ARLINO

ARLINO
Episode 252



* Kelas


"Kalian dari mana?" tanya Bu Risa.


"Tadi saya habis dari toilet, Bu" bohong Bagas.


"Kalau kamu?" tanya Bu Risa.


"Saya juga habis dari toilet, Bu" bohong Ana.


"Ya udah cepet duduk" ucap Bu Risa.


Ana dan Bagas segera berjalan menuju kursi masing-masing.


"Na, itu dari Lino" ucap Lia.


Ana segera memasukan air mineral dan roti tersebut ke kolong mejanya. Lalu ia segera duduk dikursinya.


Kemudian Ana segera memakan roti tersebut secara sembunyi-sembunyi agar tidak dimarahi guru.


"Laper banget ya, Na?" tanya Lia.


Ana hanya mengangguk sambil memakan roti pemberian Lino.


"Luh mau gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lia sambil tersenyum.


"Kalau boleh tahu, tadi Bagas ngomong apa sama luh?" tanya Lia pelan.


"Tadi dia ngajak gue ke makam adiknya" ucap Ana terus terang.


Lia hanya terdiam karena ia sedikit sedih sebab Bagas tidak mengajaknya ke makam Naya.


"Oh iya, luh temenin Bagas aja ya. Soalnya gue gak bisa sebab mamah gue lagi sakit" ujar Ana.


"Gue gak diajak, Na" ucap Lia.


"Ya pasti diajak lah, kan luh sahabat adiknya Bagas" ucap Ana.


"Gue sama Bagas sekarang hubungannya gak terlalu baik, jadi dia gak bakal ajak gue" ucap Lia karena semenjak kejadian Lia bertengkar dengan Ana, membuat Bagas marah kepada Lia.


"Luh berantem sama Bagas?" tanya Ana.


Lia hanya mengangguk.


"Luh berdua mantanan ya?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lia.


"Kirain luh berantem gara-gara luh berdua putus" ucap Ana.


"Enggak, gue gak pernah jadian sama Bagas" ucap Lia.


"Oh iya, Na! cepet kerjain tugasnya" ucap Lia.


"Oh iya, gue lupa" ucap Ana.


"Mau lihat jawaban gue gak?" tanya Lia.


"Emang gue boleh lihat?" tanya Ana.


"Boleh" ucap Lia sambil tersenyum.


"Ya udah gue lihat ya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lia.


Ana langsung mengerjakan tugas tersebut.


Skip


Krining...Krining


Bel istirahat berbunyi.


Semua anak-anak kelas XII MIPA 4 langsung mengumpulkan tugasnya.


Setelah mengumpulkan tugas, Ana berjalan kearah Lino.


"No, ini uangnya" ucap Ana.


"Buat apa?" bingung Lino.


"Kamu kan tadi udah beliin roti sama air mineral, jadi sekarang aku mau gantiin uang kamu" ucap Ana.


"Gak usah" ucap Lino sambil pergi.


Ana hanya terdiam karena Lino yang langsung pergi begitu saja.


"Na, ayo ke kantin" ajak Lia.


Ana segera menghampiri teman-temannya dan mereka berempat segera menuju ke kantin.


* Kantin


Sesampainya dikantin mereka berempat segera membeli makanan dan minuman. Sesudah itu, mereka segera duduk ditempat yang telah disediakan.


"Na" panggil Clara.


"Kenapa, Ra?" tanya Ana.


"Luh pingin makan bareng Lino ya?" tanya Clara.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Terus luh kenapa lihatin Lino mulu?" tanya Clara.


"Enggak, gue gak lihatin Lino kok" ucap Ana.


"Udah jangan bohong. Lagian gue juga lihat kalau luh lagi lihatin Lino" ucap Felisa.


"Iya...iya, gue emang lihatin Lino" ucap Ana terus terang.


"Guys, kayaknya Lino lagi ada masalah ya?" tanya Ana.


"Gue gak tahu, Na" ucap Clara.


