
Setelah sampai di kantin Ana dan Clara pun langsung duduk bersama Naya, Lia dan Felisa.
"Luh berdua dari mana aja?" tanya Felisa.
"Dari rooftop" ucap Ana.
"Mau ngapain disana?" tanya Naya.
"Nyari udara segar" ucap Clara berbohong.
"Guys, gue mau nyamperin Raka dulu ya" ucap Ana.
"Luh berdua balikan lagi?" tanya Naya.
"Enggak, kita enggak balikan" ucap Ana.
"Yaudah gue kesana dulu ya" ucap Ana lagi.
Mereka berempat pun mengangguk mengiyakan ucapan Ana.
"Raka" panggil Ana.
"Kenapa, Na?" tanya Raka.
"Gue boleh duduk disini?" tanya Ana.
"Boleh" ucap Raka.
"Luh gak pesen makanan, Na?" tanya Raka.
"Enggak, gue gak lapar" ucap Ana.
"Luh mah kebiasaan, nanti kalau sakit gimana coba" kata Raka.
"Oh iya, kemarin Lino bilang mau baikan lagi sama luh" ucap Ana, padahal iya yang memohon-mohon kepada Lino agar Lino dan Raka baikan.
"Iya" ucap Ana.
"Luh pasti mohon-mohon ya sama Lino biar baikan lagi sama gue" ucap Raka.
"Enggak" ucap Ana berbohong.
"Bohong banget, mana ada orang yang keras kepala kayak dia mau nurunin ego nya" ucap Raka.
"Iya deh, gue yang suruh Lino buat baikan sama luh" ucap Ana.
"Luh ada hubungan apa sama dia?" tanya Raka.
"Gue gak ada hubungan sama Lino" kata Ana.
"Bohong banget! Luh pasti ada hubungan ya sama dia" ucap Raka.
"Enggak" ucap Ana.
"Gak mungkin Lino mau nurutin perkataan luh kalau kalian berdua gak ada hubungan" ujar Raka.
"Gue kan mohon sama Lino nya sampe gue nya nangis" ucap Ana.
"Luh nangis cuma agar Lino sama gue baikan?" tanya Raka.
Ana pun hanya mengangguk.
"Na, gue mohon sama luh jangan terlalu deket sama Lino ya kalau diluar sekolah" ucap Raka.
"Emangnya kenapa?" tanya Ana.
"Gue takut kalau luh kenapa-napa" ucap Raka.
"Maksudnya?" bingung Ana.
"Gue takut kejadian Acha terulang lagi" ucap Raka.
"Ka, kita kesana yuk!" ajak Ana sambil menunjuk meja yang ditempati oleh Arlino, Gilang, Bagas dan Aldi.
"Enggak ah!" ucap Raka.
"Katanya mau baikan" ucap Ana.
"Ayo!" ucap Ana dengan memelas.
Akhirnya Ana dan Raka pun menghampiri meja yang ditempati oleh Arlino, Gilang, Bagas dan Aldi.
"Guys! kita boleh duduk disini gak?" tanya Ana.
Mereka berempat pun sontak menatap kearah Raka.
"Na, gue duduk disana aja deh" ucap Raka.
"Kalau mau duduk, silahkan aja" ucap Lino.
"Tuh, kan! kita boleh kok duduk disini" ucap Ana kepada Raka.
"Ayo duduk!" ucap Ana kepada Raka.
Raka pun akhirnya duduk disamping Ana.
"Ka, gue minta maaf ya udah nuduh luh" ucap Lino tiba-tiba.
"Iya" ucap Raka.
"Nah gitu dong! kan enak kalau baikan" ucap Gilang.
"Kemarin katanya Ana mohon-mohon ya sama luh?" tanya Raka.
"Iya, dia mohon-mohon sampe nangis" ucap Lino.
"Ih, udah jangan dibahas! gue kan jadi malu" ucap Ana.
"Pinjem tangan luh" ucap Ana kepada Raka.
"Buat apa?" tanya Raka namun tidak dijawab oleh Ana.
"No, pinjem tangan luh" ucap Ana.
"Mau ngapain?" tanya Lino.
"Kalian berdua cepet salaman" ucap Ana kepada Lino dan Raka.
"Ish! kan sebagai tanda udah baikan" ucap Ana.
