
"Udahlah jangan dibahas masalah itu, lebih baik kita main basket aja" ucap Bagas sambil memainkan bola basket.
Bagas pun berlari sambil mendribble kan bolanya dan memasukannya ke ring.
"No, mau main basket gak?" tanya Gilang.
"Kuy lah!" ucap Lino.
"Guys nih minumnya" ucap Clara yang baru saja datang.
"Wah! gak usah repot-repot, Ra" ucap Aldi sambil berniat mengambil air mineral yang dibawa Clara.
"Ih, ini minuman bukan buat luh!" ucap Clara.
Ana, Naya, Lia dan Felisa pun segera mengambil air mineral tersebut dan mereka pun langsung meminumnya.
"Woy! kita ikutan dong" ucap Clara.
"Gas, ajakin aja mereka" ucap Gilang.
"Ya udah sini" ucap Bagas.
Kita berlima pun menghampiri mereka.
"Gimana kalau mainnya cewek lawan cowok" ucap Aldi.
"Gak ah, pasti yang menang bakalan cowok lah" ucap Felisa.
"Gak apa-apa, kan cuma permainan ini" ucap Aldi.
"Pokoknya kita gak mau" ucap Felisa.
"Ya udah kita mainnya dicampur aja" ucap Aldi.
"Terus ini gimana dong, kan kita jumlahnya ganjil" ucap Lia.
"Hmm iya juga sih" ucap Aldi.
"Gue gak ikutan aja deh, gue gak bisa mainnya" ucap Ana.
"Eh luh main aja, soalnya gue lagi males main" ucap Lino kepada Ana.
"Tapi gue gak bisa" ucap Ana.
"Masa dribble bola aja gak bisa" ucap Bagas.
"Iya deh, gue ikutan" ucap Ana.
"Ya udah kita bagi jadi dua tim. Gue, Naya, Felisa sama Clara satu tim. Sedangkan grup Gilang yaitu Aldi, Ana sama Lia" ucap Bagas.
"Kok luh gitu sih ngebagi grupnya" ucap Lia.
"Emangnya kenapa?" tanya Bagas.
"Masa tim Gilang pendek semua gak kayak tim luh" ucap Lia.
"Ya udah gak apa-apa kali, kita buktiin aja bahwa kita bakal menang ngelawan mereka" ucap Aldi.
Akhirnya permainan pun dimulai.
"Kesiniin woy!!!" teriak Aldi kepada Ana.
"Nih" ucap Ana sambil berjalan memberikan bola ke Aldi dengan santai.
"Anjir luh kenapa bawa jalan tuh bola" ucap Aldi.
Lino yang melihat kejadian tersebut tidak berhenti tertawa karena lucu melihat kebodohan Ana.
"Kan gue udah bilang kalau gue gak bisa" ucap Ana.
"Ya udah deh gue gak ikutan aja, gue gak bisa" ucap Ana lagi sambil pergi ke tempat duduk didekat Lino.
"Terus gimana dong? Tim kita jadi kurang satu orang" ucap Lia.
"Ah, biarin aja! lagian si Ana gak berguna di tim kita" ucap Aldi.
"WOY GUE DENGER!!!" teriak Ana.
Mereka pun bermain kembali, sedangkan Ana dan Lino hanya melihat mereka yang sedang bermain basket.
"Luh bego banget sih! masa bola nya dibawa" ucap Lino.
"Ishh! gue kan gak bisa" kesal Ana.
"Dari SMP emang gak pernah diajarin main basket?" tanya Lino.
"Gue gak pernah ikutan pelajaran olahraga" ucap Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Gue sering pingsan kalau kecapean" ucap Ana.
"Luh sama anak cewek yang lain dari tadi disini?" tanya Lino.
"Enggak, tadi gue sama mereka lari pagi dulu baru kesini"ucap Ana.
"Tapi kok luh gak pingsan sih, kan katanya kalau kecapean bakal pingsan" ucap Lino.
"Kan tadi kebanyakan nya jalan, jadi gak terlalu capek" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"Oh iya luh sama Raka sahabatan dari kapan?" ucap Lino.
"Dari kecil, emangnya kenapa?" ucap Ana.
