
Skip
Hari Senin.
Ana pun buru-buru berangkat ke sekolah karena ia bangun kesiangan.
Tiba-tiba bel rumah nya pun berbunyi.
Lalu Ana pun segera keluar rumah untuk memastikan siapa yang datang ke rumahnya.
"Mamah!!!" teriak Ana.
Ana pun segera membuka pagar rumahnya. Lalu setelah itu, ia pun memeluk mamahnya.
"Kamu baik-baik aja kan di rumah?" tanya mamah.
"Baik kok, mah" ucap Ana berbohong.
"Nih oleh-oleh buat kamu" ucap papah.
"Makasih" ucap Ana.
"Yaudah masuk yuk" ajak mamah.
Mereka bertiga pun segera masuk kedalam rumah.
"Yaudah mah, pah, aku berangkat ke sekolah dulu ya" ucap Ana.
"Mau dianter sama papah gak?" tanya papah.
"Gak usah pah! lagian papah kan pasti butuh istirahat" ucap Ana.
"Ya udah Ana berangkat ya" ucap Ana sambil pergi.
Saat keluar rumah, tiba-tiba ada seseorang yang membunyikan klakson motornya.
Tin..tin
Ana pun langsung menghampirinya.
"Ngapain kesini?" tanya Ana.
"Mau ngambil jaket gue" ucap Lino.
"Nih" ucap Ana sambil memberikan tas jinjing berisi jaket milik Lino.
"Jaket gue luh cuci?" tanya Lino.
"Iya lah, masa gue enggak cuci sih" ucap Ana.
Lino pun mengambil jaketnya, lalu setelah itu ia pun mencium jaket miliknya untuk memastikan bahwa jaketnya telah dicuci.
"Udah gue cuci, No" ucap Ana meyakinkan Lino.
"Ini pake parfum?" tanya Lino.
"Iya, emang kenapa? luh gak suka sama wangi parfumnya?" tanya Ana memastikan.
"Gue suka kok" ucap Lino.
"Parfum nya mirip sama yang dipake Acha" ucap Lino lagi.
Lalu Lino pun segera memakai jaket nya.
"Yaudah kalau gitu, gue pergi ya" ucap Ana.
"Na, tunggu!" panggil Lino sambil memajukan motornya mendekati Ana.
Ana pun langsung melihat kearah Lino.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Luh ke sekolah sendiri?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Enggak bareng Raka?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Raka jam segini pasti udah disekolah" ucap Ana
"Yaudah bareng gue aja" ucap Lino.
Ana pun langsung teringat tentang isi surat itu.
"Enggak, gue mau berangkat sendiri aja" ucap Ana sambil berjalan.
"Nanti luh kesiangan loh" ucap Lino sambil melajukan motornya agar sejajar dengan Ana.
"Enggak bakal, soalnya gue mau naik ojek yang ada didepan" ucap Ana.
Lino pun terus melajukan motornya mengikuti langkah kaki Ana.
"No, ngapain sih ngikutin gue mulu" ucap Ana sambil mempercepat langkahnya menuju pangkalan ojek.
Lino pun masih saja melajukan motornya mengikuti langkah kaki Ana.
Saat sampai di pangkalan ojek, Ana pun tidak melihat satupun Abang ojek disitu.
"Tuh, kan! udah gue bilang ikut gue aja" ucap Lino.
"Enggak mau" ucap Ana.
"Cepet! nanti kesiangan" ucap Lino.
Akhirnya dengan terpaksa Ana pun menaiki motor milik Lino.
"Pegangan" suruh Lino.
Ana pun langsung memegang pundak Lino.
"Ngapain pegangan dipundak? emangnya gue tukang ojek" ucap Lino.
"Luh mau nganterin gue gak sih?" ribet amat deh harus pegangan segala" kata Ana.
Lino pun segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Lino!!!" teriak Ana sambil memegang pundak Lino dengan kuat.
"Apa?" ucap Lino dengan keras agar terdengar oleh Ana.
"Gak kedengeran" ucap Lino berbohong.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sampai disekolah.
Saat sampai di sekolah, ternyata gerbangnya sudah ditutup.
Ana pun turun dari motor Lino, lalu ia pun berjalan mendekati gerbang sekolah dan ia pun langsung menggedor-gedor gerbang sekolah.
