ARLINO

ARLINO
Episode 14



Lino pun terbangun dari tidurnya.


"Kenapa gue jadi meluk Ana gini" batin Lino


Lalu Lino pun segera melepaskan tangannya dari pinggang Ana.


Kemudian Lino pun melihat kearah luar rumah Ana. Dan ternyata diluar masih hujan.


"Yah masih hujan lagi, gimana caranya gue pulang coba" gumam Lino.


"Yaudah deh, gak apa-apa gue kehujanan juga" ucap Lino.


Lino pun segera mengambil helmnya yang berada di meja dan ia berniat untuk pulang ke rumahnya.


Saat hendak keluar, Lino pun seketika terdiam karena melihat Ana.


"Kalau gue keluar, pintunya kan gak dikunci. Gimana kalau ada orang yang masuk" ucap Lino.


"Apa gue bangunin aja ya si Ana" ucap Lino.


Lino pun berniat membangun Ana, tetapi ia tidak tega karena melihat Ana yang tertidur dengan pulas.


"Yaudah deh, gue nginep aja disini" gumam Lino.


Lino pun segera mengunci pintu rumah Ana, lalu ia pun duduk disamping Ana.


Lalu Lino pun menonton kembali film yang ia tonton bersama Ana tadi.


Setelah beberapa jam kemudian, Lino pun tertidur.


* Siang hari


Cahaya matahari pun menyorot kearah Ana. Hingga membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Hoahh!" Ana pun bangun sambil menguap.


"Hah? Lino ngapain peluk gue!!!" teriak Ana ketakutan.


Lino pun terbangun akibat teriakan dari Ana.


"Loh! kok gue meluk luh sih" ucap Lino sambil melepaskan pelukannya.


"Luh sengaja kan gak bangunin gue, terus luh cari kesempatan buat meluk gue dan tidur bareng gue" tuduh Ana kepada Lino.


"Gue gak ada niatan meluk luh" ucap Lino.


"Luh pasti bohong kan?" tanya Ana


"Beneran! Lagian gue gak ada niat sama sekali buat pelukan sama luh" ucap Lino.


"Lagian luh gak enak buat dipeluk" sahut Lino.


"Enggak enak, tapi erat banget pelukannya" ucap Ana.


"Ya karena waktu malem gue kedinginan" ucap Lino.


"Perasaan waktu malem gak dingin deh" ucap Ana.


"Ya iyalah gak dingin, kan luh dipeluk sama gue" ucap Lino.


"Nyaman kan luh dipeluk gue?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Ana berbohong.


"Enggak nyaman, tapi kok tidurnya nyenyak sih" sahut Lino.


"Gue kalau tidur emang suka nyenyak kali" ucap Ana.


"Tapi lebih nyenyak waktu dipeluk sama gue kan?" tanya Lino.


"Enggak! malah waktu dipeluk luh, gue jadi mimpi buruk" ucap Ana berbohong.


"Gue gak percaya" sahut Lino.


"No, sekarang jam berapa?" tanya Ana kepada Lino.


Lino pun segera melihat jam tangan miliknya.


"Anjir! udah jam 10" ucap Lino


"Yah! gimana dong? masa gue bolos sekolah sih" ujar Ana.


"Santai, Na! chat aja digrup kalau luh lagi sakit" saran Lino.


"Bener juga kata luh" ucap Ana.


Akhirnya Ana dan Lino pun langsung mengirim chat di grup kelas bahwa dirinya sedang sakit.


"Gara-gara luh sih ngajakin gue nonton, jadi gue bangunnya kesiangan" keluh Ana.


"Kok luh nyalahin gue sih, luh sendiri juga kan mau-mau aja gue ajakin nonton" ucap Lino.


"Iya juga sih" ucap Ana.


"Yaudah gue pulang dulu ya" ucap Lino


"Sana gih, pergi!" usir Ana.


"Luh ngusir gue?" ujar Lino.


"Iya, emang kenapa? Cepet ih pulang! gue mau mandi" kata Ana.


"Iya, gue pulang! oh iya hati-hati di kamar mandi ada psychopath" ucap Lino.


"Gak takut" ujar Ana.


