
Setelah sampai di rumah Raka, mereka berdua segera turun dari motor.
Lalu Ana segera menekan bel rumah Raka.
Tidak menunggu lama, Raka datang menghampiri Ana dan Lino.
"Eh luh berdua ngapain kesini?" tanya Raka.
"Ya kita mau jenguk luh lah" ucap Lino.
"Yaelah, gue cuma sakit perut bukan sakit parah" ucap Raka.
"Udah untung gue sama Ana mau jenguk" ucap Lino.
"Ya udah motor nya masukin aja, No" ucap Raka.
Lino segera naik ke motornya, lalu ia segera memasukan motornya kedalam garasi.
Setelah itu, mereka segera masuk kedalam rumah Raka.
"Luh berdua duduk dulu aja disini" ucap Raka.
Lalu Raka segera pergi menuju dapur untuk mengambil air untuk Ana dan juga Lino.
"No" panggil Ana.
"Kenapa?" tanya Lino.
"Aku baru sadar loh ternyata handphone kita samaan" ucap Ana.
"Iya kan aku sengaja beli handphone nya samaan" ucap Lino.
"Jadi ini handphone dari kamu?" tanya Ana.
"Iya, soalnya waktu itu aku kita berdua kecebur di kolam renang. Terus handphone kamu rusak. Makanya aku ganti" ucap Lino.
Tiba-tiba Ana mengingat sekilas kejadian tersebut.
"Kenapa, Na?" cemas Lino karena melihat Ana yang sedang memegang kepalanya.
"Aku inget sekilas kejadian itu" ucap Ana.
"Kamu inget?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"Kamu ngasih aku nafas buatan kan?" tanya Ana sambil mengingat-ingat.
Lino hanya mengangguk.
"Iya aku inget" ucap Ana.
"Ada apa?" tanya Raka sambil menghampiri Ana dan Lino.
"Ini Ana inget sekilas kejadian dulu" ucap Lino.
"Ya bagus deh kalau gitu" ucap Raka.
Lino langsung terdiam karena ia takut Ana ingat tentang perceraian orang tuanya dan juga ia takut Ana kembali menyalahkan dirinya atas kematian Naya.
"Oh iya, ini minumnya" ucap Raka sambil meletakan air minum dan cemilan di meja.
"Makasih, Ka" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Raka.
"No, luh kenapa?" tanya Raka.
"Gak kenapa-napa kok" ucap Lino.
Trining...trining
Lino segera melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari papahnya.
"Siapa, No?" tanya Raka.
"Papah gue" ucap Lino.
Lino segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Hallo, pah" ucap Lino.
"Lino, kamu apa-apaan sih! kenapa kamu bawa pacar kamu waktu malam" ucap papah emosi.
Lino langsung melihat kearah Ana, setelah itu ia segera pergi keluar.
"Lino, jawab!" ucap papah.
"Pah, papah gak berhak jodohin Lino sama cewek itu. Lagian Lino kan udah punya pacar dan Lino sayang banget sama pacar Lino yang sekarang" ucap Lino
"Kamu bisa gak sih sekali aja turutin apa kata papah" ucap papah.
"Sekali kata papah? Lino bahkan udah berkali-kali turutin omongan papah" ucap Lino.
Karena kesal Lino langsung mematikan panggilan teleponnya.
Lalu Lino kembali menghampiri Ana dan juga Raka.
"Papah kamu marahin kamu ya, No?" tanya Ana.
Lino hanya mengangguk.
"Kenapa luh dimarahin?" tanya Raka.
"Gue dimarahin karena semalam gue ajak Ana makan malam sama anak temennya papah" ucap Lino.
"Masa cuma gitu doang dimarahin sih" heran Raka.
"Soalnya kan papah gue mau ngejodohin gue sama cewek itu. Ya pastinya aja papah marah karena gue ajak Ana" kata Lino.
"Papah luh mau ngejodohin luh?" ucap Raka sedikit terkejut.
"Iya" ucap Lino.
"Luh bilang aja ke mamah luh kalau luh gak mau dijodohin sama cewek itu" saran Raka.
"Percuma, Ka! kalau gue bilang ke mamah, tetep aja papah bakal paksa gue biar mau dijodohin sama cewek itu" ucap Lino.
