
Setelah sampai di rumah, Ana pun langsung turun dari motornya Raka.
"Na, luh gak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Raka.
"Gak apa-apa kok" ucap Ana.
"Yaudah, gue pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, luh telepon gue aja" ucap Raka.
"Iya" ucap Ana.
Raka pun segera pulang ke rumahnya.
Lalu Ana pun segera masuk kedalam rumahnya, lalu ia pun segera mengunci pintu rumahnya agar tidak ada orang lain yang masuk kedalam rumahnya.
Ana pun segera duduk sambil menyalakan televisi agar tidak bosan.
"Oh iya! kenapa gue masih pake jaket punya Lino" gumam Ana.
Lalu Ana pun segera melepaskan jaket milik Lino.
Tingtong...tingtong
Ana pun segera melihat ke jendela untuk memastikan siapa yang datang ke rumahnya.
"Dia siapa?" bingung Ana.
Ana pun langsung membuka kunci pintu rumahnya dan ia pun segera menemui orang yang berada didekat pagar rumahnya.
Lalu Ana pun segera membuka pagar rumahnya.
"Kamu siapa?" tanya Ana.
"Gue Wulan" ucap cewek tersebut.
"Wulan?" bingung Ana.
"Iya" ucap Wulan.
"Ana, gue mau minta maaf sama luh" ucap Wulan.
"Minta maaf soal apa?" tanya Ana.
"Maaf karena gue nyebarin rumor tentang luh yang bully Chika, gue kira luh pembully nya eh ternyata temen gue yang bully nya" ucap Wulan.
"Oh soal rumor itu" kata Ana.
"Luh mau kan maafin gue?" tanya Wulan.
"Iya, gue udah maafin kok" ucap Ana.
"Oh iya, luh tahu rumah gue dari mana?" tanya Ana.
"Dari Arlino" ucap Wulan
"Oh iya waktu itu Arlino yang bilang ke gue, kalau luh gak salah" ucap Wulan lagi.
"Iya gue tahu" ucap Ana.
"Arlino pacar luh ya?" tanya Wulan.
"Hah? bukan kok!" sahut Ana.
"Udah ngaku aja" ucap Wulan sambil tersenyum.
"Bukan" ucap Ana.
"Tapi kok dia sampe belain luh, oh iya terus dia marah-marah sama gue waktu itu" ucap Wulan.
"Lino marahin luh?" tanya Ana.
"Iya" ucap Wulan.
"Ana, gue boleh kan jadi temen luh?" tanya Wulan.
"Boleh" ucap Ana sambil tersenyum.
"Makasih ya, luh baik banget" ucap Wulan.
Ana pun hanya tersenyum mendengar ucapan Wulan.
"Ana, nanti save back ya nomor telepon gue" ucap Wulan.
"Nomor telepon luh yang mana?" tanya Ana.
"Lihat aja di grup angkatan kelas sebelas" ucap Wulan.
"Kalau enggak, nanti gue chat luh aja" ucap Wulan.
"Iya, luh aja yang chat gue duluan nanti gue save nomor luh" ucap Ana.
"Wulan" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Wulan.
"Luh masih temenan sama Elma dan Tiara?" tanya Ana.
"Udah enggak, gue udah blokir nomor sama semua sosial media mereka berdua" ucap Wulan.
"Kenapa diblokir?" tanya Ana.
"Gue gak suka sama orang yang pembohong dan pembully" ucap Wulan.
"Oh iya, Na! kalau gitu gue pulang dulu ya" ucap Wulan.
"Gak mau masuk kedalam dulu?" tanya Ana.
"Enggak, lagian gue kesini cuma mau minta maaf doang kok" ucap Wulan.
"Yaudah gue pulang dulu ya" ucap Wulan.
"Iya" kata Ana.
Wulan pun segera pulang dengan mengendarai motornya.
Setelah Wulan pergi, Ana pun segera masuk kembali kedalam rumahnya dan tidak lupa ia pun mengunci pintu rumahnya.
"Lino kenapa sampe marahin Wulan? padahal kan itu rumor tentang gue, bukan rumor tentang Lino" ucap Ana.
