ARLINO

ARLINO
Episode 33



"Ana, luh kenapa sih bengong mulu?" tanya Clara.


Lino pun langsung melirik kearah Ana.


"Luh, kenapa?" tanya Lino.


"Gak kenapa-napa" ucap Ana.


"Ana masih mikirin kejadian tadi" sahut Raka.


"Lebih baik laporin ke polisi aja ya" ucap Lino.


"Jangan!" sahut Ana.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Gue gak mau! nanti masalahnya jadi panjang" ucap Ana.


"Tapi kalau luh kenapa-napa gimana?" ucap Lino.


"No, boleh ikut gue bentar gak?" tanya Ana.


"Mau kemana?" tanya Lino.


"Ikut aja!" ucap Ana sambil menarik tangan Lino.


Ana pun membawa Lino keluar rumah.


"Kenapa?" tanya Lino.


"Luh punya musuh?" tanya Ana tiba-tiba.


"Gue gak tahu" ucap Lino.


"Penguntit itu sebenernya ngincar luh" ucap Ana.


"Luh tahu dari mana?" tanya Lino.


"Luh kan bilang kalau penguntit itu yang nyelakain Acha" ucap Ana lagi.


"Iya, terus?" tanya Lino.


"Jadi dia nguntit gue karena menurutnya gue itu pacar luh. Dia nyelakain orang-orang yang dekat sama luh" ucap Ana.


"Iya, gue tahu" ucap Lino.


"Luh udah tahu?" tanya Ana.


"Semenjak lihat CCTV, gue jadi yakin dia nyelakain luh karena menurutnya luh itu pacar gue" ucap Lino.


"Terus kenapa gak luh laporin polisi aja? kenapa malah luh nyuruh gue yang lapor polisi?" tanya Ana.


"Gue nyuruh luh lapor polisi karena gue gak mau kejadian Acha terulang lagi" ucap Lino.


"Tapi kan yang harus lapor polisi itu luh" ucap Ana.


"Luh gak pernah diapa-apain kan sama penguntit itu?" tanya Ana.


Lino pun langsung terdiam.


"No, jawab!" ucap Ana.


Lino pun mengangkat bajunya sedikit, dan terlihatlah bekas luka pada perutnya.


Ana pun terkejut saat melihat bekas luka diperut Lino.


"Itu luka dari kapan?" tanya Ana.


"Dari waktu kelas sepuluh" ucap Lino.


"No, luh baik-baik aja kan?" tanya Ana sedikit sedih.


Lino pun tidak menjawab ucapan Ana.


"No, pokoknya luh harus lapor polisi" ucap Ana.


"Luh kenapa nyuruh gue lapor polisi? harusnya kan luh yang lapor polisi biar ngelindungin diri luh sendiri" ucap Ana.


"Ya karena gue khawatir sama luh" ucap Ana.


"Kenapa khawatir sama gue? gue kan bukan siapa-siapa luh" ucap Lino.


Ana pun langsung terdiam.


"Luh suka sama gue?" tanya Lino.


Ana pun berniat ingin masuk kedalam rumah namun tangan Ana dipegang oleh Lino.


"Kenapa gak jawab pertanyaan gue?" tanya Lino.


Suara motor pun terdengar didepan rumah Clara.


Tin...tin


"No, bukain pager nya" teriak Bagas.


"Bentar, gue panggilan Clara dulu, soalnya kunci nya ada di Clara" ucap Ana.


Ana pun segera masuk kedalam untuk memanggil Clara.


Setelah itu Clara pun langsung membukakan pagar rumahnya.


Bagas pun segera memasukan motornya. Sedangkan Clara langsung mengunci pagar rumahnya.


"Ayo masuk!" ucap Clara.


Bagas pun segera masuk kedalam rumah Clara.


"No, luh gak masuk?" tanya Clara.


"Iya nanti gue masuk kok" ucap Lino.


"Tadi luh ngomongin apa sama Ana?" tanya Clara.


"Ngomongin tentang penguntit itu" ucap Lino.


"Yaudah lebih baik luh masuk, soalnya gue mau kunci pintunya" ucap Clara.


Lino pun segera masuk kedalam rumah Clara, lalu Clara pun segera mengunci pintu rumahnya.


"Ana, mana?" tanya Lino.


"Di kamar Clara, udah ngantuk katanya" ucap Raka.


"No, luh tadi ngomongin apa sama Ana?" tanya Naya.