"Luh punya ide gak sih supaya gue gak dijodohin?" tanya Lino.
Raka terdiam sejenak.
"Gue punya ide, tapi ini ide nya lumayan gila sih" ucap Raka.
"Emang apaan?" tanya Lino.
"Luh pura-pura aja bilang kalau luh pernah tidur sama Ana. Jadi papah luh bakal nikahin luh berdua" ucap Raka.
"Enak aja! gue masih mau sekolah" ucap Ana sedikit kesal.
"Jangan! nanti kalau gitu bisa-bisa papah bakal ngelaporin ke orang tua nya Ana" ucap Lino.
"Terus gimana dong? gue cuma ada cara itu doang biar hubungan luh sama Ana direstuin papah luh, walaupun direstuin nya terpaksa sih" ucap Raka.
"Coba cari cara lain deh" ucap Lino.
"Kamu pura-pura kecelakaan aja, No. Nanti pasti papah kamu bakal turutin apa mau kamu" saran Ana.
"Iya juga ya" ucap Lino.
"Eh nanti luh sama anak Skz tolong kerja sama ya supaya papah gue percaya kalau gue kecelakaan" ucap Lino kepada Raka.
"Oke, nanti gue bakal bilang ke anak-anak yang lain" ucap Raka.
"Anak Skz tuh siapa?" tanya Ana.
"Skz tuh nama geng motor yang isinya gue, Lino dan teman-teman kita yang lain" jelas Raka.
"Geng motor?!" ucap Ana sedikit terkejut.
"Iya, kita berdua tuh anak geng motor" ucap Raka.
"Kalian suka balapan?" tanya Ana.
"Iya" ucap Raka.
"Ngapain balapan sih? nanti kalau kenapa-napa gimana coba" cemas Ana.
"Orang tua kalian tahu gak kalau kalian anak geng motor?" tanya Ana.
"Enggak" ucap Lino dan Raka bersamaan.
"Ya ampun, kalian berdua bandel banget sih" ucap Ana.
"Dari dulu kita berdua emang bandel, Na" ucap Lino.
"Dulu aku tahu gak kalau kalian anak geng motor?" tanya Ana.
"Tahu kok" ucap Lino.
"Emang apa salahnya sih kalau jadi anak geng motor? lagian kita gak ngerugiin orang lain" ucap Raka.
"Ya emang, tapi kan gue khawatir. Takutnya kalian kenapa-napa" ucap Ana.
"Oh iya, anggota geng motor nya siapa aja?" tanya Ana.
"Aku, Raka, Gilang, Bobby, Bayu dan Alex" ucap Lino.
"Tadinya Bagas sama Aldi juga ikut geng motor, tapi waktu itu mereka keluar" sambung Lino.
"Kenapa keluar?" tanya Ana.
"Soalnya Aldi dimarahin sama orang tua nya, makanya dia keluar dari geng motor" sahut Raka.
"Kalau Bagas kenapa keluar?" tanya Ana.
"Gara-gara berantem sama Lino" ucap Raka.
"Kamu kenapa berantem sama Bagas, No?" tanya Ana.
Lino hanya terdiam.
"Lino berantem sama Bagas gara-gara Bagas kasar sama luh" sahut Raka.
"Oh jadi karena itu ya aku putusin Bagas?" tanya Ana.
Lino hanya mengangguk.
"Sekarang kalian masih berantem?" tanya Ana.
"Enggak, kita udah baikan kok" ucap Lino.
"Tapi kok aku jarang lihat kamu ngobrol bareng sama Bagas" heran Ana.
"Gimana mau ngobrol, dia aja gak pernah nyapa aku" ucap Lino.
"Ya kamu inisiatif lah buat nyapa dia duluan" ucap Ana.
"Gak mau ah!" tolak Lino.
"Mana mau Lino nyapa duluan, dia kan orangnya gengsian. Waktu minta maaf sama gue juga harus dibujuk sama luh dulu" ucap Raka.
"Kalian juga pernah berantem?" tanya Ana.
"Iya pernah" ucap Raka.
"Berantem gara-gara apa?" tanya Ana.
