ARLINO

ARLINO
Episode 11



Pagi hari


Ana pun menelpon Raka untuk memastikan keadaannya setelah kejadian semalam.


Trining..trining


"Hallo, Ka"


"Iya kenapa, Na?"


"Kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir banget sama kamu"


"Gak apa-apa kok, cuma luka dibibir doang"


"Kamu sekolah gak hari ini?"


"Enggak, tapi aku besok sekolah kok"


"Sekarang aku jenguk ke rumah kamu ya"


"Gak usah! kamu kan mesti sekolah"


"Gak apa-apa, masih ada waktu kok"


"Aku kayaknya bakal sembuh deh kalau kamu jenguk"


"Bisa aja kamu, ya udah sekarang aku ke rumah kamu ya"


Tutttt...tuttt


Ana pun langsung mematikan panggilannya dan segera pergi ke rumah Raka sebentar, lalu ia pun berangkat ke sekolah.


Skip


* Sekolah


"Eh cabe! tumben kesiangan. Oh iya gue lupa semaleman kan luh sama Raka ya" ucap Lino.


"Maksud luh apaan?" tanya Ana.


"Ah luh pasti ngerti lah maksud gue" ucap Lino sambil menyeringai.


"Sabar Ana, sabar ini ujian" batin Ana.


Ana pun segera duduk dikursinya.


"Lihat aja, Ka! gue bakal bales apa yang telah luh perbuat ke Acha. Gue bakal bales dendam melalui Ana" batin Lino.


"Maksud Lino tuh apa, Na?" ucap Lia.


"Ah udah jangan didengerin si kera sakti mah" ucap Ana.


Krining...krining


( Bel masuk )


Guru pun memasuki kelas.


"Pagi semuanya!" ucap pak Dimas.


"Pagi, pak" sahut semuanya.


"Oke, hari ini bapak akan membuat gambar manusia. Jadi bapak harap kalian fokus ya ke papan tulis" ucap pak Dimas.


"Aduh gak bisa fokus pak" ucap Clara.


"Gak kelihatan ya? Ya udah kalau gak kelihatan kamu ke depan aja" ucap pak Dimas.


"Bukan gak kelihatan pak, tapi saya terfokus ke yang lain" ucap Clara.


"Fokus ke yang lain?" bingung pak Dimas.


"Iya, saya fokus ke wajah bapak" ucap Clara.


"Mulai deh" ucap semua murid.


"Dasar jomblo, guru aja sampai digodain" ucap Aldi.


"Sirik aja luh, bilang aja luh iri" ucap Clara.


"Sudah jangan berantem!" tegur pak Dimas sambil menyelesaikan gambarnya.


"Nah jadi ini hasilnya" ucap pak Dimas sambil menunjukan hasil karyanya.


"Pak kok gambar nya kayak tuyul. Bukannya bapak ngegambar sketsa manusia ya?" ucap Gilang.


"Lang, tuyul juga kan mantan manusia" ucap Aldi.


"Emang iya?" tanya Gilang ke Aldi.


"Iya, dia mati gara-gara gak di kasih uang saat ngemis, jadinya dia matinya sering nyuri uang orang deh" ucap Aldi.


"Kalau gitu gue mau nyumbang deh ke pengemis biar matinya gak jadi tuyul" ucap Gilang.


"Punya teman begonya natural banget. Heran gue" ucap Bagas.


"Itu gambarnya belum selesai, bapak cuma mau kasih contoh aja ke kalian. Nanti kalian ditugaskan buat sketsa manusia. satu kelompok terdiri dari dua orang. Hasil gambarnya jangan lupa diwarnai" jelas pak Dimas.


"Anastasya kamu sama Arlino, Aldi sama Felisa, Gilang sama Putri, Bagas sama Lia, Sheyn sama Fuziah, Naya sama Clara, Legi sama Yoga, Anisa sama Zahra, Ryan sama Eka, Putra sama Ajeng" jelas pak Dimas.


"Pak, saya gak mau sama dia" protes Ana dan Lino bersamaan.


