
Pulang sekolah
"Ayo pulang" ucap Lino.
"Aku mau pulang bareng Raka" ucap Ana.
"Pacar kamu tuh Raka atau aku sih?" ucap Lino.
"Ya kamu" ucap Ana.
"Terus kenapa pulang nya bareng Raka?" tanya Lino.
"Karena Raka rumahnya deket sama aku" ucap Ana.
"Aku juga deket rumahnya sama kamu" ucap Lino.
"Emang iya?" tanya Ana.
"Iya, kan rumah aku dihati kamu" gombal Lino.
"Apaan sih garing banget" ucap Ana sambil tertawa kecil.
"Garing tapi kok ketawa sih" heran Lino.
"Ya kan aku receh, makanya jadi gampang ketawa walaupun candaannya garing" kata Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino sambil menarik tangan Ana menuju parkiran.
"No, mau kemana?" tanya Ana.
"Ke parkiran lah" ucap Lino.
"Kan motornya disana" ucap Ana.
"Oh iya, aku lupa" ucap Lino.
"Oh iya helm aku juga ada disana" ucap Lino.
"Ya udah ayo cepet jalannya, takutnya helm nya hilang" ucap Lino.
Lalu mereka berdua segera mempercepat jalannya.
Setelah sampai, Ana dan Lino segera menghampiri motor Lino.
"Huh! untung aja helmnya masih ada" ucap Lino.
"Orang mah takut motornya hilang, eh ini malah takut helmnya hilang" heran Ana.
"Soalnya kan helm ini kado dari kamu, jadi lebih berharga daripada motornya" ucap Lino sambil memakai helm.
"Ya udah ayo naik" ucap Lino sambil menaiki motornya.
Ana segera naik ke motor Lino.
Lalu Lino segera melajukan motornya.
"Kita beli buah-buahan dulu ya buat mamah kamu" ucap Lino.
"Gak usah" ucap Ana.
Lino segera melajukan motornya menuju toko buah.
Sesampainya di toko buah, Ana dan Lino segera turun dari motor.
"No, aku bawa uang dikit" ucap Ana.
"Ya terus kenapa? lagian kan yang bayar aku" ucap Lino.
"Ya udah ayo masuk" ucap Lino.
Mereka berdua segera masuk kedalam toko buah. Lalu Lino segera membeli buah untuk mamahnya Ana.
Setelah selesai membeli buah, Lino langsung membayarnya.
Sesudah membayar, mereka berdua segera keluar dari tok tersebut.
"Ini pegang" ucap Lino sambil memberikan plastik yang berisi buah-buahan.
"Makasih ya udah beliin buah buat mamah" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino sambil naik ke motor.
"Ya udah ayo naik" suruh Lino.
Lalu Ana segera menaiki motor Lino.
Kemudian Lino segera melajukan motornya menuju rumah Ana.
* Rumah Ana
Sesampainya di rumah, Ana segera turun dari motor.
"Makasih ya udah dianterin" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino sambil tersenyum.
"Ya udah aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Hati-hati, No" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Lino segera melajukan motornya.
Setelah Lino pergi, Ana segera masuk kedalam rumahnya. Kemudian ia segera menghampiri mamahnya.
"Mah" panggil Ana.
"Ada apa, Na?" tanya mamah.
"Kondisi mamah sekarang gimana?" tanya Ana.
"Mamah udah baikan kok" ucap mamah.
"Oh iya, mah! ini dari Lino" ucap Ana sambil memberikan kantong plastik kepada mamahnya.
"Lino baik banget ya. Padahal dia tahu gimana sikap mamah ke dia, tapi dia masih baik sama mamah" ucap mamah.
"Oh iya, Na! tadi kamu dianter Lino ya?" tanya mamah.
Ana hanya mengangguk.
"Lino nya udah pulang lagi?" tanya mamah.
"Iya, dia udah pulang" ucap Ana.
"Nanti kamu chat Lino ya terus tolong sampein makasih ke Lino" ucap mamah.
"Iya, nanti Ana sampein" ucap Ana.
"Oh iya! papah kapan pulang, mah?" tanya Ana.
"Mamah gak tahu" ucap mamah.
"Kok gak tahu sih, mah" heran Ana.
"Iya, soalnya mamah belum nanya ke papah" ucap mamah.
"Kamu ke kamar sana! soalnya seragam kamu bau matahari" ucap mamah mengalihkan pembicaraan.
"Emang iya?" tanya Ana sambil mencium baju seragamnya.
"Iya bau" ucap mamah.
"Ya udah kalau gitu Ana ke kamar dulu ya, mah" ucap Ana.
"Iya" ucap mamah.
Ana segera pergi menuju kamarnya.
Sesudah mandi, ia memainkan ponselnya sambil duduk dikasurnya.
...****...
Arlino POV
Ketika sedang memainkan ponselnya, tiba-tiba ada panggilan telepon dari Ana.
Lino langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, sayang" ucap Lino.