"Berantem gara-gara-" ucap Raka.
"Rebutan bola" sahut Lino.
Raka langsung melihat kearah Lino.
"Masa cuma gara-gara rebutan bola jadi berantem" heran Ana.
"Oh iya, Na! kamu gak ganti baju sama simpen tas dulu gitu?" tanya Lino.
"Oh iya ya" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu aku ke rumah dulu ya. Nanti habis itu aku kesini lagi" ucap Ana.
"Iya" ucap Lino.
Ana segera pergi menuju rumahnya.
"No, luh kenapa gak cerita yang sebenernya?" tanya Raka.
"Soalnya kalau cerita nanti Ana bakal terus nanya" ucap Lino.
"Oh iya, Ka! gue belum cerita tentang ini sama luh" ucap Lino.
"Cerita apa?" tanya Raka.
"Soalnya kecelakaan Acha" ucap Lino.
Lalu Lino segera menceritakan kejadian tersebut kepada Raka.
"Tuh kan bukan gue pelakunya!" ucap Raka sedikit kesal.
"Sorry ya, gue dulu udah nuduh luh" ucap Lino merasa bersalah.
"Kampret emang luh" kesal Raka.
"Sorry, Ka. Habisnya luh mencurigakan" ucap Lino.
"Luh kan bisa lihat dari tampang gue, gue gak ada tuh tampang kriminal nya" ucap Raka.
"Ada sih dikit" ucap Lino sambil tertawa.
"Sialan luh!" ucap Raka.
"No, denger ucapan luh tadi, gue kayaknya jadi berubah pikiran deh buat deketin Acha" ucap Raka.
"Jadi luh gak bakal jadi gitu bukan deketin Acha?" tanya Lino.
"Iya, soalnya gue masih sayang sama nyawa gue" ucap Raka.
"Tapi siapa tahu papahnya Acha udah tobat dan gak bakal ngelakuin hal itu lagi" ucap Lino.
"Enggak deh, gue kayaknya lebih baik mundur aja" ucap Raka.
"Berarti kalau gitu luh gak bener-bener cinta ya sama Acha" ucap Lino.
"Gue cinta kok sama Acha" ucap Raka.
"Kalau cinta ya perjuangin" ucap Lino.
"Iya bener apa kata Lino" ucap Ana yang baru datang.
Lalu Ana segera duduk disamping Lino.
"Sama cewek lah, masa iya sama cowok" ucap Raka.
"Namanya siapa?" tanya Ana.
"Acha" ucap Raka.
"Anak SMA Tunas Bakti juga ya?" tanya Ana.
"Dulu iya, tapi sekarang udah pindah" ucap Raka.
"Kenapa pindah?" tanya Ana.
"Pokoknya ceritanya panjang deh, jadi luh nanti pusing denger ceritanya" ucap Raka.
"Gue gak bakal pusing kok" ucap Ana.
"Ayo ceritain" mohon Ana.
"Udah gue bilang kan jangan dijawab kalau Ana nanya" ucap Lino.
"Lino aja deh yang ceritain, Na" ucap Raka.
"Eh! kenapa jadi gue yang harus cerita" ucap Lino.
"Karena kan luh-" ucap Raka terhenti.
"Karena apa?" tanya Ana.
"Udah jangan dibahas, Ka. Nanti Ana jadi makin banyak tanya" ucap Lino.
"Emang gak boleh ya kalau aku nanya?" ucap Ana.
"Iya gak boleh" ucap Lino sambil tersenyum.
"Ya udah deh kalau gak boleh" ucap Ana sedikit bete.
"Na, aku pulang ya" ucap Lino.
"Kenapa pulang? baru juga sebentar disininya" ucap Ana.
"Soalnya aku mau ganti baju, sekalian mau ngasih makan kucing aku" ucap Lino.
"Aku boleh ikut gak? soalnya aku pingin lihat kucing kamu" ucap Ana.
"Mampus luh" ucap Raka sambil tertawa.
"Lain kali aja ya ke rumah aku nya" ucap Lino.
"Ya udah deh" ucap Ana.
"Ka, gue pulang dulu" ucap Ana dengan nada kesal.
Ana segera pergi keluar.
