
Tingtong...tingtong
Bel rumah Lino berbunyi.
"Biar aku aja yang samperin" ucap Ana.
Ana segera pergi ke luar untuk menemui orang yang menekan bel rumah Lino.
"Permisi" ucap seseorang.
"Iya, ada apa?" tanya Ana.
"Mas Lino nya ada?" tanya orang itu.
"Ada didalam" ucap Ana.
"Boleh tolong kasihkan ini gak ke mas Lino" ucap orang itu sambil memberikan kue ulang tahun dan kado.
"Siapa, Na?" tanya Lino yang tiba-tiba muncul.
"Den, ini ada kue sama kado dari nyonya sama tuan" ucap orang itu.
Lino menatap kearah kado dan kue tersebut.
Lalu Lino langsung mengambil dua kue ulang tahun
"Makasih, pak" ucap Lino.
"Iya sama-sama" ucap orang itu.
"Ini sama kadonya" ucap orang itu.
"Biar aku aja yang bawa kadonya ya" ucap Ana.
"Iya boleh" kata Ana.
"Ya udah kalau gitu saya pulang dulu ya, den" ucap orang itu.
"Iya, pak" ucap Lino.
Lalu orang itu segera pergi.
Setelah orang itu pergi, Ana dan Lino segera masuk kedalam rumah.
"Simpen dimana, No?" tanya Ana.
"Di kamar" ucap Lino.
Akhirnya mereka berdua segera pergi ke kamar.
"Kadonya aku simpen disini aja ya, No" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Lino berniat membuka kado dari Ana.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ana.
"Mau buka kado dari kamu" ucap Lino.
"Jangan dibuka sekarang" ucap Ana.
"Emang kenapa gak boleh dibuka sekarang?" tanya Lino.
"Kan itu ada suratnya, masa iya harus dibacain didepan aku" ucap Ana.
"Ya gak apa-apa" ucap Lino.
"Enggak mau, aku malu" ucap Ana.
"Kenapa malu?" tanya Lino.
"Ya mau aja gitu kalau surat yang aku kasih dibacain langsung didepan aku" ucap Ana.
"Ini helm ya?" tebak Lino karena salah satu kado dari Ana sangat berat.
"Kok kamu tahu sih" heran Ana.
"Oh beneran helm?" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana.
"No!!!" teriak Gilang dari lantai bawah.
"No, itu Gilang udah datang" ucap Ana.
"Ya udah ayo ke bawah" ucap Lino.
Ana dan Lino segera pergi ke lantai bawah.
"Ana" panggil Felisa.
"Hai" ucap Ana.
"No, katanya luh ulang tahun ya?" tanya Felisa.
"Iya" ucap Felisa.
"Selamat ulang tahun ya" ucap Felisa.
"Iya makasih" ucap Lino.
"Fel, Lang! Pj nya mana?" tanya Ana.
"Pj apaan?" tanya Gilang.
"Pajak jadian" ucap Ana.
Gilang segera mengambil sesuatu di saku jaketnya.
"Nih" ucap Gilang sambil memberikan satu permen kepada Ana.
"Kok permen sih pajaknya" ucap Ana.
"Kalau gak mau ya udah gak apa-apa" ucap Gilang.
"Gak mau ah! kalau permen, gue juga punya di rumah" ucap Ana.
"Oh iya, Fel! Clara juga mau ikut loh" ucap Ana.
"Dia naik motor sendiri?" tanya Felisa.
"Enggak, dia bareng Bobby" ucap Ana.
"Bobby siapa?" tanya Felisa.
"Temennya Lino sama Gilang" ucap Ana.
"Oh kirain pacarnya" ucap Felisa.
"Bukan pacar sih tapi calon pacar" ucap Ana.
"Calon pacar?" ucap Gilang.
"Iya, kan Bobby mau deketin Clara. Lagian Clara nya juga waktu itu mau kok dicomblangin sama temen Lino" ucap Ana.
"Jadi nanti kesananya berenam?" tanya Felisa.
"Enggak, kita kesananya bersepuluh" ucap Ana.
"Terus empat lagi siapa?" tanya Felisa.
"Yang dua temennya Lino sama Gilang, yang duanya lagi itu pacarnya temennya Lino sama Gilang" ucap Ana.
"Ya boleh, tapi pasti dia gak mau" ucap Ana.
"Gak mau kenapa?" tanya Felisa.
"Soalnya kemarin gue berantem sama dia dan pastinya dia gak bakal ikut karena ada gue" ucap Ana.
"Berantem kenapa?" tanya Felisa.
"Maaf ya gue gak bisa ceritain masalahnya" ucap Ana.
"Oh iya gak apa-apa" ucap Felisa.
