
"Guys, cepet kesini!" teriak Lia dan Clara yang berada di ruang makan.
Semua orang yang berada di ruang tamu pun segera pergi menghampiri Lia dan Clara yang berada di ruang makan.
Mereka pun segera duduk di kursi dan segera memakan nasi goreng yang telah dibuat oleh Lia.
"Ana, mana?" tanya Raka.
"Ana sakit kepala katanya, gara-gara bergadang" ucap Clara.
"Dia udah minum obat?" tanya Lino.
Semua orang pun langsung melihat kearah Lino.
"Ekhem, perhatian banget luh" ucap Clara.
"Gue cuma nanya doang kok" ucap Lino.
...****...
Ana pun segera pergi ke bawah untuk bertemu dengan teman-temannya.
Ana pun langsung ke ruang makan, dan ia langsung duduk dikursi.
"Na, luh sakit?" tanya Bagas.
"Enggak, gue cuma pusing doang" ucap Ana sambil mengambil nasi goreng.
Raka pun segera memegang kening Ana.
"Kening luh kok panas banget, Na" ucap Raka.
Semua orang pun langsung melihat kearah Ana.
"Enggak kok" ucap Ana.
"Tapi muka luh pucat loh" ucap Lino.
"Gue gak apa-apa" ucap Ana.
Lalu Ana pun segera memakan nasi goreng yang dibuat oleh Lia.
Setelah makan, mereka semua pun segera mandi secara bergantian.
Skip
Mereka semua pun sedang menonton televisi di ruang tamu.
"Ka" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Raka.
"Gak jadi deh" ucap Ana.
"Loh kenapa gak jadi?" tanya Raka.
"Gak apa-apa" ucap Ana.
"Ra, pagar dikunci gak?" tanya Lino.
"Masih dikunci" ucap Clara.
"Bukain dong! gue mau keluar bentar" ucap Lino.
Clara pun segera mengambil kunci, lalu ia pun segera pergi keluar untuk membuka gembok pagar.
"Guys! gue pergi keluar bentar ya" ucap Lino sambil pergi.
"Mau kemana, No?" tanya Clara.
"Mau ke apotek" ucap Lino.
"Beli obat buat Ana?" tanya Clara memastikan.
Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Clara.
"Yaudah gue pergi dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Clara.
Lino pun segera pergi ke apotek dengan menggunakan motornya untuk membeli obat buat Ana.
"Cha, kayaknya Lino udah nemuin pengganti luh" ucap Clara sambil tersenyum.
Lalu Clara pun segera kembali ke ruang tamu.
"Lino mau kemana?" tanya Naya.
"Mau ke apotek" ucap Clara.
"Beli obat buat Ana?" tanya Felisa memastikan.
"Ya enggak lah, gue kan gak nyuruh dia beliin obat buat gue" ucap Ana.
"Tapi emang bener kok dia beliin obat buat luh" kata Clara.
"Tuh, kan! luh berdua pasti ada hubungan spesial kan?" tanya Lia.
"Enggak ada kok" ucap Ana.
"Luh berdua jadian?" tanya Bagas.
"Enggak" ucap Ana.
"Luh semua kenapa sih nuduh gue sama Lino pacaran?" tanya Ana.
"Ya karena Lino kayak perhatian gitu sama luh" ucap Lia.
"Perhatian gimana? orang dia sama gue suka berantem" ucap Ana.
20 menit kemudian.
Lino pun segera masuk kedalam rumah Clara.
Lino pun melemparkan obat kepada Ana.
Ana pun terkejut saat Lino melemparkan kantong berisi obat.
"Cepet makan obatnya!" suruh Lino.
"Gak ada akhlak banget, pake dilempar segala" batin Ana.
"Ternyata luh beneran beliin obat buat Ana" ucap Raka tak menyangka.
"Gue kasihan aja sama dia" kata Lino.
"Kasihan atau khawatir?" tanya Raka.
"Ya kasihan lah, ngapain juga gue khawatir sama dia" ucap Lino.
Ana pun segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Saat tiba di dapur, tiba-tiba Ana pun merasa pusing dan penglihatannya pun menjadi buram.
Ana pun langsung jongkok dan menutup matanya, agar ia tidak merasa pusing.
"Na, luh kenapa?" tanya Lino khawatir.
Ana pun langsung membuka matanya kembali.
Lalu Ana pun segera mengambil air minum.
"Luh mau apa kesini?" tanya Ana.