"Hayo loh, ngambek kan tuh anak" ucap Raka.
"Biarin lah, daripada gue dimarahin kan sama mamahnya" ucap Lino.
"Ya udah kalau gitu gue pulang dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Raka.
Lino segera pergi keluar.
Pada saat diluar, Lino tidak melihat helmnya.
"Lah! helm gue mana? perasaan tadi disini" gumam Lino.
Lino kembali masuk kedalam rumah Raka.
"Kenapa balik lagi?" tanya Raka.
"Ada helm gue gak?" tanya Lino.
"Gak ada" ucap Raka.
"Emang tadi luh simpen dimana helm luh?" tanya Raka.
"Tadi sih gue simpen di motor" ucap Lino.
"Diambil orang kali" ucap Raka.
"Masa diambil orang sih" ucap Lino.
"Atau jangan-jangan diambil sama Ana,. soalnya kan dia lagi ngambek, jadi pasti ngambil helmnya supaya luh ajak dia ke rumah luh" kata Raka.
"Ya udah kalau gitu gue ke rumah Ana dulu ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Raka.
Lino segera pergi ke rumah Ana dengan mengendarai motornya.
Setelah sampai didepan rumah Ana, Lino melihat Ana yang sedang berjongkok sambil memegang helm Lino.
Lino langsung menahan tawanya karena melihat Ana seperti anak yang sedang tersesat.
"Kamu ngapain?" tanya Lino sambil tertawa kecil.
"Aku pingin ikut, soalnya bosen di rumah" ucap Ana dengan wajah memelas.
"Kamu pingin ikut?" tanya Lino.
Ana hanya mengangguk.
"Kalau ikut nanti dimarahin sama mamah kamu" ucap Lino.
"Gak bakal, kan mamah gak tahu kalau aku main ke rumah kamu. Lagian kan mamah pulangnya nanti sore" ujar Ana.
"Nanti kalau Raka bilang ke mamah kamu gimana?" tanya Lino.
"Nanti aku bakal bilang ke Raka buat gak kasih tahu ke mamah" ucap Ana.
"Nanti kalau ketemu mamah dijalan gimana?" tanya Lino.
"Gak bakal lah, lagian kan mamah kerjanya didalam kantor" ucap Ana.
"Siapa tahu kan mamah kamu istirahat nya diluar, terus ketemu deh sama kita" ucap Lino.
"Emang rumah kamu deket kantor mamah aku ya?" tanya Ana.
"Enggak sih" ucap Lino sambil nyengir.
"Ya udah siniin helmnya" kata Lino.
"Aku bakal kasihin asal kamu ajak aku ke rumah kamu" ucap Ana.
"Ya udah telepon dulu sana mamah kamu nya, kalau boleh baru aku bakal ajak kamu ke rumah" kata Lino.
Ana langsung mengambil ponselnya dan ia berpura-pura menelepon mamahnya.
"Hallo, mah" ucap Ana.
"Ana boleh main ke rumah Lino gak?"
"Beneran boleh, mah?" tanya Ana.
Lino merasa curiga kepada Ana dan ia langsung merebut ponsel Ana.
"Ih Lino!!!" teriak Ana.
"Oh jadi kamu pura-pura nelpon" ucap Lino saat melihat ke layar ponsel Ana.
Ana hanya tersenyum tanpa dosa.
"Huh, dasar!" ucap Lino sambil mencubit pipi Ana.
Lalu Lino segera mengembalikan ponsel Ana.
"Aku boleh ikut ya" ucap Ana dengan mata yang berbinar-binar.
"GAK BOLEH!" ucap Lino.
"No, kamu sayang gak sama aku?" tanya Ana.
"Ya sayang lah" ucap Lino.
"Kalau sayang ya ajak aku ke rumah" ucap Ana.
"Emang kamu mau ngapain sih ke rumah aku?" tanya Lino.
"Ya aku mau main lah, masa iya aku mau jaipongan di rumah kamu" ucap Ana.
Lino langsung tertawa karena mendengar ucapan Ana.
"Lucu banget kamu" ucap Lino.
"Emang" ucap Ana dengan percaya diri.
"Ya udah ayo pergi!" ajak Ana sambil menghampiri motor Lino.
