ARLINO

ARLINO
Episode 129



Ana dan Lino pun segera menghampiri Raka dan mereka berdua pun langsung duduk.


"No, mau gak?" tanya Ana sambil menunjuk kearah kue brownies.


"Enggak" ucap Lino.


"Woy, cepet bantuin" ucap Raka.


"Iya...iya" ucap Ana.


"Nih tiup" ucap Raka sambil memberikan balon yang belum ditiup kepada Ana dan Lino.


Lalu Ana dan Lino pun segera meniup balon tersebut.


Setelah semua balonnya sudah ditiup, lalu mereka bertiga pun segera menata balon tersebut.


"Mamah luh kapan datangnya?" tanya Lino.


"Malem" ucap Raka.


"Nanti malem gue boleh kesini gak?" tanya Lino.


"Boleh" ucap Lino.


"Kalau gue boleh gak?" tanya Ana.


"Gak boleh" canda Raka.


"Kok gak boleh sih, kan gue juga udah bantuin luh" ucap Ana.


"Ya boleh lah" ucap Raka.


"Yeay!" ucap Ana.


"Seneng banget kayaknya" ucap Raka.


"Iya lah, kan nanti pasti dikasih kue" ucap Ana.


"Kan luh tadi udah gue kasih kue" ucap Raka.


"Kan kue nya beda" ucap Ana.


"Oh iya, kalian berdua udah beli kado belum?" tanya Lino.


"Udah" ucap Ana dan Raka bersamaan.


"Ya udah kalau gitu anter aku beli kado yuk, Na" ucap Lino.


"Ya udah ayo" ucap Ana.


"Lah! gue sendiri dong" ucap Raka.


"Nanti kita balik lagi kok" ucap Lino.


"Ya udah ayo, Na" ucap Lino.


"Na, tas sama kue nya gak dibawa?" tanya Raka.


"Simpen dulu aja, nanti juga gue balik lagi" ucap Ana.


Lalu Ana dan Lino pun segera pergi keluar. Kemudian mereka berdua pun segera menaiki motor. Setelah itu, Lino pun segera melajukan motornya.


"Mau beli kado apa?" tanya Ana.


"Tas" ucap Lino.


"Jangan tas, soalnya Raka juga kadonya tas" ucap Ana.


"Terus apa dong?" tanya Lino.


"Dompet aja" ucap Ana.


"Oh ya udah" ucap Lino.


Lalu Lino pun melajukan motornya menuju mall untuk membeli dompet.


Setelah sampai, mereka berdua pun segera turun dari motor. Kemudian mereka berdua pun segera pergi mencari toko yang menjual dompet.


Setelah tokonya ketemu, mereka berdua pun langsung masuk kedalam toko dan mereka pun melihat-lihat dompet yang ada di toko tersebut.


"Pilihin dong, Na" ucap Lino.


"Kenapa aku yang pilihin? kan kamu yang mau kasih kado" ucap Ana.


"Aku gak tahu selera cewek" ucap Lino.


"Ya udah aku pilihin deh" ucap Ana.


Lalu Ana pun segera mencari dompet untuk mamahnya Raka.


"Yang ini aja" ucap Ana.


"Yang ini?" tunjuk Lino.


"Iya, soalnya kan ibu-ibu pasti suka sama warna merah" ucap Ana.


"Kata siapa?" tanya Lino.


"Kata aku" ucap Ana.


"Emang kamu ibu-ibu?" tanya Lino.


"Bukan lah, aku masih remaja" ucap Ana.


"Oh iya, kalau kamu mau yang mana?" tanya Lino.


"Aku gak mau beli" ucap Ana.


"Gak apa-apa beli aja, nanti biar aku yang bayar" ucap Lino.


"Gak usah, lagian dompet aku masih bagus" ucap Ana.


"Jadi mau beli yang mana, kak?" tanya pelayan toko.


"Yang ini" tunjuk Lino.


Lalu pelayan tersebut langsung mengambil dompet yang ditunjuk Lino.


"Berapa?" tanya Lino.


"Seratus empat puluh ribu rupiah" ucap pelayan itu.


Lalu Lino pun segera membayar dompet tersebut.


Setelah membayar, mereka berdua pun segera keluar dari toko tersebut.


"Makan dulu yuk" ucap Lino.


"Enggak ah, soalnya dompet aku nya kan ada di rumah Raka" ucap Ana.


"Kan pake uang aku" ucap Lino.


"Enggak ah, lagian aku gak lapar" bohong Ana.


