
Pagi hari
"Na, itu Lino udah nunggu didepan" ucap mamah.
"Iya" ucap Ana sambil mengambil helmnya.
Lalu Ana segera menghampiri mamahnya.
"Ana berangkat dulu ya, mah" ucap Ana sambil salam.
"Iya, hati-hati ya" ucap mamah.
"Iya, mah" ucap Ana.
Ana segera pergi keluar untuk menghampiri Lino.
"Pagi, No" ucap Ana sambil tersenyum.
"Pagi juga" ucap Lino sambil membalas senyuman Ana.
"Ya udah ayo naik" perintah Lino.
Ana segera naik ke motor Lino.
Setelah itu, Lino segera melajukan motornya menuju sekolah.
( Diperjalanan )
"Kamu kenapa gak pake baju olahraga?" tanya Lino.
"Kan aku udah bilang kalau aku gak mau olahraga" ucap Ana.
"Nanti dimarahin loh kalau gak ikut olahraga" ucap Lino.
"Nanti kan aku bakal pura-pura sakit biar gak dimarahin" ucap Ana.
"Tapi muka kamu gak kelihatan kayak orang sakit" ucap Lino.
"Ya udah nanti aku hapus aja liptint dibibir aku, biar nanti aku jadi kelihatan sakit" ucap Ana.
"Tapi mukanya gak pucet" ucap Lino.
"Nanti aku pake bedak lagi biar tambah pucet" ucap Ana.
"Nanti kalau ketahuan bohong bisa-bisa dihukum loh" ucap Lino.
"Ih jangan nakutin" ucap Ana.
"Enggak nakutin kok, kan emang bener kalau ketahuan bohong bakal dihukum" ucap Lino.
"Ya udah deh, aku olahraga aja" ucap Ana.
"Kamu bawa baju olahraga nya gak?" tanya Lino.
"Bawa, di tas" ucap Ana.
"Oh iya, jangan lupa taruhan" ucap Lino.
"Iya, aku inget kok" ucap Ana.
"Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya kalau kamu menang" ucap Ana.
"Iya, aku gak bakal minta yang aneh-aneh kok" ucap Lino.
Sesampainya diparkiran sekolah, mereka berdua segera turun dari motor. Kemudian mereka segera pergi menuju kelasnya.
"Oh iya, kamu udah minta maaf belum sama Clara dan Felisa?" tanya Ana.
"Udah kok" ucap Lino.
"Kalau sama Lia?" tanya Ana.
"Kan aku udah bilang kalau dia udah minta maaf sama kamu, aku juga bakal minta maaf ke dia" kata Lino.
"Bagas" panggil Ana.
Sontak Bagas langsung melihat kearah Ana.
"Baju sama celana nya nanti ya dibalikin ya, soalnya masih belum kering" ucap Ana.
"Iya, santai aja kali" ucap Bagas.
Lalu Bagas segera pergi ke kelas mendahului Ana dan Lino.
"Na" panggil Lino.
"Apa?" ucap Ana.
"Kemarin padahal aku telepon Bagas loh, katanya dia gak sama kamu" ucap Lino.
"Mungkin kamu teleponnya pas aku belum sampe rumah Bagas kali, makanya dia bilang gak sama aku" ucap Ana.
"Tapi kan setidaknya pas kamu sampe di rumah Bagas, harusnya dia telepon aku dong" ucap Lino.
"Mungkin dia lupa kali, No" ucap Ana.
"Pas di rumah Bagas, ngapain aja?" tanya Lino.
"Cuma ngobrol doang kok" ucap Ana.
"Emang kenapa gitu nanya kayak gitu? kamu cemburu ya?" tanya Ana sambil tersenyum.
"Enggak, aku cuma nanya doang" ucap Lino.
"Ya udah ayo masuk ke kelas" suruh Lino.
Akhirnya mereka berdua segera masuk kedalam kelas.
Ketika sampai di kelas, Ana segera mengambil baju dan celana olahraga nya. Setelah itu, ia segera pergi menuju toilet untuk berganti pakaian.