"No, maaf ya soal kejadian waktu di kantin. Itu semua salah gue, gue yang nyuruh Raka bilang ke luh buat hapus video itu" ucap Ana.
"Justru gue yang harusnya minta maaf ke luh, gue seharusnya gak nyium luh waktu itu dan gue juga minta maaf ke luh atas kejadian kemarin" jelas Lino.
"Oh iya lutut luh masih lebam?" tanya Lino.
"Udah enggak kok" bohong Ana.
"Lino kok tiba-tiba perhatian gini ya sama gue" batin Ana.
"Ana gue mau ngomong dong sama luh" ucap Lino.
"Ngomong apa?" tanya Ana.
"Luh tahu gak cewek yang dulu disukai sama Raka?" tanya Lino.
"Enggak, emang siapa?" ucap Ana kebingungan.
"Namanya Acha" ucap Lino.
"Acha? Bukannya itu sahabatnya Naya, Lia, Clara sama Felisa ya" ucap Ana.
"Luh tahu Acha?" tanya Lino.
"Enggak sih, tapi gue dikasih tahu sama Clara tentang dia" ucap Ana.
"Emang kenapa ya?" tanya Ana lagi.
"Dia itu pacar gue" ucap Lino.
"Oh Acha pacar luh! yang sabar ya, No. Gue tahu kok perasaan luh, pasti sedih banget" ucap Ana.
"Kalau boleh tahu, dia meninggal karena apa?" ucap Ana lagi.
"Dia ditabrak dan dia koma. Kata dokter, waktu dia koma ada seseorang yang pakai masker dan topi. Dia masuk ke ruangan Acha sebelum dia meninggal" jelas Lino.
"Luh tahu siapa orang itu?" tanya Ana.
"Gue gak tahu, tapi gue ngerasa si Raka yang nabrak Acha" ucap Lino.
"Loh luh kok nyalahin Raka sih" kesal Ana dan ia pun langsung pergi ke tempat duduk yang lain.
Flashback On
"Luh lagi ngapain?" tanya Lino kepada Raka.
"Lagi lihat foto gebetan gue" ucap Raka.
"Mana coba, gue pingin lihat" ucap Lino.
"Kepo luh jadi orang" ucap Raka.
"Pelit amat" ucap Lino.
"Oh iya No, antar gue beli bunga yuk" ajak Raka.
"Buat siapa?" tanya Lino.
"Buat seseorang" ucap Raka.
"Buat cewek?" tanya Lino.
"Iya lah masa cowok, emangnya gue homo apa" ucap Raka.
"Sekarang?" tanya Lino.
"Iya lah masa tahun depan, nanti yang ada direbut orang" ucap Raka.
Lino pun menemani Raka untuk membeli bunga.
Setelah sampai di toko bunga, mereka berdua pun melihat bunga-bunga yang ada di toko tersebut.
"No, bantuin gue pilihin bunga dong" ucap Raka.
Lino pun membantu Raka untuk memilihkan bunga.
"Nih, cewek pasti suka sama bunga mawar merah" ucap Lino.
"Emang iya? Tahu dari mana luh?" heran Raka.
"Gue sering lihat di film-film" ucap Lino.
"Oh luh suka nonton film romance, gue kira luh sukanya nonton yang action gitu" ucap Raka.
"Gue mah semua genre juga ditonton" ucap Lino.
"Oh iya, emang bunganya buat dikasih ke siapa sih?" tanya Lino penasaran.
"Kan gue udah bilang buat gebetan gue" ucap Raka.
"Iya, maksud gue itu namanya siapa?" tanya Lino.
"Acha" ucap Raka.
"Acha yang di kelas gue?" tanya Lino.
"Iya Acha yang dikelas luh, emang kenapa?" tanya Raka.
"Ka, sebenernya gue itu pacarnya Acha" jelas Lino
Raka pun terdiam dan ia pun segera pergi meninggalkan Lino.
Setelah beberapa hari, Raka dan Lino pun tidak saling menyapa satu sama lain. Karena Raka muak dengan Lino, ia pun memutuskan untuk keluar dari geng motor tanpa bilang kepada teman-teman geng motornya.
Flashback Off