"Pokoknya jangan ada yang protes" ucap pak Dimas.


...****...


Skip


Saat bel pulang, Ana pun berlari ke arah Lino yang sedang berada di parkiran.


"Lino" panggil Ana.


"Apa" ucapnya tanpa melihat kearah Ana.


"Mau kerja kelompok kapan?"


"Luh aja sendiri, gue ogah!"


"Loh kok gitu, ini kan tugas kelompok"


"Gue males sekelompok sama luh"


"Emang gue gak males apa sekelompok sama luh" sinis Ana.


"Ya udah kalau males jangan dikerjain"


"Tapi nanti kalau gak dikerjain,kita gak bakal dapet nilai bego!"


Lino pun berpikir sejenak.


"Ya udah, mau kapan kerja kelompoknya?" tanya Lino.


"Gimana kalau sekarang? Luh bisa gak?" tanya Ana.


"Bisa"


"Terus kerja kelompoknya mau dimana?"


"Di rumah gue aja" ucap Lino.


"Pinjam hp luh" ucap Lino lagi.


"Buat apa?"


"Buat chat mengenai tugas ini"


"Oh kirain gue, luh mau isi pulsa gue" ucap Ana sambil ketawa.


"Jangan ketawa"


"Terserah gue dong"


"Luh jelek kalau ketawa"


"Dasar ngeselin banget jadi orang"


"Luh gak marah sama gue atas kejadian semalam?" tanya Lino tiba-tiba.


"Yah marah lah!" ucap Ana.


"Tapi kok luh kayak biasa aja sih sama gue"


"Udah lah jangan dibahas"


"Ya udah ayo" ucap Lino sambil menggenggam pergelangan tangan Ana.


"Kemana?"


"Katanya mau kerja kelompok" ucap Lino.


"Oh iya gue lupa" ucap Ana.


"Ayo cepetan! nanti kalau kelamaan gue berubah pikiran" ketus Lino.


Ana pun buru-buru menaiki motor Lino dan Lino pun segera melajukan motor sport miliknya.


"Rumah luh masih jauh?" tanya Ana.


"Lumayan"


"Ana" panggil Lino.


"Apa"


"Maaf atas kejadian yang semalam"


"Udah gue bilang jangan dibahas" kesal Ana.


"Sorry" ucap Lino.


...****...


Lino pun langsung membuka pintu rumahnya.


"Wah gila! ini rumah atau istana" batin Ana.


"Ayo masuk!" ucap Lino.


"Ini rumah luh?"


"Ya iyalah masa punya orang" kesal Lino.


"Luh ngapain bengong dari tadi" ucap Lino.


"Gue cuma takjub aja, soalnya rumah luh kayak istana" ucap Ana dengan polos.


"Ya udah ayo masuk"


Ana pun segera masuk ke dalam rumahnya Arlino.


"Orang tua luh mana?" tanya Ana.


"Di luar negeri" jawab Lino singkat.


"Luh mau minum apa?" tanya Lino.


"Air putih aja"


"Luh tunggu dulu disini, gue mau ngambil minum dulu"


Ana pun mengangguk seraya mengiyakan ucapan Lino.


Ana pun duduk di sofa sambil memainkan ponsel miliknya.


Tiba-tiba...


Meoww...meoww


"WHOAAAA!!!" teriak Ana.


Ana pun langsung berdiri ke atas sofa.


"Luh kenapa?" tanya Lino sambil membawa segelas air.


"Itu ada kucing" ucap Ana yang ketakutan.


"Oh itu kucing punya gue, namanya Dori"


"Bodo amat! pokonya singkirin dari gue" teriak Ana.


"Gak mau!" ucap Lino sambil menyeringai.


Lino pun menaruh gelas tersebut di meja dan ia langsung menggendong kucingnya dan diberikan kepada Ana.


"YAAKKK LINOOO!!!" teriak Ana dengan nada kesal.


"Lucu banget sih luh sama kucing aja takut" ucap Lino.


