
"Itu mie kamu rasa apa? kok ada kerupuk nya" ucap Lino.
"Rasa seblak" ucap Ana.
"Emang ada rasa mie seblak?" tanya Lino.
"Ada" ucap Ana.
"Emang kamu gak dilihat dulu pas belinya?" tanya Ana.
"Enggak, aku langsung asal ngambil aja gitu. Jadi gak dilihat rasa-rasanya" ucap Lino.
"Rasanya enak gak, Na?" tanya Lino.
"Enak banget" ucap Ana.
"Pedes gak?" tanya Lino.
"Gak terlalu pedes sih" ucap Ana.
"Yakin?" tanya Lino.
"Iya, cobain aja sendiri" ucap Ana.
Lino segera mencicipi mie punya Ana.
"Uhuk...uhuk"
"Kenapa, No?" tanya Ana.
Lino langsung meminum air putih.
"Gila! pedes banget" ucap Lino.
"Enak tahu" ucap Ana.
"Bisa-bisa aku sakit perut kalau ngabisin mie itu" ucap Lino.
"Perasaan gak terlalu pedes kok, No" ucap Ana.
"Menurut aku itu pedes banget, Na" ucap Lino.
Setelah selesai makan, Ana segera mencuci mangkuk dan gelas yang telah digunakan Ana dan Lino.
Sesudah mencuci mangkuk dan gelas, Ana segera kembali menghampiri Lino.
"No" panggil Ana.
"Apa?" ucap Lino.
"Aku pingin belajar menggambar" ucap Ana.
"Menggambar apa?" tanya Lino.
"Menggambar apa aja deh, kan waktu itu kamu udah janji buat ajarin aku ngegambar" ucap Ana.
"Ya udah bentar, aku mau ambil alat-alatnya dulu" ucap Lino.
Lino segera pergi menuju kamarnya untuk mengambil alat-alat untuk menggambar.
Setelah mengambil alat-alat tersebut, Lino segera kembali menghampiri Ana.
"No, menggambar nya di Deket kolam renang yuk" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
Mereka berdua segera pergi menuju kolam renang.
Sesampainya disana, Lino dan Ana segera duduk di kursi.
"Nih" ucap Lino sambil memberikan kertas HVS dan pensil kepada Ana.
"Mau ngegambar apa?" tanya Ana.
"Ya terserah kamu" ucap Lino.
"Gimana kalau kita saling gambar wajah satu sama lain" ucap Ana.
"Ya udah ayo" ucap Lino.
"Aku duduk nya disana ya, biar kamu gak lihat hasil gambar aku" ucap Ana.
"Iya terserah" ucap Lino.
Ana segera duduk di kursi lain yang jauh dari tempat Lino.
Beberapa menit kemudian....
"No, udah selesai belum?" tanya Ana.
"Udah" ucap Lino.
Ana segera menghampiri Lino.
"TARAAAA!!!" teriak Ana sambil memperlihatkan gambar yang ia buat.
"Gimana gambar aku?" tanya Ana.
"Bagus kok" ucap Lino sambil menahan tawanya.
"Ih jangan ketawa" ucap Ana.
"Aku gak ketawa, Na" ucap Lino.
"Itu kelihatan kamu lagi nahan tawa" ucap Ana.
"Enggak kok" ucap Lino.
"Ya udah coba aku lihat hasil gambar kamu" ucap Ana.
"Gak mau ah" ucap Lino.
Ana berniat mengambil kertas tersebut namun Lino segera menyembunyikan kertas tersebut ke belakang.
"Ih lihat!" ucap Ana.
Lino segera mengangkat tangannya agar Ana tidak bisa mengambil kertas tersebut.
Ana melompat-lompat agar ia dapat mengambil kertas tersebut.
"Ayo ambil kalau bisa" usil Lino.
Ana segera menggelitik perut Lino agar Lino menurunkan tangannya.
"Geli, Na" ucap Lino sambil tertawa kecil.
Lino segera mundur, namun saat mundur tiba-tiba Lino terpeleset dan ia sontak menarik tangan Ana agar Ana menariknya. Namun ternyata Ana ikut terbawa sehingga keduanya terjatuh ke kolam renang.
Byurrr
"No, tolong! aku gak bisa berenang" bohong Ana.
Pada saat Lino menghampiri Ana, Ana malah menjauh dan Ana dengan sengaja menenggelamkan dirinya.
Lino buru-buru menghampiri Ana dan membawanya agar naik ke permukaan.
Lino segera meletakkan Ana di pinggir kolam renang.
"Na, bangun" ucap Lino sambil menepuk-nepuk pelan pipi Ana.
"Kerjain ah" batin Ana.
Lino segera mendekatkan wajahnya dan ia langsung memberi nafas buatan.
"Ini gimana nih? kok Lino jadi ngasih nafas buatan gini" batin Ana.
"Gue bangun atau enggak nih" batin Ana.
Akhirnya Ana segera membuka matanya secara perlahan dan ia langsung pura-pura batuk agar Lino mempercayai bahwa Ana tadi memang pingsan.
"Uhuk...uhuk"
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Lino.
