
"Ternyata cemburuan juga ya si Lino" ucap Clara sambil tertawa kecil.
"Na, ngapain sih diturutin apa kata Clara" ucap Lia.
"Iya bener, cepet telepon lagi Lino nya" suruh Felisa.
Lalu Ana pun kembali menelepon Lino karena ia sangat menyesal menuruti apa kata Clara.
"Hallo, No" ucap Ana.
"Iya, kenapa?" tanya Lino.
"Aku tadi cuma bercanda kok" ucap Ana.
"Bercanda soal apa?" tanya Lino.
"Soal aku lagi sama temen cowok" ucap Ana.
"Oh soal itu" ucap Lino.
"Iya soal itu, aku sebenernya lagi di cafe bareng Clara, Naya, Lia sama Felisa" ucap Ana.
"Iya, terus?" ucap Lino.
"Tadi sebelum ke cafe, aku sama temen-temen pergi ke pantai dulu" jelas Ana.
"Terus?" tanya Lino.
"Tadi Clara yang nyuruh aku bilang ke kamu kalau aku lagi sama temen cowok" ucap Ana terus terang.
"Terus?" tanya Lino.
"No, luh terus-terus mulu! luh mau jadi tukang parkir?" sahut Clara.
"Ra, luh ngapain ngajarin Ana ngebohong?" tanya Lino.
"Gue cuma bercanda, No" ucap Clara.
"Ngeles aja luh" ucap Lino.
"No, udah dulu ya teleponnya. Aku gak enak sama temen-temen" ucap Ana.
Belum juga Lino menjawab iya, Ana dengan cepat mematikan teleponnya.
"Maaf ya guys, gue jadi sibuk teleponan" ucap Ana.
"Gak apa-apa, Na" ucap Felisa.
Setelah selesai makan dan minum, mereka pun segera pulang dengan diantar Naya.
****
* Kamar
Drrttt
Ana pun segera melihat ponselnya dan ia mendapat chat dari nomer yang tidak dikenal.
Saat melihat chat tersebut, ternyata orang itu mengirimkan beberapa foto papah dan selingkuhannya.
Lalu Ana pun buru-buru menghapus foto tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar dan ia pun segera memblokir nomer tersebut.
Lalu Ana pun segera menelepon Arlino.
"Apa, Na?" tanya Lino.
"No, kayaknya penguntit itu bukan hanya ngikutin aku deh" ucap Ana.
"Maksud kamu?" bingung Lino.
"Penguntit itu juga ngikutin papah" ucap Ana.
"Dia tadi ngirim foto papah sama selingkuhannya" ucap Ana.
Cklek
Pintu pun terbuka.
"Mamah" ucap Ana terkejut.
"Maksud kamu apa, Na?" tanya mamah.
Ana pun langsung terdiam.
"Siapa selingkuhan papah?" tanya mamah emosi.
Ana pun hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca.
"Ana, jawab mamah!" ucap mamah.
"Ana gak tahu nama orang itu, tapi Ana tahu mukanya" ucap Ana.
"Kenapa kamu rahasiakan dari mamah?" tanya mamah.
"Ana takut kalian berdua bercerai" ucap Ana.
Lalu mamah pun segera pergi.
"Mah, mau kemana?" teriak Ana namun tidak dijawab oleh mamahnya.
"No, aku matiin dulu ya teleponnya" ucap Bina sambil mematikan telepon tersebut.
Lalu Ana pun segera mengejar mamahnya.
"Mah, mau kemana?" tanya Ana.
"Mamah mau ke kantor papah" ucap mamah sambil masuk kedalam mobil.
Lalu mamah pun segera melajukan mobilnya menuju kantor.
"Aduh gimana nih" batin Ana.
Lalu Ana pun segera mengunci pintunya, setelah itu ia pun segera menuju rumah Raka.
Tintong...tintong
Lalu Raka pun segera datang menghampiri Ana.
"Ada apa, Na?" tanya Raka.
"Emang ada apa sih?" tanya Raka.
"Cepet!" ucap Ana.
"Ya udah, tunggu! gue mau ambil kunci motor dulu" ucap Raka.
Lalu Raka pun segera mengambil kunci motornya, setelah itu ia pun segera ke garasi lalu ia pun langsung menaiki dan menyalakan mesin motornya.