Sesudah berganti pakaian, Ana segera kembali menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas, ternyata teman-temannya sudah pergi menuju lapangan.
Ana buru-buru meletakan seragamnya di meja, kemudian ia segera pergi menuju lapangan.
Saat sampai di lapangan, Ana melihat teman-temannya sedang bermain basket.
"Yah, kalah taruhan deh" batin Ana.
"Hei kamu! sini!" ucap guru olahraga.
Ana segera pergi menghampiri guru tersebut.
"Iya kenapa, pak?" tanya Ana.
"Dari mana aja?" tanya guru olahraga.
"Dari toilet, pak" ucap Ana.
"Ya sudah silahkan ambil bola basket, terus latihan dribble" ucap guru tersebut.
"Baik, pak" ucap Ana.
Ana segera mengambil bola basket, kemudian ia mendribble bola tersebut.
Lino menghampiri Ana.
"Na, nanti turutin keinginan aku ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
...****...
Krining...Krining
Bel istirahat berbunyi
Anak-anak kelas XII MIPA 4 segera kembali ke kelasnya.
Sesampainya di kelas, Ana segera menuju ke kursinya.
"Loh seragam gue mana?" gumam Ana.
Ana segera mencari seragamnya di kolong meja dan tas nya namun tidak ada.
"Nyari apa, Na?" tanya Lino.
"No, seragam aku gak ada" ucap Ana panik.
"Loh kok bisa" ucap Lino.
"Emang tadi kamu simpen dimana seragamnya?" tanya Lino lagi.
"Tadi aku simpen di meja" ucap Ana.
"No, gimana dong" ucap Ana.
"Guys! ada yang lihat seragamnya Ana gak?" tanya Lino kepada teman-temannya.
"Enggak" ucap semuanya.
"Emang tadi disimpen dimana, Na?" tanya Clara.
"Gue tadi nyimpen seragamnya di meja" ucap Ana.
"Coba lapor ke tata usaha aja, Na. Nanti biar diumumin kalau luh kehilangan seragam" ucap Felisa.
"Ya udah ayo ke TU" ajak Lino.
Ana dan Lino segera keluar dari kelasnya.
Saat di luar, Lino melihat ada sesuatu di tempat sampah depan kelasnya.
"Na" panggil Lino.
"Apa?" ucap Ana.
"Itu seragam kamu bukan?" tunjuk Lino.
Ana segera melihat kearah yang ditunjuk oleh Lino.
Lalu Ana segera menghampiri tong sampah tersebut dan ia langsung mengambil baju seragamnya.
Ana hanya memandangi baju seragamnya yang kotor karena terkena bekas makanan dan minuman.
"Ini ulah siapa sih?!" kesal Lino.
Lino langsung mengambil seragam Ana dan ia segera masuk kedalam kelasnya.
"Ini ulah siapa sih! pake acara buang baju Ana ke tong sampah segala" murka Lino.
"Gue gak tahu, No. Kan kita semua tadi ke lapangan" ucap Yoga.
"Tadi siapa yang gak olahraga?" tanya Lino.
"Kita tadi olahraga semua, No" ucap Legi.
"Tapi tadi gue lihat Lia ke kelas" ucap Zahra.
"Gue ke kelas cuma ngambil handphone, terus habis itu gue balik lagi" ucap Lia.
"Oh gue tahu, ini pasti kerjaan luh kan" tuduh Lino kepada Lia.
"Luh kok jadi nyalahin gue" ucap Lia.
"Kan dikelas ini cuma luh yang gak suka sama Ana" ucap Lino.
"Dikelas ini bukan cuma gue kali yang gak suka sama Ana, jadi luh jangan nuduh gue tanpa bukti" ucap Lia.
Ana yang mendengar ucapan Lia langsung buru-buru pergi menuju rooftop.
Sesampainya di rooftop, Ana hanya duduk sambil menatap lurus ke depan.
