
"Ini hujan nya kapan reda nya sih?" gumam Ana.
"Luh mau pulang?" tanya Lino.
"Ya iyalah" ucap Ana.
"Ya udah ayo gue anter pake mobil" ucap Lino.
"Gak mau ah!" ucap Ana.
"Tadi katanya mau pulang" kata Lino.
"Iya mau, tapi gue gak mau dianter luh" ucap Ana.
"Kenapa gak mau?" tanya Lino.
"Gue takut Bagas marah sama gue" ucap Ana.
"Bagas gak mungkin marah lah, lagian tadi kan gue udah telepon dia" ucap Lino.
"Apa mau gue telepon dia? suruh dia jemput luh" ucap Lino.
"Gak usah" ucap Ana.
"Yaudah deh, ayo anterin gue" ucap Ana pasrah.
"Bentar, gue mau ambil kunci mobil dulu" ucap Lino sambil pergi.
Setelah mengambil kunci mobilnya, Lino pun langsung menghampiri Ana.
"Ayo" ajak Lino.
Lalu mereka berdua pun segera keluar, dan mereka berdua langsung masuk kedalam mobil Lino. Setelah itu, Lino pun segera melajukan mobilnya itu.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"AC nya boleh dimatiin gak?" ucap Ana.
"Emang dingin banget ya?" heran Lino karena dirinya merasa kegerahan.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Lino pun segera mematikan AC mobilnya.
Setelah beberapa menit diperjalanan, tiba-tiba Ana pun mengantuk dan ia pun langsung tertidur.
...****...
Setelah sampai, Lino pun segera memarkirkan mobilnya tepat didepan rumah Ana.
Lalu Lino pun langsung melihat kearah Ana yang sedang tertidur. Dan seketika bibir Lino pun tersenyum ketika melihat Ana.
Lino pun dengan sengaja tidak membangunkan Ana karena ia tidak mau mengganggu tidur Ana.
15 menit kemudian, Ana pun terbangun.
"Oh udah nyampe" ucap Ana sambil mengucek matanya.
"Iya, baru aja nyampe" ucap Lino berbohong karena sebenarnya mereka sudah nyampe dari tadi.
"Makasih ya udah nganterin gue" ucap Ana.
"Iya, sama-sama" ucap Lino.
Lalu Ana pun segera turun dari mobil.
"Gue pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya, hati-hati ya" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino sambil melajukan mobilnya.
Setelah Lino pergi, Ana pun berniat masuk ke rumah namun ia pun langsung mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumahnya karena didalam rumahnya tidak ada siapa-siapa.
"Gue ke rumah Raka aja deh" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera pergi menuju rumah Raka.
Setelah sampai di rumah Raka, Ana pun langsung mengetuk pintu rumah Raka.
Tidak menunggu lama, Raka pun membuka pintu tersebut.
"Ada apa, Na?" tanya Raka.
"Gue di rumah luh dulu ya, soalnya mamah sama papah gue lagi ke pernikahan temennya" ucap Ana.
"Yaudah ayo masuk" kata Raka.
Lalu mereka berdua pun segera masuk kedalam, dan langsung duduk disofa.
"Orang tua luh mana?" tanya Ana.
"Ya ke pernikahan temennya juga lah, kan mamah luh sama mamah gue sekelas waktu disekolah nya" ucap Raka.
"Mereka sekelas?" tanya Ana.
"Iya, emangnya luh gak dikasih tahu?" tanya Raka.
"Enggak" ucap Ana
"Habis dari rumahnya Lino" ucap Ana.
"Mau ngapain?" tanya Raka.
"Kerja kelompok" jawab Ana.
"Ya ampun gue lupa" teriak Ana.
"Kenapa?" tanya Raka.
"Karton nya gak ke bawa" ucap Ana.
"Karton apaan?" tanya Raka.
"Itu loh tugas SBK yang ngegambar" ucap Ana.
"Emang dikumpulin kapan?" tanya Raka.
"Besok" jawab Ana.