"Hmm...gue mau minum" ucap Lino berbohong.
Lino pun segera mengambil air minum dan ia pun berniat untuk pergi menuju ruang tamu.
"Arlino" panggil Ana.
Lino pun langsung melihat kearah Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Makasih" ucap Ana.
Lino pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ana, lalu ia pun langsung pergi ke ruang tamu.
Ana pun segera menyusul Lino ke ruang tamu, lalu Ana pun segera meminum obat yang telah dibelikan oleh Lino.
Trining...trining
Ana pun langsung mengangkat panggilan telepon dari mamah nya.
"Hallo, mah" ucap Ana.
"Hallo sayang! kamu baik-baik aja kan di rumah?" tanya mamah.
"Iya, mah! aku baik-baik aja kok" ucap Ana berbohong.
"Mamah sama papah pulang kapan?" tanya Ana.
"Dua hari lagi mamah sama papah bakal pulang kok" ucap mamah.
"Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh ya" ucap Ana.
"Iya, nanti mamah bawa oleh-oleh kok" ucap mamah.
"Na, itu di rumah lagi banyak orang ya? kok kayak rame banget" ucap mamah lagi.
"Iya, mah! soalnya temen-temen aku pada nginep di rumah" ucap Ana berbohong.
Semua mata pun langsung tertuju kepada Ana, karena mendengar Ana yang sedang berbohong.
"Syukur deh kalau banyak yang temenin kamu" ucap mamah.
"Yaudah, mamah matiin ya teleponnya. Soalnya mamah lagi sibuk" ucap mamah.
"Iya, mah" ucap Ana.
Mamah Ana pun segera mematikan panggilan teleponnya.
"Orang tua luh kapan pulangnya?" tanya Raka.
"Dua hari lagi mereka pulang" ucap Ana.
"Ra, gue mau pulang ya" ucap Ana kepada Clara.
"Kenapa pulang?" tanya Clara.
"Gue gak mau ngerepotin luh terus" ucap Ana.
"Gak ngerepotin kok, Na" ucap Clara.
"Lagian nanti pasti orang tua luh pulang, makanya gue mau pulang ke rumah" ucap Ana.
"Kalau ada penguntit itu lagi gimana?" tanya Clara.
"Nanti gue bakal kunci kok pintunya" ucap Ana.
"Yaudah deh, tapi inget ya jangan sembarangan terima tamu" ucap Clara.
"Iya" ucap Ana.
"Kalau luh lihat penguntit itu lagi, telepon gue aja. Nanti gue datang ke rumah luh" ucap Raka.
"Iya" ucap Ana.
"Yaudah gue beresin barang-barang gue dulu ya" ucap Ana.
"Gue bantu ya" ucap Clara.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Clara.
"Gue juga bantu beresin ya" ucap Naya.
Ana pun hanya mengangguk.
Ana, Clara dan Naya pun segera pergi ke kamar Clara untuk membantu membereskan barang-barang milik Ana.
Setelah selesai membereskan barang-barang, mereka bertiga pun segera pergi ke ruang tamu.
"Ka, anterin gue pulang" ucap Ana.
"Yaudah ayo!" ucap Raka.
"Ra, makasih ya udah ijinin gue nginep disini" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Clara.
"Yaudah kita berdua pulang dulu ya" ucap Ana.
"Iya" ucap semuanya.
"Ka, jangan ngebut-ngebut bawa motornya" ucap Lino.
"Emang kenapa kalau gue bawa ngebut?" tanya Raka.
"Ana kan lagi sakit, nanti yang ada dia tambah sakit kalau luh bawa motornya ngebut" ucap Lino.
"Yaudah kita pulang ya" ucap Raka kepada semuanya.
"Guys! gue juga mau pulang ya" ucap Lino.
Mereka bertiga pun segera pergi keluar.
Lino pun menaruh jaketnya pada kepala Ana.
"Ih, Lino!!!" kesal Ana.
"Apa?" tanya Lino sambil menaiki motornya.
"Ngapain naruh jaket luh dikepala gue?" tanya Ana.
Ana pun segera memberikan jaket tersebut kepada Lino.
"Pake aja sama luh" ucap Lino.
"Gue gak mau" ucap Ana.
"Pake aja, biar gak masuk angin" ucap Lino.
"Udah pake aja, Na!" ucap Raka.
Dengan terpaksa Ana pun langsung memakai jaket milik Lino.