
Setelah selesai, Ana pun langsung mencuci piring dan gelas yang telah ia gunakan. Setelah mencuci piring dan gelas, Ana pun kembali duduk di meja makan untuk menunggu Lino yang sedang makan.
"Kamu kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya Lino.
"Emang aku gak boleh lihatin kamu?" tanya Ana.
"Ya boleh, tapi jangan terlalu lama lihatinnya" ucap Lino.
"Emang kalau lama kenapa?" tanya Ana.
"Ya aku malu" ucap Lino.
"Lino malu?" tanya Ana sambil tersenyum.
"Ya iyalah" ucap Lino.
Setelah selesai makan, Lino pun berniat untuk mencuci piring dan gelas yang telah ia gunakan namun dicegah oleh Ana.
"Biar aku aja yang cuci" ucap Ana sambil mengambil piring dan gelas yang telah Lino gunakan.
"Biar aku aja, Na" ucap Lino.
"Gak apa-apa, biar aku aja yang cuci" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera mencuci piring dan gelas tersebut, sedangkan Lino hanya melihat Ana yang sedang mencuci piring dan gelas.
Setelah selesai mencuci piring dan gelas, Ana pun mengajak Lino menuju ruang tamu.
"Udah selesai makannya?" tanya mamah.
"Udah, mah" ucap Ana.
"Udah, tante" ucap Lino.
"Oh iya, Na. Mamah mau pergi dulu ya" ucap mamah Ana.
"Mau kemana, mah?" tanya Ana.
"Mau pergi arisan" ucap mamah.
"Lino, jagain Ana ya" ucap mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu mamah berangkat ya" ucap mamah.
"Iya, mah. Hati-hati ya bawa mobilnya" ucap Ana.
"Iya" ucap mamah.
Lalu mamah pun segera mencium kening Ana, setelah itu ia pun segera pergi.
"Oh iya, Na! aku pingin lihat dong nomer yang ngirim foto papah kamu sama selingkuhannya" ucap Lino.
"Bentar, aku ambil dulu handphone nya" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera pergi menuju kamarnya untuk mengambil handphone miliknya.
Setelah mengambil handphone, Ana pun kembali menghampiri Lino. Lalu Ana pun segera duduk disebelah Lino.
"Nih" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera mengambil ponsel milik Ana.
"Nih masukin dulu password nya" ucap Lino sambil memberikan ponsel kepada Ana namun tidak diambil oleh Ana.
"220202" ucap Ana.
"Loh! kok kamu malah dikasih tahu ke aku sih" ucap Lino.
"Ya gak apa-apa" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera mencari nomer tersebut dikontak yang telah diblokir.
"Nomernya yang mana, Na?" tanya Lino.
"Yang paling atas" ucap Ana.
"Terus nomer yang dua ini siapa?" tanya Lino pada nomer lain yang diblokir oleh Ana.
"Itu nomernya Elma sama Tiara" ucap Ana.
"Emang mereka berdua siapa? kok nomernya diblokir sama kamu" tanya Lino.
"Mereka berdua yang dulu ngebully Chika" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap Lino.
Lalu Lino pun segera menelepon nomer telepon yang mengirim foto papahnya Ana dan selingkuhannya dengan menggunakan ponsel miliknya.
"Ngapain luh nelpon gue?" tanya seseorang dengan nada dingin.
"Bagas!" bingung Lino.
"Jadi ini nomer luh?" tanya Lino.
"Iya, ini nomer baru gue" ucap Bagas.
"Oh jadi luh yang neror Ana" ucap Lino dengan emosi.
"Neror? siapa juga yang neror dia" ucap Bagas.
"Buktinya luh ngirim fotonya papahnya Ana sama selingkuhannya" ucap Lino.
"Ya gue cuma ngasih tahu dia doang kalau papahnya lagi selingkuh, bukan niat neror" ucap Bagas.
"Luh kenapa jadi marah-marah sama gue" kesal Bagas.
"Ya gara-gara luh neror Ana" ucap Lino.
