ARLINO

ARLINO
Episode 95



Malam hari


Ana pun segera bersiap-siap, karena malam ini ia akan dinner bareng Lino dan orang tuanya.


Setelah selesai bersiap-siap, Ana pun segera pergi menuju ruang tamu untuk menunggu Lino.


"Sayang, kamu mau kemana? kok cantik banget" ucap mamah.


"Oh iya aku belum bilang ke mamah" ucap Ana.


"Jadi malam ini tuh, aku mau dinner bareng Lino sama orang tuanya" jelas Ana.


"Dinner bareng orang tuanya?" ucap mamah sedikit kaget.


"Iya, mah" ucap Ana.


"Boleh kan, mah?" tanya Ana.


"Boleh kok. Tapi inget ya, nanti kamu disana harus sopan sama orang tuanya Lino" ucap mamah.


"Ya iyalah, mah" ucap Ana.


"Oh iya, kamu make up ya?" tanya mamah.


"Iya, mah" ucap Ana sambil nyengir.


Tintong...tingtong


"Itu pasti Lino" ucap mamah.


"Ya udah aku berangkat dulu ya, mah" ucap Ana sambil mencium tangan mamahnya.


"Iya, hati-hati ya" ucap mamah.


Lalu Ana pun segera keluar untuk menghampiri Lino.


"Ya udah ayo, No" ucap Ana.


"Kamu siapa ya?" canda Lino.


"Ya Ana lah" ucap Ana.


"Ini beneran Ana?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Kamu kenapa sih?" bingung Ana.


"Kok kayak beda sih mukanya" canda Lino.


"Iya kan aku make up" ucap Ana.


"Emang make up aku bikin aku jadi aneh ya, No?" tanya Ana.


"Enggak kok, make up nya jadi bikin kamu makin cantik" ucap Lino.


"Oh iya, mamah kamu ada di rumah gak?" tanya Lino.


"Ada, emang kenapa?" tanya Ana.


"Aku mau pamitan dulu sama mamah kamu" ucap Lino.


"Gak usah, tadi soalnya aku udah pamitan" ucap Ana.


"Kan itu kamu yang pamitan, aku nya kan belum" ucap Lino.


"Ya udah ayo" ucap Ana.


Lalu Ana dan Lino pun segera masuk kedalam rumah Ana.


"Malam tante" ucap Lino sambil tersenyum.


"Malam juga Lino" ucap mamah Ana.


"Tan, aku ijin mau ajak Ana dinner ya" ucap Lino.


"Iya silahkan" ucap mamah Ana.


"Nanti pulangnya Lino antar lagi kok, tan" ucap Lino.


"Mau dibawa pulang ke rumah kamu juga gak apa-apa kok" canda mamah Ana.


"Ih mamah apaan sih" ucap Ana.


"Ya udah nanti Lino mau bawa pulang aja ya ke rumah" canda Lino.


"Iya boleh" ucap mamah Ana sambil tertawa.


"Ya udah kalau gitu Lino sama Ana pergi dulu ya, tan" ucap Lino.


"Iya, hati-hati ya bawa kendaraannya" ucap mamah Ana.


"Iya, tan" ucap Lino.


Lalu Lino dan Ana pun segera pergi keluar dan mereka berdua pun segera masuk kedalam mobil milik Lino.


Lalu Lino pun segera mendekat ke arah Ana dan wajah Lino pun sangat dekat dengan wajah Ana.


Sontak Ana pun langsung menutup matanya.


Lalu Lino pun segera memasangkan seatbelt Ana.


"Kamu kenapa?" tanya Lino saat melihat Ana menutup matanya.


Lalu Ana pun segera membuka matanya dan ia langsung melihat Lino sekilas.


"Gak apa-apa kok" ucap Ana.


"Aduh Ana! luh bodoh banget sih, ngapain coba pake tutup mata segala" ucap Ana dalam hati.


"Kamu kenapa sih tutup mata?" tanya Lino sambil tersenyum.


"Udah aku bilang gak apa-apa" ucap Ana.


"Kamu ngira aku bakal cium kamu ya?" tanya Lino sambil menahan tawanya.