"Na, jawab! kamu gak apa-apa kan?" tanya Lino.
"Iya, aku gak apa-apa kok" ucap Ana sambil duduk.
"Maafin aku ya, aku kira kamu tadi bakal bantuin narik tangan aku" ucap Lino.
"Iya gak apa-apa" ucap Ana dengan pipi yang merona.
"Bentar, aku ambilin handuk dulu" ucap Lino.
Lino segera pergi menuju kamarnya.
"Yah handphone gue kemasukan air" keluh Ana.
Lino segera kembali menghampiri Ana.
"Handphone kamu kemasukan air ya?" tanya Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Nanti aku ganti ya" ucap Lino.
"Eh! gak usah" ucap Ana.
"Nih pake" ucap Lino sambil memberikan handuk, baju dan celana kepada Ana.
"Eh ini kan baju sama celana aku" ucap Ana.
"Iya, kan waktu itu aku pinjem" ucap Lino.
"Oh iya, gue lupa ngembaliin baju ke Bagas" batun Ana.
"Ya udah, kamu mau mandi nya di kamar aku atau mau mandi di kamar tamu?" tanya Lino.
"Aku mandi di kamar tamu aja" ucap Ana.
Akhirnya Ana segera pergi ke kamar tamu, sedangkan Lino pergi ke kamarnya.
Skip
Setelah selesai mandi, Ana segera pergi menghampiri Lino.
"No, ada kantong plastik gak?" tanya Ana.
"Ada, buat apa?" tanya Lino.
"Buat pakaian yang basah" ucap Ana.
"Bentar ya, aku ambilin dulu" ucap Lino sambil pergi ke dapur.
Setelah mengambil kantong plastik, Lino segera kembali menghampiri Ana.
"Ini" ucap Lino sambil memberikan kantong plastik tersebut kepada Ana.
Ana segera mengambil kantong plastik tersebut. Kemudian ia segera pergi menuju kamar tamu.
Lino segera pergi ke dapur lagi untuk membuatkan teh manis hangat untuk Ana.
Setelah selesai membuat teh manis, Lino segera menghampiri Ana dan duduk disebelahnya.
"Nih minum dulu" ucap Lino sambil memberikan teh manis buatannya.
"Makasih" ucap Ana sambil mengambil teh manis.
"Iya sama-sama" ucap Lino.
Ana segera meminum teh manis tersebut.
"Maafin aku ya" ucap Lino.
"Iya gak apa-apa, No" ucap Ana tanpa melihat kearah Lino.
"Kamu marah ya?" tanya Lino karena Ana menjadi lebih pendiam.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Besok aku gantiin handphone kamu" ucap Lino.
"Gak usah, lagian handphone nya gak rusak" ucap Ana.
"Tetep aja harus diganti, kan handphone nya kemasukan air" ucap Lino.
"Gak usah" ucap Ana.
"Kamu kenapa sih lihat kesana mulu?" tanya Lino.
"Gak apa-apa" ucap Ana.
Lino segera mengarahkan wajah Ana agar menghadap kearahnya.
"Pipi kamu kenapa merah gitu?" tanya Lino.
"Enggak merah kok" ucap Ana salah tingkah.
"Kamu panas ya?" tanya Lino.
"Enggak" ucap Ana.
Lino segera memegang kening Ana, namun keningnya tidak panas.
"Kamu sakit gak?" tanya Lino.
"Enggak, aku gak sakit" ucap Ana sambil menunduk.
"Ini jantung gue kenapa deg-degan banget" batin Ana.
"No, aku mau pulang" ucap Ana.
"Ya udah bentar ya, aku mau ambil kunci mobil dulu" ucap Lino.
Lino segera pergi menuju kamarnya, sedangkan Ana pergi ke kamar tamu untuk mengambil kantong plastik berisi pakaian basah miliknya.
Setelah itu, mereka berdua segera pergi dengan mengendarai mobil Lino.
(Di perjalanan)
"Na, kamu kenapa diem mulu?" tanya Lino.
"Gak kenapa-napa" ucap Ana.
"Ini gue kenapa sih, padahal kan gue pernah di cium Lino. Tapi kok pas Lino tadi ngasih nafas buatan, jantung gue jadi deg-degan. Padahal kan Lino ngasih nafas buatannya udah beberapa menit yang lalu, tapi kok deg-degan nya masih kerasa ya" batin Ana.
"Kamu pulang ke rumah mamah kamu nya mau kapan?" tanya Lino.
"Aku pulang ke rumah mamah nanti malem" jawab Ana.
"Dianter sama papah kamu?" tanya Lino.
"Iya" jawab Ana.
Skip
Setelah sampai, Ana segera turun dari mobil Lino.
"No, hati-hati ya pulangnya" ucap Ana sambil menunduk.
"Iya" ucap Lino.
"Ya udah aku pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
Lino segera melajukan mobilnya.
Setelah Lino pergi, Ana segera masuk kedalam rumah papahnya.
Ana buru-buru melihat ke cermin dan memang benar yang dikatakan oleh Lino bahwa pipinya merona.
"Ini jantung kenapa masih deg-degan sih, padahal kan Lino nya udah pergi" heran Ana.