ARLINO

ARLINO
Episode 125



Setelah sampai di parkiran sekolah, mereka berdua pun segera turun dari mobil.


Setelah itu, mereka berdua pun segera pergi menuju kelasnya.


Setelah sampai, mereka berdua pun segera masuk kedalam kelas dan langsung duduk dikursinya masing-masing.


"Guys! jadwal UAS buat hari Senin udah gue kirim di chat grup kelas" teriak Legi.


"Enggak kerasa udah UAS aja" ucap Gilang.


"Iya bener, gak kerasa udah mau kelas dua belas aja" ucap Lino.


"Nanti pas kelas dua belas, luh bakal bolos gak?" tanya Gilang.


"Hmm...kayaknya gue gak akan bolos deh" ucap Lino.


"Alah paling nanti juga luh bolos" ucap Gilang.


...****...


*Skip


Krining...krining*


Bel istirahat pun berbunyi.


"No, aku ke kantinnya bareng temen-temen ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera pergi ke kantin bersama teman-temannya.


Setelah sampai di kantin, mereka berlima pun segera memesan makanan dan minuman.


Setelah memesan makanan dan minuman, mereka pun segera duduk ditempat yang telah disediakan.


"Guys, kalian jadi gak ke pasar malamnya?" tanya Lia.


"Jadi dong" ucap Felisa.


"Naik apa aja kesananya?" tanya Lia.


"Naik kora-kora, bianglala sama ombak banyu" ucap Clara.


"Oh iya, Na! luh semalam sama Lino langsung dianterin pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya Felisa.


"Langsung pulang lah, ya kali jalan-jalan dulu" ucap Ana.


"Siapa tahu kan jalan-jalan dulu" ucap Felisa.


"Lino juga ikut?" tanya Lia.


"Iya, sama Bagas juga ikut" ucap Felisa.


"Oh iya hari Senin kan UAS, gimana kalau kita belajar bareng" usul Naya.


"Ayo" ucap Ana, Clara, Lia dan Felisa.


"Mau belajar dimana?" tanya Lia.


"Di rumah luh aja" ucap Naya.


"Gimana? boleh gak?" tanya Naya.


"Boleh kok" ucap Lia.


"Belajarnya mau hari Sabtu atau Minggu?" tanya Lia.


"Minggu aja" ucap Felisa.


"Oh iya, nanti biar gue jemput luh bertiga ya" ucap Naya kepada Ana, Clara dan Felisa.


"Oke" ucap Ana, Clara dan Felisa bersamaan.


Kemudian Lino pun segera menghampiri Ana dan teman-temannya.


"Nih" ucap Lino sambil memberikan ice chocolate kepada Ana.


"Buat aku?" tanya Ana memastikan.


"Iya lah" ucap Lino.


"Makasih" ucap Ana sambil mengambil ice chocolate tersebut.


"Iya sama-sama" ucap Lino.


"Ya udah aku pergi dulu ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera pergi.


Kemudian Ana pun segera meminum ice chocolate yang diberikan Lino.


"Kenapa pada lihatin gue?" tanya Ana.


"Lino perhatian banget ya sama luh" ucap Felisa.


"Iya dia perhatian banget" ucap Ana.


"Gue jadi iri deh" ucap Lia.


"Iri sama gue?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lia.


"Luh tuh diperlakukan seperti ratu tahu gak sama Lino" ucap Lia.


"Lino kalau sama pasangannya tuh kan emang suka memperlakukan pasangannya kayak ratu" sahut Clara.


"Kalau sama Acha, Lino juga pasti gitu kan?" tanya Ana.


...****...


Skip


Bel pulang sekolah pun berbunyi.


Semua siswa dan siswi kelas XI MIPA 4 pun segera membereskan buku-bukunya kedalam tas. Lalu sebagian orang pun segera keluar kelas dan sebagian lagi masih berada didalam kelas.


"No, aku mau ke perpustakaan dulu ya soalnya mau ngembaliin buku" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera pergi ke perpustakaan bersama dengan Felisa.


"Nay" panggil Lino.


"Kenapa?" tanya Naya.


