ARLINO

ARLINO
Episode 244



Skip


Krining...Krining


"Cin, ke kantin yuk" ajak Ana.


"Enggak mau, soalnya gue lagi diet" ucap Cindy.


"Oh ya udah deh kalau gitu gue ke kantin sendiri aja" ucap Ana.


"Ana, ayo ke kantin!" ajak Clara, Felisa dan Lia.


"Cin, gue ke kantin bareng mereka ya" ucap Ana.


Cindy hanya mengangguk tanpa melihat kearah Ana.


"Ya udah ayo" ucap Clara sambil menarik pelan tangan Ana.


Lalu mereka berempat segera pergi ke kantin.


* Kantin


Ketika sampai di kantin, mereka berempat segera membeli makanan dan minuman.


Setelah selesai membeli makanan dan minuman, mereka berempat segera menghampiri Lino, Raka dan Gilang.


Kemudian mereka berempat segera duduk.


"Ngapain duduk disini?" tanya Raka.


"Soalnya biar seru, makanya kita duduk disini" ucap Felisa.


Lalu mereka anak-anak cewek segera menikmati makanan dan minuman yang telah mereka beli.


"Na" panggil Lino.


"Apa" ucap Ana.


"Kamu gak beli seblak?" tanya Lino.


"Enggak, soalnya seblak kan pedes banget. Jadi aku takut sakit perut" ucap Ana.


"Biasanya juga suka makan seblak" ucap Raka.


"Emang iya?" tanya Ana.


"Iya, bahkan sampe makan tiga porsi" sahut Lino.


Ana terdiam sejenak.


"Kenapa, Na? kok diem" ucap Raka.


"Aneh aja, masa makan seblak sampe tiga porsi" ucap Ana.


"Yaelah gue kira luh diem karena keinget waktu luh minta seblak tiga porsi" ucap Gilang.


"Enggak, aku gak inget" ucap Ana.


"Luh gak inget kejadian satupun gitu?" tanya Gilang.


Ana hanya menggelengkan kepalanya.


"Luh beneran hilang ingatan atau cuma pura-pura sih?" tanya Gilang.


Felisa langsung memukul Gilang.


"Aww" ringis Gilang.


"Ya beneran lah, Lang! masa Ana pura-pura sih" ucap Felisa.


"Ya siapa tahu kan Ana lagi nge-prank kita" ucap Gilang.


"Ya gak mungkin lah" ucap Felisa.


"Na, Cindy kemarin ke rumah luh ya?" tanya Lia.


"Iya" ucap Ana.


"Dia mau ngapain main ke rumah luh?" tanya Felisa.


"Gak ngapa-ngapain sih, dia cuma ngobrol-ngobrol aja sama aku" ucap Ana.


"Oh iya, No! aku udah tahu tentang kejadian sebelum aku masuk rumah sakit" ucap Ana.


Lino hanya terdiam.


"Kamu gak usah merasa bersalah, lagian aku gak apa-apa kok" ucap Ana.


"Kalau masalah tentang aku yang kehilangan ingatan, nanti juga perlahan aku pasti bakal inget lagi kok" ucap Ana lagi.


"Maafin aku ya" ucap Lino.


"Jangan minta maaf, lagian kan waktu itu aku yang mutusin buat nolongin kamu. Jadi itu bukan salah kamu" ucap Ana.


"Tuh dengerin! jangan merasa bersalah mulu" sahut Raka.


"No, nanti jangan nangis lagi ya" ledek Gilang.


"Siapa juga yang nangis" ucap Lino.


"Lino nangis?" tanya Raka.


"Iya" ucap Gilang.


"Gak! gue gak nangis" ucap Lino.


"Bukannya kemarin nangis ya" ucap Ana.


"Na, kamu kok kasih tahu mereka sih. Aku kan jadi malu" keluh Lino.


"Maaf" ucap Ana sambil tertawa kecil.


"Anak-anak dikelas udah pada tahu loh kalau kemarin luh nangis" ucap Clara.


"Kok bisa tahu" heran Lino.


"Soalnya dikasih tahu sama Ana" ucap Clara.


Lino hanya menatap datar kearah Ana.


