
Skip
Setelah selesai istirahat, Ana dan Cindy kembali ke kelas.
"Ana" panggil Lia.
"Iya, ada apa?" tanya Lia.
"Ini buku luh" ucap Lia sambil memberikan beberapa buku kepada Ana.
Ana langsung mengambil buku tersebut.
"Makasih" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lia.
"Oh iya! kalau luh mau lihat catatan yang Minggu kemarin, nanti luh boleh pinjem catatan punya gue kalau luh mau" ucap Lia.
"Aku mau pinjem catatan punya Cindy aja deh" ucap Ana.
"Oh ya udah kalau gitu" ucap Lia.
Lalu Ana dan Cindy segera duduk dikursinya.
"Cin" panggil Ana.
"Iya kenapa?" tanya Cindy.
"Tapi kok mereka baik ya sama aku" ucap Ana.
"Kan gue udah bilang kalau mereka baik cuma didepan luh doang" ucap Cindy.
"Oh iya, Na! gue boleh main gak ke rumah luh?" tanya Cindy.
"Boleh kok" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu nanti sore gue ke rumah luh ya" ucap Cindy.
"Iya" ucap Ana.
"Tapi jangan bilang ke Clara, Felisa dan Lia ya kalau kamu mau ke rumah, soalnya kan tadi aku bilang ke Clara kalau aku masih butuh istirahat" ucap Ana.
"Iya tenang aja, gue gak bakal bilang ke mereka kok" ucap Cindy.
"Na" panggil Lino.
"Iya, kenapa?" tanya Ana.
"Aku boleh ngomong sebentar gak?" tanya Lino.
"Mau ngomong apa?" tanya Ana.
"Ayo ikut dulu, nanti kita ngobrol nya di rooftop" ucap Lino.
"Disini aja ngobrolnya" ucap Ana.
"Jangan disini ngobrolnya, soalnya ini penting" ucap Lino.
Ana langsung melihat kearah Cindy dan raut wajah Cindy tampak murung karena Lino yang mengobrol dengan Ana.
"Nanti aja deh ngobrolnya, soalnya bentar lagi bel masuk bunyi" ucap Ana.
"Ya gak apa-apa, lagian guru nya juga ijin. Jadi kita gak belajar" ucap Lino.
"Emang mau ngomong tentang apa sih?" tanya Ana.
"Tentang password handphone kamu" ucap Lino.
"Kata Raka katanya handphone kamu gak bisa kebuka gara-gara salah password" ucap Lino.
"Iya emang, soalnya kan aku lupa password nya" ucap Ana.
"Ya udah ayo aku bantu buat buka handphone kamu" ucap Lino.
"Ya udah disini aja buka nya" ucap Ana.
"Jangan, nanti ketahuan orang" ucap Lino.
"Cin, aku boleh ke rooftop bareng Lino gak?" bisik Ana.
"Ya udah sana" ucap Cindy.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Ana memastikan.
"Iya gak apa-apa" ucap Cindy.
"Ya udah ayo, Na" ajak Lino.
Akhirnya Ana dan Lino segera pergi menuju rooftop.
"Duduk disana yuk" ucap Lino.
"Ayo" ucap Ana.
Lalu mereka berdua segera duduk dikursi yang ada di rooftop.
"Mana handphone kamu?" tanya Lino.
"Ini" ucap Ana sambil memberikan ponselnya kepada Lino.
Lino segera mengambil ponsel Ana.
"Oh iya, tadi kamu udah masukin tanggal ulang tahun kamu belum?" tanya Lino.
"Udah, tapi gak bisa dibuka" ucap Ana.
Akhirnya Lino segera mengotak-atik agar ponsel Ana bisa dibuka.
"Nah! akhirnya kebuka" ucap Lino.
"Apa password nya?" tanya Ana.
"1422" ucap Lino.
Ana segera mematikan ponselnya kembali, terus memasukan password tersebut dan memang benar bahwa password nya 1422.
"Makasih ya, No" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Lino sambil tersenyum.
"Oh iya 14 kan tanggal ulang tahun aku, terus kalau 22 apa?" tanya Ana.
"Hmm...mungkin itu tanggal lahir orang yang kamu cinta" ucap Lino.
"Oh pasti tanggal lahir Bagas" batin Ana.
Ana segera melihat galeri diponselnya.
"Loh! kok digaleri aku banyak foto aku sama kamu sih" heran Ana.
"Iya, soalnya kita tuh deket banget" ucap Lino.
"Pantes aja tadi Raka nyuruh agar aku minta bantuan ke kamu buat masukin password nya, ternyata kamu emang tahu password handphone aku" ucap Ana.
"Oh iya, kok digaleri aku gak ada foto aku sama Cindy sih" ucap Ana.
