ARLINO

ARLINO
Episode 126



Lalu Lino pun segera mengejar Ana.


"Na, tunggu" ucap Lino sambil memegang tangan Ana.


"No, kamu kenapa sih bilang tentang tulisan itu" ucap Ana.


"Ya habisnya biar mereka tahu kalau Naya penguntit itu" ucap Lino.


"Tapi kalau bukan Naya gimana?" tanya Ana.


"Udah jelas-jelas Naya, Na! buktinya kan dia bilang sendiri kalau gantungan kunci itu milik dia" ucap Lino.


"Udah lah aku gak mau bahas tentang hal ini" ucap Ana.


"Ya udah ayo pulang" ucap Lino karena ia tidak mau Ana badmood.


Lalu Lino pun segera memegang tangan Ana dan lalu Lino pun segera membawa Ana menuju parkiran sekolah.


Setelah sampai di parkiran, mereka berdua pun segera masuk kedalam mobil.


Setelah itu, Lino pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Ana.


Selama diperjalanan, Ana pun hanya melamun karena memikirkan perkataan Lino yang bilang bahwa penguntit itu adalah Naya.


"Na, kamu kenapa diem mulu?" tanya Lino.


"Gak kenapa-napa kok" ucap Ana.


"Kamu marah ya sama aku?" tanya Lino.


"Enggak kok" ucap Ana.


"Terus kenapa diem aja?" tanya Lino.


"Soalnya aku lapar, No" bohong Ana.


"Kamu lapar?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Ya udah sekarang kita cari makanan" ucap Lino.


"Kamu mau apa?" tanya Lino.


"Aku pingin makanan pedes" ucap Ana sambil tersenyum.


"Kenapa sih makanan pedes mulu?" heran Lino.


"Karena aku suka" ucap Ana.


"Makanan pedes nya mau apa?" tanya Lino.


"Pingin cilok yang biasanya dipinggir jalan" ucap Ana.


"Cilok doang?" tanya Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera mencari pedagang yang berjualan cilok.


Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun menemukan pedagang cilok.


"Kamu tunggu aja disini, biar aku yang beliin" ucap Lino.


"No, ini uangnya" ucap Ana.


"Simpen aja uang kamu, biar aku yang bayar" ucap Lino.


Lalu Lino pun segera menghampiri pedagang cilok.


Ting


Lalu Ana pun segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada pesan dari Clara.


Clara :


Na


Lalu Ana pun segera membalas pesan dari Clara.


^^^Ana :^^^


^^^Kenapa, Ra?^^^


Clara :


Beneran Naya ya yang nguntit luh?


^^^Ana :^^^


^^^Gue gak tahu, Ra^^^


Clara :


Na, sebenernya waktu dulu kelas sepuluh gue pernah mergokin Naya lihatin Lino mulu.


^^^Ana :^^^


^^^Iya terus kenapa, Ra?^^^


Clara :


Apa mungkin dia suka ya sama Lino, jadi dia nyuruh luh buat ngejauhin Lino


Clara :


Apa jangan-jangan dia juga yang nyelakain Acha


^^^Ana :^^^


^^^Ra, kok luh ngomong gitu sih^^^


^^^Kan Naya itu sahabat luh, masa luh nuduh dia yang nyelakain Acha^^^


"Lagi chat sama siapa?" tanya Lino yang tiba-tiba masuk kedalam mobil.


"Lagi chat sama Clara" ucap Ana.


"Ngebahas tentang Naya ya?" tebak Lino.


"Bukan kok" bohong Ana.


"Oh iya, ini cilok nya" ucap Lino sambil memberikan cilok kepada Ana.


"Makasih" ucap Ana sambil mengambil cilok yang diberikan oleh Lino.


"Iya sama-sama" ucap Lino.


"Kamu mau gak?" tanya Ana.


"Enggak, kan aku gak suka pedes" ucap Lino.


"Ya udah kalau gitu aku makan ya cilok nya" ucap Ana sambil memakan cilok.


"Iya" ucap Lino.


Ting


Ana pun kembali melihat ponselnya dan ternyata ada pesan masuk dari Felisa.


Felisa :


Anaaa


Lalu Ana pun segera membalas pesan dari Felisa.