"Maaf ya, soalnya kemarin Gilang nanyain kamu. Terus aku jawab bahwa kamu lagi nangis di rooftop. Makanya anak-anak kelas jadi pada denger omongan aku" ucap Ana sambil melihat kearah Lino.


"Iya gak apa-apa kok" ucap Lino.


"Kalau gue atau Gilang yang ngomong pasti bakal baku hantam sama Lino" ucap Raka.


"Emang Lino galak ya?" tanya Ana.


"Iya galak banget" ucap Raka dan Gilang bersamaan.


"Enggak! aku gak galak kok, paling ngigit dikit" ucap Lino .


Ana langsung tertawa karena mendengar ucapan Lino.


"Kok luh ketawa sih, Na. Perasaan gak lucu deh" ucap Gilang.


"Ana kan receh orangnya, makanya dia ketawa" ucap Lino.


"Receh itu apa?" tanya Ana.


"Maksudnya gampang ketawa gitu" ucap Lino.


"Oh gitu" ucap Ana.


"Na, kita pingin main nih ke rumah luh" ucap Clara.


"Iya bener! boleh gak kita ke rumah luh?" tanya Felisa.


"Jangan!" ucap Lino.


Sontak semuanya langsung melihat kearah Lino.


"Ana butuh istirahat, jadi jangan main ke rumahnya" ucap Lino.


"Ih ngatur aja luh! cuma sahabatnya juga" ucap Clara sambil menahan tawanya.


"Iya bener! masa sahabat ngatur-ngatur" ucap Gilang.


"Emang salah ya kalau ngatur?" tanya Lino.


"Ya salah lah! kan luh cuma sahabatnya Ana, bukan orang tuanya" sahut Raka.


"Jadi kita bertiga boleh main gak, Na?" tanya Felisa.


"Boleh kok" ucap Ana.


"Berarti pulang sekolah kita ke rumah luh ya" ucap Felisa.


"Pulang sekolah?" ucap Ana.


"Kalian gak ganti baju dulu?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Felisa.


"Oh iya, No! handphone Ana udah dibalikin belum?" tanya Gilang.


"Udah kok" ucap Lino.


"Oh iya, Na! nanti kalau mau nanya-nanya, luh tinggal chat aja ya di grup Princess" ucap Felisa.


"Grup apaan tuh?" ucap Gilang sambil tertawa.


"Grup yang isinya cewek cantik semua" ucap Clara dengan percaya diri.


"Siapa aja yang masuk grup nya?" tanya Raka sambil menahan tawanya.


"Gue, Ana, Lia sama Felisa" ucap Clara.


Lino, Raka dan Gilang langsung tertawa mendengar nama-nama yang disebut Clara.


"Kenapa pada ketawa?" tanya Felisa.


"Habisnya ngakak aja gitu, kirain yang masuk grup nya semua cewek cantik di SMA Tunas Bakti" ucap Raka.


"Enggak lah, kan yang cantik cuma kita berempat" ucap Clara.


"Percaya diri banget luh" ucap Raka sambil tertawa.


"Ya harus dong!" ucap Clara.


"Chat nya di aplikasi apa?" tanya Ana sambil memainkan ponselnya.


"Di WhatsApp" ucap Lia.


"Tapi kok di handphone aku gak ada aplikasi itu" ucap Ana.


"Mana coba gue lihat" ucap Lia.


Ana segera memberikan ponselnya kepada Lia.


"Kok gak ada ya" ucap Lia.


"Kehapus kali aplikasinya" ucap Felisa.


"Iya kehapus kayaknya" ucap Lia sambil kembali memberikan ponsel kepada Ana.


"Nanti luh download lagi aja aplikasinya" ucap Lia.


"Oke, nanti aku download lagi" ucap Ana.


"Oh iya, No! ini kucing siapa ya?" tanya Ana sambil menunjukkan foto kucing diponselnya.


"Itu kucing aku" ucap Lino.


"Kamu suka kucing?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Selain kucing dia juga suka Ana katanya" ucap Gilang.


"Bisa aja bercanda nya" ucap Ana sambil tersenyum.


"Siapa juga yang bercanda" ucap Gilang dengan pelan.


"Kalau gak bercanda gimana, Na?" tanya Lino.


"Hmm?" ucap Ana.


