
Setelah Naya mematikan teleponnya, Ana langsung menangis sejadi-jadinya.
Kemudian Ana segera pergi menuju kamar mandinya untuk mencari kamera tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Ana menemukan kamera tersebut. Lalu ia segera membanting kamera itu ke sembarang arah.
"Hiks...hiks" tangis Ana.
...****...
Pagi hari
Tok...tok...tok
Pintu kamar Ana diketuk oleh mamahnya.
Kemudian mamah Ana segera membuka pintu namun pintunya tidak bisa dibuka karena dikunci oleh Ana.
"Ana, bangun!" ucap mamah sambil mengetuk pintu kamar Ana.
"Mamah tunggu ya di ruang makan" teriak mamah.
Lalu mamah Ana segera pergi menuju ruang makan.
Skip
Siang hari
"Ana, mana sih? kok belum turun-turun dari tadi" cemas mamah.
Tingtong...tingtong
Mamah Ana segera pergi keluar untuk menemui seseorang yang membunyikan bel.
Kemudian mamah Ana segera membuka pagar rumahnya.
"Pagi, tante" ucap Lino.
"Pagi juga, Lino" ucap mamah Ana.
"Ana nya ada gak, tante?" tanya Lino.
"Ana nya masih tidur, No" ucap mamah Ana.
"Oh gitu" ucap Lino.
"Ya udah kamu bangunin sana, siapa tahu Ana nya bangun" ucap mamah Ana.
"Ya udah ayo masuk" ucap mamah Ana.
Lalu mereka berdua segera masuk kedalam rumah.
"Ketuk aja kamarnya, kalau perlu teriak biar dia bangun" suruh mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino.
Lalu Lino segera pergi menuju kamar Ana.
Tok...tok...tok
"Ana bangun!!" teriak Lino.
Tok...tok
"Ana!!" teriak Lino.
Lalu Lino segera menelepon Ana namun teleponnya tidak diangkat oleh Ana.
Kemudian Lino segera kembali menghampiri mamah Ana.
"Tante" panggil Lino.
"Iya, No?" tanya mamah Ana.
"Pintunya gak dibuka, tante" jelas Lino.
"Ya ampun itu anak" ucap mamah Ana.
Akhirnya mereka berdua segera pergi menuju kamar Ana.
Setelah sampai, mamah Ana segera mengetuk pintu kamar Ana.
"Ana, bangun! ada Lino nih" ucap mamah Ana.
"Coba telepon, No" suruh mamah Ana.
"Tadi Lino udah telepon, tapi gak diangkat" ucap Lino.
"Ana kenapa sih?" cemas mamah Ana.
"Tante, Lino boleh dobrak pintunya gak? takutnya Ana kenapa-napa" ucap Lino.
"Ya udah dobrak aja, No" ucap mamah Ana.
Kemudian Lino segera mendobrak pintu kamar Ana.
Brag
Akhirnya pintu kamar Ana terbuka.
"Loh Ana kemana?" bingung mamah karena Ana tidak ada dikasur.
Lalu Lino segera pergi menuju kamar mandi.
"ANA!" ucap Lino saat melihat Ana yang tertidur di kamar mandi.
Kemudian mamah Ana segera menghampiri Ana dan Lino dikamar mandi.
"Ana!!!" teriak mamah.
"Na, bangun" ucap Lino sambil menepuk pelan pipi Ana.
"No, cepet bawa Ana ke kasur dulu" ucap mamah Ana.
Lalu Lino segera menggendong Ana, kemudian ia segera menidurkan Ana diatas kasur.
"Tante, kita bawa Ana ke rumah sakit aja. Soalnya badan dia dingin banget" ucap Lino.
"Ya udah, tante siapin mobil dulu ya" ucap mamah Ana.
Lalu mamah Ana buru-buru pergi untuk mengambil kunci mobil. Sedangkan Lino, ia langsung menggendong Ana.
Setelah sampai di luar, Lino segera memasukan Ana kedalam mobil.
"Tante, Lino ikut ya" ucap Lino.
"Iya" ucap mamah Ana.
Setelah itu, mereka pun segera pergi menuju rumah sakit.
...****...
* Rumah Clara
Tingtong...tingtong
Lalu Clara segera pergi menghampiri orang yang menekan bel rumahnya. Kemudian ia langsung membuka pagar rumahnya.
"Eh, Fel. Ngapain kesini?" tanya Clara.
"Gue pingin main aja sama luh" ucap Felisa.
"Oh ya udah ayo masuk" ucap Clara.
Lalu mereka berdua segera masuk kedalam rumah.
"Pagi, tante" ucap Felisa.
"Kita ke kamar aja yuk" ucap Clara.
"Ya udah ayo" ucap Felisa.
Lalu mereka berdua langsung pergi menuju kamar Clara.