"Nih gantungan kunci luh jatuh" ucap Lino sambil memberikan gantungan kunci berbentuk pedang kepada Naya.


"Oh iya, makasih" ucap Naya sambil mengambil gantungan kunci tersebut.


"Itu beneran punya luh kan?" tanya Lino memastikan.


"Iya ini punya gue" ucap Naya.


"Oh jadi luh penguntit Ana" ucap Lino.


Sontak Clara yang duduk disebelah Naya pun langsung melihat kearah Lino.


"Maksud luh apaan?" tanya Naya.


"Luh kan penguntit Ana" ucap Lino.


"Gue gak nguntit Ana kok" ucap Naya.


"Kalau bukan luh penguntitnya, kenapa luh ngaku kalau itu gantungan kunci luh" ucap Lino.


"No, ada apa sih?" tanya Clara.


"Dia penguntitnya, Ra" tunjuk Lino kepada Naya.


"Kok luh bisa nuduh Naya penguntitnya sih" ucap Clara.


"Soalnya dia bilang kalau gantungan kunci itu punya dia, udah jelas-jelas itu gantungan kunci penguntit itu" ucap Lino.


"Heh, luh apa-apaan sih pake nuduh Naya. Emangnya gantungan kunci itu cuma punya penguntit itu apa. Lagian gantungan kunci kayak gitu bukan cuma satu kali" ucap Bagas yang tiba-tiba datang menghampiri Lino, Naya dan Clara.


"Ya udah, Nay! ayo pulang" ucap Bagas sambil menarik tangan Naya.


"Yang dibilang Bagas bener, No. Lagian gantungan kunci kayak gitu kan bukan cuma satu" ucap Clara.


"Tapi tulisan tangan penguntit itu mirip sama tulisan Naya, Ra" ucap Lino.


"Luh tahu dari mana kalau tulisan penguntit itu mirip sama tulisan Naya?" tanya Clara.


"Karena Ana yang bilang sama gue" ucap Lino.


Kemudian Ana dan Felisa pun segera masuk kedalam kelas untuk mengambil tasnya.


"Ada apa nih?" tanya Felisa karena melihat wajah Lino dan Clara yang sedang serius.


"Na, emang bener ya tulisan tangan Naya mirip sama tulisan tangan penguntit itu?" tanya Clara.


Ana pun hanya terdiam.


"Na, jawab aja" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Berarti bener dong kalau Naya yang nguntit luh bahkan sampe ngelukain luh" ucap Clara.


"Tapi mungkin aja tulisannya emang mirip" ucap Ana karena ia takut salah menuduh Naya sebagai penguntitnya.


"Bukan mirip lagi, Na! itu emang tulisan dia" ucap Lino.


"Tadi juga waktu aku kasih gantungan kunci itu, dia sendiri bilang emang itu punya dia" ucap Lino.


Ana pun terkejut saat mendengar ucapan Lino.


"Kenapa Naya nguntit Ana?" tanya Felisa.


"Kalau itu gue juga gak tahu, tapi yang pasti dia nyuruh supaya Ana ngejauhin gue" ucap Lino.


"Apa jangan-jangan Naya suka sama luh, makanya dia nyuruh Ana supaya jauhin luh" ucap Clara kepada Lino.


"Kalau beneran kayak gitu, kok Naya tega banget ya sampe ngelukain Ana segala" ucap Felisa.


"Gue jadi curiga kalau dia yang nyelakain Acha" ucap Lino.


"No! kamu jangan nuduh kayak gitu, kan belum tentu kalau Naya pelakunya" ucap Ana.


"Ya udah aku pulang duluan ya" ucap Ana sambil pergi.


"Na, tunggu" teriak Lino.


Lalu Lino pun segera menyusul Ana.


"Naya kok jahat banget ya sama Ana" ucap Clara.


"Ra, apa bener ya kata Lino kalau Naya yang nyelakain Acha?" tanya Felisa.


"Kalau itu sih gue gak tahu, Fel" ucap Clara.


""Ya udah, sebaiknya kita pulang aja yuk" ucap Clara.


"Ya udah ayo" ucap Felisa.


Lalu mereka berdua pun segera pergi menuju parkiran sekolah.