Tiba-tiba perut Ana pun berbunyi.


"Gak lapar, tapi kok perutnya bunyi" ucap Lino sambil menahan tawanya.


"Ya udah ayo" ucap Lino sambil memegang pergelangan tangan Ana.


"No, aku gak mau makan disini" ucap Ana.


"Terus mau dimana?" tanya Lino.


"Aku pingin bakso yang di pinggir jalan" ucap Ana.


"Ya udah ayo" ucap Lino.


Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju parkiran.


Setelah sampai di parkiran, mereka berdua pun segera menaiki motor. Lalu Lino pun segera melajukan motornya.


Skip


Setelah sampai, mereka berdua pun segera turun dari motor.


"Mau makan disini?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Ya udah kamu duduk dulu disana, nanti biar aku yang pesenin" ucap Lino.


"Oh iya, No! nanti baksonya pake bihun ya, terus jangan pake bawang sama seledri" ucap Ana.


"Minumnya mau apa?" tanya Lino.


"Mau jus mangga" ucap Ana.


"Oke" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera duduk ditempat yang telah disediakan.


Kemudian Lino pun segera duduk disebelah Ana.


"Udah dipesenin?" tanya Ana.


"Udah" ucap Lino.


"No, boleh pinjem handphone gak? soalnya aku bosen banget nih" ucap Ana.


"Emang kamu gak bawa handphone?" tanya Lino.


"Kan handphone nya ada di rumah Raka" ucap Ana.


"Ya udah nih" ucap Lino sambil memberikan ponselnya kepada Ana.


Lalu Ana pun segera mengambil ponsel milik Lino.


"Pola nya gimana?" tanya Ana.


"Sini" ucap Lino.


Lalu Lino pun segera membuka pola diponselnya.


"Susah banget polanya" ucap Ana.


"Sengaja, biar orang-orang gak bisa buka handphone aku" ucap Lino.


"Aku boleh lihat galeri gak?" tanya Ana.


"Boleh" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera melihat galeri diponsel Lino.


"Kok lebih banyak foto dori sih dibanding foto kamu" ucap Ana.


"Soalnya aku males foto" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu kita foto bareng yuk" ucap Ana.


"Enggak ah, aku jelek" ucap Lino.


"Udah deh, jangan merendah untuk meroket" ucap Ana.


Lalu Ana pun segera membuka kamera di ponsel Lino.


"Sini deketan" perintah Ana.


Lalu Lino pun segera menuruti perintah Ana.


"Sama kamu aja deh pegang nya" ucap Ana sambil memberikan ponsel kepada Lino.


Lalu Lino pun segera mengambil ponsel tersebut.


"Satu dua tiga" ucap Lino.


Cekrek


Tiba-tiba abang tukang bakso pun datang sambil membawa dua mangkuk yang berisi bakso dan juga dua jus mangga. Lalu abang tukang bakso pun langsung meletakkan bakso dan jus tersebut diatas meja.


"Makasih" ucap Ana.


"Iya" ucap abang tukang bakso.


"Pak, ada karet gelang gak?" tanya Lino.


"Ada, bentar ya sama ambil dulu" ucap abang tukang bakso.


Lalu abang tukang bakso pun segera pergi mengambil karet gelang. Lalu setelah itu ia pun kembali lagi menghampiri Lino dan Ana.


"Ini" ucap abang tukang bakso sambil memberikan karet gelang.


"Makasih" ucap Lino sambil mengambil karet gelang tersebut.


"Iya sama-sama" ucap abang tukang bakso tersebut.


Lalu abang tukang bakso pun segera pergi.


"Buat apa, No?" tanya Ana sambil memakan bakso.


Lino pun langsung mengikat rambut Ana.


"Biar gak gerah" ucap Lino.


Lalu Ana pun hanya tersenyum.


"Kenapa senyum?" tanya Lino.


"Gak kenapa-napa" ucap Ana.


Lalu mereka berdua pun segera memakan bakso tersebut.


"No, cobain kuah bakso aku deh" ucap Ana.


"Enggak ah! soalnya pasti pedes" ucap Lino.


"Gak pedes kok" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera mencicipi kuah bakso punya Ana.


"Uhukk...uhukk"


Ana pun langsung tertawa karena melihat Lino.


Kemudian Lino pun langsung meminus jus mangga miliknya.


"Pedes banget gila" ucap Lino.


"Gak pedes tahu" ucap Ana.