"Coba luh tanya Lino nya langsung, siapa tahu dia emang lagi ada masalah" ucap Felisa.


"Enggak mau! lagian kan gue gak berhak nanya tentang masalah dia" kata Ana.


"Ya luh berhak lah, kan luh pacarnya" ucap Felisa.


"Iya cepet samperin sana!" perintah Clara.


"Gak mau" ucap Ana.


Clara segera mengambil mangkuk Ana dan jus yang Ana beli. Lalu ia segera berjalan menuju kearah Lino.


"Ra!!!" teriak Ana.


Ana segera berjalan menghampiri Clara.


"Ra, siniin bakso gue" ucap Ana.


"No, Ana pingin makan bareng luh katanya" ucap Clara sambil meletakkan mangkuk dan jus di meja.


Lino langsung melihat kearah Ana.


"Mau makan bareng?" tanya Lino.


Clara langsung menatap tajam kearah Ana.


"Iya" ucap Ana sambil mengangguk.


"Ya udah cepet duduk!" perintah Clara.


Ana menuruti perintah Clara.


"Lang, makannya disana aja" suruh Clara.


"Yaelah! baru juga gue mau duduk" ucap Gilang.


"Ayo kesana!" ajak Clara.


Akhirnya Clara dan Gilang segera pergi.


"Tumben" ucap Lino tiba-tiba.


"Maksudnya?" bingung Ana.


"Waktu kemarin kan gak mau makan bareng, tapi kok sekarang mau sih" ucap Lino.


"Karena tadi kamu baik udah ngasih roti sama air mineral. Makanya aku mau makan bareng sama kamu" ucap Ana.


"Sekarang udah pake aku kamu lagi ya" ucap Lino sambil tersenyum.


"Ya udah deh kalau gitu ganti jadi luh gue" ucap Ana.


"Eh, gak usah! udah pake aku kamu aja" suruh Lino.


"Ih kepo banget" ucap Ana.


Wajah Lino berubah menjadi badmood setelah mendengar ucapan Ana.


"Tadi dia ngajak aku ke makam adiknya" ucap Ana karena ia tahu pasti Lino tadi kesal setelah mendengar ucapan Ana.


"Cuma ngajak kamu doang?" tanya Lino.


"Aku gak tahu, tapi mungkin sahabat-sahabat Naya juga diajak sama Bagas" ucap Ana.


"Emang kenapa sih nanya kayak gitu?" tanya Ana.


"Gak kenapa-napa, aku cuma nanya doang" ucap Lino.


"Kamu cemburu ya?" tuduh Ana.


"Kalau iya kenapa?" ucap Lino.


"Beneran cemburu?" tanya Ana memastikan.


"Iya" ucap Lino sambil menatap Ana.


"Kenapa mesti cemburu?" heran Ana.


"Ya karena Bagas mantan kamu" ucap Lino.


"Aduh! gue harus ngomong apa ya? ini Lino beneran cemburu atau cuma bercanda sih" batin Ana.


"No, jangan ajak ngobrol dulu ya. Soalnya aku lapar banget" ucap Ana sambil mengalihkan pembicaraan.


"Ya kan makannya bisa sambil ngobrol" ucap Lino.


"Kalau ngobrol nanti keselek" ucap Ana.


"Itu kamu ngobrol, tapi kok gak keselek" ucap Lino.


Ana hanya diam karena bingung harus berbicara seperti apa lagi dengan Lino.


"Oh iya, Bagas ngomong apa lagi sama kamu?" tanya Lino.


"Enggak ngobrol apa-apa lagi kok, cuma ngomong yang tadi doang" ucap Ana.


"Yakin cuma ngobrol itu doang?" tanya Lino.


"Iya, dia cuma ngomong itu doang kok" ucap Ana.


"No, aku boleh nanya gak?" tanya Ana.


"Mau nanya apa?" tanya Lino.


"Apa jangan-jangan alasan aku putus sama Bagas karena aku penyebab kematian adiknya ya?" tanya Ana.


