
"Sekarang kalian dong yang curhat" ucap Ana kepada Lino dan Gilang.
"Tapi luh berdua harus janji sama kita, jangan sampai rahasia ini bocor ke guru-guru" ucap Gilang.
"Iya, kita janji kok gak bakal ngebocorin" ucap Ana dan Clara.
"Gue sama Lino anak geng motor" ucap Gilang.
"Serius?" tanya Clara
"Iya serius" ucap Gilang.
"Kok gue jadi takut ya" ucap Clara.
"Takut kenapa?" tanya Lino.
"Kan biasanya anak geng motor itu sering berantem gitu" ucap Clara.
"Geng kita gak suka berantem kok, paling kalau ada yang ngehina duluan atau baku hantam salah satu diantara anggota, pasti kita bakal ngelawan orang yang ngehina itu" jelas Lino.
"Kalau Aldi sama Bagas ikut geng motor?" tanya Clara.
"Bagas ikut, kalau Aldi udah enggak" sahut Gilang.
"Berarti cuma kita berdua dong ceweknya yang tahu" ucap Clara.
"Enggak, Naya sama Zahra juga tahu" ucap Gilang.
"Gue juga tahu kok" ucap Ana.
"Tahu dari mana?" tanya Gilang
"Kan waktu Lino nampar gue, kalian ngomongin tentang geng motor" kata Ana.
"Oh iya gue lupa" ucap Gilang
"Berarti kalian suka balapan?" tanya Clara.
"Suka" ucap Lino dan Gilang.
"Suka balapan dimana?" tanya Ana.
"Dijalan,tapi waktu udah tengah malem soalnya biar gak ada pengendara lain" ucap Lino.
"Oh iya, bukannya waktu itu luh liat anak geng motor mau balapan ya, Na?" ucap Lino.
"Kapan?" tanya Ana.
"Waktu luh beli nasi goreng" ucap Lino.
Ana pun mengingat kejadian tersebut.
"Oh jadi yang cat calling gue itu luh" sahut Ana.
"Siapa yang cat calling luh, gue waktu itu cuma mau ngejahilin luh doang biar luh takut" ucap Lino.
"Dasar rese! gue takut banget waktu itu. Gue kira gue bakal diapa-apain sama anak geng motor. Makanya waktu itu gue lari biar gak dikejar" ucap Ana.
Lino pun hanya tertawa mendengar ucapan Ana.
"Takut apanya coba" ucap Lino.
"Kan gue waktu itu sendiri, kalau diapa-apain gimana coba" ucap Ana.
"Ngapain coba malem-malem keluar rumah, mana pakai celana pendek lagi" ucap Lino.
"Kan gue laper, pingin nasi goreng" ucap Ana.
"Kalau pingin nasi goreng, ya bikin aja sendiri di rumah" ucap Lino.
"Waktu itu nasi di rumah gue habis" ucap Ana.
"Oh berarti Raka juga ikut geng motor?" tanya Clara.
Gilang dan Lino pun hanya mengangguk.
"Nama geng motor kalian apa?" tanya Clara.
"SKZ" ucap Lino dan Gilang bersamaan.
"Di geng motor ada ceweknya gak sih?" tanya Ana.
"Di geng SKZ gak ada" ucap Gilang.
"Kalau ada cewek yang masuk geng, bakal diterima gak?" tanya Ana.
"Luh mau ikut, Na?" tanya Gilang sambil menahan tawanya.
"Gak! gue cuma nanya doang. Lagian gue gak berani masuk geng kayak gitu" ucap Ana.
"Geng kita gak terima anggota cewek" ucap Lino.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Kalau ada cewek ribet aja" ucap Lino.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Oh iya, kalian udah selesai belum tugas kelompok yang sbk?" tanya Ana.
"Udah" ucap Clara dan Gilang.
"Clara luh bareng siapa kelompoknya?" tanya Ana.
"Bareng Naya" ucap Clara.
"Luh sama Lino emangnya belum beres?" tanya Clara.
"Belum, kan waktu itu gambarnya disobek sama Raka" jawab Ana.
"Tapi udah bikin lagi belum gambarnya?" tanya Clara.
"Kalian gambar siapa?" tanya Ana lagi.
"Gue sama Naya gambar wajah presiden" ucap Clara.