"Kayaknya kalau aku makan bakso kamu, aku bakal masuk rumah sakit deh" ucap Lino.


"Bukan lebay, tapi emang bakso kamu tuh pedes banget" ucap Lino.


"Oh iya! nanti kan UAS ya" ucap Ana.


"Iya emang kenapa?" tanya Lino.


"Nanti kamu harus belajar ya biar nilai nya gak jelek-jelek amat" ucap Ana.


"Gak mau ah males" ucap Lino.


Lalu Ana pun langsung menatap tajam Lino. Sedangkan yang ditatap, hanya tersenyum.


"Ngapain melotot gitu?" tanya Lino sambil mencubit pipi Ana.


"Aaaa sakit" ringis Ana.


Lalu Lino pun segera melepaskan cubitannya.


"Perasaan aku nyubitnya pelan" ucap Lino.


"Pelan mata mu" ucap Ana.


Lalu Lino pun hanya tersenyum mendengar ucapan Ana.


"Ya udah cepet habisin makanannya" ucap Lino.


"Iya bawel" ucap Ana.


"Yang ada kamu yang bawel" ucap Lino.


"Udah jangan dibahas" ucap Ana.


Lalu mereka berdua pun segera menghabiskan bakso dan jus tersebut.


Setelah selesai menghabiskan pesanannya, lalu Lino pun segera membayar makanan dan minuman yang mereka berdua pesan.


Setelah itu mereka berdua pun segera pergi menuju rumah Raka.


Skip


Setelah sampai, Ana dan Lino pun segera masuk kedalam rumah Raka.


"Anjir! gue kira mamah gue yang datang" ucap Raka sedikit terkejut.


Lalu Ana dan Lino pun segera menghampiri Raka. Lalu mereka berdua pun segera duduk.


Kemudian Ana pun segera memakan kue brownies yang diberikan oleh Raka.


"Pada mau gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino dan Raka bersamaan.


"Oh iya, nih kado buat mamah luh" ucap Lino.


"Makasih ya udah kasih kado" ucap Raka.


"Iya sama-sama" ucap Lino.


"No, nanti aku mau belajar bareng sama temen-temen" ucap Ana.


"Iya terus kenapa?" tanya Lino.


"Belajarnya di rumah Lia" ucap Ana.


"Emang beneran gak sih kalau papahnya Lia tuh galak?" tanya Ana.


"Iya galak banget" ucap Lino.


"Kok aku jadi takut ya kalau nanti kesana" ucap Ana.


"Ngapain takut? sama-sama manusia ini kan" sahut Raka.


"Iya juga sih" ucap Ana.


"Oh iya, tadi Naya maafin kamu gak?" tanya Ana.


"Iya dia maafin aku kok" ucap Lino.


"Emang luh punya salah apa ke Naya?" tanya Raka.


"Tadi pas di sekolah, Lino nuduh Naya yang nguntit gue" ucap Ana.


"Luh kenapa nuduh Naya?" tanya Raka.


"Ya karena tulisan Naya mirip sama tulisan penguntit itu dan juga dia punya gantungan kunci yang mirip sama gantungan kunci milik penguntit itu" jelas Lino.


"Berarti emang Naya yang nguntit Ana" ucap Raka.


"Bukan Naya kok" ucap Ana.


"Terus siapa?" tanya Raka.


"Mana gue tahu" ucap Ana.


"Tapi luh lebih baik jangan terlalu deket deh sama Naya" ucap Raka.


"Kok luh ngatur sih" ucap Ana.


"Bukan ngatur, tapi lebih ke waspada" ucap Raka.


"Luh lebay banget deh" ucap Ana.


"Bukan lebay, Na! yang diomongin sama Raka ada benernya juga" ucap Lino.


"Oh jadi kamu masih nuduh Naya pelakunya?" tanya Ana.


Lino pun hanya mengangguk.


"Kamu gimana sih, kan tadi kamu udah minta maaf sama Naya. Tapi kok kamu masih nuduh dia sih" ucap Ana.


"Ya gimana lagi, aku udah terlanjur curiga sama dia" ucap Lino.


"Udah jangan curigaan jadi orang" ucap Ana.


"Ka, gue mau minum ya" ucap Ana.


"Oh iya, ambil aja di kulkas" ucap Raka.


Lalu Ana pun segera pergi menuju dapur.


"Kalau emang Naya pelakunya, terus alasan dia apa nguntit Ana?" bisik Raka kepada Lino.


"Gue juga gak tahu, tapi yang jelas penguntit itu nyuruh Ana buat ngejauh dari gue" ucap Lino.