Setelah sampai dikamar, mereka berdua langsung duduk dikursi sambil menonton televisi.
"Ra" ucap Felisa.
"Kenapa?" tanya Clara.
"Bener gak sih kalau Naya yang nguntit Ana?" tanya Felisa.
"Gue juga gak tahu, tapi entah kenapa firasat gue ngerasa bahwa pelakunya emang Naya" ucap Clara.
"Kalau misalnya beneran Naya, kenapa dia nyelakain Ana?" tanya Felisa.
"Gue rasa dia nyelakain Ana karena dia suka sama Lino" ucap Clara.
"Naya suka sama Lino?" tanya Felisa.
"Kayaknya" ucap Clara.
"Oh iya, Fel! Naya pernah ngomong jelek tentang Ana ke luh gak?" tanya Clara.
"Enggak, kan luh tahu sendiri kalau Naya jarang curhat" ucap Felisa.
"Iya juga sih" ucap Clara.
"Oh iya, gue masih punya rekaman CCTV waktu kejadian penguntit itu nyelakain Ana" ucap Clara.
"Mana? coba gue pingin lihat" ucap Felisa.
"Ya udah ayo" ucap Clara.
Lalu mereka berdua segera melihat rekaman CCTV kejadian waktu itu.
"Itu Naya" ucap Felisa saat melihat rekaman tersebut.
"Beneran Naya?" tanya Clara tak menyangka.
"Iya itu Naya, soalnya sepatu yang penguntit itu pake persis sama sepatu yang dikasih gue ke Naya. Sepatu itu kado dari gue" ucap Felisa sedikit sedih karena ternyata Naya pelakunya.
"Naya tega banget sih jahatin Ana" ucap Felisa dengan mata berkaca-kaca.
"Ya udah kita telepon Ana sekarang" ucap Clara.
Lalu Clara segera menelpon Ana namun teleponnya tidak dijawab oleh Ana.
"Telepon nya gak dijawab" ucap Clara.
"Coba telepon Lino" ucap Felisa.
Lalu Clara segera menelpon Lino.
"Hallo, Ra" ucap Lino.
"No, luh dimana?" tanya Clara.
"Gue lagi di rumah sakit, soalnya Ana pingsan" ucap Lino.
"Ana pingsan?" tanya Clara.
"Iya" ucap Lino.
"Luh sekarang di rumah sakit mana?" tanya Clara.
"Di rumah sakit Pelita" ucap Lino.
"Ya udah sekarang gue kesana" ucap Clara.
"Ra, ayo ke rumah sakit" ucap Clara.
Lalu Clara dan Felisa segera pergi menuju rumah sakit.
...****...
"No, jagain Ana dulu ya. Tante mau beliin bubur dulu buat Ana soalnya dia belum makan" ucap mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino.
Lalu mamah Ana segera pergi.
"Na, bangun" ucap Lino sambil mengelus-elus rambut Ana.
Kemudian Ana membuka matanya karena ia mendengar suara Lino.
"Na" panggil Lino.
"Kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Lino.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Ana.
"Aku kan lagi nemenin kamu, tadi kamu pingsan di kamar mandi" ucap Lino.
"Lebih baik sekarang kamu pergi sana!" usir Ana.
"Na, kok kamu ngusir aku sih" ucap Lino.
"Pergi sana! aku gak mau ketemu kamu" ucap Ana.
"PERGI!!!" teriak Ana.
"Kamu kenapa sih?" bingung Lino.
"CEPETAN PERGI!!" teriak Ana.
"Ya udah iya" ucap Lino.
Lalu Lino segera keluar dari ruangan tersebut. Kemudian ia segera duduk didepan ruangan tersebut.
"No" panggil Clara.
Lalu Clara dan Felisa segera menghampiri Lino yang sedang duduk.
"No, Ana mana?" tanya Clara dan Felisa bersamaan.
"Ada didalem" ucap Lino.
Lalu Clara dan Felisa segera masuk kedalam ruangan tersebut.
Saat masuk kedalam ruangan, Clara dan Felisa melihat Ana yang sedang menangis.
"Ana" panggil Clara dan Felisa.
"Luh gak apa-apa kan?" tanya Clara.
"Jangan deketin gue, please!" ucap Ana.
"Gue gak mau ketemu sama kalian" ucap Ana sambil menangis.
"Luh kenapa, Na?" tanya Felisa.
"Luh berdua cepet pergi! gue gak mau ketemu kalian" ucap Ana.
"Na, luh kesurupan ya?" tanya Clara memastikan.
"PERGI!!!" teriak Ana.
"Ra, ayo kita keluar" kata Felisa sambil menarik tangan Clara.
"No, Ana kenapa sih?" tanya Clara.
"Gue juga gak tahu" ucap Lino.