"Udah turutin aja, No! nanti dia nangis lagi" ucap Raka.
Akhirnya Lino dan Raka pun saling berjabat tangan.
"Luh berdua pacaran gak sih?" tanya Aldi.
"Enggak, kita cuma sahabatan" ucap Ana.
"Kirain kalian pacaran" ucap Aldi.
"Na, luh pulang sama siapa?" tanya Lino.
"Ekhem! perhatian banget luh, No" sahut Bagas.
"Gue cuma nanya doang kok, lagian gue takut aja ada yang nguntit dia" ucap Lino.
"Luh tahu?" tanya Raka.
"Iya, kemarin waktu ke rumah Clara, Clara bilang ke gue katanya ada yang nguntit Ana" ucap Lino.
"Ngapain luh ke rumah Clara?" tanya Aldi.
"Gue mau nganterin jaket sama celana Ana" ucap Lino.
"Kenapa nganterin ke rumah Clara?" tanya Aldi.
"Kan untuk sementara waktu dia nginep di rumah Clara" ucap Lino.
"Luh pinjem jaket sama celana Ana? berarti luh main ke rumah Ana dong" tanya Bagas.
"Iya, soalnya waktu itu gue gak bawa baju sama celana ganti" ucap Lino.
"Tapu gue ke rumah Ana nya sama Gilang dan Clara juga kok" kata Lino.
"Oh iya, kenapa ada yang nguntit Ana?" tanya Bagas.
"Gue juga gak tahu" ucap Ana.
"Gue si curiga kalau yang nguntit Ana tuh orang yang bully Chika" ucap Raka.
"Bisa jadi tuh" ucap Gilang.
"Luh tahu Chika?" tanya Raka.
"Tahu, waktu itu kan Ana curhat sama gue, Lino dan Clara" ucap Gilang.
"Chika siapa?" tanya Bagas dan Aldi bersamaan.
"Luh berdua tahu gak rumor yang katanya Ana yang bikin seseorang jadi bunuh diri?" tanya Gilang.
"Tahu" ucap Bagas dan Aldi.
"Nah! yang bunuh diri itu namanya Chika, dia sahabatnya Ana" ucap Gilang.
Ana pun langsung bersedih saat Gilang membahas tentang Chika.
Raka yang peka pun langsung memegang tangan Ana.
"Udah jangan bahas itu" ucap Raka.
"Lebih baik kita kelas! bentar lagi masuk" ucap Raka.
"Iya bener! lebih baik kita ke kelas" ucap Lino
Ana, Lino, Gilang, Bagas dan Aldi pun pergi ke kelas XI MIPA 4, sedangkan Raka pergi ke kelas XI IPS 1.
Skip
Ana dan Clara pun segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk temannya Ana yang bernama Bina.
Setelah sampai di rumah sakit, kita pun bertanya kepada perawat untuk mengetahui ruangan yang ditempati oleh Bina.
Lalu Ana pun langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.
Kemudian pintu pun dibuka oleh seseorang.
Saat masuk Ana terkejut sebab banyak sekali orang yang datang menjenguk temannya itu.
"Hallo semuanya" ucap Ana.
"Rame banget" bisik Clara kepada Ana.
"Eh Ana, sini" ucap Bina.
Ana dan Clara pun segera menghampiri Bina.
"Kangen banget" ucap Ana.
"Sama gue juga" ucap Bina.
"Oh iya kenalin, ini temen gue. Namanya Clara" ucap Ana.
"Hai Clara" ucap Bina.
"Hai Bina" ucap Clara.
"Eh tunggu deh, kok gue kayak pernah lihat luh" ucap salah satu cowok kepada Clara.
Clara pun langsung menatap cowok tersebut, dan ternyata itu adalah Ardan. Cowok yang ia sukai.
"Ardan" batin Clara.
"Masih inget gue gak? dulu luh pernah bantuin gue ngambil makanan di supermarket sebab letak makanannya ketinggian" ucap Clara.
"Iya gue inget! Udah lama ya gak ketemu" ucap Ardan.
"Iya" ucap Clara sambil tersenyum.
"Oh iya, gue boleh minta nomor telepon luh gak?" tanya Clara.
"Boleh" ucap Ardan sambil menunjukkan nomor teleponnya.
Clara pun segera memasukkan nomor telepon Ardan pada kontak nya.