"Iya soalnya kan Cindy anak baru, makanya kamu belum foto bareng sama dia" ucap Lino.
"Bukannya aku sama Cindy sahabatan ya?" tanya Ana.
"Enggak, sahabat kamu tuh Clara, Felisa sama Lia" ucap Lino.
Ana menjadi sangat bingung karena omongan Lino dan Cindy berbeda.
"Kenapa, Na?" tanya Lino karena Ana hanya diam saja.
"Gak apa-apa" ucap Ana.
"Oh iya, aku boleh pinjem handphone nya sebentar gak?" tanya Lino.
"Boleh, ini" ucap Ana sambil memberikan ponselnya kepada Lino.
Lino segera mengambil ponsel Ana.
Lino melihat kearah Ana karena takut Ana melihat kearah layar ponsel.
Karena merasa ditatap Lino, akhirnya Ana segera mengalihkan pandangannya.
Saat Ana mengalihkan pandangannya, Lino segera menghapus aplikasi WhatsApp Ana dan ia juga mengedit nama kontak Lino yang asalnya Lino 🤍 menjadi Arlino.
"Ini, Na" ucap Lino sambil memberikan ponsel kepada Ana.
"Tadi ngapain?" tanya Ana penasaran.
"Tadi aku cuma hapus foto-foto aib aku aja, soalnya banyak foto aib aku di handphone kamu" bohong Lino.
"Foto aib?" bingung Ana.
"Maksudnya foto aku yang lagi jelek" ucap Lino.
"Oh gitu" ucap Ana.
"Emang aku suka foto kamu?" tanya Ana.
"Iya" ucap Lino.
"Oh iya, ini siapa?" tanya Ana sambil melihat-lihat galeri nya.
"Itu Naya, dia sahabat kamu juga" ucap Lino.
"Dia beda kelas?" tanya Ana.
"Dia udah meninggal" ucap Lino.
"Meninggal kenapa?" tanya Ana.
"Dia meninggal karena overdosis" kata Lino.
"Jangan-jangan orang ini ya yang dibilang Cindy" batin Ana.
"Apa bener ya kalau gue itu penyebab kematian dia" batin Ana.
"Kamu kenapa sih bengong mulu?" tanya Lino.
"Gak kenapa-napa kok" ucap Ana.
"Ya udah kalau gitu aku ke kelas duluan ya" ucap Ana.
"Tunggu dulu" cegah Lino.
"Kenapa lagi?" tanya Ana.
"Kamu beneran gak inget aku sama sekali?" tanya Lino dengan mata yang berkaca-kaca.
Ana hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.
"Maafin aku ya" ucap Lino sambil meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa sih nangis mulu tiap sama aku?" bingung Ana.
"Gak kenapa-napa" ucap Lino sambil mengusap air matanya.
"Ya udah sana ke kelas" ucap Lino sambil tersenyum.
Lalu Ana segera pergi meninggalkan Lino.
"ARGHHH" teriak Lino.
...****...
Ana POV
Saat menuruni tangga, Ana mendengar suara teriakan Lino. Lalu ia kembali menuju rooftop untuk memastikan bahwa Lino tidak apa-apa.
"Berengs*k banget gue jadi cowok! cuma ngejagain Ana aja gue gak bisa" ucap Lino sambil menangis.
"No, kamu kenapa sih?" tanya Ana kebingungan.
Sontak Lino langsung menolak kebelakang.
"Ana" ucap Lino.
Lalu Lino langsung menghapus air matanya.
"Kamu kenapa masih disini?" tanya Lino.
"Aku tadi denger teriakan kamu, makanya aku kembali lagi kesini" jelas Ana.
Ana langsung mendekati kearah Lino.
"Kamu sebenernya kenapa sih?" tanya Ana sambil menatap Lino.
Lino pun tak kuasa menahan tangisnya.
"Udah jangan nangis" ucap Ana sambil mengusap air mata Lino.
Lino langsung memeluk Ana.
Ana sedikit terkejut karena Lino memeluknya.
"No, lepasin" ucap Ana.
"Bentar aja, Na" ucap Lino.
"Aku pingin peluk kamu sebentar" ucap Lino lagi.
Entah kenapa saat Lino memeluk Ana, detak jantung Ana menjadi kencang.
"No, lepasin. Aku mau ke kelas" ucap Ana.
Akhirnya Lino segera melepaskan pelukannya.
Setelah Lino melepaskan pelukannya, Ana langsung buru-buru pergi ke kelasnya tanpa pamitan dulu kepada Lino.
Sesampainya di kelas, Ana segera duduk dikursinya.
"Gak kenapa-napa kok" ucap Ana.
"Aduh gimana ya kalau Cindy tahu kalau Lino tadi meluk aku" batin Ana.