"Pasti ada something ya di antara kalian?" tanya Lia.


"Gak ada kok" ucap Lino.


"Guys gue ke kamar Clara dulu ya, gue udah ngantuk" ucap Felisa.


"Yaudah sana tidur" ucap Clara.


Felisa pun segera pergi ke kamar Clara.


"Naya sama Lia tidur di kamar tamu aja, soalnya pasti sempit kasurnya" ucap Clara.


"Oke" ucap Naya dan Lia bersamaan.


"Luh bertiga tidur di ruang tamu aja ya" ucap Clara kepada Lino, Raka dan Bagas.


"Sip" ucap Lino, Raka dan Bagas bersamaan.


"Lia, channel tv nya ganti dong" ucap Bagas.


"Ganti jadi apa?" tanya Lia.


"Pertandingan sepakbola" ucap Bagas.


Lia pun memindahkan channel tv tersebut.


...****...


"Na, luh belum tidur?" tanya Felisa sambil tiduran diatas kasur.


"Belum" ucap Ana.


"Kenapa? luh takut penguntit itu datang lagi?" tanya Felisa.


"Enggak" ucap Ana berbohong.


"Gue cuma gak bisa tidur aja gara-gara minum kopi" ucap Ana.


"Terus kalau gak bisa tidur, kenapa luh kesini?" tanya Felisa.


"Karena gue pingin suasana yang tenang aja, lagian pasti di ruang tamu berisik banget" ucap Ana.


"Luh kesini bukan gara-gara Lino kan?" tanya Felisa.


"Bukan" ucap Ana berbohong.


"Apa jangan-jangan luh kesini gara-gara ada Bagas?" tanya Felisa.


"Bukan!" ucap Ana.


"Fel, luh ke kamar pingin tidur atau pingin ngobrol sama gue sih?" tanya Ana.


"Dua-duanya" ucap Felisa sambil nyengir.


"Yaudah ah, gue mau ke ruang tamu lagi aja" ucap Ana.


"Gue ikut!" sahut Felisa.


Ana dan Felisa pun segera menuju ruang tamu.


Setelah sampai di ruang tamu, Ana pun langsung duduk disamping Raka, sedangkan Felisa duduk disamping Naya.


"Na, luh berdua kenapa balik lagi?" tanya Raka.


"Gue gak bisa tidur" ucap Ana.


"Tuh, kan! udah gue bilang jangan minum kopi eh luh nya malah ngeyel" ucap Raka.


"Na, luh gak apa-apa kan?" tanya Bagas.


"Gue gak apa-apa" ucap Ana.


"Tapi Lino yang kenapa-napa" ucap Ana lagi.


Semua pun melirik kearah Lino, dan mereka semua pun bingung karena sepertinya Lino sedang baik-baik saja.


"Emang Lino kenapa?" tanya Naya.


"Gue gak kenapa-napa" sahut Lino.


Ana pun langsung terdiam karena sepertinya Lino tidak ingin membicarakan soal luka di perutnya kepada teman-temannya.


"Na, luh ngomong apaan sih? gue kan gak kenapa-napa" ucap Lino.


"Gue balik lagi aja deh ke kamar, gue ngantuk" ucap Felisa.


"Gue juga mau tidur" ucap Lia sambil menuju kamar tamu.


"Lia, tungguin!" sahut Naya sambil menyusul Lia.


"Raka" panggil Lino.


"Kenapa?" tanya Raka.


"Ikut gue!" ucap Lino sambil menuju kearah dapur.


Raka pun segera mengikuti Lino.


"Luh mau ngomong apa?" tanya Raka.


"Luh jagain Ana ya" ucap Lino.


"Jagain Ana?" tanya Raka memastikan.


"Iya, soalnya gue takut penguntit itu nyelakain Ana lagi" ucap Lino.


"Iya, gue pasti jagain Ana kok" ucap Raka.


"Ngomong-ngomong kenapa luh perhatian banget sama Ana?" tanya Lino.


"Karena gue takut kejadian Acha terulang lagi" ucap Lino.


"Bukan karena luh suka Ana kan?" tanya Raka.


"Bukan" ucap Lino.


"Gue gak apa-apa kok, gue gak marah kok kalau luh suka sama Ana" ucap Raka.


"Gue gak suka dia" ucap Lino berbohong.


"Kalau gak suka, kenapa luh perhatian banget? sampe nurutin permohonan Ana segala" ucap Raka.


Lino pun langsung terdiam.