"Apa jangan-jangan Naya suka sama luh" ucap Raka.


"Enggak lah" ucap Lino.


"Ya siapa tahu aja dia suka sama luh" ucap Raka.


"Eh bukannya kata luh penguntit itu mirip sama yang nyelakain Acha ya?" tanya Raka.


"Gak tahu juga sih, tapi gue cuma ngerasa aja dia orang yang sama" ucap Lino.


Lalu Ana pun kembali menghampiri Lino dan Raka.


"Nih" ucap Ana sambil memberikan satu gelas kepada Lino.


"Makasih" ucap Lino.


"Iya sama-sama" ucap Ana.


Lalu Ana dan Lino pun segera meminum air tersebut.


"Eh bentar ya, gue mau simpen kado dulu di kamar" ucap Raka sambil memegang kado yang diberikan oleh Lino.


"Iya" ucap Ana dan Lino bersamaan.


Lalu Raka pun segera pergi menuju kamarnya.


"Mau gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Cobain dulu, enak loh" ucap Ana.


"Aaa" ucap Ana sambil mendekatkan kue brownies kepada mulut Lino.


"Cobain dikit" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera memakan kue brownies tersebut.


"Enak kan?" tanya Ana.


Lino pun hanya mengangguk.


"No, bantuin aku habisin kuenya. Soalnya kuenya terlalu banyak" ucap Ana.


"Enggak mau ah" ucap Lino.


"Bantuin habisin, please" ucap Ana.


"Aku mau bantuin asal kamu yang suapin" ucap Lino.


"Ya udah aku suapin" ucap Ana.


Lalu Ana pun segera menyuapi Lino.


"Apa-apaan nih, malah bucin di rumah gue" ucap Raka.


"Gak tahu nih, Ana tadi maksa nyuapin gue" ucap Lino.


"Perasaan kamu yang nyuruh aku buat nyuapin" ucap Ana.


"Sejak kapan aku ngomong kayak gitu?" tanya Lino.


"Sejak 30 detik yang lalu" ucap Ana.


Lalu Lino pun langsung tersenyum karena mendengar ucapan Ana.


"Ya udah aku pulang dulu ya, soalnya udah sore" ucap Lino.


"Loh kok pulang sih" ucap Ana.


"Kan aku belum mandi" ucap Lino.


"Mandi di rumah Raka aja" ucap Ana.


"Aku gak bawa baju, Na" ucap Lino.


"Kan bisa pinjem sama Raka" ucap Ana.


"Pasti gak muat lah, kan bahu aku lebar" ucap Lino.


"Sombong amat luh mentang-mentang punya bahu lebar" ucap Raka.


"Bukan sombong tapi kan emang fakta" ucap Lino sambil tertawa.


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" ucap Lino.


"Luh malem mau kesini gak?" tanya Raka.


"Iya mau" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya, KA" ucap Lino kepada Raka.


"Iya" ucap Raka.


"No, aku anter ya keluarnya" ucap Ana.


Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana.


Lalu Ana pun langsung memegang tangan Lino.


Kemudian mereka berdua pun segera pergi keluar.


"Ya udah aku pulang ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana masih memegang erat tangan Lino.


"Ya udah lepasin tangannya" ucap Lino sambil tersenyum.


"Gak bisa lepas" ucap Ana.


"Lepas, aku mau pulang" ucap Lino.


"Atau kamu mau ikut ke rumah aku?" tanya Lino.


"Enggak ah! kan nanti malem juga kamu kesini lagi" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu lepasin tangannya" ucap Lino.


"Ya udah deh" ucap Ana.


Lalu Ana pun segera melepaskan genggaman tangannya.


"Kalau gitu aku pulang ya" ucap Lino.


"Bentar dulu" ucap Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Tunggu satu menit lagi" ucap Ana.


"Ya udah satu menit ya" ucap Lino.


Lalu Lino pun menatap wajah Ana sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Gak kenapa-napa" ucap Lino.


"Udah satu menit, Na" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku pulang ya" ucap Lino.


"Ya udah iya" ucap Ana sedikit sedih.


"Jangan sedih dong, kan nanti malem aku balik lagi" ucap Lino.


Lalu Lino pun segera memeluk Ana.


Kemudian Ana pun segera membalas pelukan Lino.


"Woy! kenapa malah pelukan" ucap Raka yang tiba-tiba muncul.


Sontak Lino pun langsung melepaskan pelukannya.