"Terus kenapa tutup matanya? mana lama lagi tutup matanya" ucap Lino.


"Hmm...soalnya aku pingin tidur, jadi aku tutup mata" bohong Ana.


Lino pun hanya tersenyum mendengar ucapan Ana.


"Bisa aja ngeles nya" batin Lino.


Lalu Lino pun segera melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.


"No" panggil Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Aku deg-degan" ucap Ana.


"Gara-gara tadi?" tanya Lino.


"Hah? maksudnya?" tanya Ana.


"Gara-gara aku deketin wajah aku ke kamu?" tebak Lino.


"Bukan!" ucap Ana padahal sebenarnya itu juga membuat jantung Ana deg-degan.


"Terus deg-degan kenapa?" tanya Lino.


"Aku deg-degan ketemu orang tua kamu" ucap Ana.


"Ya bagus dong deg-degan, berarti itu tandanya kamu masih hidup" ucap Lino sambil tertawa kecil.


"No, AC nya matiin ya" ucap Ana.


"Iya boleh" ucap Lino.


Lalu Ana pun segera mematikan AC mobil Lino.


"Kenapa ya tangan aku suka dingin kalau deg-degan?" tanya Ana kepada Lino.


"Ya semua orang juga gitu kalau lagi deg-degan" ucap Lino.


"Kamu juga suka gitu?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Kalau kamu suka deg-degan karena apa?" tanya Ana.


"Aku deg-degan nya kalau kamu natap aku" ucap Lino.


"Emang iya?" tanya Ana.


"Iya" ucap Lino.


Lalu Ana pun menatap wajah Lino.


"Udah jangan natap aku, nanti yang ada kamu yang terpesona sama aku" ucap Lino.


"Kan emang udah terpesona" ucap Ana sambil tersenyum.


Lino pun hanya tersenyum mendengar ucapan Ana.


"Masih jauh gak, No?" tanya Ana.


"Masih" ucap Lino.


"Na, nanti kamu harus maklumin ya kalau ketemu orang tua aku" ucap Lino.


"Emangnya kenapa, No?" tanya Ana.


"Mereka tuh kalau dinner, suka sambil mainin handphone masing-masing. Jadi pasti dinner nya bakal diem-dieman, gak ngobrol sama sekali" ucap Lino.


"Oh gitu" ucap Ana.


"Tapi kamu tenang aja, aku makannya bakal sambil ngobrol kok sama kamu. Jadi kamu gak bakal terlalu canggung" ucap Lino.


"Emang gak apa-apa ya kalau makan sambil ngobrol? takutnya nanti orang tua kamu gak suka lagi kalau kita nya ngobrol" ucap Ana.


"Ya gak apa-apa. Lagian kalau kita ngobrol, mereka juga gak bakal peduli kok. Lagian mereka nya juga sibuk masing-masing" jelas Lino.


"Sebenernya itu juga alasan aku pindah rumah" ucap Lino tiba-tiba.


"No" panggil Ana.


"Iya?" ucap Lino.


"Kamu merasa kesepian gak kalau di rumah kamu yang sekarang?" tanya Ana.


"Enggak. Kan ada dori, jadi aku gak merasa kesepian" ucap Lino.


"Oh iya, kamu mau adopsi kucing gak?" tanya Lino.


"Enggak ah! kan kamu tahu sendiri kalau aku takut kucing" ucap Ana.


"Tapi waktu itu kamu udah berani loh gendong dori" ucap Lino.


"Iya sih, tapi tetep aja aku gak mau. Lagian aku gak mau dicakar untuk yang kedua kalinya" ucap Ana.


"Sakit gak waktu dicakar dori?" tanya Lino.


"Ya sakit lah" ucap Ana.


"Tadinya sih aku mau adopsi kucing buat kamu" ucap Lino.


"Lebih baik jangan deh, soalnya aku gak mau" ucap Ana.


"Kamu kayaknya benci banget ya sama kucing?" tanya Lino.


"Bukan benci, tapi aku takut" jelas Ana.


"Hewan lucu kayak gitu masa dibilang takut" ucap Lino.


"Emang lucu sih, tapi tetep aja aku takut" ucap Ana.