"Bukan karena itu, lagian kamu bukan penyebab kematian Naya kok" ucap Lino.


"Kirain putusnya gara-gara itu" ucap Ana.


"Bukan kok" ucap Lino.


"Terus aku putus sama Bagas karena apa?" tanya Ana.


"Udah jangan bahas Bagas mulu" ucap Lino sedikit kesal karena Ana terus membicarakan Bagas.


"Kamu cemburuan ya orangnya" ucap Ana.


"Aku sebenernya gak cemburuan, tapi aku takut aja kamu berpaling dari aku. Soalnya kan sekarang kamu hilang ingatan, jadi aku takut kamu jatuh cinta sama orang lain" jelas Lino.


"Oh iya, aku mau nanya deh sama kamu" ucap Lino.


"Mau nanya apa?" tanya Ana.


"Ada lelaki yang kamu suka gak saat ini?" tanya Lino.


"Ada" ucap Ana.


"Siapa?" tanya Lino.


"Kepo" ucap Ana.


"Aku nanya serius, Na" ucap Lino.


"Iya ada, dan itu kamu" ucap Ana.


"Jadi masih sukanya ke aku?" tanya Lino.


Ana hanya mengangguk.


"Mungkin karena orang-orang bilang kamu pacar aku, jadinya aku suka sama kamu" ucap Ana.


"Oh iya, No! boleh tolong ceritain gak kejadian-kejadian yang dulu" ucap Ana.


"Aku gak bakal cerita tentang kejadian dulu, Na. Soalnya aku gak mau kamu sedih" ucap Lino.


"Sedih kenapa?" bingung Ana.


"Pokoknya dulu kamu sering banget nangis, makanya aku gak mau cerita ke kamu tentang kejadian dulu" ucap Lino.


"Gak apa-apa, ceritain aja" suruh Ana.


"Enggak mau" ucap Lino.


"Ya udah kalau gak mau, berarti kita putus" ancam Ana.


"Gak bisa gitu, masa cuma gara-gara gak cerita jadi putus" kata Lino.


"Ya udah cepet!" perintah Ana.


Krining... krining


"Udah bel, Na! ayo ke kelas" ajak Lino.


"Ih cerita dulu" ucap Ana.


"Ya udah aku duluan ke kelas ya" ucap Lino sambil berjalan menuju kelasnya.


Ana segera menyusul Lino.


"No" panggil Ana.


"Apa" ucap Lino.


"Itu tangan kamu kenapa luka?" tanya Ana.


"Aku juga gak tahu, mungkin gara-gara manjat kali" ucap Lino.


"Mau diobati gak?" tanya Ana.


"Gak usah, lagian cuma luka sedikit ini" ucap Lino.


"Tadi aku berat gak?" tanya Ana karena ia takut Lino kesakitan gara-gara Ana menginjak pundaknya.


"Enggak kok" ucap Lino.


"Badan kamu sakit gak?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Kalau sakit bilang ya" ucap Ana.


Lino hanya tersenyum sambil melihat kearah Ana.


"Sakit ya?" tanya Ana karena Lino tidak menjawab ucapannya.


"Enggak, Na" ucap Lino.


"Maaf ya karena tadi udah nginjak kamu" ucap Ana.


"Gak usah minta maaf" ucap Lino.


"Oh iya, Na! mamah kamu gimana keadaannya?" tanya Lino.


"Tadi pagi sih mamah panasnya udah turun" ucap Ana.


"Syukur deh kalau gitu" ucap Lino.


"No, kamu marah gak sama mamah aku?" tanya Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Serius gak marah?" tanya Ana.


"Iya enggak. Lagian kenapa aku harus marah?" tanya Lino.


"Ya siapa tahu kamu marah gitu karena mamah bilang kamu itu sahabat aku" ucap Ana.


"Enggak, aku gak marah kok sama mamah kamu" ucap Lino.


Setelah sampai kelas, Ana dan Lino segera duduk di kursinya masing-masing.