
Setelah sampai, Clara dan Felisa segera turun dari mobil.
"No, luh kenapa gak turun?" tanya Clara.
"Gak kenapa-napa, gue cuma mau nunggu disini aja" ucap Lino.
Lalu Clara segera menekan bel rumah Acha.
Setelah bel ditekan, seseorang datang menghampiri Clara dan Felisa. Kemudian orang itu langsung membukakan pagar rumah.
"Mau cari siapa ya?" tanya orang itu.
"Apa benar ini rumah Acha?" tanya Felisa.
"Disini gak ada yang namanya Acha" ucap orang itu.
"Ini rumah pak Deva kan?" tanya Clara.
"Iya benar" ucap orang itu.
"Kedatangan kita disini karena kita mau ketemu sama anaknya pak Deva" ucap Clara.
"Oh mau ketemu non Tasya ya?" tanya orang itu.
"Tasya?" bingung Felisa.
"Iya, kita mau ketemu Tasya" ucap Clara.
"Ya sudah silahkan masuk" ucap orang itu.
"Kalau pak Deva nya ada didalam gak?" tanya Clara.
"Gak ada, soalnya dia lagi kerja" ucap orang itu.
"Bagus deh kalau gak ada" batin Clara.
"Ya sudah ayo masuk kedalam" ucap orang itu.
Lalu mereka segera masuk kedalam rumah Acha.
...****...
Lino segera menelpon Ana karena ia sangat merasa bersalah kepada Ana.
Saat ditelepon, Ana tidak menjawab panggilan telepon dari Lino.
Akhirnya Lino memutuskan untuk menelepon Lia. Pada saat ditelepon, ternyata Lia juga tidak mengangkat panggilan telepon dari Lino.
Lalu Lino segera menelepon Raka.
Beberapa detik kemudian, Raka menjawab panggilan telepon dari Lino.
"Hallo" ucap Raka.
"Ka, luh dimana?" tanya Lino.
"Gue di rumah" ucap Raka.
"Emang kenapa?" tanya Raka.
"Ka, tolong kasihin dong handphone luh ke Ana. Gue mau ngobrol sama dia, soalnya tadi gue telepon tapi gak diangkat sama dia" ucap Lino.
"Gak diangkat?" tanya Raka.
"Iya gak diangkat" ucap Lino.
"Ya udah gue ke rumah Ana sekarang" ucap Raka.
"Gue tutup dulu teleponnya. Nanti kalau udah nyampe di rumah Ana, gue telepon luh balik" ucap Raka.
Lalu Raka segera mematikan panggilan teleponnya.
...****...
Tok...tok...tok
Raka mengetuk pintu rumah Ana.
Kemudian pintu dibuka.
"Kenapa, Ka?" tanya Ana.
"Tadi Lino nelpon gue katanya dia pingin nelpon luh. Dia tadi katanya udah telepon luh, tapi luh nya gak jawab telepon dari dia" ucap Raka.
"Oh iya, soalnya handphone gue nya ada di kamar. Jadi gak ke angkat teleponnya" ucap Ana.
"Oh gitu" ucap Raka.
"Oh iya, Na! gue boleh main gak? soalnya gue bosen banget di rumah" ucap Raka.
"Ya boleh lah" ucap Ana.
"Oh iya, emang luh gak berangkat ke acara ulang tahun temen luh?" tanya Ana.
"Enggak, gue males" ucap Raka.
"Masa udah diundang tapi gak datang" ucap Ana.
"Gue males, tapi gue nanti beli kado kok buat dia" ucap Raka.
"Ya udah ayo masuk, katanya mau main" ucap Ana.
Lalu Raka segera masuk kedalam rumah. Kemudian ia segera duduk di sofa bersama Lia.
"Lia, gue ke kamar dulu ya. Soalnya gue mau ambil handphone gue" ucap Ana.
"Iya" ucap Lia.
Lalu Ana segera pergi menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Ana langsung melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada sepuluh panggilan tidak terjawab dari Lino.
Akhirnya Ana segera menelepon Lino.
Tidak menunggu lama, Lino langsung menjawab panggilan telepon dari Ana.
"Hallo, Na" ucap Lino.
"Iya kenapa, No?" tanya Ana.
"Aku minta maaf ya karena udah bohongin kamu" ucap Lino.
"Iya, udah aku maafin kok" ucap Ana.
"Aku bohongin kamu tuh karena aku takut kamu marah" ucap Lino.
"Aku gak marah kok, cuma kecewa aja karena kamu udah bohongin aku" ucap Ana.