"Tenang aja nanti sama Lino pasti dibawa kok" ucap Raka.
"Tapi dia orangnya pelupa, gimana kalau besok dia gak bawa kartonnya?" ucap Ana.
"Ya udah telepon aja, suruh dia biar langsung masukin kedalam tas biar dia gak lupa nantinya" kata Raka.
Ana pun segera membuka tas miliknya, lalu ia pun berniat untuk menelepon Lino.
"Handphone gue mana?" tanya Ana.
"Lah! mana gue tahu" sahut Raka.
"Ya ampun pasti ketinggalan di mobil Lino" ucap Ana.
"Luh bilang Lino pelupa eh tahunya luh sendiri juga pelupa" ucap Raka sambil tertawa.
"Gue biasanya gak kayak gini kok" ucap Ana.
"Luh terlalu salah tingkah kali waktu ada Lino, makanya jadi lupa segalanya" ucap Raka.
"Please deh, Ka! gue udah move on sama dia. Luh jangan pancing-pancing gue mulu" ujar Ana.
"Udah move on? kayak yang pernah jadian aja" ucap Raka sambil tertawa.
"Maksud gue itu move on dalam artian berusaha untuk tidak suka lagi sama dia" ucap Ana.
"Na, emang luh yakin suka sama Bagas?" tanya Raka memastikan.
Ana pun hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa.
"Udah, jujur aja sama gue. Gue gak akan bilang ke siapa-siapa kok" ucap Raka.
"Sebenernya yang luh bilang waktu itu tuh bener, gue nerima Bagas cuma buat jadiin dia pelampiasan doang gara-gara Lino waktu itu nyuruh gue buat ngejauhin dia, makanya waktu itu gue terpaksa nerima Bagas biar gue bisa move on dari Lino" jelas Ana.
"Gak tahu diri banget ya gue jadi cewek" ucap Ana.
"Ya udah, kalau gitu luh jalanin dulu aja sama Bagas. Karena itu satu-satunya jalan buat luh move on dari Lino" ucap Raka.
"Tapi semakin gue deket sama Bagas, semakin gue gak nyaman" ucap Ana.
"Maksudnya gak nyaman gimana?" bingung Raka.
"Waktu itu gue diantar pulang sama dia pake mobil. Terus dalam perjalanan pulang, gue ketiduran. Pas udah sampai di rumah gue, dia cium bibir gue. Sumpah disitu gue pingin nangis banget sebenarnya" ucap Ana.
"Na, kok gue jadi inget kejadian luh sama Lino yang dulu ya" ucap Raka.
"Yang mana?" tanya Ana.
"Yang luh nyuruh gue buat bilang ke Lino, biar hapus video luh sama dia. Terus gue jadi berantem deh sama dia" ucap Raka.
"Oh iya, waktu itu gue nampar dia loh gara-gara dia cium gue" ucap Ana.
"Luh nampar dia?" tanya Raka terkejut.
"Iya, soalnya gue kesel banget" ucap Ana.
"Terus kenapa Bagas gak luh tampar juga? kan dia cium luh" ucap Raka.
"Karena gue gak enak kalau nampar dia, soalnya gue takut dia marah sama gue" ucap Ana.
"Terus kenapa waktu itu luh nampar Lino? emang luh gak takut dia marah sama luh?" tanya Raka.
"Enggak" ucap Ana.
"Kok aneh sih! padahal gue takut banget sama Lino, apalagi waktu dia marah. Bahkan anak-anak Skz gak ada yang berani sama dia" jelas Raka.
"Kenapa gak berani sama Lino?" tanya Ana.
"Karena Lino itu jago berantem, makanya anak-anak Skz gak ada yang berani sama dia" ucap Raka.
"Jago berantem tapi kok diperutnya ada luka" heran Ana.
"Luka?" bingung Raka.
"Iya, diperut Lino ada bekas luka" ucap Ana.
"Luh kok bisa tahu ada bekas luka diperut Lino" heran Raka.
"Kan Lino sendiri yang nunjukin bekas lukanya ke gue" ucap Ana terus terang.