"Jadi dikelas, banyak banget ya yang benci sama gue" batin Ana.
****
Lino segera mencari Ana keluar kelasnya, namun ia tidak melihat Ana sama sekali.
Lalu Lino segera menelepon Ana.
Beberapa detik kemudian, Ana mengangkat panggilan telepon dari Lino.
"Na, kamu dimana?" tanya Lino.
"Aku di rooftop, No" ucap Ana.
"Ngapain ke rooftop?" tanya Lino.
"Gak ngapa-ngapain sih, aku cuma lagi nikmatin udara disini aja" ucap Ana.
"Ya udah kamu tunggu disitu ya, sekarang aku kesana" ucap Lino.
Lino segera mematikan panggilan teleponnya dan ia segera pergi ke rooftop.
Ketika sampai di rooftop, Lino segera menghampiri Ana.
"Aku tadi udah bilang kok ke guru mata pelajaran selanjutnya dan dia bilang gak apa-apa kok kalau kamu pake baju olahraga juga" jelas Lino.
"Beneran gak apa-apa?" tanya Ana.
"Iya gak apa-apa, lagian kan seragam kamu kotor" ucap Lino.
"Ya udah ke kantin yuk!" ajak Lino.
"Aku gak lapar, No" ucap Ana.
"Masa habis olahraga gak lapar sih" heran Lino.
"Kan emang aku gak lapar" ucap Ana.
"Kamu haus gak?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
"Aku beliin minum aja ya, takutnya kamu dehidrasi" ucap Lino.
"Gak usah, No" ucap Ana.
"Gak apa-apa, kamu kan punya penyakit anemia jadi harus banyak minum air putih" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu aku ke kantin dulu ya, nanti aku kesini lagi kok" ucap Lino.
Lino segera pergi ke kantin.
Beberapa menit kemudian....
Lino segera kembali menghampiri Ana.
"Makasih" ucap Ana sambil mengambil air mineral tersebut.
"Bisa gak bukanya?" tanya Lino.
"Bisa kok" ucap Ana sambil membuka botol air mineral.
Setelah botol nya terbuka, Ana segera meminum air mineral tersebut.
"No" panggil Ana.
"Iya, kenapa?" tanya Lino.
"Gimana sih caranya biar disukai orang-orang?" tanya Ana.
"Ya kamu harus baik, jadi orang-orang bakal baik sama kamu" ucap Lino.
"Tapi aku udah baik kok sama mereka, tapi tetep aja mereka gak suka sama aku" ucap Ana.
"Na, setiap orang yang baik belum tentu semua orang suka. Karena sebaik-baiknya orang pasti ada aja yang benci sama orang itu walaupun orang itu udah baik sama semua orang" jelas Lino.
"Oh iya, No! seragam aku dikemanain?" tanya Ana.
"Seragam kamu disimpen di kolong meja kamu, oh iya tadi aku juga udah masukin seragam kamu ke kantong plastik" ucap Lino.
"Makasih ya, No" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino.
"Eh ada kalian" ucap Gilang yang tiba-tiba muncul.
"Luh ngapain kesini?" tanya Lino.
"Gue mau ngerokok, makanya gue kesini" ucap Gilang sambil menghisap rokok.
"Luh mau rokok gak, No?" tanya Gilang.
Lino langsung melihat kearah Ana.
"Kenapa lihatin aku?" tanya Ana.
"Lino mau minta ijin ngerokok kali makanya lihat kearah luh" ucap Gilang.
"Kalau mau ngerokok ya ngerokok aja, lagian aku gak larang kok" ucap Ana.
"Nih" ucap Gilang sambil memberikan sebatang rokok kepada Lino.
"Gue gak mau" ucap Lino.
Gilang langsung tertawa kecil.
"Kenapa luh ketawa?" tanya Lino.
"Gue pingin ketawa aja, kan waktu dulu luh badboy eh gara-gara pacaran sama Ana luh berubah jadi softboy" ucap Gilang.
