didalam pesawat ya, No?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino sambil tersenyum karena lucu melihat ekspresi wajah Ana yang sedang fokus pada handphone miliknya.


"Turun, Na" ucap Lino.


"Ini gimana turunnya?" tanya Ana.


"Teken ini" perintah Lino.


Lalu Ana segera menuruti perintah dari Lino.