"Aku jadi gak enak deh sama Cindy" batin Ana.
"Guys! ada yang lihat Lino gak?" teriak Gilang.
"Enggak" teriak beberapa orang.
"Lino di rooftop, dia tadi lagi nangis" ucap Ana.
Sontak orang-orang yang berada didalam kelas langsung melihat kearah Ana.
"Lino lagi nangis?" tanya Cindy.
Ana hanya mengangguk.
"Luh pasti putus sama Lino ya, Na" ucap Ryan.
Gilang langsung memukul tangan Ryan, lalu Gilang menarik Ryan agar keluar dari kelas.
"Maksud dia apa?" tanya Ana kepada Cindy.
Cindy hanya terdiam.
"Ana" panggil Raka sambil menghampiri Ana.
"Kamu kenapa kesini, Ka?" tanya Ana.
"Nanti luh pulang bareng gue" ucap Raka.
"Tapi aku mau pulang bareng mamah" ucap Ana.
"Mamah luh gak bisa jemput luh, jadi luh pulang nya bareng gue" ucap Raka.
"Oh ya udah deh" ucap Ana.
"Luh bawa kunci rumah gak?" tanya Raka.
"Bawa kok" ucap Ana.
"Oh iya, handphone luh udah kebuka belum?" tanya Raka.
"Udah kok" ucap Ana.
"Tuh, kan! bener kata gue. Lino pasti tahu password nya" ucap Raka.
"Ka, emang aku sama Lino deket banget ya?" tanya Ana.
"Iya deket banget" ucap Raka.
"Aku sama Lino sahabatan?" tanya Ana memastikan.
Raka terdiam sejenak.
"Iya" bohong Raka.
"Ya udah gue ke kelas dulu ya, Na" ucap Raka.
"Iya" ucap Ana.
Raka segera pergi.
"Cin, mau kemana?" tanya Ana.
"Gue mau ke toilet" ucap Cindy sambil pergi.
Ana mengambil ponselnya, lalu ia segera membuka galeri di ponselnya agar ia bisa mengingat kembali.
"Kenapa sih gak ada satupun kejadian yang aku inget" gumam Ana.
Ana terus-menerus melihat isi galeri nya.
"Kenapa banyak foto Lino sih" batin Ana.
"Na, lagi ngapain?" tanya Clara sambil duduk disebelah Ana.
"Gak ngapa-ngapain" ucap Ana sambil memasukkan ponselnya ke saku rok nya.
"Luh kenapa sih kayak canggung gitu kalau ada gue?" heran Clara.
"Enggak kok, aku gak canggung" ucap Ana.
"Udah jangan bohong. Kelihatan loh dari muka luh kalau luh canggung sama gue" ucap Clara.
"Ana" sapa Felisa dan Lia.
Lalu Lia dan Felisa segera duduk di kursi yang berada didepan Ana.
Ana semakin merasa canggung saat Lia dan Felisa duduk dihadapannya.
"Kalian ngomongin apaan?" tanya Felisa penasaran.
"Gue tadi cuma ngomong ke Ana kalau Ana kayak yang canggung gitu sama gue" ucap Clara.
"Iya bener, luh kayak yang canggung gitu ke kita" ucap Felisa.
"Itu cuma perasaan kalian aja kali" ucap Ana.
"Oh iya, Na. Lino beneran nangis ya?" tanya Lia.
Ana hanya mengangguk.
"Dia kenapa sih nangis mulu kalau ada aku?" tanya Ana.
"Soalnya dia kangen sama luh, makanya dia nangis" ucap Clara.
"Emang gue sedeket itu ya sama dia?" tanya Ana.
"Iya" ucap Clara.
"Fel, luh kenapa nangis?" tanya Lia.
"Gak apa-apa" ucap Felisa semakin menangis.
"Lah! kok malah makin nangis" ucap Lia.
Felisa segera pergi keluar.
"Dia kenapa?" tanya Ana.
"Dia gak apa-apa kok" ucap Clara.
"Guys! gue samperin Felisa dulu ya" ucap Lia sambil pergi keluar.
****
"Fel" panggil Lia.
"Apa" ucap Felisa sambil mengusap air matanya.
"Luh kenapa nangis?" tanya Lia.
"Gue kasihan sama Ana dan Lino" ucap Felisa.
"Disatu sisi gue kasihan sama Ana karena dia gak inget apapun dan disisi lain gue kasihan sama Lino karena dia pasti merasa bersalah banget sama Ana" ucap Felisa sambil meneteskan air matanya.
"Gue juga kasihan sama mereka berdua" ucap Lia.
"Beb, kenapa nangis?" tanya Gilang.
"Lang" ucap Felisa sambil memeluk Gilang.
