
Setelah menjenguk temannya, Ana dan Clara pun langsung ke rumahnya Clara.
Setelah sampai di rumah Clara, kita berdua pun segera berganti baju.
Lalu setelah itu, kita berdua pergi ke ruang tamu untuk menonton tv.
"Ra, luh kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Ana.
"Gue lagi seneng banget, Na! akhirnya gue ketemu lagi sama Ardan" ucap Clara.
"Kayaknya Ardan first love luh ya?" tanya Ana.
"Bisa dibilang gitu" ucap Clara.
"Kalau first love luh siapa, Na?" tanya Clara.
"Gue gak tahu" ucap Ana.
"Oh iya kan first love luh Raka" kata Clara.
"Bukan! kan gue udah bilang kalau gue waktu itu terpaksa nerima Raka" ucap Ana.
"Kalau bukan Raka berarti Arlino" ucap Clara.
"Enggak, gue belum punya first love" ucap Ana.
"Luh normal kan, Na?" tanya Clara memastikan.
"Ya normal lah" kesal Ana.
"Habisnya luh kok gak punya first sih, aneh aja udah SMA tapi gak punya first love" ucap Clara.
"Soalnya first love gue itu oppa-oppa Korea" ucap Ana.
"Ya ampun, Na! masa first love luh orang yang gak bisa dimiliki sih" ucap Clara.
"Ih, kok luh gitu sih, Ra! kan siapa tahu jodoh gue itu Cha Eunwoo" ucap Ana.
"Itu sih mustahil banget, Na" ucap Clara sambil tertawa.
"Gak ada yang mustahil didunia ini, Ra" ucap Ana.
"Terserah luh aja deh, cape gue ngejelasinnya" ucap Clara.
"Ra" panggil Ana.
"Kenapa? mau bahas Cha Eunwoo lagi?" tanya Clara.
"Bukan!" ucap Ana.
"Terus mau bahas apa?" tanya Clara.
"Gue seneng banget deh, akhirnya Lino sama Raka baikan" ucap Ana.
"Gue juga seneng lihatnya" ucap Clara.
"Makasih ya, Na!" kata Clara.
"Makasih untuk apa?" tanya Ana.
"Makasih karena udah bikin Lino sama Raka baikan" ucap Clara.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Clara.
"Acha pasti seneng deh, lihat mereka berdua akur lagi" ucap Clara.
"Ra, gue mau ke mini market dulu ya" ucap Ana.
"Mau beli apa?" tanya Clara.
"Mau beli pembalut sama makanan" ucap Ana.
"Luh mau nitip?" tanya Ana.
"Mau" ucap Clara.
"Mau nitip apa?" tanya Ana.
"Eskrim" ucap Clara.
"Rasa apa?" tanya Ana.
"Rasa vanilla" ucap Clara.
"Oke" ucap Ana.
"Nih uangnya" ucap Clara.
"Gak usah, biar gue aja yang bayar" ucap Ana.
Ana pun segera pergi menuju mini market.
Setelah 10 menit akhirnya Ana pun sampai di mini market, Ana pun segera membeli pembalut, snack dan eskrim.
Setelah selesai mengambil pembalut, snack dan eskrim, Ana pun segera pergi ke kasir.
"Mau beli apa lagi, kak?" tanya kasir.
"Udah itu aja" ucap Ana.
"Totalnya semuanya enam puluh ribu kak" ucap kasir tersebut.
Ana pun langsung membayarnya.
"Mbak, kenapa gak pake kantong plastik?" tanya Ana.
"Maaf, kak! disini kami tidak menyediakan kantong plastik" ucap kasir.
"Oh gitu ya" ucap Ana.
Ana pun segera membawa belanjaannya.
"Aaaa malu banget gue! mana gue beli pembalut lagi. Kenapa coba gue tadi gak bawa tas" batin Ana.
Tin...tin
(Suara klakson motor)
"Lino" batin Ana.
Lino pun menghampiri segera menghampiri Ana.
"Ngapain disini?" tanya Lino.
"Kalau gue ada disini, berarti gue lagi belanja lah" sahut Ana.
"Oh beli pembalut" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Aduh malu banget gue! kenapa coba yang disebut cuma pembalut doang kan gue beli snack sama eskrim juga" ucap Ana.
"Yaudah ayo naik!" ajak Lino.