"Iya, kan kita ketiduran mana sempet kunci pintu" ujar Ana.


"Tuh, kan! berarti pasti ada yang masuk ke rumah ini" ucap Lino sambil menakuti Ana.


"Lino jangan nakut-nakutin!" ucap Ana.


"Siapa juga yang nakut-nakutin" kata Lino.


"Cepetan pulang! nanti kalau mau pulang, pintu rumahnya jangan lupa ditutup" ucap Ana.


"Iya bentar, matiin laptop luh dulu" ucap Lino.


Ana pun langsung pergi ke kamar mandi yang berada di kamarnya.


Setelah mematikan laptop, Lino pun membuka pintu yang ia kunci semalam.


Selesai mandi, Ana pun segera turun kebawah untuk memastikan bahwa Lino sudah pulang atau belum.


"Syukurlah dia udah pulang" ucap Ana.


"Loh! ini hp Lino ngapain ada disini" ucap Ana.


"Ceroboh banget tuh orang" gumam Ana.


"Ah biarin lah! nanti juga dia bakal balik lagi ngambil hp nya" ucap Bina.


Skip


* Sore hari


Tok...tok..tok


"Nah, kan! udah gue bilang, pasti dia bakal datang ngambil hp nya" kata Ana.


Ana pun segera membukakan pintu rumahnya dan ternyata yang datang itu Naya, Lia, Clara dan Felisa.


"Mampus gue" batin Ana.


"Na, luh sakit apa?" tanya Clara.


"Gue hmm..enggak enak badan nih" ucap Ana berbohong.


"Oh iya, ini makanan dari kita buat luh" ucap Lia


"Makasih, yaudah ayo masuk kedalam" ucap Ana.


Kami pun segera masuk kedalam rumah.


"Aduh gue takut ketahuan bohong, gimana nih!" batin Ana.


"Orang tua luh kemana, Na?" ucap Lia.


"Mereka malam tadi berangkat ke luar negeri, katanya sih bakalan semingguan"


"Luh berarti semalem sendirian dong di rumah" ucap Felisa.


"Iya" ucap Ana berbohong.


"Loh bukannya ini hp Lino ya?" tanya Naya.


"Eh itu hmm" Ana pun gugup.


Tok..tok..tok


"Ana, hp gue ketinggalan!!!" teriak Lino dari luar.


"LINO?!!" ucap semuanya kecuali Ana.


"Ya ampun! ketahuan deh gue" ucap Ana.


Naya pun membukakan pintu rumah Ana.


"Aduh! mati gue" batin Lino.


"Loh! bukannya luh juga lagi sakit ya, No?" tanya Clara.


"Oh jadi luh berdua ngebohongin kita semua ya" kesal Naya.


"Gak gitu, Nay!" ucap Ana.


"Yaudah jelasin cepet!" perintah Naya.


"Gue balik ya! lagian gue kesini mau ngambil hp doang" ucap Lino.


"Eh, enak aja! kalian berdua jelasin dulu cepetan" perintah Lia.


Akhirnya dengan terpaksa Ana yang harus menjelaskan ke mereka dan juga Ana menjelaskan kejadian waktu ada Raka ke rumahnya.


"Yah! sayang banget luh putus sama si Raka, padahal baru juga berapa hari" ucap Clara.


"Sebenernya dari awal itu gue gak ada perasaan apa-apa ke Raka, tapi karena gue gak enak jadi gue terima. Eh waktu gue tahu sifat asli dia, gue jadi muak sekarang" jelas Ana.


"Cemburu sih boleh, tapi gak harus ngerobekin gambar juga. Kan itu tugas kelompok, lagian bukan kemauan gue buat sekelompok sama Lino" ucap Ana.


"Terlalu posesif dia" ucap Clara.


"Udah belum ngerumpinya? kalau udah, gue balik aja ya! gue gak suka gibahin orang" ucap Lino.


"Hush, sana! lagian ngapain juga luh masih disini. Ngejelasin kejadiannya juga enggak" ucap Clara.


"Sabar, No! cewek emang selalu benar" batin Lino


Lino pun segera pergi ke rumahnya dengan mengendarai motor sport miliknya.