ARLINO

ARLINO
Episode 30



Sesampainya di rumah Clara, Ana dan Lino pun segera masuk kedalam rumah Clara.


Ana dan Lino pun langsung menghampiri Clara dan Raka yang sedang duduk di ruang tamu.


"No, luh cepet banget sih bawa motornya" ucap Clara.


"Ya wajar lah, Ra. Lino kan suka balapan" ucap Raka.


"Luh kan juga pernah ikut balapan, Ka. Kenapa luh gak bisa cepet?" tanya Clara.


"Kan gue nungguin luh kunciin pintu dulu" ucap Raka.


"Oh iya juga ya" ucap Clara sambil nyengir.


"Na, luh kenapa bisa berdarah kayak gitu?" tanya Clara.


"Gue tadi kegores" ucap Ana.


"Iya tahu, tapi kegores apa?" tanya Clara.


"Hmm...gue kegores ranting pohon" ucap Ana berbohong.


"Luh bohong!" sahut Raka.


"Beneran, Ka" ucap Ana.


"Gue tahu luh bohong" ucap Raka.


"Tahu dari mana? emangnya luh peramal" ucap Ana.


"Pasti gara-gara penguntit itu kan?" tanya Raka.


Ana pun langsung terdiam.


"Enggak kok, Ana emang kena ranting pohon" ucap Lino berbohong.


"Luh pasti disuruh Ana biar gak bilang bahwa penguntit itu kesini" ucap Raka.


Lino pun langsung terdiam.


"Itu penguntit kenapa sih ngincer Ana" ucap Raka kesal.


"Ra, di depan rumah ada CCTV gak?" tanya Lino.


"Ada" ucap Clara.


"Boleh gue lihat rekaman CCTV nya?" tanya Lino.


"Boleh" ucap Clara.


"Yaudah ayo ikut gue" ucap Clara.


Mereka pun mengikuti Clara untuk melihat kejadian Ana dan penguntit itu di rekaman CCTV.


Saat melihat CCTV itu, Lino pun kaget melihatnya karena sosok itu mirip dengan orang yang nyelakain Acha waktu di rumah sakit.


"Dia mirip sama orang yang nyelakain Acha" ucap Lino.


Sontak Ana, Raka dan Clara pun langsung menatap kearah Lino.


"Dia yang nyelakain Acha?" tanya Clara.


"Iya" ucap Lino.


"Luh tahu orangnya?" tanya Clara lagi.


"Enggak, kalau gue tahu udah gue laporin dia ke polisi" ucap Lino.


"Gue kira orang itu yang bully Chika" ucap Ana.


"Kalau bukan yang ngebully Chika, terus kenapa dia nguntit Ana?" tanya Clara.


"Gue juga gak tahu" ucap Lino.


"Apa jangan-jangan karena luh deket sama Ana?" tanya Raka.


"Mungkin aja itu musuh luh, terus dia pikir Ana itu pacar luh makanya dia ikutin Ana" ucap Clara kepada Lino.


"Besok kan libur, gimana kalau luh berdua ajak temen-temen cewek luh kesini biar kalian gak cuma berdua disini" ucap Lino kepada Ana dan Clara.


"Oke nanti gue bakal ajakin Lia, Naya, dan Felisa biar dia nginep disini" ucap Clara.


"Nanti gue sama Raka biar tidur di luar rumah aja, biar jagain kalian" ucap Lino.


"Gue gak mau! Luh aja yang tidur di luar rumah, gue mau di ruang tamu aja" ucap Raka.


Ana dan Clara pun langsung tertawa mendengar ucapan Raka.


"Udah luh didalem aja, No! lagian masih ada kamar kok" ucap Clara.


"Yaudah gue di kamar aja, berarti luh di ruang tamu ya, Ka" ucap Lino balas dendam.


"Enak aja! gue gak mau" ucap Raka.


"Yaudah kalian berdua tidur dikamar tamu aja" ucap Clara.


"Gak mau!" ucap Lino dan Raka bersamaan.


"Kenapa gak mau?" tanya Ana.


"Nanti dikira kita homo lagi" ucap Raka dan Lino.