"Ya bagus dong! berarti kalau sama Ana gue menjadi orang yang lebih baik" ucap Lino.
"Ya iya sih" ucap Gilang.
"Oh iya, No! kamu kenapa belum ganti baju?" tanya Ana.
"Aku gak bakal ganti baju, Na" ucap Lino.
"Kenapa gak ganti?" tanya Lino.
"Soalnya biar kamu ada temennya, makanya aku gak ganti" ucap Lino.
"Oh iya, emang yang buang seragam Ana ke tong sampah itu ulah Lia ya?" tanya Gilang.
"Kayaknya sih iya ulah Lia" ucap Lino.
"Kamu jangan nuduh Lia, kan belum tentu juga Lia yang buang seragam aku" ucap Ana.
"Emang Ana punya masalah apa sih ke Lia? kok sampe-sampe Lia benci banget sama Ana" ucap Gilang.
"Emang Felisa gak ngasih tahu luh ya?" tanya Lino.
"Enggak. Soalnya kata Felisa, gue gak perlu ikut campur masalah orang. Jadi gue gak dikasih tahu sama dia" ucap Gilang.
"Hmm...apa ini menyangkut soal Naya ya?" tebak Gilang.
Lino hanya mengangguk.
"Lia nyalahin Ana?" tanya Gilang.
Lino kembali mengangguk.
"Kok jadi Ana yang disalahin sih. Kan yang nguntit Naya, kenapa Lia jadi nyalahin Ana" heran Gilang.
"Sebenernya masalah utama dia benci Ana bukan itu sih menurut gue" ucap Lino.
"Terus apa masalahnya?" tanya Gilang.
"Lia suka sama Bagas, tapi kan luh tahu sendiri kalau Bagas suka sama Ana. Makanya Lia nyari-nyari alasan buat benci sama Ana" ucap Lino.
"Drama banget ya cewek" ucap Gilang.
"Guys, udah! jangan ngegosip mulu" ucap Ana.
"Na, luh sakit ya? kok kayak lemes gitu" ucap Gilang.
"Gue gak sakit, gue cuma lapar aja" ucap Ana.
"Tadi katanya gak lapar" ucap Lino.
"Tadi sih emang gak lapar, tapi sekarang aku lapar" ucap Ana.
"Ya udah ayo ke kantin!" ajak Lino.
"Tapi kan bentar lagi mau masuk" ucap Ana.
"Ya gak apa-apa, nanti kalau masuk bilang aja kalau kamu habis dari toilet" ucap Lino.
"Ya udah ayo ke kantin" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
"Lang, mau ikut gak?" tanya Ana.
"Enggak" ucap Gilang.
Akhirnya Ana dan Lino segera pergi ke kantin.
* Kantin
"Kamu duduk dulu aja, nanti biar aku aja yang pesenin" ucap Lino.
"Oh ya udah" ucap Ana.
"Kamu mau apa?" tanya Lino.
"Aku mau bakso sama ice tea" ucap Ana.
"Ya udah tunggu ya, aku mau beliin dulu" ucap Lino.
Lino segera pergi.
Skip
Beberapa menit kemudian, Lino segera kembali menghampiri Ana.
"Ini" ucap Lino sambil meletakkan pesanannya dan pesanan Ana.
"Makasih, sayang" ucap Ana.
Sontak Lino langsung melihat kearah Ana dan ia tersenyum kepada Ana.
"Ya udah cepet makan" ucap Lino.
Mereka berdua segera menikmati makanan dan minuman tersebut.
"Oh iya, kamu kan menang taruhan ya. Terus kamu mau minta apa ke aku?" tanya Ana.
"Nanti deh aku pikir-pikir dulu" ucap Lino.
"Jangan minta yang mahal ya, soalnya aku kan gak kaya" ucap Ana
"Iya, gak bakal kok" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Kamu emang mikir nya aku minta apa? kok sampe bilang jangan minta yang mahal" ucap Lino.
"Aku mikirnya kamu mau minta motor" ucap Ana.