"Ada masalah apa? kok sampe nangis gitu" ucap Gilang sambil membalas pelukan Felisa.
"Aku kasihan sama Ana dan Lino" ucap Felisa.
"Iya sama, aku juga kasihan sama mereka berdua" ucap Gilang.
"Bisa gak sih romantis-romantisan nya jangan depan gue" sindir Lia.
Felisa langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf, gue lupa kalau luh jomblo" ucap Felisa.
"Kurang ajar luh" ucap Lia.
Felisa langsung tertawa kecil karena mendengar ucapan Lia.
"Oh iya, Lang! luh tadi habis dari rooftop bukan?" tanya Lia.
"Iya" ucap Gilang.
"Emang Lino beneran nangis ya?" tanya Lia.
"Tadi pas gue kesana sih dia udah gak nangis, cuma dia bengong aja" ucap Gilang.
"Kami bukannya temenin dia kek" ucap Felisa sedikit kesal.
"Sahabat macam apa yang ninggalin sahabatnya saat lagi sedih" ucap Felisa.
"Ini juga kan aku mau ke rooftop lagi" ucap Gilang.
"Ya udah cepet kesana" suruh Felisa.
"Bentar dulu! aku mau ngambil handphone aku dulu dikelas" ucap Gilang.
"Ya udah kalau gitu cepet ambil handphonenya. Terus kalau udah ambil handphone, kamu langsung ke rooftop" perintah Lia.
"Iya siap laksanakan" ucap Gilang sambil masuk kedalam kelasnya.
"Fel, kedalam lagi yuk!" ajak Lia.
"Ya udah ayo" ucap Felisa.
Lia dan Felisa segera masuk kedalam kelas dan mereka berdua langsung pergi menghampiri Ana dan Clara.
****
Krining...Krining
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan bahwa siswa dan siswi diperbolehkan pulang.
"Ana, ayo pulang" teriak Raka yang berada di pintu kelas XII MIPA 4.
Ana segera menghampiri Raka.
"Ya udah ayo" ucap Ana.
Mereka berdua segera pergi menuju parkiran sekolah.
Sesampainya di parkiran, Ana dan Raka segera menaiki motor. Lalu Raka segera melajukan motornya menuju rumah Ana.
Skip
Setelah sampai rumah, Ana langsung turun dari motor.
"Makasih ya udah nganterin pulang" ucap Ana.
"Iya sama-sama" ucap Raka.
"Ya udah gue pulang dulu ya" ucap Raka.
"Iya" ucap Ana.
Lalu Raka segera melajukan motornya menuju rumahnya.
Setelah Raka pergi, Ana langsung masuk kedalam rumahnya.
Lalu Ana segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sesudah berganti pakaian, Ana segera melihat-lihat ponselnya.
"Ih lucu banget" ucap Ana saat melihat ada foto kucing digaleri nya.
"Ini kucing siapa ya? perasaan disini gak ada kucing deh" ucap Ana.
"Ini handphone kok gak ada aplikasi chat nya ya. Padahal gue pingin banget lihat-lihat chat gue sama orang-orang" ujar Ana.
Tingtong...tingtong
Ana segera pergi keluar rumah untuk menemui orang yang menekan bel.
Sesampainya diluar, Ana langsung membuka pagar rumahnya.
Pada saat dibuka, ternyata tidak ada orang.
Ana terfokus pada buket bunga yang berada dihadapannya.
Lalu Ana langsung mengambil buket bunga itu.
"Ini siapa sih yang naruh bunga disini" ucap Ana sambil melihat-lihat ke sekitar.
"Eh, kok ada suratnya" ucap Ana sambil mengambil surat yang ada pada bunga itu.
Ana segera membaca surat tersebut.
Dan surat tersebut hanya bertuliskan kata maaf.
Entah kenapa saat membaca surat itu Ana langsung teringat kepada Lino.
"Apa dia ya yang kasih bunga ini" batin Ana.
Lalu Ana kembali masuk kedalam rumahnya dan ia langsung pergi menuju kamarnya.
"Kalau beneran dari Lino, kenapa dia terus-terusan minta maaf ya. Apa dia ngelakuin hal yang berdosa banget ya sama aku, sampe-sampe dia bilang minta maaf mulu" ucap Ana.
Ana segera berjalan menuju meja riasnya, lalu ia langsung menaruh mawar putih tersebut di atas meja. Kemudian ia segera duduk dikursi sambil melihat ke cermin.
"Kenapa ya omongan Cindy sama Lino beda banget" gumam Ana sambil memikirkan ucapan Lino dan Cindy.
"Apa jangan-jangan Cindy bohongin aku ya" ucap Ana karena menurut Raka, Ana dan Lino itu sangat deket. Jadi kemungkinan besar Cindy lah yang berbohong kepada Ana.