"Telepon dulu mamah kamu nya" ucap Lino.
"Gak mau! nanti kalau ditelepon pasti mamah bakal ngelarang" ucap Ana.
"Na, nanti mamah kamu marah lagi ke aku" ucap Lino.
"Mamah gak bakal tahu, No" ucap Ana.
"Ya udah sini handphone kamu" ucap Lino.
"Mau ngapain?" tanya Ana.
"Mau nelpon mamah kamu" ucap Lino.
"Jangan! nanti kamu dimarahin" ucap Ana.
"Gak apa-apa" ucap Lino.
Dengan terpaksa Ana memberikan ponselnya kepada Lino.
Lino segera mengambil ponsel milik Ana dan ia langsung menelepon mamahnya Ana.
Tidak menunggu lama, mamahnya Ana langsung mengangkat panggilan teleponnya
"Hallo, Na" ucap mamah Ana.
"Ini Lino, tante" ucap Lino.
"Loh! ada apa, No? kok handphone nya ada di kamu" heran mamah Ana.
"Tante, ini Lino dicegah sama Ana. Padahal Lino pingin pulang" adu Lino.
"Kalau mau pulang ya pulang aja, No" bingung mamah Ana.
"Masalahnya helm Lino diambil sama Ana" ucap Lino.
"Coba handphonenya kasihin ke Ana" perintah mamah Ana.
Lino segera memberikan ponsel kepada Ana.
"Hallo, mah" ucap Ana.
"Na, helm nya kasihin ke Lino!" perintah mamah.
"Gak mau, mah" ucap Ana.
"Nanti kalau gak pake helm dia bisa ditilang polisi dan juga takutnya dia kecelakaan pas di jalan. Emang kamu mau gitu Lino kecelakaan?" tanya mamah.
"Emang kalau gak pake helm bakal kecelakaan ya?" tanya Ana.
"Ya belum tentu sih. Tapi kalau jatuh dari motor dan gak pake helm kan bahaya banget. Jadi tolong kasihin ya helmnya" ucap mamah.
"Ana bakal kasihin asal ada syaratnya" ucap Ana.
"Syaratnya apa?" tanya mamah.
"Syaratnya mamah harus ijinin Ana main ke rumah Lino" kata Ana.
"Kamu mau ngapain ke rumah Lino?" tanya mamah.
"Mau main, soalnya di rumah Lino ada kucing" ucap Ana.
"Boleh ya Ana main ke rumah Lino" mohon Ana.
"Ya udah" pasrah mamah.
"No, aku boleh main" ucap Ana kepada Lino.
"Na, mamah pingin ngomong dulu sama Lino" ucap mamah.
"Mau ngomong apa, mah?" tanya Ana.
"Kasihin dulu teleponnya ke Lino" perintah mamah.
"No, mamah mau ngomong sama kamu" ucap Ana sambil memberikan ponselnya kepada Lino.
Lino segera menjauh dari Ana.
"Mereka ngomongin apa ya?" batin Ana.
Setelah selesai teleponan, Lino kembali memberikan ponsel tersebut kepada Ana.
"Ya udah kunci dulu rumah kamu, takutnya ada maling" suruh Lino.
Ana segera mengunci pintu rumahnya. Setelah itu, ia segera memberikan helm milik Lino.
"Ya udah ayo naik" suruh Lino.
Ana segera naik ke motor Lino.
Sesudah Ana naik, Lino langsung melajukan motornya menuju rumahnya.
(Diperjalanan)
"No" panggil Ana.
"Iya kenapa, Na?" tanya Lino.
"Tadi ngomong apa aja sama mamah?". tanya Ana penasaran.
"Gak ngomong apa-apa kok" ucap Lino.
"Tapi kok kayak serius banget pembicaraannya" ucap Ana.
"Tadi tuh mamah kamu cuma nyuruh aku buat hati-hati bawa motornya. Terus dia juga nyuruh supaya aku lewat jalan yang ramai" ucap Lino.
"Terus tadi kenapa kamu nelpon nya agak jauhan?" tanya Ana.
"Hmm...biar kamu penasaran aja sama apa yang aku dan mamah kamu omongin" ucap Lino.