"Gak bakal lah aku minta motor sama kamu, lagian aku bukan cowok matre" ucap Lino.
"Iya aku juga tahu, tapi siapa tahu kan kamu mau minta motor" ucap Ana.
"Kamu tenang aja, aku gak bakal minta barang yang mahal kok" ucap Lino.
"Paling aku cuma minta cium doang" canda Lino.
"Uhuk...uhuk" Ana langsung tersedak akibat mendengar ucapan Lino.
"Nih minum dulu" ucap Lino panik.
Ana langsung meminum minuman yang diberikan Lino.
"Kamu kaget ya denger ucapan aku?" tanya Lino sambil tersenyum.
"Ya kaget lah" ucap Ana.
"Aku tadi cuma bercanda kok" ucap Lino.
"Iya aku juga tahu, tapi tetep aja aku kaget dengernya" ucap Ana.
"Kalau beneran minta cium bakal diturutin gak?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
"Walaupun cium nya dipipi?" tanya Lino.
"Hmm...kalau dipipi gak masalah sih asal jangan dibibir" ucap Ana.
"Kenapa kalau di pipi gak jadi masalah? bukannya dua-duanya sama-sama nyium ya" ucap Lino.
"Soalnya kan kalau dibibir terlalu-" ucap Ana.
"Terlalu apa?" tanya Lino.
"Hmm...ya gitu pokoknya" ucap Ana.
"Gitu kenapa?" tanya Lino sambil menahan tawanya.
"Pokoknya gitu lah" jawab Ana.
"Emang kamu mau minta aku buat cium kamu ya?" tanya Ana memastikan.
"Enggak kok" ucap Lino.
"Terus kenapa ngebahas tentang ciuman?" tanya Ana.
"Ya aku kan cuma nanya doang" ucap Lino.
"Terus kamu mau apa dari aku?" tanya Ana.
"Aku mau kamu besok buatin makanan buat aku" ucap Lino.
"Pagi atau udah pulang sekolah?" tanya Ana.
"Pagi, jadi nanti aku gak usah beli makanan di kantin karena kan udah dimasakin kamu" ucap Lino.
"Ya udah besok aku buatin makanan buat kamu" ucap Ana.
"Buatan kamu ya, jangan buatan mamah kamu" ucap Lino.
"Iya, nanti aku yang masak" ucap Ana.
"Udah cuma itu doang permintaannya?" tanya Ana.
"Iya udah itu doang" ucap Lino.
Setelah selesai makan dan minum, mereka berdua segera pergi menuju kelasnya.
* Kelas XII MIPA 4
"Maaf, Bu. Kita terlambat masuk" ucap Ana dan Lino.
"Kalian dari mana aja?" tanya guru.
"Tadi kita disuruh bantuin orang yang pingsan di UKS" bohong Lino.
"Ya sudah silahkan duduk" ucap guru tersebut.
Lalu Ana dan Lino segera duduk.
"No, ngapain duduk disini?" tanya Ana pelan.
"Soalnya kursinya nyaman, makanya aku duduk disini" kata Lino.
"Alah alesan" ucap Ana.
Lino hanya tersenyum karena mendengar ucapan Ana.
Lino menggenggam tangan Ana.
Sontak Ana langsung melihat kearah tangannya yang digenggam oleh Lino.
"Bu, ada yang pacaran dikelas" teriak Gilang saat melihat Ana dan Lino yang sedang pegangan tangan.
Sontak Ana dan Lino langsung melepaskan genggamannya karena kaget mendengar teriakan Gilang.
"Siapa yang pacaran dikelas?" tanya guru.
"Lino sama Ana, Bu" ucap Gilang.
Lino langsung menatap tajam kearah Gilang.
"Sialan luh" batin Lino.
"Lino, cepet pindah!" tegas guru.
"Iya, Bu" ucap Lino.
Lalu Lino segera pergi ke kursi disebelah Gilang.
Gilang hanya bisa menahan tawanya karena berhasil membuat Lino dimarahi oleh guru.