"Pak, buka dong! kita mau masuk" mohon Ana kepada pak satpam.
"Maaf gak bisa, ini udah peraturannya. Paling nanti dibuka waktu upacara udah selesai" ucap pak satpam.
Lino pun segera menghampiri Ana.
"Tenang, Na! yang kesiangan bukan cuma kita doang kok" ucap Lino.
Ana pun langsung melihat ke sekitarnya dan memang cukup banyak siswa dan siswi yang terlambat.
"Ikut gue!" ajak Lino sambil memegang tangan Ana.
"Mau kemana?" tanya Ana.
"Udah pokoknya luh ikut aja" ucap Lino.
Setelah sampai Lino pun langsung melepaskan genggamannya.
"Naik ke pundak gue" suruh Lino.
"Enggak mau" kata Ana.
"Luh mau dihukum sama guru?" tanya Lino.
"Ya enggak mau lah" ucap Ana.
"Ya udah cepetan naik" ucap Lino sambil membungkukkan badannya.
"Gak mau! nanti luh ngintip bawahan gue" ucap Ana.
"Pikiran luh negatif amat sih" ucap Lino.
"Gue gak bakal ngintip luh" ucap Lino lagi.
"Beneran?" tanya Ana memastikan.
"Iya" ucap Lino.
"Janji?" ucap Ana sambil mengacungkan jari kelingking.
"Iya janji" ucap Lino sambil membalas acungan jari kelingking Ana.
Lalu Ana pun segera menaiki pundak Lino.
Setelah itu Ana pun langsung naik ke tembok dan setelah itu ia pun langsung melompat ke bawah.
"Aww" ringis Ana karena lututnya sedikit tergores karena mendarat diaspal.
Setelah itu Lino pun langsung memanjat tembok tersebut, lalu ia pun segera melompat ke bawah.
"Lutut luh kegores?" tanya Lino.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lino.
Lalu Lino pun segera mengambil plester yang berada didalam tasnya.
Setelah itu ia pun memasangkan plester pada lutut Ana.
"Makasih" ucap Ana.
Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana.
"Ayo!" ucap Lino pelan.
"Mau ke lapangan?" tanya Ana.
"Ya enggak lah, yang ada kita dihukum kalau ke lapangan" ucap Lino.
"Terus mau kemana?" tanya Ana.
"Ke tempat sepi" ucap Lino.
"Mau ngapain?" tanya Ana sedikit takut.
"Luh jangan mikir yang macem-macem! gue ngajak luh kesitu biar gak ada yang tahu, kalau kita ketahuan guru kan bisa-bisa kita dihukum" jelas Lino.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Yaudah ayo ikut gue" ucap Lino.
Ana pun segera mensejajarkan langkahnya dengan Lino.
Tiba-tiba Lino pun menarik pinggang Ana sambil memberi aba-aba agar Ana tidak bersuara.
Seketika jantung Ana pun berdetak kencang karena melihat wajah Lino yang sangat dekat dengannya.
Ana pun langsung menundukkan wajahnya karena ia takut wajahnya memerah.
Lino pun melihat kearah perpustakaan, dan ternyata guru itu pun sudah pergi.
Lalu setelah itu ia pun melihat kearah Ana, dan ia pun langsung melepaskan tangannya dari pinggang Ana.
"Maaf, gue tadi gak ada niatan buat pegang pinggang luh kok" ucap Lino pelan.
"Iya gue tahu" ucap Ana.
Lalu Lino dan Ana pun segera menuju ke tempat yang mereka rasa tempat itu sepi.
"Motor luh gimana dong? kan motornya ada diluar sekolah" tanya Ana.
"Tenang aja, motor gue gak akan kemana-mana kok. Lagian gue naruh motornya gak deket sama gerbang kok jadi gak akan ngehalangin jalan" ucap Lino.
"Upacara selesai nya jam berapa sih?" tanya Ana.
"Paling tiga puluh menit lagi selesai" ucap Lino.
"Ih lama banget" keluh Ana.
"Na, kemarin penguntit itu datang gak ke rumah luh?" tanya Lino memastikan.
"Enggak kok" ucap Ana berbohong.
"Syukur deh kalau enggak" ucap Lino.