"Gue kenapa sih akhir-akhir ini sering mikirin Lino" gumam Ana.
"Ana sadar! Lino kan sukanya sama Acha" ucap Ana sambil memukul pelan kepalanya.
Tintong...tintong
Ana pun segera melihat ke jendela namun diluar pagarnya tidak ada siapapun.
Lalu Ana pun segera membuka kunci pintu rumahnya dan ia berjalan kearah pagar rumahnya.
Ana pun melihat kesekitar namun ia tidak melihat siapa-siapa.
Mata Ana pun terfokus kepada surat yang tergeletak di tanah.
Lalu ia pun segera mengambil suratnya dan ia pun langsung membaca surat tersebut.
"Jauhi Lino kalau luh gak mau dalam bahaya"
Ana pun langsung melempar surat tersebut.
Lalu Ana pun segera mengunci pintu pagarnya, setelah itu ia mengunci pintu rumahnya.
"Siapa sih yang ngirim surat itu?" gumam Ana.
Ana pun segera mematikan televisi, kemudian ia pun segera menuju ke kamarnya untuk beristirahat karena ia tidak enak badan.
Trining...trining
Tiba-tiba ponsel Ana pun berdering.
Ana pun langsung melihat ke layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang meneleponnya. Dan ternyata yang meneleponnya adalah Lino.
Ana pun bimbang untuk mengangkat panggilan telepon dari Lino. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon karena siapa tahu penting.
"Hallo" ucap Ana.
"Gue besok ke rumah luh ya, mau ngambil jaket gue" ucap Lino.
"Nanti aja hari Senin gue kasih jaketnya ke luh" ucap Ana.
"Kok hari Senin?" bingung Lino.
"Iya soalnya sekalian mau gue cuci" ucap Ana.
"Gak usah dicuci kali, kan pasti luh cuma pake waktu naik motor doang" ucap Lino.
"Oh iya, No! tadi Wulan ke rumah gue" ucap Ana.
"Dia minta maaf ke gue" ucap Ana lagi.
"Luh maafin dia gak?" tanya Lino.
"Ya maafin lah" kata Ana.
"Kok luh bisa maafin dia sih? padahal kan dia udah nyebarin rumor yang salah tentang luh" ucap Lino.
"Luh yang pernah nampar gue aja gue maafin. apalagi dia, pasti gue maafin lah. Lagian kan dia gak tahu, jadi gue maafin" ucap Ana.
Lino pun merasa bersalah karena pernah menampar Ana.
"Maafin gue ya" ucap Lino.
"Iya, gue udah maafin luh dari lama kok" ucap Ana.
"Lagian waktu itu luh nya lagi emosi, jadi wajar" ucap Ana.
"Pipi luh sakit gak waktu gue tampar?" tanya Lino.
"Ya sakit lah, gila kali luh!" sahut Ana.
"Nanti kalau luh mau balas dendam, tampar aja gue. Kalau bisa tampar lebih keras" ucap Lino.
"Enggak mau" ucap Ana.
"Kenapa gak mau?" tanya Lino.
"Gak apa-apa, gue gak mau aja" ucap Ana.
"Luh takut gue tampar luh balik?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
"Terus kenapa gak mau?" tanya Lino.
"Ya karena gue gak mau" ucap Ana.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
Ana pun berniat menceritakan tentang surat yang ia temukan didepan rumahnya, namun ia urungkan niatnya karena ia tidak mau Lino jadi khawatir kepadanya.
"Na, kenapa diem?" tanya Lino.
"Hah?" tanya Ana sebab ia tidak mendengar ucapan Lino dikarenakan ia terlalu fokus pada pikirannya.
"Luh mau ngomong apa?" tanya Lino.
"Gak jadi" ucap Ana.
"No, gue matiin dulu ya teleponnya" ucap Ana.
"Kenapa dimatiin?" tanya Lino.
"Gue mau istirahat" ucap Ana.
"Oh yaudah" ucap Lino.
Ana pun segera mematikan panggilan telepon dari Lino.