^^^Ana :^^^


^^^Kenapa, Fel?^^^


Felisa :


Yang dibilang Lino itu bener gak sih?


^^^Ana :^^^


^^^Gak tahu^^^


^^^Ana :^^^


^^^Fel, udah ya jangan bahas itu^^^


^^^Gue jadi gak mood makan nih gara-gara kalian nanya tentang itu mulu^^^


Felisa :


Sorry, Na


Trining...trining


Lalu Ana pun segera menjawab panggilan telepon dari Lia.


"Hallo" ucap Ana.


"Na, si Naya tadi nelpon gue. Dia tadi curhat ke gue" ucap Lia.


"Naya curhat apaan?" tanya Ana.


"Katanya tadi pas pulang sekolah, Lino nuduh Naya ya. Kata Lino, katanya Naya itu yang nguntit luh" ucap Lia.


"Iya, tadi Lino emang ngomong gitu ke Naya" ucap Ana.


"Naya tadi sampe nangis-nangis loh bilangnya ke gue. Lagian menurut gue sih, bukan Naya yang nguntit luh. Lagian ngapain juga dia ngelakuin itu" ucap Lia.


"Gue juga gak nuduh Naya sebagai penguntit itu kok" ucap Ana.


Lalu Lino pun langsung merebut ponsel Ana.


"No!" ucap Ana.


"Hallo" ucap Lino.


"Iya, hallo" ucap Lia.


"Tadi si Naya nelpon luh?" tanya Lino.


"Iya, tadi dia nelpon gue sambil nangis-nangis" ucap Lia.


"Luh percaya kalau dia nangis?" tanya Lino.


"Luh ngomong apa sih, No! ya iyalah dia nangis" ucap Lia.


"Mungkin dia nangis biar luh kasihan sama dia kali" ucap Lino.


"No, luh tuh apa-apaan sih" ucap Lia.


"Luh yang apa-apaan! udah tahu Naya salah masih aja dibelain. Jangan mentang-mentang luh suka sama Bagas, terus seenaknya luh belain dia" ucap Lino emosi.


"No, handphone nya siniin" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera mematikan panggilan teleponnya.


"Nih" ucap Lino sambil memberikan ponsel kepada Ana.


Lalu Ana pun langsung mengambil ponselnya.


Kemudian Ana pun segera mengirim pesan kepada Lia.


Ana :


Lia maafin ucapan Lino barusan ya


"No, kamu gimana sih! kok kamu jadi marah-marah sama Lia" kesal Ana.


"Habisnya dia ngeselin banget, udah tahu Naya salah masih aja dibelain" ucap Lino.


"Yang ngeselin tuh kamu tahu gak! aku lagi telepon langsung direbut gitu aja. Mana sambil marah-marah sama Lia lagi" ucap Ana.


"Ya udah iya, aku salah" ucap Lino karena ia tidak mau berdebat dengan Ana.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di rumah Ana.


Lalu Ana pun segera turun dari mobil Lino dan ia pun langsung masuk kedalam rumahnya.


Kemudian Lino pun segera turun dari mobilnya dan ia pun segera masuk ke rumah Ana.


"Na" teriak Lino sambil mengetuk pintu rumah Ana.


Lalu Ana pun segera membuka pintu rumahnya.


"Kenapa lagi, No?" tanya Ana.


"Kamu marah ya sama aku?" tanya Lino.


"Iya, aku marah" ucap Ana.


"Ya udah aku minta maaf" ucap Lino.


"Minta maaf nya ke Lia sama Naya, jangan minta maaf ke aku" ucap Ana.


"Ya udah nanti aku bakal minta maaf ke Lia deh" ucap Lino.


"Ke Naya gak minta maaf?" ucap Ana.


"Ya udah iya, nanti aku bakal minta maaf ke Naya juga" pasrah Lino.


"Awas loh kalau gak minta maaf" ucap Ana.


"Iya nanti aku bakal minta maaf kok" ucap Lino.


"Ya udah sekarang kamu jangan marah lagi ya" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


"Ya udah, aku pulang dulu. Kamu hati-hati ya di rumah" ucap Lino.


"Iya" ucap Ana.


Lalu Lino pun segera pergi.