"Gue sama Putri gambar wajah pak Dimas. Tapi jelek banget gambar, soalnya gue sama Putri gak bisa gambar" ucap Gilang.
"Kalau luh sama Lino gambar siapa?" tanya Clara.
"Gambar wajah gue, tapi yang gambar Lino bukan gue soalnya gue gak bisa gambar" ucap Ana.
"Luh request biar Lino ngegambar wajah luh, Na?" tanya Gilang.
"Enggak! dia aja yang inisiatif buat gambar gue" ucap Ana.
"Gue jadi curiga sama luh berdua" ucap Gilang.
"Curiga? maksudnya?" ucap Ana.
"Kalian pacaran kan?" tuduh Gilang.
"OMG! jadi luh berdua pacaran" sahut Clara.
"Enggak!" ucap Ana dan Lino bersamaan.
"Apa jangan-jangan waktu luh putus sama si Raka, luh langsung jadian ya sama Lino" ucap Clara.
"Enggak!" sahut Ana.
"Terus kenapa Lino bisa nginep di rumah luh?" tanya Clara.
"Kan gue udah jelasin, waktu itu kita kerja kelompok terus ketiduran" jelas Ana.
"Luh pernah nginep di rumah Ana, No?" tanya Gilang.
Lino pun hanya mengangguk.
"Kapan?" tanya Gilang
"Luh ingat gak waktu mereka berdua izin gak sekolah? Nah sebenarnya mereka berdua itu kesiangan bangunnya bukan sakit" ucap Clara kepada Gilang.
"Oh jadi luh berdua ngebohong" kata Gilang.
"Iya, kita ngebohong waktu itu" ucap Ana.
"Oh pantes aja waktu pelajaran olahraga Lino tahu banget luh gak boleh lari karena punya anemia. Ternyata kalian ada something" ucap Clara.
"Enggak, ya ampun" ucap Ana.
"Jangan-jangan luh suka sama Ana karena waktu itu luh cium dia di rooftop ya, No" ucap Gilang.
"Enggak!" bantah Lino.
"Cium? Lino nyium Ana?" tanya Clara.
Ana pun langsung terdiam.
"Enggak, itu si Gilang cuma ngarang doang" ucap Lino.
"Iya, gue cuma bercanda kok" ucap Gilang berbohong.
"Gue kira beneran" ucap Clara.
"Lagian kan luh tahu, gue masih belum move on sama Acha" ucap Lino kepada Clara.
"Gue kangen deh sama Acha" gumam Clara.
"Gue juga" ucap Lino.
"Yaudah, gimana kalau kita ke makamnya Acha aja" saran Ana.
"Gue mau banget kesana. Udah lama gak ngunjungin makamnya" ucap Clara.
"No, luh gimana? mau ngunjungin makamnya Acha gak?" tanya Gilang.
Lino pun diam sejenak lalu ia pun mengangguk mengiyakan ucapan Gilang.
"Yaudah yu berangkat" ajak Gilang.
Kita berempat pun segera pergi menuju makam Acha.
Setelah sampai makam, kita pun langsung berdoa untuk mendiang Acha.
Clara dan Lino pun menangis melihat makam Acha.
"No, yang sabar ya" ucap Gilang sambil menepuk pelan pundak Lino.
Ana pun melihat Clara dan Lino yang sedang menangis dan ia pun merasa bersalah sebab ia yang mengajak mereka untuk datang ke makam Acha.
"Kalian yang sabar ya, Acha pasti udah tenang kok di surga" ucap Ana.
"Gue kangen banget sama dia" ucap Lino sambil menangis.
Tanpa sadar Ana pun ikut menangis mendengan ucapan Lino. Sebab ucapan Lino terasa sangat tulus. Baru kali ini dia melihat Lino yang di cap dingin oleh orang lain, ternyata dia bisa menangis juga.
"Guys, pulang yu! udah mau hujan nih" ajak Gilang.
Mereka bertiga pun menyetujui ajakan Gilang.
Lalu rintik hujan pun turun ke bumi.
"Ayo cepet naik motor" ucap Gilang.
Kita pun segera menaiki motor.
"Na, gue ngebut aja ya biar cepet sampai ke rumah luh" teriak Lino sambil mengendarai motornya.
Lino pun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Tiba-tiba jantung Lino pun berdegup kencang saat Ana memeluk tubuhnya dari belakang.