"Kalau sebenernya aku emang suka kamu gimana?" ucap Lino.


"Hmm...ya gak gimana-gimana" ucap Ana salah tingkah.


"Uhuk...uhuk" Gilang, Raka, Clara, Felisa dan Lia pun batuk bersama-sama.


"Kalian kenapa?" tanya Ana.


"Kita keselek, Na" ucap Clara.


"Kok bisa barengan gitu keselek nya" heran Ana.


"Soalnya kita sehati, makanya batuknya barengan" ucap Gilang.


"Bisa gitu ya" heran Ana.


"Iya, kadang kalau kentut juga kita barengan" ucap Gilang.


"Serius?" tanya Ana dengan polosnya.


"Iya serius, Na" ucap Gilang dengan ekspresi wajah serius.


"Kamu jangan percaya sama dia, dia tuh orangnya sesat" ucap Lino.


"Oh jadi Gilang bohong?" tanya Ana.


"Iya, dia bohong" ucap Lino.


"Udah mah polos, ditambah hilang ingatan jadi makin polos" sindir Gilang kepada Ana.


"Guys, gue ke kelas dulu ya" ucap Raka sambil pergi.


"Iya" ucap semuanya.


"Ya udah kita juga ke kelas yuk" ajak Lia.


"Ayo" ucap Ana, Clara dan Felisa.


"Lang, ayo ke kelas" ucap Felisa.


"Kalian duluan aja, soalnya aku sama Lino masih pingin disini" ucap Gilang.


"Oh ya udah" ucap Felisa.


Lalu Ana, Lia, Clara dan Felisa segera pergi ke kelas.


"Lang, gue mau nanya dong" ucap Lino.


"Mau nanya apa?" tanya Gilang.


"Kalau yang hilang ingatan kayak gitu nantinya bakal suka ke orang yang sama gak sih?" tanya Lino.


"Mana gue tahu! gue kan gak pernah hilang ingatan" ucap Gilang.


"Eh! tapi kayaknya bisa berubah deh. Buktinya Acha kan udah gak suka sama luh" ucap Gilang.


"Oh iya, Lang! waktu itu Acha telepon gue" ucap Lino.


"Mau ngapain telepon luh?" tanya Gilang.


"Jadi sebenernya orang yang nabrak Acha itu suruhan papahnya" jelas Lino.


"Hah?!" kaget Gilang.


"Iya, Acha bilang katanya papahnya tuh nyuruh orang buat nyelakain gue eh tahunya malah Acha nya yang celaka gara-gara nyelamatin gue" jelas Lino.


"Kenapa papahnya mau nyelakain luh?" tanya Gilang.


"Kan luh tahu kalau gue tuh anak geng motor, jadi dia gak setuju kalau Acha sama gue. Makanya papahnya nyuruh orang buat nyelakain gue" ucap Lino.


"Acha tahu dari siapa kalau yang nyelakain dia adalah papahnya?" tanya Gilang.


"Dia tahu dari papahnya lah" ucap Lino.


"Katanya papahnya terus-menerus minta maaf ke Acha karena dia merasa bersalah sama Acha" ucap Lino.


"Gila sih! dia yang niat nyelakain luh, eh malah anaknya yang kena" ucap Gilang.


"Oh iya! papahnya udah minta maaf belum ke luh?" tanya Gilang.


"Udah, tapi melalui Acha minta maaf nya" ucap Lino.


"Oh iya, kalau yang nyelakain Acha pas di rumah sakit siapa?" tanya Gilang.


"Mamah tirinya" ucap Lino.


"Mamah tiri?" ucap Gilang.


"Iya" ucap Lino.


"Mamah tirinya Acha yang nyelakain Acha, tapi untungnya papah Acha langsung tahu kalau mamah tirinya mau celakain Acha" ucap Lino.


"Terus nasib mamah tiri Acha gimana? dia masuk penjara gak?" tanya Gilang.


"Enggak. Papah nya Acha cuma cerai aja sama mamah tirinya Acha, gak sampai ngelaporin ke penjara. Soalnya kan luh tahu sendiri kalau papahnya Acha juga penyebab Acha celaka" jelas Lino.


"Ternyata manusia menyeramkan banget ya" ucap Gilang.


"Iya bener banget" ucap Lino.