"Mau kemana?" tanya Ana.
"Ke rumahnya Clara lah" ucap Lino.
"Gausah! gue bisa kesana sendiri" tolak Ana.
"Yakin? emang luh gak malu bawa-bawa pembalut" ucap Lino.
"Yaudah iya" ucap Ana.
"Belanjaan luh masukin aja ke tas gue" ucap Lino.
Ana pun segera memasukan belanjaannya kedalam tas Lino.
Setelah itu, Ana pun menaiki motor Lino.
Lino pun langsung melajukan motornya.
"Di rumah Clara aman kan?" tanya Lino memastikan.
"Gue gak tahu" ucap Ana.
"No" panggil Ana.
"Apa?" tanya Lino.
"Makasih ya udah mau baikan sama Raka" ucap Ana.
"Justru gue yang harus bilang makasih sama luh" ucap Lino.
Akhirnya Lino dan Ana pun sampai ke rumah Clara.
Pada saat sampai di rumah Clara, kita pun melihat Clara dan Raka yang sedang mengobrol di luar.
Ana pun segera turun dari motornya Arlino.
"Raka, kapan kesini?" tanya Ana.
"Baru aja" ucap Raka.
"Luh dianter sama Lino?" tanya Clara kepada Ana.
"Iya, tadi kita gak sengaja ketemu" ucap Ana.
"Yaudah masuk yuk!" ucap Clara.
"Gue mau pulang aja" ucap Lino.
"Udah main dulu disini" ucap Clara.
"Oh iya, eskrim gue mana?" tanya Clara.
"Di tas Lino" ucap Ana.
Ana pun berniat untuk mengambilkan eskrim Clara namun dicegah oleh Lino.
"Biar gue aja yang bawa" ucap Lino sambil membawa tas nya.
"Yaudah ayo masuk" ucap Clara.
"Padahal gue kan cuma mau ngambil eskrim yang Clara, bukan mau bawain tas nya" batin Ana.
Mereka berempat pun akhirnya masuk kedalam. Dan segera duduk di ruang tamu.
"Bentar ya! gue mau ambilin air minum dulu buat kalian berdua" ucap Clara.
"Buat gue gak diambilin, Ra?" tanya Ana.
"Luh kalau mau minum ambil aja sendiri ke dapur" kata Clara
Clara pun segera pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Arlino dan Raka.
"Oh iya kenapa kesini, Ka?" tanya Ana.
"Gue cuma mau mastiin keadaan luh doang" ucap Raka.
"Gue takut penguntit itu datang kesini" ucap Raka lagi
"Luh berdua kenapa gak balikan aja?" tanya Lino tiba-tiba.
"Enggak, kita lebih cocok jadi sahabat. Lagian Ana suka sama orang lain" ucap Raka.
"Siapa?" tanya Lino.
"Luh" ucap Raka.
"Ih! kapan gue ngomong kayak gitu!" sahut Ana.
"Bohong, No! jangan didengerin apa kata Raka" ucap Ana.
"Na, kok luh panik? padahal tadi gue cuma bercanda" ucap Raka.
"Gue gak panik! gue cuma kaget aja, kan gue gak bilang sama luh kalau gue suka Lino" ucap Ana.
Lino pun hanya tersenyum mendengar ucapan Raka dan Ana.
Setelah mengambil air minum, Clara pun kembali menghampiri Ana, Lino dan Raka.
"Nih" ucap Clara sambil menaruh air minum tersebut diatas meja.
"Makasih" ucap Lino dan Raka.
Mereka berdua pun segera meminum air yang diberikan oleh Clara.
"Oh iya, No! eskrim gue" ucap Clara.
"Tuh ambil aja di tas" ucap Lino.
"Kenapa dimasukin di tas Lino, Na" ucap Clara sambil membuka resleting tas Lino.
"Soalnya gak dikasih kantong plastik sama kasirnya" ucap Ana.
Clara pun segera mengeluarkan semua belanjaan yang dibeli oleh Ana dan disimpan di atas meja.
"Ih, Ra! jangan disimpen diatas meja juga kali" ucap Ana sambil membawa pembalut yang dibelinya dan Ana pun segera pergi ke kamar Clara untuk menyimpan pembalut tersebut.
Lino dan Raka pun menahan tawanya akibat ulah Clara.