ARLINO

ARLINO
Episode 162



"Ya udah ayo duduk lagi disana" ucap Lino.


Akhirnya Ana dan Lino kembali duduk ditempat semula.


"Kamu mau makan gak?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu ya, aku mau ambil makan. Soalnya aku masih lapar" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Kamu mau mie ayam gak? biar nanti sekalian aku ambilin" ucap Lino.


"Kalau mie ayam aku mau" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu kamu tunggu disini ya" ucap Lino.


"No, biar aku sendiri aja deh yang ambil" ucap Ana.


"Kamu berani ambil sendiri?" tanya Lino.


"Berani kok" ucap Ana.


"Ya udah kalau gitu aku mau ambil makan duku ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino segera pergi mengambil nasi beserta lauk pauk dan air mineral. Sedangkan Ana, ia segera pergi mengambil mie ayam dan air mineral.


Setelah keduanya selesai mengambil makanan dan minuman, mereka segera kembali ke tempat yang tadi mereka duduki. Kemudian mereka segera memakan makanan yang telah mereka ambil tadi.


"No" panggil Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Kamu kelihatan keren banget tahu kalau pake jas" ucap Ana.


"Masa?" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Berarti aku harus pake jas terus ya biar keliatan keren" ucap Lino.


"Ya jangan dong, masa iya harus pake jas setiap hari" ucap Ana.


"Tapi waktu pake t-shirt hitam juga keren sih. Jadi lebih ber-damage" ucap Ana.


"T-shirt hitam?" tanya Lino memastikan.


"Iya, soalnya kalau cowok yang pake t-shirt hitam tuh jadi kerennya nambah" ucap Ana.


"Berarti cowok lain yang pake t-shirt juga nambah keren ya?" tanya Lino.


"Kalau orang lain enggak, cuma kamu kmdoang yang keren" ucap Ana.


"Kalau aku pake t-shirt pink kerennya nambah gak?" tanya Lino.


"Enggak lah, jadi aneh kalau cowok pake t-shirt pink" ucap Ana.


"Aneh gimana?" tanya Lino.


"Aneh aja lah, kan biasanya warna pink tuh warna yang disukai kebanyakan cewek" ucap Ana.


"Berarti kamu suka warna pink ya?" tanya Lino.


"Enggak" ucap Ana.


"Katanya cewek suka warna pink" ucap Lino.


"Ya gak semua cewek suka" ucap Ana.


"Terus kamu suka warna apa?" tanya Lino.


"Hitam" ucap Ana.


"Sama dong kayak aku, aku juga suka warna hitam" ucap Lino.


"Kamu kok ngikutin sih" ucap Ana.


"Aku gak ngikutin, aku emang suka warna hitam" ucap Lino.


"Kamu kenapa suka warna hitam?" tanya Ana.


"Karena aku gak suka warna cerah, makanya aku suka warna hitam" jelas Lino.


"Kalau kamu kenapa suka warna hitam?" tanya Lino.


"Karena warna hitam cocok dipadukan dengan warna lain. Terus kalau pake pakaian warna hitam, aku jadi kelihatan langsing. Makanya aku suka warna hitam" ucap Ana.


"Oh jadi kamu suka warna hitam karena warna hitam bikin kamu kurus?" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"No, tadi mamah kamu kenapa manggil kamu?" tanya Ana.


"Mamah tadi bilang dia gak bisa datang ke sekolah buat ambil raport aku" ucap Lino.


"Terus nanti raport nya diambil siapa?" tanya Ana.


"Ya diambil sama mamahnya Gilang" ucap Lino.


"Oh iya, No! soal video aku yang di club, bakal disebar gak ya sama Elma" ucap Ana.


"Enggak bakal kok, soalnya dia udah aku ancam" ucap Lino.


"Semisalnya video itu disebar sama dia, kamu bilang aja kalau kamu dipaksa sama dia. Lagian divideo nya kan kelihatan jelas bahwa Rafly yang paksa kamu buat minum" ucap Lino.


"No" panggil Ana.


"Kenapa, Na?" tanya Lino.


"Aku kayak pernah lihat cewek itu deh, tapi aku lupa lihat dimana" ucap Ana.


"Cewek mana?" tanya Lino.


"Itu" tunjuk Ana pada cewek dress putih.


Lalu Lino segera melihat kearah cewek tersebut.


"Acha" gumam Lino.