"Aku gak nanya" ucap Ana.
"Na, maafin aku ya" ucap Lino.
"Iya" ucap Ana singkat.
"Nanti habis aku pulang, kita jalan-jalan ya" ucap Lino.
"Aku gak bisa, soalnya kan di rumah ada Lia. Jadi aku gak mau jalan-jalan" ucap Ana.
"Kalau gak hari ini, berarti besok aja ya jalan-jalannya" ucap Lino.
"Besok juga aku gak bisa" ucap Ana.
"Kenapa gak bisa?" tanya Lino.
"Aku ada janji sama temen" bohong Ana.
"Ya udah kalau gitu nanti telepon aku aja ya kalau kamu mau jalan-jalan" ucap Lino.
"Hmm" ucap Ana.
"No, aku tutup dulu ya teleponnya" ucap Ana.
Lalu Ana segera mematikan panggilan telepon dari Lino.
Ana langsung membuang nafas dengan kasar.
Setelah itu, Ana segera pergi menuju ruang tamu untuk menemui Lia dan Raka.
Setelah sampai di ruang tamu, Ana segera duduk disamping Lia.
"Udah ditelepon Lino nya?" tanya Raka.
"Udah" ucap Ana.
"Emang Lino mau ngomong apa sih? kayaknya penting banget sampe-sampe dia nelpon gue dan nyuruh gue buat ngasihin telepon gue ke luh" ucap Raka.
"Enggak penting kok, dia cuma nanya aja kenapa gue gak angkat teleponnya" bohong Ana.
"Oh gitu" ucap Raka.
"Oh iya, Lia luh kenapa gak pulang?" tanya Raka.
"Soalnya gue kabur dari rumah, makanya gue gak mau pulang dulu" ucap Lia.
"Kenapa kabur?" tanya Raka.
"Kepo banget luh" ucap Lia.
"Gue cuma pingin tahu aja" ucap Raka.
"Sama aja itu namanya kepo" ucap Lia.
"Berantem ya luh sama orang tua luh?" tebak Raka.
"Sok tahu banget luh" ucap Lia.
"Ana" panggil Lia.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Cepetan makan! susah banget sih nyuruh Luh makan" ucap Lia.
"Luh belum makan, Na?" tanya Raka.
"Belum" ucap Ana.
"Ya udah makan dulu, nanti luh sakit" ucap Raka.
"Gue gak nafsu makan" ucap Ana.
"Luh lagi ada masalah ya, Na?" tanya Raka.
"Enggak ada kok" ucap Ana.
"Apa jangan-jangan luh gak nafsu makan karena luh kepikiran Lino yang bakal ketemu Acha ya?" tebak Lia.
"Lino ketemu Acha?" tanya Raka.
"Iya, sama Clara dan Felisa juga" ucap Lia.
"Lino gimana sih! udah tahu pacarnya yang sekarang itu Ana" ucap Raka sedikit kesal.
"Gue gak apa-apa kok kalau Lino ketemu Acha, lagian itu kan hak dia" ucap Ana.
"Tapi, Na! sekarang kan dia pacar luh, harusnya luh larang dia buat deket sama Acha" ucap Raka.
"Gue gak ada hak buat larang dia, lagian kan Acha masih pacar Lino" ucap Ana.
"Emang sih Acha sama Lino waktu itu belum putus, tapi kan sekarang Lino pacaran sama luh" ucap Raka.
"Gue kayaknya mau udahan aja deh sama Lino" ucap Ana.
"Luh mau udahan, Na?" ucap Lia.
Ana hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lia.
"Lebih baik luh sama Lino bicarain baik-baik dulu deh" ucap Lia.
"Iya bener kata Lia" ucap Raka.
"Ya udah, nanti gue bakal bicara tentang masalah ini sama Lino" ucap Ana.
"Oh iya, Na! luh mau seblak gak? nanti gue beliin" ucap Raka mengalihkan pembicaraan.
"Luh gimana sih! Ana kan belum makan, masa dia dikasih seblak. Nanti yang ada dia jadi sakit perut" ucap Lia.
"Oh iya, gue lupa" ucap Raka.
"Ya udah cepet makan sana" ucap Raka.
"Gue gak mau" ucap Ana.
"Gue suapin ya biar luh mau makan" ucap Raka.
"Gak mau" ucap Ana.
"Luh mau seblak gak?" tanya Raka.
"Mau" ucap Ana sambil tersenyum.
"Ya udah makan dulu" ucap Raka.
"Ya udah iya" ucap Ana.