"Idih!" ucap Ana.
Lino langsung tertawa karena mendengar reaksi pacarnya.
"Kamu pasti kangen ya? makanya nelpon aku" ucap Lino.
"Ih! percaya diri banget" ucap Ana.
"Terus kenapa nelpon?" tanya Lino.
"Kata mamah aku makasih katanya" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino.
"Oh iya, Na! aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Lino.
"Mau ngomong apa?" tanya Ana.
"Papah aku nyuruh aku buat makan malam sama anaknya temen papah aku" ucap Lino.
"Terus?" ucap Ana.
"Anaknya cewek" ucap Lino.
"Terus hubungannya sama aku apa?" ucap Ana.
"Kamu mau gak temenin aku buat ketemu sama anaknya temen papah aku?" tanya Lino.
"Gak mau, aku sibuk" ucap Ana.
"Sekali aja, please! soalnya aku gak mau kalau ketemu dia nya sendirian" mohon Lino.
"Mamah aku lagi sakit, No" ucap Ana.
"Eh, mamah" ucap Ana.
Lino hanya terdiam sambil mendengarkan percakapan antara Ana dan mamahnya.
"Hallo, Lino" ucap mamah Ana.
"Iya, tante" ucap Lino sedikit gugup.
"Kamu mau ngajak Ana makan malam ya?" tanya mamah Ana.
"Enggak, tante. Lino tadi cuma-" ucap Lino.
"Gak apa-apa kok kalau kamu ajak Ana makan malam" ucap mamah.
Lino terdiam sejenak.
"No" ucap mamah Ana karena Lino hanya diam saja.
"Iya, tante" ucap Lino.
"Jadi gak ajak Ana nya?" tanya mamah Ana.
"Hmm...iya jadi tante" ucap Lino.
"Tapi inget ya, bawa kendaraannya harus hati-hati. Terus nanti jangan lewat jalan yang sepi dan juga pulang nya jangan terlalu malam" kata mamah Ana.
"Iya nanti Lino bakal turutin nasehat tante" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu tante kasihin ke Ana lagi ya teleponnya" ucap mamah Ana.
"No, udah dulu ya teleponnya" ucap Ana.
"Eh tunggu dulu! aku masih mau ngobrol" ucap Lino.
"Mau ngobrol apa lagi sih?" tanya Ana.
"Nanti pas disana, kamu manggil sayang ya ke aku. Biar anaknya temen papah percaya bahwa aku itu beneran punya pacar" ucap Lino.
"Gak mau" ucap Ana.
"Please, bantuin aku. Aku gak mau dijodohin sama dia" ucap Lino.
"Dijodohin?" tanya Ana memastikan.
"Iya, papah aku ngejodohin aku sama dia" ucap Lino.
"Ya udah terima aja perjodohannya" suruh Ana.
"Na, aku kan pacar kamu. Masa kamu gak marah sih kalau pacarnya mau dijodohin sama orang lain" ucap Lino.
"Kan itu pilihan orang tua kamu, jadi kamu harus nurut sama orang tua kamu" ucap Ana.
"Aku cinta nya sama kamu, bukan sama dia" ucap Lino.
"No, kayaknya kamu cinta banget ya sama aku?" tanya Ana.
"Ya jelas lah" ucap Lino.
"Kok aku jadi yakin ya kalau sebenernya dulu kamu yang ditolak aku" ucap Ana.
"Idih! kebalik kali" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Tapi buktinya kamu tuh yang cinta banget sama aku" ucap Ana.
"Sebenernya kamu yang cinta banget sama aku, bahkan kamu nolongin aku dari begal yang waktu itu" ucap Lino.
Ana hanya diam saja.
"Kenapa diem?" tanya Lino.
"Gak kenapa-napa" ucap Ana.
"Kamu diem pasti karena kamu udah percaya kan kalau dulu kamu yang ditolak aku" ucap Lino.
"Enggak kok, aku diem karena ngantuk" ucap Ana.
"Oh karena ngantuk" ucap Lino sambil tertawa kecil.
"Iya ngantuk" ucap Ana.
"Kok aku gak percaya ya" ucap Lino.
"Ya udah sih kalau gak percaya gak apa-apa" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu aku tutup dulu ya teleponnya, soalnya aku ngantuk pingin bobo siang" ucap Ana.
"Oh ya udah" ucap Lino.
"Tidur yang nyenyak ya, cantik" ucap Lino.
Lalu Ana langsung mematikan panggilan teleponnya.
...****...
Anastasya POV
Ana senyum-senyum sendiri karena tadi Lino menyebutnya 'cantik'.
"Ini kayaknya emang gue deh yang pernah ditolak Lino" gumam Ana.
"Tapi kalau bener-bener gue yang nembak pertama, gue bakal malu banget sih sama Lino. Karena murahan banget kan kalau cewek yang nembak duluan" gumam Ana.
Setelah itu, Ana segera tidur karena ia sangat mengantuk.