"Na, pagarnya bukain" teriak Raka.
Lalu Ana pun segera membuka pagar rumahnya Raka.
Lalu Raka pun segera melajukan motornya kearah Ana.
"Cepet naik" suruh Raka.
Kemudian Ana pun segera menaiki motor Raka.
Lalu Raka pun segera melajukan motornya.
Sepanjang perjalanan, Ana pun terus memberitahu arah jalan kepada Raka.
Lalu setelah sampai, Ana pun segera turun dan ia pun segera masuk kedalam kantor.
"Na, mau ngapain kedalem?" teriak Raka namun tidak dijawab oleh Ana.
"Dek, mau ketemu siapa?" tanya pegawai.
"Mau ketemu papah" ucap Ana.
"Nama papahnya siapa?" tanya pegawai tersebut.
"Pak Hanif" ucap Ana.
"Oh anaknya pak Hanif" ucap pegawai itu.
"Ya sudah, saya antar ya ke ruangannya" ucap pegawai tersebut.
Lalu setelah sampai di ruangan papah, Ana pun melihat mamah sedang memarahi papah.
Karena tidak ingin ikut campur, akhirnya pegawai yang mengantar Ana pun segera pergi.
"Jadi selama ini papah selingkuh dari mamah?" ucap mamah emosi.
"Maaf, mah" ucap papah.
"Siapa selingkuhan papah?" tanya mamah.
Papah pun hanya terdiam.
"Kalau kayak gini lebih baik kita cerai aja, pah" ucap mamah.
"Tapi, mah" ucap papah.
Ana pun hanya bisa menangis melihat kedua orang tuanya berantem.
Lalu Raka pun tiba-tiba datang ke ruangan tersebut. Dan ia melihat kedua orang tua Ana sedang berantem.
Lalu Raka pun segera menarik Ana keluar dari kantor tersebut.
Ana pun tidak berhenti menangis.
"Ka, orang tua gue mau cerai" ucap Ana sambil menangis.
Lalu Raka pun langsung memeluk Ana untuk menenangkannya.
"Udah jangan nangis" ucap Raka sambil menepuk pelan punggung Ana.
Raka pun segera melepaskan pelukannya. Lalu ia pun segera mengusap air mata Ana.
"Kita jalan-jalan yuk! biar luh gak sedih lagi" ucap Raka.
Ana pun hanya mengangguk mengiyakan ucapan Raka.
Lalu mereka berdua pun segera pergi dengan menggunakan motor milik Raka.
"Mau kemana, Ka?" tanya Ana.
"Mau ke tempat yang bisa bikin luh gak sedih lagi" ucap Raka.
Skip
Setelah sampai, mereka berdua pun langsung turun dari motor.
"Kenapa ke rumah Lino?" tanya Ana.
"Karena tempat yang bisa bikin luh gak sedih lagi tuh ya cuma Lino" ucap Raka.
Lalu Raka pun segera menekan bel rumah Lino.
Tidak lama kemudian, Lino pun datang dan ia langsung membukakan pagar rumahnya.
"Ana kenapa?" tanya Lino kepada Raka.
"Orang tuanya berantem" ucap Raka.
"Ya udah ayo masuk dulu" ucap Lino kepada Ana dan Raka.
Lalu Lino pun segera merangkul Ana agar masuk kedalam rumahnya.
Setelah masuk rumah, mereka bertiga pun langsung duduk di sofa ruang tamu.
"Bentar ya, aku mau ambil minum dulu" ucap Lino.
Lalu Lino pun segera pergi menuju dapur, lalu ia pun segera mengambil dua air mineral untuk Ana dan Raka.
Setelah itu, Lino pun kembali menghampiri Ana dan Raka.
Lalu Lino pun segera menaruh satu gelas diatas meja untuk Raka. Sedangkan satunya lagi ia pegang.
"Nih, minum dulu" ucap Lino sambil memberikan air tersebut kepada Ana.
Lalu Ana pun segera meminum air mineral yang diberikan oleh Lino.
"Udah, jangan nangis ya" ucap Lino sambil mengelus-elus rambut Ana.
Ana pun langsung mengangguk sambil mengusap air matanya.