ARLINO

ARLINO
Episode 266



"Om, tante. Ana pulang dulu ya, soalnya Ana tadi bilang ke mamahnya sebentar perginya" ucap Ana.


"Loh baru juga kesini bentar, masa pulang lagi" ucap mamah Lino.


"Tapi tadi mamah telepon Ana dan nyuruh Ana pulang" ucap Ana.


"Ya udah, No. Kamu anterin sana!" suruh papah Lino.


"Ya udah ayo, Na" ucap Lino.


"Eh gak usah, aku pulang sendiri aja" ucap Ana.


Ana segera salam ke mamah dan papah Lino.


"No, aku pulang dulu ya" ucap Ana.


"Ayo aku anter aja pulangnya" ucap Lino.


"Gak usah, No. Kamu kan harus disini temenin papah kamu" ucap Ana.


"Gak apa-apa, biar Lino aja yang anterin kamu" ucap papah Lino.


"Iya, biar Lino aja yang anterin kamu" ucap mamah Lino.


"Ya udah ayo, Na" ucap Lino.


"Gak ngerepotin kan, No?" tanya Lino memastikan.


"Ya enggak lah" ucap Lino.


"Ya udah mah, pah! Lino anterin Ana dulu ya" ucap Lino.


"Iya" ucap mamah dan papahnya.


Lino dan Ana segera pergi dengan mengendarai mobil Lino.


Skip


(Diperjalanan)


"No" panggil Ana.


"Iya, ada apa?" tanya Lino.


"Aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Ana.


"Boleh, mau nanya apa?" tanya Lino.


"Tapi jangan dibilangin ke papah kamu ya" ucap Ana.


"Emang mau nanya apa sih?" tanya Lino.


"Papah kamu tadi kenapa sikapnya berubah?" tanya Ana.


"Berubah dari galak ke baik maksudnya?" tanya Lino.


"Eh bukan gitu maksudnya" ucap Ana sambil mengigit bibir bawahnya.


"Terus maksudnya gimana?" tanya Lino sambil menahan tawanya.


"Gak jadi deh" ucap Ana.


"Jadi kamu ngatain papah aku galak ya?" tanya Lino.


"Eng-gak kok" gugup Ana.


"Aku bilangin ah ke papah" canda Lino.


"Ih jangan dong" ucap Ana sedikit takut.


"Bilangin ah" usil Lino.


"Jangan, No" mohon Ana.


"Aku telepon papah ya sekarang" ucap Lino.


"Jangan, please!" mohon Ana.


"Karena aku baik, aku gak jadi deh bilang ke papahnya" ucap Lino.


"Makasih" ucap Ana.


"Hah? kok bilang makasih sih" heran Lino.


"Kan kamu gak jadi bilang ke papah kamu, makanya aku mau bilang makasih" ucap Ana.


"Tapi emang bener sih papah aku tuh agak galak, buktinya kan kamu waktu itu lihat dia nampar aku" ucap Lino.


"Sakit gak pas kamu ditampar?" tanya Ana dengan polosnya.


"Gak sakit kok, paling sakitnya kayak digigit semut" canda Lino.


"Emang iya?" tanya Ana.


"Iya, tapi semutnya raksasa" ucap Lino sambil menahan tawanya.


"Mau aku tampar?" tanya Lino sambil tertawa kecil.


"Gak mau ah!" ucap Ana.


"Tampar pake bibir mau gak?" tanya Lino sambil tersenyum.


"Itu bukan ditampar namanya, tapi itu dicium" ucap Ana.


"Oh iya, No! kamu belum jawab pertanyaan aku" ucap Ana.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Lino.


"Tentang sikap papah kamu" ucap Ana.


"Hmm...mungkin karena kamu baik ke papah, makanya papah juga jadi baik ke kamu" ucap Lino.


"Berarti waktu dulu aku gak baik ya makanya papah kamu gak setuju kalau kamu pacaran sama aku. Dan itu sebabnya papah kamu jadi jodohin kamu kan?" ucap Ana.


"Kamu yang dulu ataupun sekarang sama-sama baik kok, cuma dulu papahnya aja yang gak kenal kamu lebih jauh" ucap Lino.


"Aku beneran baik kan?" tanya Ana memastikan.