"Udah gue bilang, gue gak neror dia" ucap Bagas dengan kesal.
"Apa jangan-jangan luh ya yang nabrak Acha?" tuduh Lino.
"Anj*ng luh! ngapain juga gue nabrak dia" ucap Bagas.
Lalu Bagas pun segera mematikan panggilan teleponnya.
"Jadi itu Bagas ya, No?" tanya Ana.
"Iya, itu nomernya dia" ucap Lino.
"Na, apa jangan-jangan dia ya yang nyelakain kamu waktu itu?" tanya Lino.
"Menurut aku sih bukan, No" ucap Ana.
"Soalnya Bagas kan tinggi banget. Sedangkan orang yang neror aku, gak terlalu tinggi kayak Bagas" ucap Ana.
"Kamu masih inget gak ciri-ciri orang itu?" tanya Lino.
"Aku udah lupa, No. Lagian orang itu pake masker sama topi hitam, jadi gak kelihatan mukanya" jelas Ana.
"Kamu inget gak sama baju atau celana yang dipakai dia?" tanya Lino.
"Dia pake Hoodie hitam sama celana panjang warna hitam" jelas Ana.
"Kira-kira cewek atau cowok?" tanya Lino.
"Aku gak tahu" ucap Ana.
"Na, please inget-inget lagi! soalnya dia yang nabrak Acha" ucap Lino dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kan tadi aku udah jelasin, No" ucap Ana.
"Coba jelasin ciri-ciri yang lain" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera mengingat kembali kejadian waktu itu.
"Dia pake sepatu putih sama tas hitam, terus ditasnya ada gantungan berbentuk pedang. Dan gantungan itu yang bikin tangan aku berdarah" jelas Ana.
"Kamu yakin kalau itu bukan Bagas?" tanya Lino.
"Iya aku yakin" ucap Ana.
"Kamu gak bohong kan sama aku?" tanya Lino memastikan.
"Iya, aku gak bohong" ucap Ana.
"Oh iya, surat yang dari peneror itu ada sama kamu?" tanya Lino.
"Aku gak ambil suratnya, No" jelas Ana.
"Harusnya kamu ambil suratnya waktu itu, soalnya aku pingin lihat tulisannya. Siapa tahu aku ngenalin tulisannya" ucap Lino.
"Ya maaf, kan aku waktu itu gak kepikiran sampe situ" ucap Ana merasa bersalah.
"Udah jangan minta maaf, lagian itu bukan salah kamu kok" ucap Lino.
Lalu Ana pun hanya terdiam.
"Na" panggil Lino karena melihat Ana yang seperti sedang merasa bersalah.
"Apa?" tanya Ana.
"Maaf tadi aku sedikit emosi" ucap Lino.
"Iya gak apa-apa. Lagian wajar, kan kamu cinta banget sama Acha, jadi pasti kamu pingin tahu siapa orang yang nyelakain Acha" ucap Ana.
"Kamu gak cemburu kan sama Acha?" tanya Lino.
"Enggak kok" bohong Ana.
"Oh iya, Na! gimana kalau sekarang kita jalan-jalan" ucap Lino.
"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Ana.
"Terserah kamu" ucap Lino.
"Aku pingin ke basecamp kamu" ucap Ana.
"Ngapain ke basecamp?" tanya Lino.
"Ya pingin kesana aja, lagian seru kumpul bareng" ucap Ana.
"Enggak ah. Aku gak mau" ucap Lino.
"Kenapa gak mau?" tanya Ana.
"Nanti kamu digodain Bayu, soalnya kan Bayu playboy" ucap Lino.
"Kalau dia godain aku ya kamu marahin lah" ucap Ana.
"Aku lagi males marah-marah" ucap Lino.
"Bukannya tadi kamu marah ya?" ucap Ana.
"Ya kan tadi aku lagi kesel sama Bagas" ucap Lino.
"Ya udah deh ayo, sekalian aku mau ngomongin tentang Bagas ke temen-temen aku" ucap Lino.