Ana dan Clara pun tidak bisa menahan tawanya lagi. Karena menurutnya Lino dan Raka sangat lucu kalau sedang berantem.


"Yaudah biar adil, kalian tidur di ruang tamu aja" ucap Clara.


"Yaudah deh, kita di ruang tamu aja. Lagian sambil nonton pertandingan sepakbola di tv" ucap Lino.


"Oh iya, luh berdua udah chat temen-temen kalian belum" ucap Lino.


"Belum" ucap Clara dan Ana.


Clara pun langsung mengirim pesan kepada sahabat-sahabat untuk datang ke rumahnya.


"Kita belanja yuk! kan pasti nanti banyak orang" ucap Ana.


"Yuk!" ucap Clara.


"Luh lebih baik tunggu aja disini, tangan Luh kan masih sakit" ucap Raka.


"Nanti kalau ada penguntit itu kesini gimana?" tanya Clara kepada Raka.


"Biar Lino aja yang nemenin Ana" ucap Raka.


"Kok gue?" tanya Lino.


"Kan luh jago bela diri, makanya luh jagain Ana" ucap Raka.


"Yaudah ayo kita belanja" ucap Clara kepada Raka.


"Ayo" ucap Raka.


Clara dan Raka pun segera pergi ke mini market dengan mengendarai motor milik Raka.


"Luh jago bela diri?" tanya Ana.


"Gak terlalu jago" ucap Lino.


"Pasti luh sering berantem ya?" tanya Ana.


"Kadang-kadang" ucap Lino.


Ana pun menyalakan televisi agar suasana tidak canggung.


"Kenapa nyalain televisi?" tanya Lino kepada Ana.


"Ya karena gue pingin nonton televisi" ucap Ana.


"Bukan karena canggung?" tanya Lino memastikan.


Ana pun terdiam karena menurutnya Lino seperti tahu isi pikiran Ana.


"Bukan, mana ada gue canggung sama luh" ucap Ana.


"Beneran?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


"No, gue gak akan kenapa-napa kan?" tanya Ana.


Lino pun langsung terdiam karena mendengar ucapan Ana.


"No, jawab!" ucap Ana.


"Luh gak akan kenapa-napa kok, Na" ucap Lino agar menenangkan Ana namun sebenarnya Lino pun takut kalau Ana kenapa-napa.


"Luka luh masih sakit" tanya Lino mengalihkan pembicaraan.


"Masih, tapi gak terlalu perih sih" ucap Ana.


"Gue ke toilet dulu ya, Na" ucap Lino.


"Gue ikut" ucap Ana karena ia ketakutan.


"Luh mau ikut masuk kedalam toiletnya?" tanya Lino sambil menahan tawanya.


"Maksudnya, gue tunggu di luar" ucap Ana.


"Luh takut kalau gue tinggal?" tanya Lino.


Ana pun hanya mengangguk.


Lino pun segera menuju pintu rumah Clara.


"Mau kemana?" tanya Ana.


"Mau ngunci pintu" ucap Lino sambil mengunci pintu rumah Clara.


"Kenapa dikunci?" tanya Ana.


"Katanya luh takut" ucap Lino.


"Yaudah gue ke toilet dulu ya" ucap Lino.


Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.


Lino pun segera pergi ke toilet untuk buang air kecil.


Setelah buang air kecil, Lino pun segera kembali menghampiri Ana yang sedang menonton televisi.


"Luh suka nonton kartun?" tanya Lino karena melihat Ana yang sedang menonton kartun di televisi.


"Suka" ucap Ana.


"Pantes aja tingkah luh kayak bocil" ucap Lino.


"Enak aja gue bukan bocil" kesal Ana.


Lino pun tertawa kecil karena melihat Ana yang kesal kepadanya.


"Malah ketawa lagi" kesal Ana.


"Luh lucu kalau lagi marah" ucap Lino.


"Kok luh aneh sih! kenapa waktu gue ketawa bilangnya gue jelek, sedangkan kalau gue lagi marah bilangnya malah lucu" ucap Ana.


"Ya habis nya emang luh lucu kalau lagi marah" ucap Lino.


"Nanti sering-sering marah ya sama gue, biar luh kelihatan lucu" ucap Lino lagi.


"Dasar aneh" ucap Ana.