"Tapi sekarang kalian masih berantem?" tanya Felisa.
"Gak tahu, tapi kayaknya Lia masih marah banget sama gue" ucap Ana.
"Masalahnya emang besar banget ya sampe Lia marah sama luh?" tanya Felisa.
"Masalahnya cuma sepele kok" sahut Lino.
"Kalau sepele kenapa dia marah banget sama Ana?" tanya Felisa.
"Biasalah kan cewek, jadi suka ngebesar-besarin masalah walaupun masalah itu kecil" ucap Lino.
"Jadi menurut kamu semua cewek suka besar-besarin masalah gitu?" ucap Ana.
"Gak semua cewek juga, tapi kebanyakan ya pasti cewek. Iya gak, Lang?" tanya Lino.
"Iya bener" ucap Gilang.
"Cowok juga sama kok sering ngebesar-besarin masalah" ucap Felisa.
"Iya bener, malah cowok kayaknya yang sering ngebesar-besarin masalah" ucap Ana.
"Yang ngebesar-besarin masalah itu cewek" ucap Gilang.
"Udah jangan diladeni! debat sama cewek gak akan menang, Lang" ucap Lino sambil tersenyum.
"Iya juga ya" ucap Gilang.
"Hai guys" ucap Alex yang baru datang bersama pacarnya.
"Oh iya, kenalin ini pacar gue namanya Viona" ucap Alex kepada Ana dan Felisa.
"Udah kenal" ucap Lino dan Gilang bersamaan.
"Hallo Viona, gue Ana" ucap Ana.
"Hai, gue Felisa" ucap Felisa.
"Oh iya Lex, Viona! Felisa ini pacar gue" ucap Gilang.
"Kok luh mau sih sama Gilang" ucap Alex sambil tertawa.
"Ya mau lah, kan gue ganteng" ucap Gilang.
"Idih, pingin muntah gue" ucap Alex.
"Kalau Ana berarti pacar Lino kan?" tanya Viona.
"Iya, dia pacar gue. Cantik kan?" ucap Lino.
"Iya cantik banget" ucap Viona.
"Oh iya, Na! kenapa luh balikan lagi sama Alex?" tanya Gilang.
"Soalnya dia ngejar-ngejar gue mulu jadinya gue luluh lagi sama dia" ucap Viona.
Kemudian Bayu dan gebetannya datang.
"Wah baru lagi nih" sindir Alex.
Bayu langsung menatap tajam kearah Alex.
"Tobat...tobat" sindir Gilang kepada Bayu.
"Guys kenalin ini Salsa" ucap Bayu.
"Statusnya apa nih?" tanya Alex.
"Masih pdkt" ucap Bayu.
"No, kamu sama temen-temen kamu yang lain kok malah ngebiarin sikap Bayu yang kayak gitu sih. Kasihan tahu ceweknya" bisik Ana.
"Ya gimana lagi, waktu itu kita juga sering bilang ke gebetan-gebetan Bayu tentang Bayu yang playboy, tapi tetep aja cewek itu gak percaya sama ucapan aku dan yang lainnya" bisik Lino.
Beberapa menit kemudian, Bobby dan Clara datang.
"Clara" panggil Ana.
Clara langsung menghampiri Ana dan juga Felisa.
"Gimana? udah suka belum sama Bobby?" bisik Ana.
"Udah suka sedikit, soalnya dia asik banget orangnya" bisik Clara.
"Ya udah ayo berangkat" ucap Gilang.
Akhirnya mereka semua segera berangkat dengan mengendarai motornya masing-masing.
(Di perjalanan)
Lino segera memposisikan tangan Ana agar tangan Ana memeluk tubuh Lino.
"Biar gak jatuh" ucap Lino.
Ana hanya tersenyum karena mendengar ucapan Lino.
"Jangan senyum" ucap Lino.
"Siapa juga yang senyum" ucap Ana.
"Ya tadi kamu senyum" ucap Lino.
"Emang kamu tahu dari mana kalau aku senyum?" tanya Lino.
"Aku lihat dari spion motor" ucap Lino.
"Kamu salah lihat kali" ucap Ana.
"Gak mungkin salah lihat lah, orang spionnya deket sama aku" ucap Lino.
"Iya deh iya, tadi aku emang senyum" ucap Ana.
"Peluknya yang erat, biar gak jatuh" ucap Lino.
"Kayak gini?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino sambil tersenyum.
"Dingin ya, No" ucap Ana.
"Iya, kan kita ada di dataran tinggi" ucap Lino.
" Ini kita berhenti nya mau dimana sih?" tanya Ana.
"Nanti di bukit paling atas" ucap Lino.
"Yang lain udah sampe belum ya?" tanya Ana.
"Ya belum lah, Na" ucap Lino.