"Iya" ucap Lino.


"Kalau kamu mohon-mohon ke papah supaya aku gak dijodohin, mungkin papah bakal gak ngejodohin aku" ucap Lino.


"Kenapa harus aku yang mohon-mohon?" tanya Ana.


"Kan biasanya cowok luluh kalau sama cewek, jadi papah pasti bakal ngabulin permohonan kamu" ucap Lino.


"Aku gak mau mohon-mohon, soalnya kalau aku mohon-mohon nanti papah kamu jadi kesel sama aku" ucap Ana.


"Kayaknya papah gak bakal kesel kok" ucap Lino.


"Tahu dari mana?" tanya Ana.


"Feeling aja" ucap Lino karena ia tahu bahwa papahnya juga merasa kasihan kepada Ana.


"No" panggil Ana.


"Iya, kenapa?" tanya Lino.


"Kamu pasti mantannya banyak ya?" tuduh Ana.


"Enggak" ucap Lino.


"Aku gak punya mantan" bohong Lino.


"Tapi feeling aku mantan kamu tuh banyak" ucap Ana.


"Enggak, aku gak punya mantan" ucap Lino.


"Jujur aja, berapa mantan kamu?" tanya Ana.


"Emang kenapa sih pingin tahu tentang itu?" tanya Lino.


"Soalnya aku penasaran siapa orang yang jadi first love kamu" ucap Ana.


"Kamu mau tahu siapa first love aku?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana sambil mengangguk.


"Coba kamu ngaca deh, nanti kamu bakal lihat first love aku" ucap Lino.


Ana langsung tersenyum saat mendengar ucapan Lino.


"Jadi kamu beneran gak punya mantan?" tanya Ana.


"Iya, gak punya" ucap Lino.


"Kan aku waktu itu udh bilang kalau aku gak punya mantan" sambung Lino.


"No, aku hadir gak ya dipernikahan papah aku?" tanya Ana sambil menatap lurus ke depan.


"Terserah kamu. Tapi kalau kamu gak kuat lihat papah kamu nikah ya kamu jangan hadir" ucap Lino.


"Emang gak apa-apa ya kalau aku gak hadir?" tanya Ana.


"Ya gak apa-apa. Kan itu hak kamu" ucap Lino.


"Kayaknya aku harus datang deh, soalnya kan itu papah aku. Jadi aku gak boleh egois" ucap Ana.


Lino melihat kearah Ana sekilas.


"Lebih baik jangan deh" ucap Lino sambil memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.


Sontak Ana langsung melihat kearah Lino.


"Tadi katanya terserah aku" ucap Ana.


"Iya, tapi setelah aku pikir-pikir ada baiknya kamu jangan kesana" ucap Lino.


"Kenapa gitu?" tanya Ana.


"Aku gak mau lihat kamu nangis lagi" ucap Lino.


"Enggak, aku gak bakal nangis kok" ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.


"Aku beruntung deh punya cewek yang sabar kayak kamu" ucap Lino sambil menatap Ana dengan tulus.


"Kuat banget kamu jadi cewek" sambung Lino.


Tanpa sadar Ana meneteskan air matanya saat mendengar ucapan Lino.


"Baru aja dipuji kuat, eh udah nangis" ucap Lino.


Ana langsung mengusap air matanya yang terus-menerus menetes.


"Sini peluk!" suruh Lino.


Ana membuka seatbelt nya dan ia mendekat kearah Lino. Lalu ia langsung memeluk Lino.


Lalu Lino membalas pelukan Ana.


"Udah dulu peluk nya, soalnya kan aku harus nganterin kamu pulang" ucap Lino.


Ana kembali ke posisi semula.


"Pake lagi seatbelt nya!" perintah Lino.


Ana segera menuruti perintah Lino.


Kemudian, Lino kembali melajukan mobilnya.


Skip


Setelah sampai rumah, Ana segera turun dari mobil Lino.


"No, makasih ya udah anterin aku" ucap Ana.


"Jangan bilang makasih. Lagian itu udah tanggung jawab aku buat nganterin kamu pulang ke rumah" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya" ucap Lino.


"Iya" kata Ana.


"Hati-hati ya, No" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


Setelah itu, Lino segera melajukan mobilnya.