Sontak Ana langsung melihat kearah Lino.


Lalu Ana teringat saat ia melihat foto Naya dan sahabat-sahabatnya. Dan memang benar kalau cewek tersebut mirip sekali dengan Acha.


"Na, aku ijin kesana ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino segera menghampiri cewek yang mirip dengan Acha.


"Acha" panggil Lino.


"Kamu ngomong sama aku?" tanya cewek itu.


"Kamu Acha kan?" tanya Lino.


"Aku bukan Acha, aku Tasya" ucap cewek itu.


"Tasya?" ucap Lino.


"Iya" ucap cewek itu.


"Oh maaf, berarti aku salah orang" ucap Lino.


"Iya gak apa-apa" ucap cewek itu.


Lalu Lino segera kembali menghampiri Ana dan ia segera duduk.


"Ternyata dia bukan Acha, Na" ucap Lino.


"Aku kira dia Acha, soalnya mirip banget mukanya" ucap Lino.


"Kalau itu emang Acha gimana?" tanya Ana tiba-tiba.


"Enggak lah, gak mungkin juga dia bisa hidup lagi" ucap Lino.


"No, kamu waktu itu ngelihat langsung jenazah Acha gak?" tanya Ana.


Lino hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.


"Aku gak lihat jenazahnya, soalnya aku gak dibolehin sama orang tua nya. Karena orang tuanya waktu itu nyalahin aku, karena waktu itu kan Acha jalan-jalan sama aku" jelas Lino.


"Jadinya aku lihat nya waktu Acha udah dimakamkan" ucap Lino.


"Oh iya, No! waktu itu kan kamu bilang kalau ada yang nyelakain Acha ya waktu di rumah sakit" ucap Ana.


"Iya, waktu itu aku dikasih tahu sama dokter yang ngerawat Acha di rumah sakit" ucap Lino.


"Terus Acha meninggalnya tepat saat orang itu nyelakain Acha?" tanya Ana.


"Aku gak tahu" ucap Lino.


"Pokoknya waktu itu aku dikasih tahu sama seseorang bahwa Acha meninggal dan aku sama temen-temen sekelas langsung ke makam Acha" ucap Lino.


"Temen-temen sekelas gak ada yang ngelayat dulu ke rumahnya Acha?" tanya Ana.


"Enggak ada" ucap Lino.


"No, apa jangan-jangan Acha gak meninggal" ucap Ana tiba-tiba.


"Bisa aja kan itu makam bohongan" ucap Ana.


"Kamu ngomong apa sih, Na" ucap Lino.


"Bisa aja kan orang tua Acha bikin makam bohongan" ucap Ana.


"Kamu ngaco banget, Na. Buat apa coba mereka bikin makam bohongan" ucap Lino.


...****...


Skip


Ana dan Lino segera pulang menuju rumah Ana.


(Di perjalanan)


"Na, kamu kenapa?" tanya Lino.


"Aku gak kenapa-napa kok, No" ucap Ana.


"Kamu masih mikirin soal cewek yang mirip Acha ya?" tanya Lino.


Ana terdiam sejenak karena perkataan Lino benar bahwa Ana sedang memikirkan cewek yang tadi.


"Enggak kok, aku gak mikirin cewek tadi" bohong Ana.


"Ternyata emang bener ya bahwa manusia itu memiliki tujuh kembaran" ucap Lino tiba-tiba.


"Iya" ucap Ana.


"Tapi harusnya gak semirip itu, walaupun mirip tapi pasti ada bedanya" ucap Ana dalam hati.


"No" panggil Ana.


"Iya, kenapa?" tanya Lino.


"Seandainya Acha masih hidup, kamu bakal milih aku atau Acha?" tanya Ana.


"Aku gak bisa milih, Na" jawab Lino.


Ana hanya terdiam karena mendengar jawaban dari Lino.


Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka berdua sampai di rumah Ana.


"No, aku pulang dulu ya" ucap Ana sambil melepaskan seatbelt.


"Iya" ucap Lino.


"Kamu hati-hati ya pulangnya" ucap Ana.


"Iya" ucap Lino.


"Na, tunggu" ucap Lino.


Lalu Ana langsung melihat kearah Lino.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Kamu gak marah kan karena jawaban aku yang tadi" ucap Lino.


"Enggak kok" ucap Ana.


Lalu Ana segera turun dari mobil Lino, setelah itu ia segera masuk kedalam rumahnya.