Tiba-tiba Lino pun merasakan dejavu, dia teringat kejadian di masa lalu ketika bersama Acha.


"YAAKKK LINOOO" ucap Acha yang sangat kesal akibat ulah pacarnya yang mengerjainya dengan menggunakan seekor kucing.


"Lucu banget sih kamu sama dori aja takut"


"LINOOO!!!" teriak Ana.


Lino pun tersadar dari lamunannya.


"Luh kenapa ngelamun?" tanya Ana lagi.


"Gak apa-apa kok"


"Cepat usir tuh si dora nya!"


"Dori bukan dora" ucap Lino seraya kesal karena nama kucingnya diganti.


"Bodo ah!" kesal Ana.


"Iya...iya gue bakal masukin dori ke kandangnya" ucap Lino lalu ia pun pergi untuk mengembalikan dori ke kandang.


5 menit kemudian...


"Lama banget, kandangnya jauh atau gimana sih" keluh Ana.


"Maaf kalau lama tadi gue nyari alat-alat buat gambar dulu" ucap Lino.


"Kirain gue, luh tadi mampir ke Arab dulu" ucap Ana.


"Gak lucu!"


"Perasaan gue gak ngelucu deh" ucap Ana.


"Ya udah ayo gambar" ucap Lino.


"Gue gak bisa gambar, gue bisanya mewarnai" ucap Ana sambil nyengir.


"Ya udah, biar gue yang gambar"


"Emang luh bisa?" tanya Ana memastikan.


"Bisa"


"Gue gak percaya"


"Ya udah sih kalau gak percaya juga gak apa-apa"


"Terus luh mau gambar siapa?" tanya Ana.


"Acha"


Lino pun menggambar sketsa wajah Acha dengan sangat serius.


30 menit kemudian, Lino pun sudah menyelesaikan sketsa nya itu.


"Udah beres?" tanya Ana.


"Udah" jawab Lino.


"Mana coba gue pingin lihat" ucap Ana.


"Nih" ucap Lino sambil memperlihatkan gambarnya.


"Wah luh hebat banget! ternyata Luh berbakat juga ya" ucap Ana.


"Iya dong" ucap Lino sambil tersenyum bangga.


"Gambar wajah gue dong" ucap Ana.


"Gak mau"


"Ishh" kesal Ana dan ia pun memalingkan pandangannya keluar jendela.


Tanpa Ana ketahui, ternyata Lino pun menggambar wajah Ana yang sedang ngambek.


Ana pun menatap ke arah lino.


"Luh ngegambar gue?"


"Idih pede banget luh" ucap Lino sambil membalikkan kertas yang bergambarkan wajah cantik Ana.


"Ih gue kira luh ngegambar wajah gue, nyesel gue dari tadi ngehadap keluar jendela" kesal Ana.


"Oh tadi tuh luh ngode pingin di gambarin?"


"Bodo ah, gue ngambek"


Trining...trining


"Hallo Ka"


"..…"


"Aku lagi kerja kelompok"


"......"


"Di rumah temen"


"...…"


"Gak usah, nanti aku pulang sendiri aja"


"...…"


"Iya"


Tuttt...tuttt


(Panggilan pun diakhiri)


"Raka?" tanya Lino.


"Iya"


"Kenapa tadi gak bilang aja di rumah gue kerja kelompoknya?"


"Kalau dikasih tahu nanti yang ada luh berdua berantem lagi" ucap Ana.


"Lagian luh kenapa sih nuduh Raka yang nabrak Acha? Kan belum tentu Raka yang ngelakuinnya"


Lino pun terdiam karena ucapan Ana dan ia juga bingung kenapa dia menuduh Raka yang melakukannya.


"Ya udah gue pulang dulu, udah beres ini gambarnya. Nanti kita kerja kelompok lagi besok, gue takut dicariin orang tua gue soalnya belum bilang sama mereka" ucap Ana.


"Tunggu!" ucap Lino.


"Gue anterin luh pulang" ucapnya lagi.